Wednesday, October 21, 2009

Refleksi Diri

Oleh Marsigit

Jika kita ingin melihat dunia maka tengoklah ke dalam pikiran kita, karena dunia itu persis seperti apa yang kita pikirkan.
Jika kita pikir dunia itu baik, maka baiklah dunia itu.
Jika kita tersenyum kepada dunia, maka dunia juga akan tersenyum kepada kita.
Tetapi jika kita menghujat dunia, maka dunia juga akan menghujat kita.
Jika kita berlaku sombong kepada dunia, maka dunia juga akan berlaku sombong kepada kita.
Jika kita santun kepada dunia maka dunia juga akan berlaku santun kepada kita.
Maka jika kita ingin merasakan dunia maka tengoklah perasaan kita, karena dunia itu persis seperti apa yang kita rasakan.
Janganlah menunda meraih syurga menunggu kematian kita, sedangkan neraka itu siap menjemput walau kita masih di dunia.
Mencari ilmu berbekal ilmu, menggapai hidayah berbekal hidayah.
Setinggi-tinggi urusan dunia dan akhirat adalah ikhlas adanya.
Aku menyadari bahwa kesombongan adalah dosa pertama dan paling besar di hadapan Tuhan.
Aku menyadari bahwa sebuah kesombongan akan menutup dan mencegah diriku memperoleh ilmu dan hidayah. Lebih dari itu, kesombongan juga akan membakar habis semua yang telah aku peroleh.
Sedang aku juga menyadari bahwa bertambahnya umurku maka akan bertambah pula egoku. Aku juga menyadari bahwa egoku yang aku lebih-lebihkan itu ternyata merupakan kesombonganku pula.
Maka aku selalu berusaha untuk meluruhkan kesombonganku dengan memohon ampun dan pertolongan kepada Tuhan. Amin.
Untuk kita semuanya yang selalu ikhlas dalam membaca dan berusaha semoga Tuhan YME selalu melimpahkan rakhmat dan hidayahnya.

Amiiin.

30 comments:

Anonymous said...

luar biasa Pak Refleksi Dirinya,membuat kita dapat berpikir lebih baik, lebih dewasa, lebih berpikir positif lagi dan bijak karena pada dasarnya KITA adalah NYAWANYA DUNIA dan DUNIA adalah RAGANYA KITA.KITA dan DUNIA adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk menjalani kehidupan sementara menuju kehidupan yang kekal.Kita dan Dunia hanyalah media, kita saling memanfaatkan dan membutuhkan.Hubungan tersebut akan berakhir dengan hancurnya KITA dan DUNIA, namun ada yang tidak akan hilang yaitu amal kebaikan dan KITA tetap akan ada walau DUNIA sudah tidak ada.KITA akan tinggal di alam beda yauti SURGA/NERAKA. Tergantung kita akan memilih tinggal dimana????
Terimakasih

NAMA : KRISDIYANTO
NIM : 04410134
PRODI : PEND. MATEMATIKA
UNIV. : UNIV.PGRI YOGYAKARTA

Siti Salamah Graduate Student LT/A said...

iya Pak,hanya saja bagaimana mencapai ikhlas dan sabar dalam hidup? karena setiap detik rupa-rupanya tidak akan lepas dari dua hal itu. Jika saya melihat berapa banyak Allah menyebutkan kata itu dalam Al-Qur'an, nampaknya tidak terlepas dari beratnya mewujudkan kata ikhlas dan sabar dalam hidup kita.
bersabar menghadapi Ego kita, menepis sekala bentuk keakuan yang bentuk fatalnya adalah sikap sombong arogan lalu perasaan diri yang paling benar. seperti yang tergambar dalam Al-Qur'an, bagaimana Allah telah mengabadikan kisah Fir'aun sebagai satu pembelajaran luar biasa untuk kehidupan manusia.
terima kasih Bpk, semoga kita bisa berproses untuk menggapai SurgaNya
Amiin..
Amiin,...

