Saturday, March 28, 2009

Elegi Obrolan Filsafat

Oleh Marsigit

Subyek1:
Dimana bisa beli sate?
Subyek2:
Itu lihat Papan Nama nya, di atas pohon?
Subyek1:
Masa, makan sate harus di atas pohon?
Subyek2:
Berapa sebelas dibagi dua?
Subyek1:
Tergantung bagaimana cara membaginya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika membaginya membujur maka sebelar dibagi dua hasilnya satu. Jika membaginya dengan cara melintang maka hasilnya sebelas juga.
Subyek2:
Mana yang lebih besar, empat atau tujuh?
Subyek1:
Tergantung cara menulisnya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika aku tulis empat dengan spidol besar dan tujuh dengan spidol kecil, maka empat lebih besar dari tujuh.
Subyek2:
Berapa empat ditambah lima.
Subyek1:
Tergantung keadaannya.
Subyek 2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika empat nya kurus dan lima nya kurus, maka empat ditambah lima sama dengan sembilan kurus.
Subyek2:
Apakah sikuku ini sudut lancip?
Subyek1:
Bukan, sikumu itu sudut tumpul.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Tidak ada barang lancip di dunia ini.
Subyek2:
Bukankah jarum itu lancip?
Subyek1:
Ujung jarum terdiri dari molekul yang terdiri dari atom, yang lintasannya melingkar.
Subyek2:
Bagaimana membuat lingkaran?
Subyek1:
Tergantung bahannya.
Subyek2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika bahannya terdiri dari epung maka siapkan cetakannya. Jika bahannya dari kayu maka siapkan gergaji.
Subyek2:
Berapakah dua ditambah empat.
Subyek1:
Dua ditambah empat sama dengan dua puluh empat.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Ambil dua, ambil empat kemudian tambahkan atau jajarkan.
Subyek2:
Berapakah lima kali nol?
Subyek1:
Lima kali nol sama dengan satu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika nol adalah ikhlasmu, insyaallah engkau ketemu Tuhan mu yang satu.
Subyek2:
Berapakah sepuluh dibagi tak berhingga?
Subyek1:
Sepuluh dibagi tak berhingga itu diampuni dosamu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni.
Subyek2:
Berapakah seratus pangkat nol itu?
Subyek1:
Mungkin engkau akan ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Apapun pangkatmu, jika engkau nol atau ikhlas, insyaallah engkau bisa ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Berapakah tujuh pangkat negatif setengah itu?
Subyek1:
Itu korupsi.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Tujuh pangkat negatif setengah adalah pangkat tak sebenarnya. Bukankah koruptor itu mempunyai pangkat tetapi tidak sebenarnya pangkat. Jadi korupsilah dia.
Subyek2:
Berapa lama engkau sampai ke tujuan?
Subyek1:
Aku tidak pernah bisa mencapai tujuan.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Untuk mencapai tujuan aku harus menempuh separo jalan. Untuk mencapai separoh jalah aku harus menempuh separohnya lagi. ...dst. Aku tdak pernah selesai membagi dua. Jadi aku tak pernah sampai tujuan.
Subyek2:
Cepat manakah becak dengan pesawat?
Subyek1:
Cepat becak
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Aku naik becak telah sampai di Bandara. Padahal pesawat belum berangkat.
Subyek2:
Jika kaca aku lempar batu, kemudian pecah. Mengapa kaca pecah?
Subyek1:
Kaca pecah karena kena batu.
Subyek2:
Bukan.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Kaca pecah belum tentu kena batu.
Subyek1:
Kapan Plato lahir?
Subyek2:
Tadi pagi.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Jika waktu aku padatkan.
Subyek1:
Dimana kutub utara.
Subyek2:
Di sini.
Subyek1:
Jika ruang aku mampatkan.
Subyek2:
Di mana dirimu?
Subyek1:
Di dalam dirimu.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Jika engkau memikirkan aku.
Subyek2:
Dari mana engkau lahir?
Subyek1:
Dari rahim ibuku.
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Mengapa?
Subyek2:
Egkau lahir dari jiwa ibumu.
Subyek1:
Apakah itu suara musik?
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Suara apa?
Subyek2:
Itu harmoni alam
Subyek1:
Apa hubungan setiap hal di dunia ini?
Subyek2:
Pikiranmu.
Subyek1:
Kenapa engkau tersenyum melihat batu?
Subyek2:
Aku melihat patung di dalamnya.
Subyek1:
Kenapa engkau diam?
Subyek2:
Enggak. Aku ramai dalam hatiku.
Subyek1:
Kenapa engkau bingung?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati.
Subyek1:
Kenapa engkau malas?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati?
Subyek1:
Kenapa engkau protes?
Subyek2:
Enggak. Aku bernyanyi.
Subyek1:
Kenapa engkau tergesa-gesa?
Subyek2:
Enggak. Aku efisien.
Subyek1:
Kenapa engkau pelit?
Subyek2:
Enggak. Aku selektif.
Subyek1:
Kenapa engkau marah?
Subyek2:
Enggak. Aku menasehati.
Subyek1:
Kenapa engkau menjawab?
Subyek2:
Kenapa engkau selalu bertanya?
Subyek1:
Enggak. Aku silaturahim.
Subyek2:
Kenapa engkau selalu mencibir?
Subyek1:
Enggak. Aku sedang membangun.
Subyek2:
Kenapa engkau tidak usul?
Subyek1:
Enggak. Aku memberi kesempatan.
Subyek2:
Kenapa engkau sombong?
Subyek1:
Enggak. Aku membela diri.

