Sunday, March 29, 2009

Elegi Menggapai Kategori

Oleh Marsigit
(Diolah dari pemikiran Immanuel Kant)

Pengetahuan:
Wahai kategori-kategori, siapakah dirimu itu?

Kategori1:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku mampu menampung semuanya. Aku adalah satu. Semua ada di dalamku. Tetapi ada orang yang memanggilku sebagai universal.

Kategori2:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku adalah bagian-bagian. Aku juga kelompok-kelompok. Aku pandai berserikat. Tetapi ada orang yang memanggilku sebagai partikular.

Kategori3:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku adalah bagian-bagian. Aku adalah banyak. Aku bersifat mandiri. Tetapi ada orang yang memanggilku sebagai singular.

Pengetahuan:
Wahai kategori 1, 2, dan 3. Ternyata engkau semua adalah bagian dariku. Aku setuju bahwa angkau masing-masing bernama universal, partikular dan singular. Ketahuilah bahwa engkau semua merupakan kategori dalam pikiranku. Berkat engkau semua itulah maka aku dapat memikirkan apa yang aku sebut sebagai kuantitas.

Pengetahuan:
Wahai kategori-kategori, siapakah dirimu itu?

Kategori4:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku adalah semua yang bersifat positif. Aku menjelaskan kenyataan-kenyataan. Aku adalah kalimat atau pernyataan-pernyataan. Au terdiri dari subyek dan predikat. Tetapi ada orang memanggilku sebagai afirmatif.

Kategori5:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku adalah semua yang bersifat mengingkar. Aku menjelaskan kenyataan-kenyataan. Aku adalah kalimat atau pernyataan-pernyataan. Aku terdiri dari subyek dan predikat. Tetapi ada orang memanggilku sebagai negatif.

Kategori6:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku adalah semua yang bersifat tak terbatas. Tetapi fungsiku adalah untuk membatasi. Tetapi ada orang memanggilku sebagai infinit.

Pengetahuan:
Wahai kategori 4, 5, dan 6. Ternyata engkau semua adalah bagian dariku. Aku setuju bahwa angkau masing-masing bernama afirmatif, negasi dan infinit. Ketahuilah bahwa engkau semua merupakan kategori dalam pikiranku. Berkat engkau semua itulah maka aku dapat memikirkan apa yang aku sebut sebagai kualitatif.

Pengetahuan:
Wahai kategori-kategori, siapakah dirimu itu?

Kategori7:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Tugasku adalah membedakan satu hal dengan hal yang lain. Tetapi ada orang memanggilku sebagai kategori.

Kategori8:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Aku adalah sebab akibat. Jika ada sebab aku selalu mdencari akibat. Jika ada akibat aku selalu mencari sebab. Tetapi ada orang memanggilku sebagai hipotetik.

Kategori9:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Tempat tinggalku di antara yang aktif dan pasif. Aku adalah interaksi antara aktif dan pasif. Tetapi ada orang memanggilku sebagai komunitas

Pengetahuan:
Wahai kategori 7, 8, dan 9. Ternyata engkau semua adalah bagian dariku. Aku setuju bahwa angkau masing-masing bernama kategori, hipotetik dan komunitas. Ketahuilah bahwa engkau semua merupakan kategori dalam pikiranku. Berkat engkau semua itulah maka aku dapat memikirkan apa yang aku sebut sebagai hubungan.

Pengetahuan:
Wahai kategori-kategori, siapakah dirimu itu?

Kategori10:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Tempat tinggalku di antara yang mungkin dan yang tak mungkin. Aku bersifat problematik. Aku selalu berusaha mencari kepastian relatif. Tetapi ada orang memanggilku sebagai probabilitas.

Kategori11:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Tempat tinggalku di antara yang ada dan yang tak ada. Tetapi ada orang memanggilku sebagai asetorik.

Kategori12:
Aku tidak mengetahui siapa namaku. Tetapi aku dapat menjelaskan sifat-sifatku. Tempat tinggalku di antara yang persyaratan-persyaratan. Aku dimulai dengan kesepakatan. Mencarai syarat-syarat terjadinya sesuatu itulah pekerjaanku. Pekerjaanku hanyalah berdasarkan konsistensi. Tetapi ada orang memanggilku sebagai apodiktik. Ada orang awam memanggilku sebagai matematika. Ya boleh saja.

Pengetahuan:
Wahai kategori 10, 11, dan 12. Ternyata engkau semua adalah bagian dariku. Aku setuju bahwa angkau masing-masing bernama probabilitas, asetorik dan apodiktik. Ketahuilah bahwa engkau semua merupakan kategori dalam pikiranku. Berkat engkau semua itulah maka aku dapat memikirkan apa yang aku sebut sebagai modalitas.