R. ADAWIYAH HAMZAH said...

benar memang,..dunia itu seperti apa yang kita pikirkan dan seperti apa yang kita rasakan. senada dengan firman Allah dlm hadist qudsi yg artinya "Aku (Allah) seperti sangkaan hambaKu"
karena Allah-lah yg menjadikan dunia dan mengatur kehidupan yg ada di dalamnya, maka ketika manusia menganggap dunia tidak adil, dengan tanpa disadarinya manusia itu menganggap bahwa Tuhan pula tidak adil. dan tak salah kalau apa yang kita ucapkan merupakan sebuah doa yang kita panjatkan dan sesungguhnya Allah akan mengabulkan setiap doa yg dipanjatkan hambaNya, maka berhati-hatilah pada setiap kata yang engkau ucapkan, karena MULUTMU ADALAH HARIMAUMU...

santi towansiba said...

NAMA : SANTI TOWANSIBA
NIM : 06410341
DARI : UPY

1.Jika kita pikir dunia itu baik maka dunia itu baiklah pula.
*apakah hal tersebut berlaku surga pada kita?
2. Refleksi diri sangat bermanfaat bagi pembaca terutama bagi mahasiswa untuk berfikir positif untuk melangkah lebih jauh lagi.

COTEFL_International Conference said...

prismatis...dan jujur. itulah hati...jadi ingat ontologi puisinya pak Pradopo yang baru-baru ini diluncurkan...semuanya soal waktu dan ajal, yang kita dari detik-ke-detik menghabiskannya...kadang dengan penuh kesadaran, terkadang terbenam dalam lubuk kealpaan....Kealpaan itu berwujud diantaranya kemarahan yang tanpa sebab, reaktif yang tak-terkendali, dan ego yang meraja. serta upaya diri untuk mempertahankan itu dengan segala cara...Percayalah setiap sebar yang kita benih niscaya tuai yang kita raih. APAPUN ITU....
Kris LT 09

ikaindriyati.English1 said...

Assalamu'alaikum pak, saya sudah mem- posting tugas, mohon dicek di email saya,
terimakasih

Anonymous said...

assalamualaikum wr wb

bpk mungkin tdk ingat saya krn memang tak ada dlm diri saya yg layak utk Bpk ingat.
Tp sebaliknya, dlm ingatan saya, Bpk adl sosok yg luar biasa; minimal dibanding saya.
terus terang saya kagum dg uraian2 Bpk.Harapan saya, Bpk bs terus mengurai lbh byk lg pemikiran2 lain utk memberi pencerahan hati kpd murid2 Bpk spt saya yg krn byk hal tdk mungkin lg bs blj byk hal dr Bpk scr langsung.
terima kasih.
wassalamualaikum wr wb
dari : murid Bpk : munt_2009@yahoo.com(kebumen)

Dr. Marsigit M.A. said...

Muridku Munt di Kebumen, ingatan atau tidak ingat seseorang itu mempunyai ragam dan taraf. Salah satu faktor penentunya adalah frekuensi dan event komunikasi. Anda telah membuat event komunikasi sehingga mendorong saya untuk berusaha mengingat anda, tetapi informasi yang aku dapat tidaklah lengkap. Apapun taraf ingatan saya terhadap anda yang pasti saya teringat bahwa saya selalu berusaha menjalin komunikasi yang baik kepada siapapun, termasuk anda. Apa dan bagaimana kegiatan anda sekarang? Terimakasih atas waktu yang telah anda luangkan, dan selamat berkomunikasi dengan ide-ide saya. Please be feel free to comment. Semoga sukses. Amiinn.

MY Math Actualization said...

Pak.....Marsigit......kemarin malam setelah sesi terakhir yang Bapak sampaikan, saya bilang bahwa Seorang guru sejati adalah seorang yang berjiwa guru.....tapi Bapak tersenyum dan sedikit tertawa....apa arti senyum dan tawa Bapak?Adakah yang salah dari pernyataan saya....mohon penjelasannya, apabila ada perkenan.

Dr. Marsigit M.A. said...

