Thursday, May 28, 2009

Jargon dan Elegi Ditinggal, Orang Tua Berambut Putih Bermujahadah

Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Tiadalah semua urusan dapat aku selesaikan sepenuhnya. Padahal aku merasa apa yang telah aku berikan kepada logos belum seberapa. Walau demikian, tak terasa aku sendiri telah merasa berkurang tingkat kebasahanku. Artinya ada bagian-bagian tertentu dari diriku sudah mulai mengering. Mengapa? Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk bermain-main dengan jargon-jargonku. Diantara jargon-jargon besar para muridku, maka diriku itulah jargon paling besar. Sebetulnya aku enggan mengatakannya, tetapi setidaknya aku ingin tinggalkan jargon-jargon. Aku sudah merasa haus, aku juga ingin tinggalkan elegi-elegi. Aku ingin bermujahadah.

Hati bersih:
Wahai seseorang siapakah engkau itu. Mengapa engkau mendatangiku? Apa yang dapat aku bantu?

Orang tua berambut putih:
Banyak orang menyebutku sebagai orang tua berambut putih. Tetapi sebetulnya aku adalah pengetahuan-pengetahuan mereka. Jadi aku adalah pikiran mereka. Aku ingin bertemu dengan engkau, yaitu sebenar-benar hati. Bolehkah aku bermujahadah?

Hati bersih:
Ketahuilah bermujahadah itu adalah melawan hawa nafsu yang tidak baik. Sedangkan engkau itu sebenarnya mempunyai hawa nafsu baik yang tidak baik maupun yang baik. Padahal aku melihat bahwa hawa nafsumu itu sungguhlah besar-besar. Elegi dan jargon itu adalah contoh dari hawa nafsumu yang besar-besar. Walaupun engkau mungkin sulit membedakan mana nafsumu yang baik dan mana nafsumu yang tidak baik dari elegi dan jargonmu. Sebenar-benar engkau dapat membedakan adalah jika engkau bermujahadah. Tetapi tidaklah mudah bagi dirimu agar engkau dapat memerangi hawa nafsumu yang tidak baik. Diperlukan banyak syarat-syarat antara lain lepaskanlah segala simbol-simbol kebesaran yang melekat pada dirimu. Lepaskanlah segala tanda-tanda kepangkatanmu. Mengapa? Karena simbol-simbol kebesaran dan kepangkatanmu itu menjadi penghalang bagi usahamu untuk bermujahadah. Disamping itu engkau juga harus sungguh-sungguh dalam melaksanakan niatmu bermujahah.

Orang tua berambut putih:
Bagaimana caranya aku bisa melepaskan segala simbol kebesaran dan kepangkatanku? Kapan dan di mana aku bisa melepaskannya?

Hati bersih:
Namamu sebagai orang tua berambut putih itu adalah lambang kebesaran dan pangkatmu. Maka jika engkau ingin bermujahadah betul-betul maka lepaskanlah namamu itu. Maka cukup engkau sebut dirimu sebagai hamba saja. Sedangkan kapan dan di mana engkau melepaskan simbol-simbol kebesaran dan kepangkatanmu itu, tanyakan saja kepada ruang dan waktu.

Hamba:
Wahai hati sejati. Perkenankanlah pada waktu inilah dan pada tempat inilah aku melepaskan nama kebesaranku itu. Perkenankanlah engkau sebut aku sebagai hamba seperti nasehatmu. Dan aku akan bersungguh-sungguh dihadapanmu.

Hati bersih:
Wahai hamba yang bersahaja. Jangan salah paham. Bukanlah mujahadahmu itu ditujukan kepadaku, tetapi bertaqarrublah kepada Allah SWT. Wahai hamba yang sedang bermujahadah. Sekali lagi aku ulangi bahwa bermujahadah itu adalah melawan hawa nafsu yang tidak baik. Banyak sifat-sifatnya nafsu tidak baik itu. Nafsu tidak baik itu adalah nafsu yang hanya menuruti hawa nafsunya, suka yang enak-enak saja, suka bersenang-senang saja. Nafsu yang tidak baik itu juga identik dengan sifat sombong, iri, dengki, marah, bakhil, riya, khianat, munafik dan pendusta. Maka orang-orang yang demikian itu belum mampu membedakan yang baik dan yang buruk, dan belum memperoleh tuntunan dari Allah SWT. Semua yang bertentangan dengan nafsunya dianggap musuh, dan semua yang sejalan dengan nafsunya adalah kawan-kawannya.

