Monday, May 11, 2009

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Diantara elegi-elegi apakah terdapat elegi favorit dan elegi kurang favorit?

Orang tua berambut putih:
Tentu ada. Elegi favoritku adalah elegi yang memberi inspirasi kepada berdayanya obyek dan terhindarnya eksploitasi dari subyek. Sedangkan elegi yang tidak demikian itu kurang favorit bagi saya.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

19 comments:

KARSO MULYO said...

Filsafat dan Elegi memang sangat dekat ya pak. Keduanya lahir karena ada keterkaitan antara akal dan ayat-ayat kauniyah. Semua akan menyesatkan jika tidak mencoba dikaitkan dengan ayat-ayat aqliyah. Namun sejatinya semua mahluk ciptaan Tuhan menuju kepada-Nya. Asal hati kita bersih dan siap menerima bimbingan Kenabian, maka filsafatpun sebenarnya dapat mengantarkan kepada kebenaran. Sayangnya manusia punya nafsu. Inilah yang menjadi penyebab akal terkadang tak mampu menerima kebenaran pengetahuan.

Dr. Marsigit M.A. said...

Alhamdullillah masih bisa silaturakhim. Nggih pak. Semoga kelancaran semua program-program. Amien.

KARSO MULYO said...

Amin. Saya selalu mengingat bapak. Konsistensi dan disiplin adalah dua kata yang saya figurkan dari bapak ketika mengajar.

Dr. Marsigit M.A. said...

Alhamdullillah. Amien. Salam juga buwat teman-teman.

fada, dalam sekelumit dunia.. said...

assalamu'alaykum pak..
saya izatul ifada..
dari kuliah bapak akhir- akhir ini saya menjadi semakin PD untuk "berpikir". Maksud saya, ternyata beberapa "tebakan" saya benar pak.
Sebelum kuliah yang terakhir kemarin , saya menyimpulkan bahwa segala sesuatu entah yang bersifat benar, bukan benar, salah, bukan salah, tepat, bukan tepat dan yang lain itu semua tergantung dari ruang dan waktu. bagaimana kita bertindak pas. pas waktunya. pas kepada siapa kita bertindak, pas dimana kita bertindak, sehingga semua dapat sesuai dengan apa yang seharusnya.
begitu kan pak?
terimakasih..

an_sky said...

filsafat mubngkin bagi sebagian orang yang sudah mengkajiny ataau bahkan sekedar tau mungkin bukanlah sesuatu yang berguna bahkan mungkin sebagian besar dari orang tersebut bahwa belajar filsafat bermanfaat. Tapi bagi sebagian kaum minoritas yang benar-benar awam akan filsafat akan memandang sebaliknya... Bahkan jika mental seseorang tidak terlalu kuat untuk belajar filsafat bisa membuat seseorang menjadi gila karena ada suatu kebenaran yang bertentangan dengan hidup yang ia jalani selama ini, misalnnnya?!
Jadi apakah dalm belajar filsafat yang sebenar-banarnya harus memiliki mental yang kuat pula, Pak??

Rossa Kristiana
06301241040
Pend Mat '06

asa aya said...

Assalam...
Entah kenapa setelah saya membaca elegi bapak yang satu ini pemahaman saya mengenai maksud bapak membuat elegi semakin bertambah. Beberapa orang menganggap elegi sebagai syarat wajib lulus mata kuliah filsafat pendidikan matematika. Namun tujuan utama adalah lebih dari itu. Seperti tujuan utama daripada filsafat yaitu melatih pola pikir kita agar tidak sekedar melihat puncak gunung es, melainkan menyelam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya... Agar melihat segala sesuatu lebih adil dan dan lebih teliti dalam memutuskan sesuatu.
Karena setinggi-tingginya ilmu adalah mengambil keputusan.
Terima kasih bapak.
Wassalam...

Betty Wijayanti
Pend. Matematika
(06301241034)

Ratna said...