17 comments:

hardiyanto_pmatnrc said...

"Lemahnya pendidikan matematika di Indonesia merupakan akibat
tidak diajarkannya filsafat atau latar belakang ilmu matematika. Dampaknya,
siswa, bahkan mahasiswa, pandai mengerjakan soal, tetapi tidak bisa
memberikan makna dari soal itu. Matematika hanya diartikan sebagai sebuah
persoalan hitung-hitungan yang siap untuk diselesaikan atau dicari
jawabannya". Pak, ini saya kutip dari suarapembaruan.com. Jadi, saya minta tanggapan Bapak tentang hasil kutipan saya ini.
Terima Kasih!

Dr. Marsigit M.A. said...

Hardiyanto, filsafat itu adalah refleksi. Jadi filsafat matematika adalah refleksi matematika. Filsafat pendidikan matematika adalah refleksi pendidikan matematika. Jadi filsafat itu adalah refleksi konten. Hanya orang-orang yang telah belajar matematika saja yang bisa berfilsafat matematika. Hanya orang yang telah belajar pendidikan matematika yang bisa berfilsafat pendidikan matematika. Tetapi filsafat itu bisa ditaruh di depan apa saja. Siapa yang menaruhnya? Yang berfilsafat. Sedangkan untuk anak-anak sekolah, maka mempelajari filsafat tidak sesuai dengan peruntukkannya. Untuk anak sekolah, apalagi di sekolah rendah, filsafat sudah berubah menjadi nilai-nilai yang mesti mereka gapai. Tetapi di sini, filsafat tidak dalam arti untuk diajarkan semata-mata sebagai filsafat. Sedangkan penerapannya dapat dikembangkan oleh guru. Maka guru itulah yang sebenarnya perlu mempelajari filsafat, tetapi bukan untuk diajarkan kepada siswa-siswanya secara langsung. Maka saya khawatir bahwa tulisan yang anda kutippun jangan-jangan berasal dari pemehaman yang kurang tepat dari filsafat. Anda sendiri itulah yang seyogyanya berfilsafat pendidikan matematika, karena anda yang akan menjadi guru. Jadi janganlah berpikiran "mari berbondong-bondong ini ada filsafat untuk dipelajari oleh para murid-muridku". Hal demikian justeru akan kontra produktif. Karena tidak sesuai ruang dan waktunya.

