Sunday, March 1, 2009

Elegi Pertandingan Tinju antara Kualitatif melawan Kuantitatif

Oleh Marsigit

Monolog Kuantitatif:
Besar harapanku. Kecil rintanganku. Panjang perjalananku. Pendek jangkauanku. Tepat sasaranku. Separuh peluangku. Penuh perolehanku. Kosong negatifku. Sepuluh nilaiku. Dua ratus persen kenaikan gajiku. Semua itu ada dalam daftar. Aku dapat menggambarnya. Aku dapat menghitungnya. Ini dia grafiknya. Dalam seminggu, sepuluh kegiatanku. Dalam sebulan, lima belas pekerjaanku. Ditambah waku, dikurangi daya, hasilnya tetap. Benarlah jawabanku dan salahlah jawabanmu. Kalkulasiku tepat dan kalkulasimu tidak tepat. Perkiraanku benar perkiraanmu salah. Jika engkau wakilnya, aku tidak butuh mereka. Satu untuk semuanya. Terpaksa aku tentukan, engkau itu lima atau delapan. Jika engkau lima, maka semuanya adalah lima, jika engkau delapan maka semuanya adalah delapan. Ambil sembarang bilangan, kalikan tujuh dan tambahlah tujuh kemudian bagilah dengan tujuh, hasilnya kurangi dengan satu, berapakah bilangan itu? Sembilan puluh persen ingatanku masih baik, yang lima persen sering lupa. Banyak tidurku tidak boleh lebih dari kerjaku. Pikiran ku acak terhadap mereka. Segerombolan orang-orang itu tidak mengetahui diriku. Aku hanya melihat dia cacah kepalanya. Luas pikirannya tidak lebih dari satu meter persegi. Dalam hatinya tidak lebih dari sepuluh senti meter. Cintaku kepadamu masih sembilan puluh lima persen. Keyakinanku tiga perempat. Lambang adalah mutiaraku, rumus adalah primadonaku, prinsip adalah semangatku.

Monolog Kualitatif:
Kugapai harapanku. Kulalui rintanganku. Kutempuh perjalananku. Kurasa jangkauanku. Baiklah sasaranku. Berharap peluangku. Halal perolehanku. Haram negatifku. Memuaskan nilaiku. Bermanfaat kenaikan gajiku. Apalah artinya daftar. A[pa perlu aku menggambarnya. Aku dapat merasakannya. Ini dia refleksiku. Dalam seminggu, ibadahku. Dalam sebulan, tanggungjawabku. Kesadaranku dan lingkunganku, menentukan keberadaanku. Etika jawabanku dan jawabanmu. Perasaanku dan perasaanmu. Apakah pantas aku memilih. Apakah pantas aku memberitahu. Aku tidak berani menentukan engkau lima atau delapan. Aku lebih suka bercerita dan berkomunikasi tentang dan dengan engkau. Janganlah berlaku sombong dan arogan. Lebih baik tidur dari pada berbuat dosa. Hatiku membatasi pikiranku. Sungguh malang nasibnya, hanya bernasib terwakili. Itulah pertimbanganku. Semoga hatiku berdzikir. Tak terukurlah cintaku itu. Au hanya bisa berharap dan berdoa. Apalah artinya lambang, aku lebih suka maknanya. Apalah artinya rumus, aku lebih suka hakekatnya. Apalah artinya prinsip, aku lebih suka realitanya.

Wasit:
Wahai kuantitatif, terdengar hebat pula ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kuantitatif dan angka-angka. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kuantitatif minded. Wahai kualitatif, terdengar indah ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kualitatif dan makna. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kualitatif minded. Namun aku melihat ada kelemahan di masing-masing dirimu itu. Kelemahanmu adalah engkau berdua ternyata mempunyai pamrih dan maksud tertentu dalam monologmu. Sebenar-benar dirimu adalah menyindir satu dengan yang lain. Lebih dari itu engkau berdua tampak sekali bersaing memperebutkan sesuatu. Padahal ketahuilah bahwa aku adalah seorang wasit tinju. Pekerjaanku adalah mengadu dan mempertemukan orang-orang yang saling siap bertarung. Maka kalau boleh aku ingin bertanya. Daripada saling menyindir, maukah engkau berdua aku adu, dalam pertandingan tinju antara kualitatif melawan kuantitatif.

Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Aku bersedia.

Wasit:
Tetapi ketahuilah bahwa pertandingan tinju itu hanyalah pertanyaanku-pertanyaanku yang perlu engkau jawab silih bergantian. Apakah setuju?

Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Setuju

Wasit:
Baiklah aku mulai dengan pertenyaanku.
Bagaimanakah engkau bisa mendefinisikan dirimu masing-masing?

Kuantitatif:
Aku adalah kuantitatif. Kuantitatif adalah diriku. Lima adalah contohnya. Maka lambang adalah diriku.
Obyektif adalah tujuanku. Konsisten adalah jiwaku. Tempat tinggalku di pikiran orang-orang.

Kualitatif:
Aku sulit mendefinisikan diriku, karena aku bersifat kualitatif. Aku juga sulit mengambil contoh buatku, karena contohnya sangat banyak dan kontekstual. Aku juga sulit mendefinisikan tujuanku karena itu semata-mata tergantung dari subyeknya. Tetapi yang paling merisaukanku adalah aku tidak tahu di mana jiwaku? Tempat tinggalku di hati setiap insan.

Wasit:
Jika engkau menjadi guru, bagaimanakah engkau mengetahui kompetensi siswa-siswamu?

Kuantitatif:
Aku buat soal obyektif. Aku hitung benarnya. Aku tak peduli keadaan mereka. Maka jika skornya tinggi maka nilainya tinggi juga. Titik. Begitu saja kok repot.

Kuantitaif:
Aku buat catatan-catatan portfolio. Aku membuat tugas. Aku sarankan mereka menggunakan komputer. Aku perkenankan mereka promosi diri. Kadang-kadang aku perlu mengobservasi dan wawancara dengannya. Menilai seseorang memang repot. Tidaklah mudah memberi predikat kepada seseorang. Bukanlah kalau kita memberi predikat tidak benar, ityu adalah dosa?

Wasit:
Bagaimana engkau menganggap dan bergaul dengan siswa-siswamu.

Kuantitatif:
Aku sebenarnya enggan menjawab pertanyaanmu itu. Pertenyaanmu itu terlalu naif bagiku. Apa perlunya saja. Pekerjaanku sangat banyak. Jadi aku batasi pergaulanku dengan siswaku. Kalau perlu aku menghindar bisa bertemu dengannya. Bagiku murid-muridku adalah banyaknya mereka sebanyak aku membilang.

Kualitatif:
Pertanyaanmu sangat baik. Itulah pertanyaan yang selalu aku tunggu. Aku memandang setiap siswa adalah dunia. Jadi setiap siswa adalah segenap isi dan misterinya. Maka tidaklah mudah bergaul dengannya. Aku harus mengembangkan metode dan teknologi agar aku mampu melayani belajar mereka. Mereka semua adalah berbeda-beda. Masing-masing perlu perhatian khusus. Bagiku murid-muridku masing-masing adalah benih-benih yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan bantuan, pupuk, dan memberisihakan hama-hama.

Wasit:
Coba terangkan bagaimana anda satu dengan yang lain saling membutuhkan?

Kuantitatif:
Sebenar-benar diriku tidaklah memerlukan kualitatif. Bagiku kualitatif adalah tidak pasti dan itu menjadi keadaan buruk bagiku.

Kualitatif:
Sebenar-benar diriku adalah tidak sepenuhnya kualitatif. Aku masih membutuhkan kuantitatif dalam kegiatanku. Maka aku sangat perlu menjalin hubungan yang baik dengan kuantitatif.

Wasit:
Terangkan apakah cita-cita hidupmu masing-masing?

Kuantitatif:
Aku hanyalah berhenti di sini. Tiadalah cita-cita ada dalam hidupku.