Assalamu'alaikum Pak,
Setelah membaca elegi ini saya berpikir bahwa seseorang yang disebut orang tua berambut putih itu adalah bapak sendiri. Tetepi pada elegi lain saya berpikir bahwa orang tua berambut putih itu merupakah ilmu pengetahuan karena orang tua berambut putih akan hadir setiap ada pertanyaan. Terus sebenarnya orang tua berambut putih itu siapa atau apa?
Terimakasih
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

isti_hardiyanti said...

Melalui elegi wawancara orang tua berambut putih ini, kita dapat mengetahui apa sebenarnya elegi itu.Kebutuhan untuk tetap menjaga pikiran kita agar tidak terjebak di suatu titik yaitu mitos. Sepertinya saya masih terjebak dalam mitos-mitos saya sehingga belum mampu menghasilkan elegi.Namun, saya berusaha agar secepatnya juga dapat membuat elegi.amin..

Luthfiana Fatmawati said...

Maaf,pak. Saya sedikit bingung.
Bukankah Bapak mengatakan bahwa:
“Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit … “
Tapi mengapa Bapak menggunakan kata-kata “elegi” sebagai judul setiap karangan bebas Bapak? (Di dalam elegi tersebut Bapak menjawab:
“Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.”)
Tapi..bukankah kata-kata yang kita baca itu mempengaruhi pikiran kita (semacam ter-sugesti)??
Sebagai contoh, banyak orang berpendapat bahwa matematika itu sulit, maka kita berusaha menetralisir dengan berbagai pendekatan atau metode pembelajaran yang bermacam-macam. Sehingga matematika tidak dianggap sulit lagi.
Terima kasih..

yanuar pmr'06 said...

asslk Pak......
setiap orang bebas berfilsafat,jika seorang pembantu rumah tangga bisa berfilsafat,seperti apakah filsafatnya???apakah ini bertentangan dengan pernyataan Orangtua bermbut putih yang mnyatakan bahwa " Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya."????
apakah ada filsafat yang bernilai salah???
yanuar pmr06

Daria Anggawati said...

Assalamualaikum,pak...
Setelah saya membaca tentang "Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih",saya menjadi lebih paham mengapa kita juga harus belajar mengenai filsafat.Setiap apa yang berada di sekitar saya dapat saya ambil ilmu/hikmah yang menjadikan saya lebih berani dalam bertindak dalam segala hal.
Disamping itu saya mendapatkan titik terang dalam membuat elegi perbincangan matematika.
Terima kasih...

Nina Agustyaningrum said...

terjebak ke dalam mitos - mitos kita sendiri memang suatu hal yang sering terjadi namun tidak disadari..

saya juga masih sedikit bingung dengan bagaimana suatu hal itu dikatakan suatu mitos?setahu saya mitos hanyalah pikiran - pikiran orang tua zaman dulu yang selalu melarang ini dan itu karena dianggap tabu atau dapat menimbulkan bahaya..

apakah perbedaanya mitos para orang tua zaman dulu tersebut dengan mitos dalam filsafat pak?bagaimana caranya agar kita segera mengetahui jika suatu saat kita terjebak dalam sebuah mitos?

dengan membaca elegi - elegi bapak yang tidak lain merupakan usaha bapak untuk memfasilitasi siswa agar tidak terjebak kedalam mitos - mitos juga telah saya lakukan, namun saya juga belum dapat mengetahui dengan pasti apakah saya sudah terbebas dari mitos atau sebaliknya..

ERVINTA said...

assalamualaikum..

terimakasih atas nasehatnya kemarin.
saya jadi terinspirasi menulis mengenai PD dan Integral yang sudah saya pikirkan agak lama tapi tak kuasa saya postingkan.

Semoga besok bapak sudah bisa membaca sekelumit pemikiran saya.

Wassalam

Fithria Aisyah R_P.Math.06 said...

Assalam....

