Sunday, March 1, 2009

Elegi Menggapai Penampakkan

Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau bisa mengerti hakekat apapun.

20 comments:

apiep atul said...

Menurut saya, hakekat memang tidak terbatas, jika menurut kita hakekat itu terbatas, yang membatasinya adalah kita sendiri karena keterbatasan pikiran kita sendiri...

Dari Afifatul Muslikhah
NIM 06301241038
Pend. Matematika R '06
Univ. Negeri Yogyakarta

Anonymous said...

Berdasarkan "Elegi Menggapai Penampakan",hakekat memang tak terbatas. Keterbatasan itu disebabkan karena kita merasa paham akan hakekat apapun. Sedangkan ketika kita merasa tidak mengerti akan hakekat apapun, maka disitulah letak ketidakterbatasan hakekat.Karena bahkan hakekat adalah pun kita tidak tahu...
Saya mempunyai usul, bagaimana mengenai "Elegi Menggapai Cinta dan Keluarga" menurut pandangan Bapak?

Dari Ika Septiana Handayani
NIM: 06301241020
Pendidikan Matematika R 06
UNY

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdr Ika
Yang berkaitan dengan cinta, bacalah Elegi guru menggapai siswa.

Anonymous said...

Begitu banyaknya sifat yang dimiliki (atau yang disebut disini penampakan) dari masing-masing pribadi. Penampakan itu terkadang dapat muncul secara mandiri maupun kolaboratif. Penampakan memang bias bersifat terbuka dan tertutup. Bersifat terbuka jika hal tersebut masih dalam pikiran. Hal tersebut terjadi karena dalam pikiran seseorang penampakan itu akan terlihat menurut sudut pandang masing-masing dan masih dapat dipengaruhi oleh hal yang lain, misalnya lingkungan sekitar yang menilai. Bersifat tertutup mungkin maksudnya seseorang sudah menarik sebuah kesimpulan dari bebrapa penampakan yang ada menurut sundut pandang dirinya.

Berarti hakekat kita hanyalah sebuah fatamorgana dari penampakan dan ilmu yang kita miliki. Hakekat itu sendiri merupakan akal dan pikiran kita. Batas akal dan pikiran kita adalah pengetahuan yang kita miliki. Sebenar-benarnya setiap orang yang berilmu tidak akan pernah mengetahui dengan pasti hakekat apapun, karena hakekat itu sendiri memiliki arti yang cukup luas dan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Hal tersebut dibatasi oleh pengetahuan yang kita miliki, maka tak seorangpun yang yang tahu tentang suatu hakekat apapun secara pasti.

Apakah kesimpulan yang saya sebutkan diatas salah Pak?? Jika salah, sebenarnya apa kesimpulan dari Elegi tersebut….

Pak, saya juga mempunyai sebuah pertanyaan setelah membaca elegi tersebut :
“Kemandirian penampakkanku adalah identitasku” sebenarnya apakah maksud dari kalimat tersebut ?!

Dari Rossa Kristiana
Nim 06301241040
Pend Matematika R'06
Univ Negeri Yogyakarta

Dr. Marsigit, M.A said...

Rossa K
Analisis anda sudah bagus. Yang dimaksud dengan “Kemandirian penampakkanku adalah identitasku”, adalah bahwa warna hijaunya selembar daun, adalah hak prerogatif dari daun itu sendiri. Dia bersifat mandiri sebagai identitas daun yang berwarna itu. Tetapi jika daun itu tidak lagi mandiri karena intervensi manusia, misal direbus, maka warnanya berubah. Itulah semata-mata penampakkannya untuk kepentingan subyek manusia.

Anonymous said...

setelah membaca uraian "Elegi Menggapai Penampakan" menurut saya,dari sini dapat diketahui bahwa sebenarnya ketika kita sudah merasa bahwa diri kita hebat dan mengerti tentang banyak hal, maka itu adalah ilmu terendah yang kita miliki karena dibalik pengetahuan tentang sesuatu maka masih banyak sekali hal2 lain atau seperti yang disebutkan dalam elegi ini yaitu hakekat.hakekat itu tidak terbatas, dan berarti betapa bodoh orang yang merasa bahwa dirinya sudah paham akan sesuatu hal.itu merupakan kesombongan.karena sebenar - benar ilmunya hanyalah sedikit sekali dibandingkan dengan seluruh ilmu yang terdapat di alam jagad raya ini..

benar atau salahkah analisis saya tersebut pak?andaikan salah bagaimanakah sebenarnya maksud dari elegi menggapai penampakan?

saya juga ingin bertanya kepada bapak, bagaimanakah caranya agar mudah memahami bahasa filsafat?
karena terkadang dengan membaca saja saya masih kesulitan untuk menafsirkan artinya..terimakasih bapak..