Orang tua berambut putih:
Wahai pengetahuan. Sudah jelaslah engkau itu. Bahwa pengetahuanmu, di dalam pikiranmu itu terdiri dari kategori-kategori. Dikarenakan di dalam pikiranmu sudah ada kategori-kategori itulah maka engkau dapat memperoleh pengetahuanmu. Ketahui bahwa secara umum kategori itu meliputi empat hal yaitu kuantitas, kualitas, hubungan dan modalitas. Masing-masing kategori memuat tiga aspek. Jadi ketahuilah bahwa di dalam pikiranmu itu terdapat duabelas kategori, yang memungkinkan engkau dapat membangun pengetahuanmu. Itulah teori yang dibuat oleh Immanuel Kant.

9 comments:

Fithria Aisyah R_Math.06 said...

Pak...sebenar-benarnya adakah kategori lain dalam ilmu?
Entah kenapa saya merasa ragu jika ilmu hanya termuat dalam 12 kategori saja....
Karena menurut saya ilmu itu juga terlalu luas jika hanya terbatas pada 12 kategori saja....

terimakasih pak..

Dr. Marsigit, M.A said...

Fithria Aisyah, dari yang ada, pahamilah dan ujilah dulu apa maksud dari tiap kategori itu. Apakah kategori-kategori yang ada sudah memuat semua. Semakin sedikit atau semakin banyak kategori, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misal sekarang aku dapat membuat kategori bahwa di dalam pikiranku hanya ada dua, yaitu terang dan gelap. Atau besar dan kecil. Atau tampak dan tidak tampak. Jadi berdasar pengalaman kita masing-masing, sebenarnya kita bisa membuat kategori-kategori itu di dalam pikiran masing-masing. Masalahnya adalah bagaimana menjelaskan atau bahasa yang lebih tinggi bagaimana menyusun teorinya.

HARYONO.S said...

HARYONO SLAMET
P.Mat NR 06 C

Selamat malam Pak,
Pada kesempatan ini saya mau meminta pendapatnya Bapak.
Setelah saya membaca elegi Bapak, saya mengambil kesimpulan bahwa Immanuel Kant seperti membatasi pemahaman kita dengan pemikiran(akal budi).
Jadi, kita seperti terkurung dalam tembok pemikiran kita (akal budi).
Sehingga mungkin saja, jika dalam pikiran kita kategori tersebut hanya ada 12.
Tetapi dalam pikiran orang lain atau diluar pemikiran kita, kemungkinan kategori tersebut masih ada lagi.

Dr. Marsigit, M.A said...

Haryono Slamet, jika kita terima apa adanya teori Kant itu maka jadilah dia itu mitos kita. Untuk terhindar dari mitos itu maka gunakan pikiran kritis kita untuk mempelajari teori Kant itu. Pertanyaanmu dan perasaanmu tentang teori Kant yang bersifat membatasi dan mengungkung, itu pertanda bahwa anda sedang keluar dari mitos tersebut. Saya mengucapkan selamat atas ikhtiar anda itu. Amien.

Dr. Marsigit, M.A said...

Masih untuk Haryono, aku juga mengucapkan selamat karena menurutku engkau bisa melepaskan diri dari jebakanku. Sebenar-benar jebakanku adalah misteri bagi engkau semua. Akan aku ungkap misteri itu pada saat yang tepat.

Tegar Ganteng said...

maaf pak bila sekali lagi saya lancang.... saya mampu menerima teori kategori pengetahuan oleh kant dengan lapang hati dan keikhlasan. tapi bila boleh saya menambahkan, apakah saya boleh menambah kategori lain dalam pengetahuan misalnya kategori dalam mendapatkannya yaitu kategori 13 orang menyebut pengelaman pribadi dan kategori 14 orang menyebut pengalaman orang lain..

Dr. Marsigit M.A. said...

Tegar, bacalah tanggapan saya dari yang lain. Engkau bisa membuat kategori sesuka pikiranmu di dalam pikiranmu. Misalnya engkau sedang hanya mempunyai kategori siang-malam, pagi-sore, murah-mahal, dst. Tetapi ketahuilah bahwa Immanuel Kant adalah salah satu filsuf yang menyadarkan kita akan adanya kategori itu di dalam pikiran kita.

c@sEy_05301244102 said...

Pak bagaimana pengetahuan itu bisa menyebut bahwa semua kategori-kategori itu adalah bagian dari dirinya. Padahal jelas diketahui bahwa sebenar-benar kategori-kategori itu tidak megetahui dan mengenali dirinya sendiri tanpa megetahui siapa namanya??

_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana Dewanti, sesungguhnya tiadalah beda antara kategori, ilmu dan filsafat serta dunia. Mereka itu dapat ditempatkan di depan apapun. Maka aku bisa letakkan kategori didepan apapaun. Kategori pagi, kategori dunia, kategori pikiran, kategori mahasiswa, kategori hati, kategori pikiran dst. Itulah hebatnya filsafat, yaitu menggunakan bahasa analog sebagai alatnya.