Kualitatif:
Aku tidak tahu kapan aku mulai, dan au tidak tahu kapan aku berakhir. Cita-citaku adalah untuk semaksimal mungkin demi kemslahatan manusia semuanya. Aku berharap bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi semua.

Wasit:
Terangkan bagaimana anda masing-masing dapat membantu siswa belajar?

Kuantitatif:
Dengan metode numerik dan logika aku pastikan siswa-siswa melakukannya. Kepastian adalah jiwaku. Perhitungan-perhitungan adalah panglimaku.

Kualitatif:
Doa, motivasi, semangat adalah modal untuk belajar. Sikap dan perbuatan perlu disesuaikan agar murid mampu memperoleh kompetensinya. Dengan pengetahuan yang diperoleh, kemudian berilah kesempatan kepada murid-murid untuk mengembangkan keterampilan dan pengalamannya.

Wasit:
Bagaimana engkau beribadah?

Kuantitatif:
Aku lafalkan seribu kali doa. Beres.

Kualitatif:
Aku berlatih berdoa. Aku sadar tidak mudah untuk berdoa. Dari satu milyar doaku belumlah ada jaminan bahwa satu diantaranya dapat diterima. Tetapi ikhtiar adalah kewajibanku. Maka aku akan selalu mencoba untuk berdoa, karena aku yakin Tuhan YME akan mendengar setiap doa ku.

Wasit:
Prit..prit. Cukup. Dari catatan, observasi dan rekaman data serta kualitas jawaban. Aku memutuskan bahwa kualitatif telah memenangkan pertandingan, tetapi dengan catatan sebegai berikut: pertama, engkau tak boleh lagi saling mengejek apa lagi saling bertanding; kedua, engkau sebenarnya saling membutuhkan; ketiga, jika engkau mampu saling bekerja sama maka perolehanmu akan lebih besar dari yang sudah engkau peroleh selama ini; keempat, tetapi ingatlah bahwa pada setiap perjalananmu, maka kualitatiflah komandannya; kelima, dalam keadaan tertentu maka kuantitatif mampu bekerja sangat efektif dengan hasil yang besar jika didukung oleh kualitatif; dan terakhir, hidup rukunlah selalu selama hayatmu dalam saling harmoni. Amien.

4 comments:

karmawati said...

menarik sekali pertandingan antara kuantitatif dan kualitatif. bagaimanakah bentuk hubungan dan kerjasama yang baik antara kuantitatif dan kualitatif? terima kasih

Anonymous said...

Luar biasa seru pertandingan antara kuantitatif dan kualitatif. Walau pertandingan dimenangkan oleh kuantitatif, menurut saya kualitatif juga penting berperan dalam kehidupan.
kuantitatif akan sirna karna hanya sering menghasilkan data, bukti dan angka dari kepintaran-kepintaran yang ada dalam kehidupan namun tidak mempunyai jiwa dan nyawa.Bagai orang jenius tanpa punya matahati yang akan menimbulkan petaka.
Sedangkan kualitatif akan hancur ketika hanya bisa menciptakan hubungan, perasaan dan jiwa namun tidak mempunyai dasar ilmu yang sepatutnya. Hal itu bagai orang punya mata tapi buta.
Pertanyaan saya:
1. Apa alasan wasit memenangkan kuantitatif dalam petandingan tersebut?
2. Apakah hadiah yang pantas untuk kuantitatif yang telah memenangkan pertandingan?
3. Akankah selalu pertandingan dimenangkan oleh kuantitatif?
Terimakasih

NAMA : KRISDIYANTO
NIM : 04410134
PRODI : PEND. MATEMATIKA
UNIV. : UNIV. PGRI YOGYAKARTA
Begitu juga dengan kualitatif,

Dr. Marsigit M.A. said...

Pak Khris,..bisa dicermati lagi..kelihatannya yang menang itu kualitatif. Selamat berjuang. Amiin.

Dr. Marsigit M.A. said...

Ass..bisa Sdr Kris..bisa dicermati lagi..kelihatannya yang menang itu kualitatif. Selamat berjuang. Amiin.