Dari Nina Agustyaningrum
NIM : 06301241022
Pend. Matematika R'06
UNY

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdr Dina Agustyaningrum
Benar sekali analisis anda.
Banyak membaca adalah kunci memahami filsafat.

Anonymous said...

Menarik sekali tentang "Elegi Menggapai Penampakan". Bahwa penampakan itu bisa berdiri sendiri dan bisa bergabung atau berkolaborasi dengan yang lainnya. Yang ingin saya tanyakan, Ketika berkolaborasi dengan yang lain apakah akan menjadi sesuatu yang lain juga? Apa contohnya dalam matematika pak?
Kemudian penampakan juga bisa bersifat terbuka dan tertutup, terbuka karena itu masih dalam pikiran kita, bisa berarti apa saja, tergantung sudut pandang masing - masing. Karena ketika difikirkan tentang penampakan itu, tidak semua orang mengartikan yang sama tentang penampakan itu, tetapi ketika itu bersifat tertutup berarti penampakan tersebut telah menjadi kesimpulan atau pernyataan. dan telah dibatasi oleh hal - hal yang membatasinya. Benar begitu pak? Yang ingin saya tanyakan apakah hunbungannya ketika penampakan tersebut berkolaboratif dan tertutup?
Dan untuk mencapai kesimpulan itu kita membutuhkan ilmu, ilmu itu ketika kita mencarinya maka tidak akan pernah habisnya yang kita dapatkan tentang ilmu tersebut. Berarti ilmu itu tidak terbatas.
Ketika kita katakan bahwa ilmu itu tidak terbatas, berarti apakah kita .. tahu bahwa ilmu itu tidak terbatas? Apakah hakekat ilmu dan mencari ilmu?

Dina Radlia
NIM 06301241014
Pend. Matematika R'06
Univ Negeri Yogyakarta

ayubarbie said...

Yes this article is funny and very mathematic. I convenient laugh when read their dialogs. That the world very large. Don't arrogant because high above of sky already sky. And our duty only kept,kept, and kept developed potency what we have without forget our truth as God creature.

ayubarbie said...

Yes this article is funny and very mathematic. I convenient laugh when read their dialogs. That the world very large. Don't arrogant because high above of sky already sky. And our duty only kept,kept, and kept developed potency what we have without forget our truth as God creature.


from:
Ayu Luhur Yusdiana Yati
MatR08
08305141028

English I (by Nabih) said...

This article inspirate me...


This article inspirate me to beleive, our knowledge can be more, more and more...

If we try to think more consitenly we can more know obout "our God"

Remember, God make human in the world, to pray, to study, and have "great"behavior


Nabih Ibrahim Bawazir
08305141011
Matematika R 08
UNY

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdr Dina Radlia and others
Thank for the comments. Khususnya buat Dina Radlia, analisismu sangat bagus. Itulah sebenar-benar matematika. Mengapa orang sulit mempelajari matematika, karena matematika bukan obyek penampakan. Matematika adalah kualitas dibalik penampakan. Maka sebenar-benar matematika adalah metafisik. Itulah ilmunya bagi orang-orang yang telah mempelajari filsafat. Namun bagi siswa, bahwa matematika adalah gambar yang fisik, itulah sebenar-benar metode. Maka hakekat tidak bisa dipisahkan dengan metode. Akan ada saatnya nanti dimunculkan elegi menggapai matematika. Tunggu waktu yang tepat, karena tentu kalimat-kalimatnya akan lebih sulit dipahami. Selamat

sumadi said...

Membaca tulisan bapak tentang hakekat mengingatkan saya akan keberhati-hatian dalam mengatakan saya bisa ini dan bisa itu. Ternyata apa yang saya katakan bisa sekedar menurut ukuran saya.pengetahuan manusia sangat terbatas baru saja mengupas tentang hakekat ternyata sudah tidak sanggup lagi melanjutkan. Disnilah indahnya matematika dapat dibawa kemana saja, khusus tentang hakekat ternyata matematika membawa kita untuk berpikir kemana hakekat perjalanan kita ini. terimaksih pak atas tulisannya yang mampu membawa matematika untuk jauh mengenal siapa sebenarnya kita ini.

Dr. Marsigit, M.A said...

Great Pak Sumadi,
Tetapi harap ketahuilah bahwa Pak Sumadi juga baru saja mengambil keputusan. Maka sebenar-benar dibalik keputusan adalah keputusan juga. Maka apa yang baru saya sampaikan itupun keputusanku. Maka sebenar-benar diriku adalah diri yang berusaha mengetahui keputusan keputusan dibalik keputusan. Tetapi janganlah khawatir, itu semua sebetulnya bahasa yang sangat rumit dari suatu keadaan sederhana. Kedaan sederhananya adalah tuntutlah ilmu sepanjang hayat. Selamat berjuang. Amien.

-fad- said...

Elegi menggapai penampakan...