Hamba:
Wahai hati sejati. Padahal aku terkadang melakukan hal-hal demikian, walaupaun cuma sedikit. Maka mohon ampunlah aku ya Allah robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa nafsu tidak baik itu tidaklah hanya yang telah aku sebut di atas. Nafsu yang tidak baik itu juga meliputi nafsu yang tidak stabil. Pada suatu saat dia merasa telah bertaqwa dan memperoleh pencerahan hati, tetapi pada saat yang lain dia itu tergoda untuk kembali melakukan maksiat, walaupun kemudian sadar dan bertaubat. Dia itu telah menyadari akibat-akibat dari perbuatannya, tetapi belum mampu mengekang nafsunya.

Hamba bersahaja:
Wahai hati sejati. Padahal aku terkadang melakukan hal-hal demikian, walaupaun cuma sedikit. Maka mohon ampunlah aku ya Allah robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Jiwa dan hatimu telah bersih dari sifat-sifat tercela dan engkau mulai mampu memproduksi sifat-sifat yang baik dan terpuji. Jiwamu akan terasa tenang, mampu mengendalikan diri, ingin melakukan kebaikan-kebaikan serta menghindari diri dari perbuatan dosa. Dirimu yang tenang kemudian menimbulkan kemampuan untuk selalu mengingat Allah SWT sehingga engkau selalu ingin beramal saleh. Semakin bertambah ruang dan waktu maka dirimu akan semakin mantap dan tidak mudah tergoda oleh nafsu-nafsu tidak baik.

Hamba bersahaja:
Alhamdulillah. Amien

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Engkau akan diberi kemudahan untuk memperoleh ilmu-ilmu yang bermanfaat. Engkau akan bersifat tawadu’, pemurah, mudah bersyukur. Maka insyaallah, hidupmu akan memperoleh hiasan akhlak yang terpuji, menjadi orang yang sabar, tabah dan ulet, karena engkau selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT.

Hamba bersahaja:
Amien..amien..ya robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Insyaallah, atas doa-doamu dan perkenan Nya, Allah SWT akan selalu meridlai mu dengan segala ketetapan Nya. Maka engkau akan mempunyai kemampuan mengamban amanah untuk mensejahterakan keluargamu, masyarakatmu dan bangsamu. Engkau akan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan YME. Maka dalam keadaan apapun engkau akan selalu ridlo dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan ikhlas menjauhi larangan Nya, serta merasakan selalu berkecukupan terhadap apa yang diberikan oleh Allah SWT.

Hamba bersahaja:
Amien..amien..ya robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Insyaallah, atas doa-doamu dan perkenan Nya, Allah SWT akan selalu meridlai mu dengan segala ketetapan Nya. Jika Allah SWT telah ridla terhadap dirimu maka tanda-tanda keridlaan Nya akan tampak pada dirimu. Doa-doamu adalah dzikir-dzikirmu. Maka seluruh tubuhmu itulah dzikirmu. Insyaallah, jika Allah SWT mengijinkannya, maka orang-orang seperti itu akan memperoleh kemuliuan baik di dunia maupun di akhirat. Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikanmu maupun keburukanmu.

Hamba bersahaja:
Amien..amien..ya robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Insyaallah, atas doa-doamu dan perkenan Nya, Allah SWT akan selalu meridlai mu dengan segala ketetapan Nya. Jika Allah SWT telah ridla terhadap dirimu maka tanda-tanda keridlaan Nya akan tampak pada dirimu. Doa-doamu adalah dzikir-dzikirmu. Maka seluruh tubuhmu itulah dzikirmu. Insyaallah, jika Allah SWT mengijinkannya, maka orang-orang seperti itu akan memperoleh kemuliuan baik di dunia maupun di akhirat. Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikanmu maupun keburukanmu. Segala macam ilmumu yang engkau peroleh adalah anugerah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkenan menghampirimu, maka jiwa dan hatimu begitu dekat dengan Nya. Kemanapun engkau palingkan wajahmu maka yang tampak adalah rakhmat dan hidayah Nya. Untuk itu maka jagalah dirimu itu dengan sepenuh hati dengan cara selalu bermujahadah, yaitu mengendalikan hawa nafsu yang tercela, mengarahkan ke hawa nafsu yang baik-baik, meningkatkan ketaqwaan terhadapAllah SWT, dan selalu memohon ampun dan pertolongan Nya.

Hati bersih dan hamba bersahaja:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien

(Tulisan ini didukung oleh beberapa sumber buku-buku doa Agama Islam)

22 comments:

sumadi said...

