Tuesday, March 17, 2009

Elegi Menggapai Dasar Gunung Es

Oleh: Marsigit

Pelaut:
Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua?

Orang tua berambut putih datang:
Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja.

Orang tua berambut putih:
Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu.

Pelaut:
Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kemudian, apakah sebetulnya yang disebut puncak gunung es?

Orang tua berambut putih:
Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.

Pelaut:
Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?

Orang tua berambut putih:
Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimanakah aku bisa mengenali mereka semuanya.

Orang tua berambut putih:
Caranya adalah dengan menyelam ke bawah permukaan laut.

Pelaut:
Bagaimana aku bisa menyelam ke bawah permukaan laut?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Wahai orang tua berambut putih. Bukankah apa yang engkau sebutkan itu adalah puncak-puncak gunung. Karena itu semua adalah kata-katamu. Maka semua kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung.

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa jika engkau dekati suatu gunung itu, maka tiadalah suatu gunung yang hanya mempunyai satu puncak. Di lembah gunung terdapatlah puncak-puncaknya yang lebih kecil, demikian seterusnya.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui tentang komunikasi, maka bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui apa yang ada di bawah puncak gunung kosong, bagaimanakah caranya?

Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.

Pelaut:
Kenapa engkau ulang-ulang saja jawabanmu?

Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Bahwa sebenar-benar yang sedang engkau lakukan adalah sedang menggapai filsafat.

17 comments:

Fithria Aisyah R_Math.06 said...

Salam.......

Terkadang banyak hal di sekitar kita yang tidak dapat kita lihat meski begitu dekat , tidak dapat kita gapai meski sebenernya begitu mudah...benarkah ada jurang pemisah disana ??? atau karena kita saja yang tidak mengenal gunung esnya??... Elegi gunung es ini membuat saya berpikir betapa luasnya dunia ini karena banyak hal di dunia ini yang sebenarnya saya tidak tahu bagaima.........

Dr. Marsigit M.A. said...

Fithria Aisyah
Ketika mereka berada di luar dirimu, maka masalahnya adalah bagaimana engkau mampu memahaminya. Ketika mereka berada di dalammu maka masalahnya adalah bagaimana engkai bisa menjelaskannya.

c@sEy_05301244102 said...

Assalam.....

subhanallah...ternyata masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang semua yang ada di dunia ini. Dan ternyata masih sangat sedikit pengetahuan dan kemampuanku.Dengan membaca "Elegi Menggapai dasar Gunung Es" ini aku jadi termotivasi untuk lebih banyak belajar dan belajar memahami arti hidup dan semua pengetahuan-pengetahuan yang ada.Dan yang pasti dalam belajar kita harus lebih dahulu mengenal satu persatu hal-hal yang dekat dengan kita dan seterusnya.Tetapi terkadang rasa malas itu timbul yang bisa membuat enggan untuk belajar dan berusaha memahami sesuatu.Apakah rasa malas itu termasuk batas atau pemisah pak??terimakasih.

_Kesi Rusdiana_05301244102

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Itulah sebenar-benar, bahwa RASA MALAS mu itu juga merupakan puncak gunungmu. Maka selamilah, temuilah dan ajaklah berdialog rasa malasmu itu, agar rasa malasmu itu juga mau berikhtiar demi kebaikkanmu.

c@sEy_05301244102 said...

Jadi apakah kematian itu merupakan puncak gunung juga atau malah batas pak?

_Kesi Rusdiana D_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Aku ulangi, bahwa setiap ucapanmu itulah sebenar-benar puncak gunung es. Bahkan lebih dari itu, segenap apapun yang dapat engkau pikirkan itulah sebenar-benar puncak gunung es. Ucapanmu tentang kematian atau kehidupan itu pula merupakan puncak gunung es. Maka tiadalah tersisa untuk dapat dijadikan gunung es. Apakah puncak gunung es itu. Itulah sebenar-benar tantanganmu untuk mengetahui apa hakekat ucapan dan pikiranmu itu. Dimanakah puncak gunung es itu. Dia bisa berada di luar pikiranmu, tetapi dia bisa berada di dalam pikiranmu. Jika dia berada diluar pikiranmu, maka persoalannya adalah bagaimana engkau mampu memahaminya. Jika dia berada di dalam pikiranmu, maka persoalannya adalah bagaimana engkau bisa menjelaskannya. Baik dia berada di luar pikiranku maupun di dalam pikiranku, selalulah ada jarak antara pikiranku dan puncak gunung es tersebut. Maka sebenar-benar ilmumu adalah jarak antara pikiranmu dan puncak gunung es tersebut.