Aku tersenyum karena ide ibu yang bagus.Aku tersenyum karena ide ibu itu merupakan sebuah potensi.Aku tersenyum karena aku melihat dibalik penampakan ide ibu ada sebuah perjalanan dan perjuangan panjang untuk mewujudkan bagaimana guru berjiwa guru itu.Aku masih tersenyum karena aku melihat ide ibu sebagai sebuah cikal bakal. yang perlu dikembangkan dan akhirnya mampu berbuah.Aku sekarang bahkan tertawa lebar karena melihat ibu sangat concern perihal hal tersebut.Akhirnya aku harus menghentikan senyuman dan ketawaku untuk meluangkan waktuku untuk berdoa agar ikhtiar kita semua bisa kita raih.Silahkan ibu telusuri terus pikiran-pikiranku melalui elegi-elegi. Amiin

arif said...

ssupeeeeer

rahmah purwahida zaiko said...

aS.
Pertemuan demi pertemuan dan dialektika demi dialektika dengan ide-ide Bapak adalah "proses bercermin" bagi saya.

Refleksi diri akan membawa kekuatan bagi kita untuk terus maju pada tujuan "sesungguhnya" yang harus kita gapai dan bisa juga menarik kita kembali pada jalan yag tepat untuk menggapai tujuan sesungguhnya.

Pertemuan Selasa lalu menyematkan senyum terdalam di hati saya. Karena satu kata kunci yang Bapak kemukakan "ikhlas".

"Keikhlasan" dalam menuntut ilmu akan membawa berkah tak terhingga dalam hidup.

Tajamnya pemikiran dan pertimbangan Bapak tentang keikhlasan untuk merefleksi diri adalah akumulasi dari setiap pengalaman keikhlasan yang sebelumnya pernah dialami dalam hidup.

apakah perjumpaan pada "kesalahan" harus selau kita lalui dulu untuk berjumpa pada keikhlasan?

apakah perjumpaan pada "kesadaran mengenai kesalahan" yang akan mebuat keikhlasan kita permanen?

saya mengharap jawaban Bapak. Trims.

Dr. Marsigit M.A. said...

Sdr Rahmah Purwahida Zaiko. Kesadaranku maliputi dua hal Pertama kesadaran keluar dan kedua kesadaran ke dalam. Kesadaran keluar mengandung arti dan semangat menterjemahkan segala yang ada dan yang mungkin ada. menterjemahkanyang ada dan yang mungkin ada itulah sebenar-benar aku berfilsafat, artinya aku akan memperoleh pengetahuanku tentang yang ada dan yang mungki ada bila aku berpikir kritis. Pikiran kritisku dimulai dengan kesadaranku tentang makna yang ada dan yang mungkin ada. Wujud dari kesadaran awalku adalah pertanyaanku. Maka pertanyaanku adalah awal dari segala pengetahuanku. Kesadaran kedalam mengandung arti bahwa aku secara ikhlas diterjemahkan oleh yang ada dan yang mungkin ada. Tuhan menterjemahkan yang ada dan yang ada pada diriku. Demikian juga akar dan rumput, bebatuan, tumbuhan dan binatang juga menterjemahkan yang ada dan yang mungkin ada pada diriku. Jika aku intensifkan kesadaranku yang kedalam dan keluar itu maka aku selalu berusaha menyadari maklhuk sekecil apapun , misalhya seekor syaitan, yang bahkan berusaha menempel pada kulitku. Jangankan dia menempel pada kulitku, maka ketika dia berusaha meraih pikiranku juga aku berusaha menyadarinya. Maka keputusanku yang paling tinggi yang dituntun oleh hatiku dan di Ridhloi Allah SWT ternyata mampu mengusir seekor syaitan tersebut. Itulah kekuatan filsafatku, yang tiada arti jika tidak dipandu oleh hati atau keyakinanku. Amiin.

Husna Arifah said...

Merefleksi apa yang telah terjadi dan dialami selama hidup adalah suatu keindaha berpikir. Terimakasih Pak, karena ternyata karya tulis bapak telah bisa memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya berkaca mengenai duni pada alam pikiran kita sendiri, mengenai bertindak ikhlas dan menghilangkan kesombongan. Tetapi sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan, pastilah melakukan tindakan dengan ikhlas dan berbuat sesuatu tanpa kesombongan sedikitpun akan terasa tidak mudah. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan Pak sebagai cara nyata kita dalam memperbaiki diri kedepannya? terimakasih..