Kembali berbicara tentang jargon, jargon akan sulit dihilangkan manakala nafsu sudah ikut memperkuatnya.Karena nafsu duniawi manusia memanfaatkan jorgon-jargon dalam dirinya di hadapan sesama umat untuk mempertahankan identitasnya. Jika nafsu yang sudah berbicara akal dan pikiran sudah lagi digunakan karena akalnya dikuasi nafsunya.Kadang orang tidak menyadari bahwa langkahnya dikuasai nafsu dan jargon yang ada pada dirinya. Disini peran pencerahan agama yang dapat mengembalikan manusia kejalan yang benar.Tidak sedikit orang terjatuh dalam pergaulan karena nafsunya.maturnuwun pak atas petuah dan nasehatnya, saya tunggu tulisan dan pesan2 untuk kehidupan ini.

Dr. Marsigit, M.A said...

Pak Sumadi...memang demikianlah pak kiranya. Kita selalu berdoa dan berikhtiar sesuai bidang kita masing-masing, apapun kedudukan dan jabatannya, agar kita selalu terjaga dan dapat berkarya lebih baik. Terimakasih atas komen-komennya, paling tidak untuk menjaga silaturakhim kita. Amien

Yunanti_Nice said...

Hati ibarat bulan yang bersinar..
Bulan tidak akan bersinar bila tertutup awan gelap, begitu pula dengan hati. hati akan gelap, tidak peka, dan sulit untuk menerima petunjuk, keras dan tidak lembut, karena tertutup awan maksiat.
Manusia tidak lepas dari dosa dan maksiat. Untuk itu, jangan bosan-bosannya kita Beristighfar dan selalu memperbaiki diri menuju yang lebih baik..

Terimaksih banyak Bapak..melalui Jargon ini..semoga semakin rajin kita untuk berIstighfar..saling menginagtkan..dan berlomba-lomba dalam kebaikan...

wassalam
Yunanti Tri Wiranti
P.Mat.R.06

Nina Agustyaningrum said...

manusia begitu dekat dengan dosa..
hati adalah kunci dari keselamatan. bila hati kita bersih maka bersih pula jasmani kita. untuk menjaga kebersihan hati agar tidak dikuasai oleh nafsu maka kita harus selalu mendekatkan diri dengan Nya. Istigfar dalam setiap langkah kita. niatkan semua yang kita lakukan untuk mendapatkan ridhoNya..

semoga kita senantiasa dimudahkan dalam menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.Amin....

Dr. Marsigit M.A. said...

Yunanti Tri Wiranti...masih tentang perumpamaan bulan, Rasulullah bersabda "Sesungguhnya kamu kelak melihat Tuhanmu seperti melihat bulan ini. Kamu tidak teraniaya dalam melihat kepada-Nya. Kalau kamu mampu untuk tidak dikalahkan atas shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka berbuatlah."(H.R. Bukhari Muslim)

Dwi Pembangun Ari Yuwono said...

Kita harus selalu beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT walaupun kita merasa bahwa hawa nafsu yang tidak baik tidak singgah di dalam diri kita.karena hawa nafsu tidak bisa kita ukur baik atau tidak baiknya.sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.
terimakasih Pak...dengan membaca tulisan Bapak akan lebih membuka hati untuk kita bermujahadah.

Yunanti_Nice said...

iya pak...terimakasih..Semoga kita dipertemukan di surgaNya kelak..amien..

Saya tunggu Jargon selanjutnya..

Wassalam.
Yunanti Tri Wiranti

ARIF MU'NANDA'R said...

saatnya para orang tua berambut putih bermujahadah... bahkan tidakcuma dia, sudah sepantasnya semua komponen yang ada pada kita mulai dari fisik(indra) maupun non fisik (hati dan para nafs) bermujahadah. tentu akan lebih sulit memberikan kesadaran pada para nafs untuk bermujahadah dari pada orang tua berambut putih itu. karena para nafs terdiri dari banyak angkara murka (amarah), banyak keserakahan(lawamah), banyak keraguan(sufia) yang selalu membongkar jargon-jargon yang semestinya mulai beristirahat. wallohu a'lam

izatul ifada said...

manusia tak pernah lepas dari nafsu..
ketika nafsu yang satu tlah berhasil kita kalahkan, maka akan dihidupkan nafsu yang lain untuk kembali menguji seberapa besarkah kemampuan kita untuk berjihad, berjuang melawan diri kita sendiri.

berjuang melawan diri sendiri adalah lebih berat..

mengalahkan diri sendiri butuh energi yang lebih kuat

energi yang berasal dari kekuatan iman, kekuatan hati..

