Saturday, March 14, 2009

Elegi Menggapai Merdeka

Oleh: Marsigit

Obyek satu:
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek dua:
Wahai obyek satu, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ketiga:
Wahai obyek dua, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
.... dst

Obyek ke n:
Wahai obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.

Obyek ke n masih ingin bicara:
Wahai obyek ke 1, obyek ke 2, obyek ke 3, obyek ke 4, ...obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua. Ya Tuhan betapa sengsara hidupku ini. Kenapa semua yang ada di sekitarku bersifat mengendalikanku. Kenapa yang ada di sekitarku selalu menimpakan sifat-sifatnya kepadaku. Kenapa aku tidak dapat menunjuk sifat-sifatku walau sebuahpun. Maka sebenar-benar diriku itu adalah sudah tiada. Tiadalah diriku. Tiadalah pikiranku. Tiadalah hatiku. Tiadalah jiwaku. Tiadalah jati diriku. Dan tiadalah identitasku. Maka senyata-nyatanya semua yang ada disekitarku adalah monster-monster pemangsa sifat-sifatku. Apakah masih ada makhluk yang dapat aku ajak bicara?

Orang tua berambut putih datang:
Akulah orang yang selalu muncul pada setiap pertanyaan. Karena sebetul-betul diriku adalah ilmumu. Boleh yang lain habis dan lenyap dari dirimu. Tetapi selama engkau masih mampu bertanya, maka dirikulah yang masih tersisa.

Obyek ke n:
Wahai orang tua berambut putih. Apakah engkau mendengar semua kalimat dan percakapanku? Jika ya maka bagaimanakah kelanjutan diriku itu. Kemudian apa pula yang harus aku lakukan.

Orang tua berambut putih:
Betul katamu. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa semua ucapan-ucapanmu itu hanyalah berkenaan dengan hubungan antar sifat-sifat. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek.

Obyek ke n:
Siapakah sebenarnya subyek dan obyek itu?

Orang tua berambut putih:
Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.

Obyek ke n:
Contoh kongkritnya?

Orang tua berambut putih:
Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. Si mobil adalah subyek, sedangkan si montor adalah obyeknya. Si lurah adalah subyek, sedangkan si carik adalah obyeknya. Si canggih adalah subyek, sedangkan si tradisional adalah obyeknya. Si mahal adalah subyek, sedangkan si murah adalah obyeknya. Si bicara adalah subyek, sedangkan si diam adalah obyeknya. Si banyak adalah subyek, sedangkan si sedikit adalah obyeknya. Si ketua adalah subyek, sedangkan si anggota adalah obyeknya. Si cantik adalah subyek, sedangkan si tidak cantik adalah obyeknya. Si banyak teman adalah subyek, sedangkan si sedikit teman adalah obyeknya. dst.dst.

Obyek ke n:
Jikalau aku ingin jadi subyek, maka siapakah obyekku itu?

Orang tua berambut putih:
Sayangnya tiadalah sesuatupun bersedia menjadi obyekmu.

Obyek ke n:
Ini tidak adil. Aku harus tuntut keadilan. Aku ingin memberontak. Mereka dan aku toh sama-sama makhluk hidup. Mengapa mesti aku dan mereka mempunyai nasib yang berbeda. Aku ingin merdeka dari segala sifat yang menimpaku.

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku. Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka.

16 comments:

harist sIck say "W3lcome to my World" said...

apakah ilmu itu sendiri dapat memperlakukan menusia yg berilmu sebagai objeknya?
mohon jawabannya bapak marsigit

Tegar Ganteng said...

selama hidupku saya pikir hanya selalu menjadi objek. selalu kesombongan, keyakinan, keminderan, kemiskinan, dendam, ketakutan, kekhilafan, dst menghantui dan menekanku. tapi aku sadar, ternyata semua cita-citaku adalah objekku. cita-citaku adalah tujuanku hidup. untuk bisa menggapaimu ya Allah....

Iwan Tegar Mandiri

anggit_Riyanto said...

berarti objek adalah sesuatu hal yang rumit.. kadang dia adalah keinginan, kadang dia adalah sekedar pengikut.

lalu kelanjutan dari subjek sendiri seperti apa?

jadi untuk menjadi subjek itu sangat gampang? cukup dengan mencari pengikut lalu punya keinginan dan lain2 yang rumit..

ARIF MUNANDAR said...

Obyek selalu menjadi korban arogansi subyek. Tapi,asalkan subyek tnduk pada nasehat orangtua berambut pth, maka obyekpun dapat menjadi subyek lagi tanpa mewngusik keberadaan subyek pendahulunya

Pak,apa maksud dari 'sbenar benar dirimu adalah determinis bagiku'

Dr. Marsigit, M.A said...

Arif Munandar
Ditermininist itulah sebenar-benar perilaku menentukan oleh subyek terhadap obyeknya. Maka kemudian muncullah filsafat diterminisme. Kemudian sebagai lawannya, yaitu obyek yang tidak mau dikuasai atau ditentukan, maka bersikaplah nihil atau nol dari segala penentuan oelh subyeknya. Maka muncullah filsafat nihilisme. Tetapi saya Marsigit, tidak akan sampai ke filsafat nihilisme, karena filsafat nihilisme nya Satre, sangat ekstrim, yaitu bahkan tidak mau juga ditentukan oleh semua aturan termasuk aturan dari Tuhan. Na'u dzubillah mindhalik. Oleh karena itu bacalah elegi harmoni.