HUSNA ARIFAH
NIM: 08301241008
PEND. MATEMATIKA SUB 08
UNY

rahmah purwahida zaiko said...

Menarik! Itulah konsep kesadaran yang hadir dalam perenungan Bapak.
Namun, ku bertemu lagi dengan "..." diantara kesadaran-kesadaran itu ada kesadaran yang lainnya. Kesadaran "..." yang tidak tepat disebut kesadaran ke luar maupun kesadaran ke dalam. Seperti pikiran dan perenungan Bapak:
"Demikian juga akar dan rumput, bebatuan, tumbuhan dan binatang juga menterjemahkan yang ada dan yang mungkin ada pada diriku." Aku sebut proses menterjemahkan oleh mereka adalah kesadaran diagonal. inilah pikiranku : kesadaran adalah kesadaran vertikal dan horizontal juga kesadaran diagonal.

Bagaimana Bapak?
Trims.

Anonymous said...

apa yang bapak tulis begitu bijak, setelah membacanya saya makin sadar untuk melakukan koreksi diri bahwa pikiran kita terhadap sesuatu/pekerjaan akan memotivasi kita untuk melakukannya atau meraihnya. Kalau kita selalu optimis dan berbaik sangka dengan apa yang kita lakukan maka hasilnya pun akan memuaskan kita.
terima kasih banyak karena bapak telah mengingatkan kami untuk introfeksi diri.

Anonymous said...

pa yang bapak tulis begitu bijak, setelah membacanya saya makin sadar untuk melakukan koreksi diri bahwa pikiran kita terhadap sesuatu/pekerjaan akan memotivasi kita untuk melakukannya atau meraihnya. Kalau kita selalu optimis dan berbaik sangka dengan apa yang kita lakukan maka hasilnya pun akan memuaskan kita.
terima kasih banyak karena bapak telah mengingatkan kami untuk introfeksi diri (atiaturrahmaniah)

Dr. Marsigit M.A. said...

Ass. Sdr Husna Arifah dan Ibu Atiaturakhman ..alhamdulillah ..amiin.
Untuk Srdi Rahmah Purwahida dari dialog ku dengan anda aku menemukan adanya kesadaran keluar, kedalam, kesadaran liner, kesadaran sirkular, kesadaran vertikal, kesadaran horizontal (seperti istilah dari anda), saya tambah kesadaran dimensional dala ruang dan waktu, saya tambah kesadaran dimensi satu, dimensi 2, dimensi 3. Jika apa yang ada dan yang mungkin ada di dalam dimensi 3 itu adalah dunia ini, maka apakah yang engkau pikirkan dengan dunia dimensi 4? Maka aku menemukan bahwa dunia dimensi 4 itu adalah spiritual ku. Maka apakah kemudian dimensi 5 itu. Padahal secara matematis aku bisa menemukan dimensi n. Maka semua kesadaranku akan dimensi-dimensi itulah yang telah sedang dan akan menganyam dunia ini. Itulah sebenar-benar filsafatku, yaitu anyaman duniaku dalam kesadaran dimensiku. Amiin

Jero Budi D. (S2 - P.Mat UNY) said...

Dalam the Secret, dikenal rahaia bahwa apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi. Begitu juga dengan "Mastakung"-nya Prof. Yohanes Surya.
Suatu ungkapan yang layak dan wajar jika dipikirkan secara logis, namun kembali lagi bagaimana kita bisa menengok pikiran kita. Saya rasa, kemampuan menengok untuk setiap orang adalah berbeda. Barangkali saya sendiri merupakan penengok yang masih sangat amatir, karena selalu menengok dunia yang sempit dan bahkan sangat sempit ketika sedanga menghadapi kekesalan.
"Thanks for alls"

Dr. Marsigit M.A. said...