Tegar Ganteng said...

apakah semakin tinggi dimensi kita, maka puncak gunung es kita? bila demikian semakin tinggi dimensi kita berarti semakin sulit/ jauh buat menggapai dasar gunung esnya?

Iwan Tegar Mandiri
06301244003

Dr. Marsigit, M.A said...

Tegar
Sebenar benar puncak gunung es itu adalah segala obyek berpikirmu. Sedangkan hakekatnya itu adalah ilmumu. Maka bacalah elegi menggapai hakekat senin, sebagai contoh bagaimana menggapai hakekat.

c@sEy_05301244102 said...

Apakah sebenar-benarnya saya bisa pak menggapai dasar gunung es saya??

_Kesi Rusdiana D_

Tegar Ganteng said...

jadi kesimpulannya untuk kita belajar filsafat, kita harus melihat objek pikiran kita serta mencari hakekatnya dengan sadar akan keadaan didepan kita dengan menggunakan ilmu untuk mencari kebenaranya Pak?

Iwan Tegar Mandiri
06301244003

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi, Tegar dan yang lainnya
Keyakinanmu adalah lebih dari separoh jalannmu. Itu arinya keyakinanmu bisa segala-galanya.

anggit_Riyanto said...

ya..memang benar, jika tidak sepertyi itu bagaimana bisa kita mengerti.

Tak kenal maka tak sayang,
Tak ngerti maka tak cinta,

tetapi, dinginnya puncak gunung es yang dingin membuat seolah sayang dan cinta adalah sesuatu yang sulit dilalui, dimengerti dan ditelaah, apalagi diresapi.

Yulida Ekawati said...

Setelah saya membaca Elegi Bapak yaitu Elegi menggapai dasar gunung es, saya jadi berpendapat bahwa mencari ilmu layaknya seperti menggapai dasar gunung es. Seperti yang telah bapak bilang dalam komentar-komentar yang lain bahwa ilmuku adalah jarak antara pikiranku dan puncak gunung es tersebut. Hal itu membuat saya jadi termotivasi untuk lebih belajar dalam hal apa saja yang ada di dunia ini untuk menggapai gunung es tersebut.
Pak, apakah motivasi saya untuk menggapai gunung es tersebut bisa dianggap layaknya seorang anak yang ingin menggapai cita-citanya?
terimakasih

Dr. Marsigit M.A. said...

Yulida Ekawati,
Aku telah menyaksikan motivasimu

Yulida Ekawati said...

niat dan motivasi menurut saya menjadi dasar yang baik untuk memulai semuanya.
terimakasih bapak.

harist sIck say "W3lcome to my World" said...

Macam-macam ilmu di sekitar kita,banyak ragamnya.Pada diri kita yang terdekat juga ada ilmu.Penggambaran ilmu seperti puncak gunung es.Jika di lihat sepintas tampak kecil(hanya terlihat di puncaknya saja)Akan tetapi,jika kita telaah lebih jauh,kita telusuri lebih dalam dan mendalami ke dasarnya ke arah lereng-lerengnya Subhanallah,ilmu ternyata sangat luas dan kompleks tidak seperti yang kita lihat di ujungnya saja.Dan untuk mendapatkan ilmu itu diperlukan akal sehat,pikiran kritis, pertanyaan, pengetahuan. Serta mampu mengembangkan dengan metode yang dinamis. Terlepas dari itu semua tetapkanlah hati sebagai guide agar ilmu yang nantinya kita peroleh dapat di pergunakan dengan sebaik mungkin.

Dr. Marsigit, M.A said...

Yulida Ekawati
Di dalam niat itulah hatimu. Didalam motivasi itulah kemampuanmu. Didalam perilakumu itulah kebaikkanmu. Di dalam ketrampilan dan pengalamnmu itulah ilmumu.