Ratna said...

Asalamu'alaikum
setelah membaca elegi ini saya ingin bertanya apakah kedudukan si kaya dan si miskin atau contoh lainnya itu kedudukannya tetap seperti itu? dapatkah itu dapat berubah mis si miskin menjadi subjek dan si kaya menjadi objek?
Kemudian bagaimanakah cara kita untuk menggapai kemerdekaan pikiran?
Terimakasih sebelumnya
Wassalamu'alaikum
oleh : Tri Ratnaningsih (0631241044)Pend Matematika R'06

Dr. Marsigit, M.A said...

Tri Ratnaningsih
Hidup adalah ikhtiar mewujudkan potensi menjadi fakta. Jika senyata-nyatanya engkau merasa menjadi obyek, itu adalah fakta sekaligus potensi. Maka subyek yang anda inginkan itulah sebenar-benar perjuanganmu. Maka sebenar-benar manusia itu mempunyai subyek dan obyeknya masing-masing.

nurwastiyana math education said...

Setiap subjek pasti mempunyai objek, dan setiap objek juga pasti punya objek. jika objek n bertindak sebagai subjek dan objeknya adalah keinginan untuk merdeka, siapa yang menjadi objek bagi keinginan itu??

Dr. Marsigit M.A. said...

Nurwastiyana
Keinginan adalah potensi. Jika keinginan adalah subyek maka obyeknya adalah fakta. Itulah sebenar-benar perjuangan manusia, yaitu mewujudkan potensi menjadi fakta.

MEINA berlianti said...

ternyata apa saja yang ada di dunia ini bisa menjadi sebuah obyek.

lalu bagaimana dengan "TUHAN" ???
saya masih ingat dengan penjelasan bapak pada perkuliahan tadi pagi bahwa ada satu hal yaang tidak bisa menjadi obyek yaitu "TUHAN".
tapi kenyataannya kadang saya memikirkan tentang TUHAN.sebagai contoh ketika saya sedang tertimpa masalah, saya berfikir "apakah yang sebenarnya TUHAN inginkan dari segala macam masalah yang saya hadapi ini" .bukankah artinya TUHAN sedang menjadi obyek berfikir saya??

apakah saya sudah membuat kesalahan besar menjadikan TUHAN sebagai obyek saya??

mohon penjelasan dari Bapak...
terima kasih....

Dr. Marsigit, M.A said...

Meina Berlianti
Tuhan itu adalah subyek absolut. Maka semua yang lain adalah ciptaan Nya. Oleh karena itu tiadalah sesuatu terlepas dari pengawasannya. Tetapi adalah sangat tidak pantas jikalau aku menyatakan bahwa diriku adalah obyek Nya. Itulah sebenar-benar etika. Subyek dan obyek hanyalah referensi pikiranku, tetapi aku juga tidak etis untuk menyatakan bahwa aku adalah obyeknya orang tuaku. Itulah sebenar-benar etika.

Dr. Marsigit, M.A said...

Masih untuk Meina Berlianti
Ketika kita memasuki ranah ke Tuhan an, itulah sebenar-benar kita harus menggunakan hati kita. Kita tidak dapat semata hanya menggunakan akal pikiran, apalagi berpikir tentang hubungan subyek obyek. Aku berpikir sebagai obyek Nya saja, aku merasa sangat tidak etis, apalagi aku berpikir sebagai subyek, maka tidak hanya sangat tidak etis, tetapi itu adalah dosa besar. Maka mohon ampunlah segera kita itu. Sampai di sini, maka berhentilah kita memikirkan Nya. Gunakan hati kita untuk mendekati Nya. Inilah benar-benar batas pikiran dan hatimu.

c@sEy_05301244102 said...

Sebenar-benarnya untung adalah menjadi subyek dan sebenar-benarnya rugi adalah menjadi obyek.
Karena subyek selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya,baik disengaja maupun tidak disengaja.
Kalau begitu enakan jadi subyek dong soalnya untung terus.Dengan begitu bisa menguasai obyek.
Pada umumnya,manusia hidup kan cari untung dan kepuasan.
Apakah bisa pak,manusia hidup menjadi subyek terus??


_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Sebenar-benarnya yang terjadi adalah bahwa manusia selamanya menjadi subyek sekaligus menjadi obyek.

EviL_mOngkEy said...

05301244102Tiadalah kemerdekaan yang sejati tanpa adanya kebebasan finansial yang memadai. Sungguh ini merupakan hal yang sangat mengerikan jika terpaksa aku harus berada di tempat tertentu, dengan tugas tertentu(yang mungkin juga tidak aku sukai), selama waktu tertentu hingga menjadi tua. Dengan demikian, kondisi itu bisa saja disamakan dengan sebuah penjara. Karena terbatasnya pilihan, ruang dan waktuku.
Bagaimanakah cara/ harapan untuk bisa lepas dari penjara sepanjang umur yang mengekang kemerdekaan itu pak??

_Kesi Rusdiana D_
05301244102

Dr. Marsigit, M.A said...

Kesi Rusdiana Dewanti dan yang lain
Terangnya pikir belum tentu selaras dengan nyamannya hati. Itulah mengapa tidak semua orang siap menerima bahkan terangnya pikirnya sendiri. Oleh karena itu, maka untuk semua urusan dunia maupun akhirat maka tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Sebagai gambaran maka bacalah elegi menggapai harmoni dan elegi-elegi yang lain yang berkaitan.
Selamat berikhtiar.