Pak Jero..syukurlah masih sempat berkomunikasi. Semoga lancar dan sukses. Amiin

Shulfan Aceh S2 UGM said...

saya tertarik dengan filsafat matematika yang bapak tampilkan dapat menjadi motivasi hidup saya sebagai seorang guru aceh timur propensi nanggroe aceh darussalam sangat jauh dari pemikiran,perasan yang sebenarnya adalah itu manusia berbudi cerdas dalam memandang kehidupan dunia itu seperti apa

Linduaji said...

Wah bagus pak refleksinya..

saiia bukan anak matematika.. tapi saiia senang tentang matematika.. ni udah terlanjur ga blajar matematika nyampe dewasa..
kira2 ada tips ga buat kita2 yang sudah gedhe tapi pengen belajar matematika..hiks

Kampung Perawan said...

Sangat bermakna sekali, akan menjadi pembelajaran bagi saya orang biasa. makasih untuk sharenya..

cowobaex said...

jalan2 nih . . . mampir k gubugQ y http://cowobaex.blogspot.com

Frisca Anggun D said...

Saya sangat setuju pak karena artikel di atas menarik sekali. Selain itu dapat menambah wawasan dan pengetahuan saya terhadap refleksi diri. Pikiran setiap orang sangat berhubungan dengan dunia. Oleh karena itu, kita harus melangkah ke depan dengan tujuan yang jelas karena pemikiran sangat menentukan baik tidaknya hal yang akan kita capai. Terima kasih pak atas pembelajarannya...:)

Pend.Mat Intern/09313244007

prima wijaya said...

sungguh menarik refleksi diri yang bapak buat dan ini bisa menyentuh hati saya akan hal tersebut,,memang dunia ini seperti apa yang ada dalam pikiran kita, ,namun belum semua orang bisa menyadari akan hal itu..sangatlah sulit orang akan menyadarinya,,dan saya berterima kasih atas refleksi yang bapak buat karena ini bisa jadi pelajaran besar bagi saya..semua kegiatan yang kita kerjakan harus disertai dengan rasa ikhlas untuk mendapatkan Ridho-NYA..terima kasih atas pembelajaran yang bpk berikan.

pend.matematika inter09/09313244025

warisno wong geblug said...

luar biasa pak pesan kesan yg di berikan oleh bapak smoga smua itu ada dampak positfnya buat kita smua..
yg terpenting adalah bagaimana caranya kita dapat merealisasikan di dunia nyata....,

azuredian said...

i like your reflection, we are in the world just for a moment but we are in the beyond forever.... so we must do the beat like this is the end of our life, with decrease our ego,

Dian Permatasari
10313244018
international mathematics education

apriliyana syafitri (matswa '09) said...

amiin....
semoga bapak selalu di beri kesehatan dan umur yang panjang sehingga bisa membimbing kami dengan membaca tulisan-tulisan bapak.

saya tertarik dengan tulisan bapak mengenai "Reflekksi Diri". ini memberikan kesadaran tehadap saya yaitu aku dan diriku. aku adalah diriku, setiap yang aku lakukan itulah diriku. Refleksi diri ini mengajarkan saya Bagaimana aku menata hidup untuk menjalani kehidupanku di dunia ini, aku lebih banyak belajar lagi tentang keikhlasan dan belajar menjauhkan sifat sombong karena yang kita tuju bukan hanya kehidupan dunia. akan tetapi akhirat. inilah yang mempertemukan kita dengan Sang Pencipta. banyak rintangan dan cobaan yang akan kita hadapi, namun lepas dari itu, saya bisa banyak belajar dari bapak. karena pelajaran yang paling berharga adalah pengalaman. dari motivasi serta bimbingan bapak. kami mahasiswa/i atau yang masih muda bisa belajar dari pengalaman-pengalaman bapak yang sudah dilawati tahap demi tahap.

terimakasih pak, semoga kita selalu berada dalam Lindungan Allah SWT.
amiin...

VINCENT ERVINA said...

aku sangat senang dengan artikel ini karena memberikan saya inspirasi hidup. Trimakasih pak ini bisa menjadi pegangan dalam hidupku