Saturday, March 28, 2009

Elegi Menggapai Ramai

Oleh Marsigit

Suara1:
Aku adalah suara1. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Suaraku terdengar keras sampai kemana-mana. Seluruh kampung bahkan mendengar suaraku, karena aku menggunakan pengeras suara. Terasa begitu dekat jarak antara bibirku dan kampungku. Tetapi aku merasa bahwa suaraku tidak dapat menggapai kecamatanku. Kecamatanku terlalu luas untuk mendengar suaraku, bahkan ketika aku telah menggunakan pengeras suara sekalipun. Aku mendengar suaraku begitu jelas di dalam telingaku.

Suara2:
Aku adalah suara2. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Suaraku terdengar keras sampai kemana-mana. Seluruh kelas mendengar suaraku, tetapi kelas lain tidak mendengar suaraku, karena aku tidak pakai pengeras suara.Terasa begitu dekat jarak antara bibirku dan kelasku. Aku mendengar suaraku begitu jelas di dalam telingaku.

Suara3:
Aku adalah suara3. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Tetapi aku mendengar suaraku di dalam mulutku.

Suara4:
Aku adalah suara4. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga tidak mendengar suaraku di dalam mulutku. tetapi aku mendengar suaraku di leherku.

Suara5:
Aku adalah suara5. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga tidak mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga tidak mendengar suaraku di leherku. Tetapi aku mendengar suaraku di dadaku. Jika aku sebut dadaku sebagai hatiku maka aku mendengar suara di hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang satu.

Suara6:
Aku adalah suara6. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga tidak mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga tidak mendengar suaraku di leherku. Aku juga tidak mendengar suaraku di hatiku yang satu. Tetapi aku mendengar suaraku di dadaku sebelah kiri, sebelah tengah dan sebelah kanan. Jika aku sebut dadaku sebelah kiri, sebelah tengah dan sebelah kanan sebagai hatiku maka aku mendengar suara di tiga tempat hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tiga.

Suara7:
Aku adalah suara7. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tetapi aku menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Tetapi aku juga mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Jika aku sebut seluruh tubuhku sebagai hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh tubuhku.

Suara8:
Aku adalah suara8. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.

Suara9:
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Itulah setinggi-tinggi ucapanku yaitu menyebut nama Tuhanku. Maka ketika aku menyebut nama Tuhan ku dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suara yang memanggil nama Tuhan ku. Ya Allah ya Robbi, ampunilah segala dosa-dosaku. Tiadalah sesuatu kecuali kuasa dan rakhmat Mu. Amien.

11 comments:

hardiyanto_pmatnrc said...

Pak, saya ingin bertanya "Bagaimana menjadikan hati kita tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran? dan Bagaimanakah caranya supaya kita bisa mendengar suara di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran?"
Terima kasih!

Dr. Marsigit M.A. said...

Hardiyanto, baca, baca dan bacalah.

harist fadilah 'mellowsick' said...

Pemahaman dan yang sering(bahkan setiap saat)ramai bukan berarti suara kita di dengar di seantero lingkup yang luas.saat hati sedang berdebat di antara 2,3,4,5 bahkan 1000 atau lebih saya rasakan dalam diri ini sangat ramai.Padahal tidak ada seorangpun yang mendengar kecuali hati saya dan TUHAN saya.Apakah hal ini juga bisa di katakan sebagai ramai?
saya sangat berharap pak marsigit menjawab pertanyaan saya.Terimakasih

Fithria Aisyah R_Math.06 said...

Pak , sebenarnya saya juga masih belum mengerti bagaimana yang dimaksud "suara sampai batas pikiran " itu?.... apakah itu dapat diartikan ketika kita berdo'a menghadap sang rabb harusnya tiada lagi suara lain dalam diri yang mengganggu.
Karena terkadang saya juga merasa di dalam diri ini banyak sekali suara-suara yang sebenarnya adalah pikiran saya sendiri namun sering kali berbeda persepsinya...apakah itu yang dimaksud dengan pertyengkaran dalam keramaian,,,,

terimakasih

ERVINTA said...