Fithria Aisyah R_Math.06 said...

Terkadang banyak hal yang tak terpikirkan yang dapat dijawab oleh filsafat...
Namun filsafat selalu bisa di nalar oleh logika dan di balut estetika...
Akan tetapi kenapa saya pernah mendengar banyak orang yang tidak kuat belajar filsafat pak?...
Apakah karena mereka tidak menggunakan pikiran sebagai penggerak dan hati sebagai komandan??

ERVINTA said...

asallammualaikum...
Ketika membaca 'elegi obrolan filsafat' ini, senyum kecil tersungging dibibir saya.

Alasan kenapa saya tersenyum waktu membacany:
Pertama, membaca elegi ini membuat saya berfikir bahwa sesungguhnya orang itu mempunyai banyak pemikiran. Dan dibalik semua itu ada kebimbangan antara kebenaran dalam "umumnya dilingkungan kia". Ada beberapa orang yang berpikir lain dari pada umumnya saja dalam buku psikologi umum karya alex shobur yang saya baca ketika kuliah psykologi pembelajaran, orang itu lah yang dianggap abnormal. Tetapi dalam buku itu dikatakan bahwa abnormal itu belum tentu dalam artian negatif seperti yang umumnya masyarakat anggap "benar" atau pahami sekarang. Sehingga belum tentu apa yang saya ucapkan ini benar menurut orang lain. Dan tidak sedikit orang yang membaca elegi ini pun akan bertanya "Mengapa?" seperti halnya subyek 1, dan pada umumnya kenapa ya saya sendiri atau orang-orang itu takut dianggap salah dengan pemikiran originalnya karena beda?
Kedua, sempat saya mempunyai pengalaman kecil dengan anak yang baru masuk SD yang dengan polosnya berkata bahwa apa yang disampaikan ibu saya tentang pelajaran matematika adalah bohong. Karena pada hari pertama ibu mengajar, beliau mengatakan 2+5=7, kemudian hari selanjutnya pada sebuah tes sempat ada soal lain 3+4=7, dan kebetulan pada kesempatan lain ibu mengatakan 6+1=7... Nha ternyata dengan pemikiran polos atu entah apa dasarnya anak kecil itu menganggap apa yang pada umumnya lazim benar menjadi "salah". kemungkinan yang saya ambil yaitu anak tersebut belum paham benar operasi penambahan, dan masih menerima matematika sebagai bahasa. Sehingga saya postingkan dalam blog saya berjudul "Belajar Kebenaran dari Logika Matematika" bulan maret ini, mengikuti saran bapak bahwa setiap orang bisa berfilsafat. Tapi setelah membaca elegi ini, saya menjadi sedikit malu..ternyata masih banyak kemungkinan lain yang dipikir si anak tadi mengganggap salah operasi penjumlahan tersebut. Baru saya menyadari ternyata saya pun masih terikat dengan pemikiran umum yang ada disekitar saya. saya belum bisa membuka pemikiran saya, bahwa di luar sana ada pemikiran- pemikiran lain yang unik dan nampak aneh, tetapi apabila direnungkan dan kita tahu alasannya ternyata itu masuk akal, seperti halnya dalam elegi ini.
Wah pak, apakah ketakutan kita pada pemikiran murni kita yang disinkronkan dengan pengetahuan umum ini yang membuat beberapa orang menjadi 'plagiatism' bahkan mungkin saya juga tidak kalah baik secara sadar ato tidak???

Dr. Marsigit, M.A said...

Ervinta, itulah kesaksianmu, dan aku telah menyaksikan kesaksianmu.

Luthfiana Fatmawati said...

Setiap orang memililki pendapat masing-masing. Dari satu kalimat yang ada,dapat ditafsirkan lebih dari satu macam. Dari "obrolan filsafat" tersebut,dua orang saja mampu menggambarkan kepada kita bahwa pengetahuan itu luas. Ada yang menafsirkan secara matematis, namun ada juga yang menafsirkan secara filsafat. Hendaknya kita mampu menggunakan tafsiran tersebut sesuai dengan tempatnya. seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Marsigit, filsafat itu untuk orang dewasa.