Ya Allah, kuatkan kami menghadapi segala macam ujian-Mu..
apapun bentuk ujian itu..
dan ijinkan setiap ujian itu mendekatkan kami pada- Mu..

aaamien..

Rossa Kristiana said...

Banyak yang bilang "manusia adlah lahan yang paling subur untuk menanam dosa"...
Tapi sudah selayaknya kita sebagai manusia tidak lekas putus asa dan menelan bulat-bulat pernyataan itu tanpa berusaha menjauhi perbuatan yang dapat menimbulkan dosa dan selalu berusaha menjadi manusia yang baik..
Manusia yang selalu dekat dengan Tuhannya... N tak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah bukan pada selainnya...Dan terus berusaha untuk selalu b'kata, b'buat yang baik-baik, hal yang tidak melanggar aturan atao norma yang berlaku..
Kehidupan akn sangat b'makna bila qta tidak lupa pada Allah dalm kondisi apapun...
Dan smoga kesederhanan ilmu yang kita raih dapat selelu membimbing qta untuk selalu mengingat Allah n tak lupa bersyukur atas semua yang qta miliki..

MEINA berlianti said...

ASSALAMU'ALAIKUM WR WB..

Betapa sulitnya mengubah diri dari buruk menjadi baik tetapi lebih sulit lagi mempertahankan sebuah kebaikan agar menjadi tetap baik ataupun lebih baik lagi.

Betapa mengagumkan sebuah kebaikan tetapi lebih mengagumkan lagi sebuah keburukan yang mulai berubah menjadi kebaikan.

ety antikasari said...

Assalamu 'alikum bpk...........
Ketika hati manusia tergerak untuk mencari suatu kebaikan seperti ilmu, banyak sekali hal yang harus manusia perangi. Sedangkan manusia tahu bahwa perang terbesar adalah melawan hawa nafsunya sendiri. Saya sependapat dengan bapak, ketika ketulusan dan kebersihan hati tidak melingkupi kita saat pencarian sebuah kebaikan seperti ilmu maka apa yang kita dapat hanya sesaat. Sebatas pengetahuan sekilas saja, sedangkan nafsu buruk senantiasa melingkupi dan menggerogoti niat baik kita. Keinginan untuk berbuat mudharat lebih besar dibandingkan untuk bermujahadah. Bapak, sesungguhnya bagaimana menyelami diri pribadi hingga kita tak tergiur dengan nafsu kita sendiri yang mungkin itu jurang bagi kita? Sedangkan manusia tak pernah luput dari kata khilaf, keinginan untuk al ingkilab ke arah kebaikan senantiasa muncul dan tenggelam. Saya merasakan bagaimana sulitnya memperoleh ilmu hingga benar-benar merasuk ke nadi saya. Saya faham hal itu terjadi kara kurang bersihnya hati saya dalam upaya pencapaian hal tersebut. Terima kasih karena bapak memberikan pencerahan pada saya lewat tulisan bapak ini. Semoga saya bisa seperti apa yang telah bapak goreskan.

Stop Dreaming Start Action said...

postingannya sangat bagus... aku sangat senang membacanya. Makasih ya atas postingan yang bagus ini

Tri Mulyono Edi Saputro said...

pak..pak... mbok topiknya ganti...biar ada penyegaran gitu....

Dini Wirianti, S.Pd::Graduate student::LTA said...

Tidak harus menunggu usia bertambah untuk mau menjadi hamba yang papa di hadapan Allah demi menyadari kesombongan dan kekurangan manusia. Kedewasaan dan kerendahan hati akan mengantar ke tingkat kehidupan yang lebih bermakna.

listia_akhmad@yahoo.com said...