Sering kali apa yang tampak menipu mata kita. Apa yang kita lihat tidak sesuai dengan yang sebenarnya terjadi. Kesombongan kadang menutupi hati bahwa sebenarnya apa yang kita ketahui bukanlah apa- apa. Bahwa sebenarnya kemampuan yang kita miliki hanyalah setitik dari angkasa raya.

Saya ingin bertanya Pak. Terkait dengan salah seorang kawan saya yang pernah menyebut dirinya dengan angkuh, bahwa ia mempunyai sekian banyak hal yang membuat saya akan rugi jika menolak berteman dengannya. Bagaimana kita menyikapi seseorang yang seperti itu Pak?

dari Izatul Ifada(06301241052)
pMat06

Dr. Marsigit, M.A said...

Izatul Ifada
Tuhan telah menciptakan segalanya. Tuhan juga telah membuat ketentuan-ketentuan. Manusia hanya berusaha dan tawakal dengan ketentuannya. Hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya juga memenuhi hukum-hukum Nya. Manusia hanya berusaha memahami ruang dan waktu. bahwa apa yang engkau alami itu, itulah rakhmat yang diberikan kepadamu agar engkau berpikir dan berdzikir. Tetapi bahwa engkau mengaharapkan orang lain seperti apa yang engkau pikirkan, itulah bahayamu. Sebenar-benar bahayamu adalah jika engkau terperangkap kedalam kegelapan ruang dan waktu. Maka berserah diri, berdoa dan berusaha adalah satu-satunya solusi. Sedangkan hasil akhir adalah ketentuan Nya. Sebenar-benar yang telah terjadi adalah terbaik buat kita semua, karena itu adalah kodrat Nya. Amien

Yulida Ekawati said...

menurut saya artikel ini menarik sekali untuk dibaca. Walaupun saya belumbegitu paham dengan makna dari artikel tersebut namun pemahaman yang saya tangkap bahwa artikel elegi Menggapai Penampakan ini bahwa ilmu yang kita dapat janganlah kita sombong dan merasa paling pintar.Karena ada yang lebih pintar selain kita. Selain itu,dari percakapannya mungkin dapat diartikan sebagai percakapan dimana ilmu adalah tujuan kita. jangan engkau tanyakan kepada ilmu apa manfaat kita mempelajarimu.Namun tanyakan kepada diri kita sendiri apakah manfaat yang akan saya dapat setelah mendapat ilmu itu.Sehingga dengan demikian dari ilmu yang kita dapat bisa dimanfaatkan sesuai dengan tujuan.
Setelah saya membaca artikel saya ingin bertanya pak,apakah pemikiran saya ada benarnya?
dan Apakah setiap makna dari elegi yang bapak buat bisa berarti lain oleh filosof yang lain? atau hanya pembuat elegiitu yang bisa mengerti dengan benar maknanya?
terimakasih
Yulida Ekawati
Pemat NR 06 C
06301244028

Yulida Ekawati said...

menurut saya artikel ini menarik sekali untuk dibaca. Walaupun saya belumbegitu paham dengan makna dari artikel tersebut namun pemahaman yang saya tangkap bahwa artikel elegi Menggapai Penampakan ini bahwa ilmu yang kita dapat janganlah kita sombong dan merasa paling pintar.Karena ada yang lebih pintar selain kita. Selain itu,dari percakapannya mungkin dapat diartikan sebagai percakapan dimana ilmu adalah tujuan kita. jangan engkau tanyakan kepada ilmu apa manfaat kita mempelajarimu.Namun tanyakan kepada diri kita sendiri apakah manfaat yang akan saya dapat setelah mendapat ilmu itu.Sehingga dengan demikian dari ilmu yang kita dapat bisa dimanfaatkan sesuai dengan tujuan.
Setelah saya membaca artikel saya ingin bertanya pak,apakah pemikiran saya ada benarnya?
dan Apakah setiap makna dari elegi yang bapak buat bisa berarti lain oleh filosof yang lain? atau hanya pembuat elegiitu yang bisa mengerti dengan benar maknanya?
terimakasih

Dr. Marsigit, M.A said...

Yulida Ekawati
Apapun yang terjadi, anda telah mengutarakan pendapat dan membuat tesis anda. Itu adalah fakta. Padahal sebenar-benar perjuangan kita adalah mewujudkan potensi kita menjadi fakta. Itulah arti bagi hidup kita. Jika persepsi anda dan persepsi mereka tentang elegi sama satu dengan yang lain, maka sebenar-benar kita adalah sama yaitu ilmu itu sendiri.

khidmatul irfani said...

PM.B/10709251037

sebenar benarnya suatu yang kita lihat itulah sebenar benarnya wujud dari suatu itu. apa yang kita pikirkan tentang sesuatu itu maka itulah sebenar benarnya wujudnya.