Luthfiana Fatmawati
06301241028
Pend. Matematika Reg 2006

vivin riyani (lt kls a) said...

Vivin Riyani
PPS LT A (09706251017)
Elegi obrolan filsafat
Ass. Sebenarnya saya masih bungung tentang berfilsafat pak saya sudah banyak membaca elegi2 bapak tapi saya jarang langsung kasih komentar karena saya bingung apa sebenarnya yang mau saya komentari, dari sekian elegi bapak saya paling tertarik dengan elegi obrolan filsafat ini. Seberapa dekatkah hubungan filsafat dengan agama karena didlm elegi ini banyak sekali dikaitkan dengan agama. Saya punya contoh yang sederhana, ada diskusi antara si A dan B.
A: berapa 3X4?
B: bisa 1000 bs juga 1200
Logikanya dalam matematika 3X4=12 tp tukang cetak foto 3X4=1000 bs juga 1200 apa ini sudah bisa disebut berfilsafat???

Dr. Marsigit M.A. said...

Baca, baca dan baca. Amiiin.

Anonymous said...

menurut pendapat saya bahwa filsafat berlaku buat siapa saja yang mengerti akan kehidupannya, sedangkan dalam segi pendidikan apakah hanya mahasiswa yang memiliki pengetahuan matematika yang dapat menerapkan filsafat? menurut saya filsafat akan berlaku bagi diri individu yang akan dikembangkan dalam pengetahuan yang diperoleh. tetapi dalam segi pendidikan matematika, filsafat akan muncul ketika orang tersebut telah berfikir matematika, sehingga akan terjadi pemahaman dalam berbagai hal, baik dalam pemecahan masalah yang timbul didalam diri individu tersebut. saya setuju bahwa matematika hanya bisa diterapkan oleh orang-orang yang telah mempelajari matematika, tetapi dalam segi pengembanganya saya kurang setuju kalau filsafat akan dikembangkan oleh guru saja, sebab jati diri pengetahuan yang terdapat pada diri seseorang telah melahirkan suatu inspirasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

ani said...

menurut pendapat saya bahwa filsafat berlaku buat siapa saja yang mengerti akan kehidupannya, sedangkan dalam segi pendidikan apakah hanya mahasiswa yang memiliki pengetahuan matematika yang dapat menerapkan filsafat? menurut saya filsafat akan berlaku bagi diri individu yang akan dikembangkan dalam pengetahuan yang diperoleh. tetapi dalam segi pendidikan matematika, filsafat akan muncul ketika orang tersebut telah berfikir matematika, sehingga akan terjadi pemahaman dalam berbagai hal, baik dalam pemecahan masalah yang timbul didalam diri individu tersebut. saya setuju bahwa matematika hanya bisa diterapkan oleh orang-orang yang telah mempelajari matematika, tetapi dalam segi pengembanganya saya kurang setuju kalau filsafat akan dikembangkan oleh guru saja, sebab jati diri pengetahuan yang terdapat pada diri seseorang telah melahirkan suatu inspirasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

Anonymous said...

menurut pendapat saya bahwa filsafat berlaku buat siapa saja yang mengerti akan kehidupannya, sedangkan dalam segi pendidikan apakah hanya mahasiswa yang memiliki pengetahuan matematika yang dapat menerapkan filsafat? menurut saya filsafat akan berlaku bagi diri individu yang akan dikembangkan dalam pengetahuan yang diperoleh. tetapi dalam segi pendidikan matematika, filsafat akan muncul ketika orang tersebut telah berfikir matematika, sehingga akan terjadi pemahaman dalam berbagai hal, baik dalam pemecahan masalah yang timbul didalam diri individu tersebut. saya setuju bahwa matematika hanya bisa diterapkan oleh orang-orang yang telah mempelajari matematika, tetapi dalam segi pengembanganya saya kurang setuju kalau filsafat akan dikembangkan oleh guru saja, sebab jati diri pengetahuan yang terdapat pada diri seseorang telah melahirkan suatu inspirasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

ani said...