Akhmad Suhadi, PMA 09709251019

Orang tua berambut putih adalah seseorang yang merindukan adanya nilai taqarrub ilAlloh namun hatinya bimbang dan masih banyak pengaruh-pengaruh dunia yang menghalanginya sehingga dia perlu tuntunan dari jiwa dan hati yang bersih yang bukan hanya sekedar tuk bermain-main untuk lupa akan Tuhannya, akhirnya dia meninggalkan semua atribut kebesaran dan kepangkatannya besar dunianya untuk lebih taqarrub ilAlloh. Untuk menjadi Insan kamil (manusia sejati) yang pada hakekatnya manusia punya tugas yang utama di muka bumi yakni WAMKHOLLAKTULJINNA WALINSA ILLA LIYAKBUDUNI, bahwasanya Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanyalah untuk beribadah kepadaKU, kenapa harus ada manusia pada hakekatnya manusia dicipta oleh Tuhan untuk beribadah dan berdosa, sekarang tergantung dari kita mau jadi manusia yang mau bermujahadah atau tidak semua tergantung dari diri kita dan pikiran serta jiwa kita semua sudah ada tuntunannya. Mari kita jadi manusia yang selalu taqarrub pada Alloh SWT, banyak dhikir pada Alloh SWT dan beristigfar kepada Alloh SWT. Semoga kita menjadi Insan Kamil manusia yang sejati-sejatinya manusia yaitu hamba penuh rendah diri, dermawan, suka menolong, dan mau JIhad Fisabilillah.

listia_akhmad@yahoo.com said...

Akhmad Suhadi, PMA, 09709251019

Jihadul Akbar Jihadunnafs, Jihad yang paling besar menurut Rosullalloh SAW adalah jihad melawan hawa nafsu kita, kita terlepas dari Nafssu yang satu kita masih terhalang oleh Nafsu-nafsu lain yang lebih besar sehingga perlu adanya tuntunan untuk pengejawantahan diri kita, refleksi diri kita dan sekaligus tuntunan dan pedoman bagi diri kita agar kita menjadi manusia yang bahagia dunia wal akhirat. Amiin.

R. ADAWIYAH HAMZAH said...

keinginan untuk menjadi baik atau lebih baik merupakan hal yang manusiawi. maka ketika kita berkeinginan kuat dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik, Allah pasti akan memberikan ujiannya. dan ujian yang paling berat yakni melawan hawa nafsu itu sendiri. maka tiadalah yang bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik,kecuali upaya dirinya sendiri. senada dengan firman Allah dlam Al-Qur'an "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga ia merubah nasibnya sendiri" tentu tak terlepas dari kelemahan kita sebagai makhlukNya maka, mohon ampunlah dan mintalah pertolongan dan hidayahNya,..
terimakasih pak atas tulisan-tulisannya yg bisa kami jadikan bahan perenungan agar bisa menjadi lebih baik lagi,..
amiin,...wa insyaallah..

Anonymous said...

NAMA : SANTI TOWANSIBA
NIM : 06410341
UPY

Mungkin slama ini aku terlalu sibuk bermain-main dengan jargon-jargonku. dalam hal apakah yang harus membatasi kita agar tidak bermain-main dengan jargon-jargon?

rahmah purwahida zaiko said...

ketetapan hati pada yang Satu dalah kekuatan untuk merambah pada wilayah ke-ridha-an NYa, namun kemudahan-kemudahan sebagai tanda keridha-anNya bisa berarti juga ujiannya, hanya kesucian hati yang bisa "meliha" dengan bening untuk menuju jalan yang "sesungguhnya" dari sekian jalan yang Allah SWT tawarkan.

apakah kita mampu "istiqomah" selalu adalah pertanyaan yang juga selalu harus dihadirkan untuk sampai ke tujuan yang sebenarnya, tempat akhir berlabuh sesuai "KEHENDAK-NyA".

rima noviliani said...

Sebentar lagi ramadhan... semua orang dengan berbagai pangkat dan kedudukan akan bermujahadah... semangat bermujahadah dan menjadi sebaik-baik hamba...

Helmiah Suryani said...

Jika Allah SWT telah ridla terhadap dirimu maka tanda-tanda keridlaan Nya akan tampak pada dirimu. Doa-doamu adalah dzikir-dzikirmu. Maka seluruh tubuhmu itulah dzikirmu. Insyaallah, jika Allah SWT mengijinkannya, maka orang-orang seperti itu akan memperoleh kemuliuan baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga semua insan mampu untuk menggapai Ridho Alloh SWT.Tentu saja dengan usaha yang keras utk selalu dekat denganNya, Hati selalu terpaut padanya dlm keadaan apapun.

Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikanmu maupun keburukanmu. Segala macam ilmumu yang engkau peroleh adalah anugerah dari Allah SWT.
Naimat Alloh yang mana yang dapat kita dustakan?.
Jika Allah SWT berkenan menghampirimu, maka jiwa dan hatimu begitu dekat dengan Nya. Kemanapun engkau palingkan wajahmu maka yang tampak adalah rakhmat dan hidayah Nya. Itulah Rahmad yang sebenar Rahmad. Allohu Akbar.