Mungkin elegi ini adalah elegi yang paling menarik dan berkesan bagi saya..karena sebenarnya saya sudah berusaha memberi komen pada elegi ini dari beberapa waktu lalu namun selalu gagal sehingga saya sempat merasa malas untuk memberi komen, akan tetapi karena isinya yang menarik maka saya berusaha kembali disini meskipun saya sudah membaca elegi ucapan selamat jalan dari bapak...
Bagi saya elegi ini seakan membuka tabir rahasia-rahasia dari elegi-elegi sebelumnya yang membuat saya menyadari betapa banyak kesalahan dan kekurangan saya selama ini dalam belajar filsafat...
Akan tetapi salah-benar,sama-beda,tepat atau tidak,tetap atau tidak ,tergantung dari segi ruang dan waktu mana kita melihatnya...

Terimakasih pak dan mohon ma'af atas semua kesalahan dan kekurangan saya....

Nini Wahyuni said...

Bagi yang belum nmengenal filsafat maka akan berpendapat bahwa Filsafat itu aneh dan memusingkan. Bahkan ada seorang teman yang berpendapat bahwa " Saya tidak mau mendalami filsafat karena tidak mau menjadi gila ...". Se extreme itukah filsafat?

Tadinya saya berpikir bahwa filsafat itu adalah ilmu yang merumitkan sesuatu yang pada dzohirnya simple. Tapi karena filsafat, semua terlihat berbeli-belit penuh misteri dan amat sangat membingungkan.

Jujur, itulah yang saya temui pada setiap tulisan2 Mr. Marsigit. Saya tau tulisan2 itu bagaikan kerang di dasar lautan yang berisi mutiara yang amat berharga. Namun, walaupun kerang itu sudah ditangan, saya tak tau bagaimana mengambil mutiaranya.

Ketika membaca "Elegi wawancara Orang tua Berabut Putih" ini, sedikit banyak saya mulai mampu menguak misteri yang selama ini ada.Dan pertanyaan2 tentang filsafat pun mulai mendapatkan. jawaban.

Ternyata melalui tulisan2nya Mr. Marsigit ingin merubah paradigma berpikir banyak orang tentang filsafat yang memang selama ini hanya di pandang sebelah mata.

Dan Elegi merupakan refleksi dari filsafat itu. Disana, ada ungkapan pemikiran, gejolak emosi dan rasa, dilema dan permasalahan sosial masyarakat, dan lainnya, yang dikemas begitu cerdas dalam bentuk tulisan2.Sehingga sesuatu yang pada dasarnya sederhana, terlihat begitu mengguggah karena sentuhan Filsafat.

Dalam elegi2-nya Mr. Marsigit mencoba untuk berbagi ilmu tanpa harus menggurui, mengajar tanpa harus menerangkan dan mendidik tanpa harus mendikte. Sehingga pemahaman itu lahir dari kesadaran hati nurani.

Kemudian, dalam setiap tulisannya, Mr. Marsigit mencoba menggambarkana bahwa Filsafat itu Indah, menarik dan Mudah. Siapapaun, dimanapun dan kapanapun bisa berfilsafat. Dan segala sesuatunya bisa kita jadikan objek filsafat.

Jadi, Bravo utuk Mr. Marsigit ...
Dan Bravo untuk kita semua yang tak pernah lelah untuk terus belajar dan belajar ....

Nini Wahyuni
Linguistik Terapan/ Class A
2009-2010

Dr. Marsigit M.A. said...

Ass Ibu Nini Wahyuni, teruskanlah membaca Elegi-elegi. Semoga sukses. Amien

Dini Wirianti, S.Pd::Graduate student::LTA said...

Saya jadi punya gambaran belajar Filsafat. Ini merupakan pencerahan bagi saya. Filsafat itu sangat luas namun dapat dipandang/dipahami dengan tidak rumit. Filsafat itu agung namun dapat diterapkan dalam keseharian sesuai dengan ruang dan waktunya. Terima kasih ya Pak. Selamat Berkarya :)

rahmah purwahida zaiko said...

elegi favouritku adalah elegi tentang elegi, dan itu saya nantikan Pak.
trims.