menurut pendapat saya bahwa filsafat berlaku buat siapa saja yang mengerti akan kehidupannya, sedangkan dalam segi pendidikan apakah hanya mahasiswa yang memiliki pengetahuan matematika yang dapat menerapkan filsafat? menurut saya filsafat akan berlaku bagi diri individu yang akan dikembangkan dalam pengetahuan yang diperoleh. tetapi dalam segi pendidikan matematika, filsafat akan muncul ketika orang tersebut telah berfikir matematika, sehingga akan terjadi pemahaman dalam berbagai hal, baik dalam pemecahan masalah yang timbul didalam diri individu tersebut. saya setuju bahwa matematika hanya bisa diterapkan oleh orang-orang yang telah mempelajari matematika, tetapi dalam segi pengembanganya saya kurang setuju kalau filsafat akan dikembangkan oleh guru saja, sebab jati diri pengetahuan yang terdapat pada diri seseorang telah melahirkan suatu inspirasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

ani alkhafi UPY said...

menurut pendapat saya bahwa filsafat berlaku buat siapa saja yang mengerti akan kehidupannya, sedangkan dalam segi pendidikan apakah hanya mahasiswa yang memiliki pengetahuan matematika yang dapat menerapkan filsafat? menurut saya filsafat akan berlaku bagi diri individu yang akan dikembangkan dalam pengetahuan yang diperoleh. tetapi dalam segi pendidikan matematika, filsafat akan muncul ketika orang tersebut telah berfikir matematika, sehingga akan terjadi pemahaman dalam berbagai hal, baik dalam pemecahan masalah yang timbul didalam diri individu tersebut. saya setuju bahwa matematika hanya bisa diterapkan oleh orang-orang yang telah mempelajari matematika, tetapi dalam segi pengembanganya saya kurang setuju kalau filsafat akan dikembangkan oleh guru saja, sebab jati diri pengetahuan yang terdapat pada diri seseorang telah melahirkan suatu inspirasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

Sutarto (09709251030) PMB said...

Untuk bisa saling mengerti dan memahami dalam obrolan filsafat maka kita harus mengerti dan memahami apa itu filsafat, dalam pandangan filsafat apapun hasil olah pikir/jawaban kita benar karena memperhatikan ruang dan waktu.

Anonymous said...

nama : trisni puji utami
nim :0641046
dari : upy

Menurut saya filsafat pendidikan matematika adalah sangat penting dalam kehidupan sehari-hari yaitu dalam hal berdagang dan situ juga kita bisa belajar menghitung.dan saya juga setuju dengan pendapat pak Marsigit M.A tentang filsafat matematika.

Anonymous said...

nama :nety yusmina selan
nim : 06410332
dari :UPY

menurut pendapat saya filsafat penting dalam kehidupan sehari -hari contahnya peta jalan yang kita gunakan sebagai panduan jalan untuk bepergian hingga sampai ketempat tujuan.berdasar hasil pengamatan saya pribadi filsafat dapat dipilih menjadi 3 yaitu :
a. mengenali dunia dimana kita tinggal.
b. pemahaman atas diri manusia sendiri
c. pemahaman mengenai wilayah.
dan masijuga tentang pemahaman lain dalam filsafat.

WINDARTI said...

Refleksi oleh : Mahasiswa S2. Pend. Matematika, kelas A (11709251011). PPS UNY 2011

Dalam elegi ini saya menangkap bahwa berfilsafat itu adalah bagaimana orang menjelaskan atau membahasakan sesuatu kepada orang lain sehingga orang lain mengerti maksud kita. Karena filsafat itu adalah diri kita, kalau kita dapat menjelaskan sesuatu dengan menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah dimengerti orang lain maka kita telah berfilsafat.