Asalamualaikum Bapak Marsigit,

Pak, saya beberapakali sempat membaca blog elegi bapak. Meski belum bisa semuanya, tetapi saya pernah menemukan beberapa kali pola yang sama atau kaitan yang erat antara elegi yang satu dengan yang lain. Terkadang elegi yang baru merupakan penegasan yang lama, terkadang merupakan pola yang bapak rubah dengan maksud yang tidak saya ketahui sebelumnya...tetapi setiap elegi mesti dalam kelas bapak terang kan kembali dan memang benar selayaknya semua berkaitan, meski yang benar-benar tahu kaitannya adalah bapak. Sehingga menurut dari yang saya tangkap di kuliah, filsafat adalah pikiran bapak dan filsafat adalah pikiran saya. jadi ketika banyak bertanya dan kebingungan pun itulah filsafat dan itulah suara sampai batas pikiranku, sepanjang yang saya ketahui dan dapat saya pahami dalam elegi ini adalah batasan pemikiranku, batasan ilmuku dan itulah filsafatku... benarkah jika saya berpikiran demikian setelah membaca elegi daerah imajiner dan mengikuti kelas bapak, jika kita kebingungan dan bertanya hakekat, kita tinggal mengganti kata ilmu menjadi apa yang akan saya pertanyakan setelah membaca?

Dr. Marsigit, M.A said...

Ervinta, engkau sedang berusaha menterjemahkanku dan juga aku berusaha menterjemahkanmu dan juga menterjemahkan yang lainnya.

HARYONO.S said...

Selamat malam Pak.
Dari elegi Bapak, saya mengerti bahwa SUARA tersebut adalah DOA kita kepada Yang Maha Kuasa.
Ketika kita berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan, maka kita akan mendoakan diri kita, orang tua kita, saudara-saudara kita,teman-teman kita, orang-orang yang mencintai dan membenci kita.
Selain itu kita juga berdoa untuk Bangsa dan Negara, tempat kita beribadah, masyarakat dan masih banyak lagi yang ada di luar diri kita.
Jadi DOA kita ada di mana saja untuk mendoakan diri kita dan yang di luar diri kita.

Dr. Marsigit, M.A said...

Haryono, jika itu adalah doaku, maka menurutku setiap orang mempunyai pengalamannya sendiri-sendiri dalam berdoa. Sebetulnya elegi ini hanyalah berusaha menggambarkan pengalaman psikologis, yang kemudian saya kemas melalui pentahapan experimen. Jadi untuk dapat mengatakan apakah doa itu khusyuk atau tidak masih cukup jauh.

hardiyanto_pmatnrc said...

Dari jawaban Bapak atas comment saya yang meminta saya untuk membaca lagi dan saya telah membaca lagi elegi ini. Sekarang saya mulai mengerti jawaban atas pertanyaan saya sendiri yaitu dengan menutup diri dari dunia lalu menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiranku sebagai hati maka ketika menyebut nama Tuhan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, kita dari segala sesuatu dari dunia luar namun sebenarnya ramai dengan suara yang terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu juga terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran kita itulah suara yang memanggil nama Tuhan.
Mohon tanggapan Bapak, terima kasih!

Dr. Marsigit M.A. said...

Hardiyanto, itulah sebenar-benar tujuan manusia, yaitu meningkatkan dimensi-dimensinya, baik dimensi hati, pikiran, pengetahuan, pergaulan, ketrampilan, dst. Waspadalah terhadap jebakan filsafat dan mitos. Maka bacalah elegi jebakan filsafat itu.

Sutarto (09709251030) PMB said...

Apakah yang dimaksud dalam elegi menggapai ramai ini bahwa untuk mendapatkan ketenangan jiwa harus mengingat Allah dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku ya Pak???
Saya pernah mengalami goncangan dalam pikiran dan ingatan ku yang mengakibatkan tidak konsentrasi dalam aktivitasku, yang saya pikirkan ada tapi ingatan tidak mampu membawaku kedalam apa yang aku pikirkan. Puncak goncangan itu ketika aku tidak bisa tidur sampai waktu subuh, goncangan itu membuat aku tidak tenang sampai akhirnya aku mengambil wudhu, sholat malam dan berdoa supaya ingatanku mampu membawaku kedalam apa yang aku pikirkan, saat itu aku tenang tapi aku belum mampu mengingat apa yang aku pikirkan…….
Goncangan itu berlangsung berhari-hari, aku tidak mau mengingatnya tapi pikiranku slalu mengarahkan kepada ingatan tidak mampu membawaku kedalam apa yang aku pikirkan……..
Tapi setelah aku berada di tempat di mana yang aku pikirkan itu terjadi, dengan refleks aku menyebut Oh…. Ini ya, yang aku pikirkan ada tapi ingatan ku tidak mampu membawaku kedalam apa yang aku pikirkan…..
Ya Allah……, terimakasih atas kembalinya ketenangan dalam jiwaku