Thursday, March 12, 2009

Elegi Menggapai Hati

Oleh Marsigit

Kebiasaanku:
Bekerja, istirahat, beribadah, makan, minum, tidur, nonton tv, kuliah, naik motor, belanja, arisan, piknik, merapikan kamar tidur, mandi, ... itu kebiasanku. Tetapi aku ingin masih mencari kebiasaanku yang lain. Membaca buku, membaca koran, ngobrol dengan teman, membaca kitab, nginternet, ... itu juga kebiasaanku. Kayaknya masih ada. Membantu orang tua, kerjabakti, tidur..eh sudah, kuliah..eh sudah. Apa lagi ya kebiasaanku? Oh iya sekarang aku punya kebiasaan yaitu berfilsafat.

Pikiranku berfilsafat:
Karena aku sedang berfilsafat maka aku sekarang akan melakukan eksperimen yaitu akan aku borgol orang tua berambut putih agar tidak bisa lagi mendekatiku. Mengapa supaya aku bisa leluasa bertanya tanpa harus diganggu oleh kehadiran dia. Aku mulai bertanya. Untuk apa aku bekerja, untuk apa aku istirahat, untuk apa aku beribadah, untuk apa aku makan, untuk apa aku minum, untuk apa aku tidur, untuk apa aku nonton tv, untuk apa aku kuliah, untuk apa aku naik motor, untuk apa aku belanja, untuk apa aku arisan, untuk apa aku piknik, untuk apa aku merapikan kamar tidur, mandi, ... untuk apa aku itu kebiasanku. Untuk apa aku membaca buku, untuk apa aku piknik, untuk apa aku membaca koran, untuk apa aku ngobrol dengan teman, untuk apa aku membaca kitab, untuk apa aku nginternet..dst.

Pikiranku didatangi rasa khawatir?:
Ketika aku berfilsafat tiba-tiba muncul rasa khawatir. Yah itulah datang rasa khawatir. Setiap aku mulai berfilsafat datanglah rasa khawatir. Aneh, padahal orang tua berambut putih sudah bisa aku lumpuhkan. Tetapi mengapa sekarang muncul rasa khawatir. Wahai khawatir siapakah dirimu itu, dari manakah engkau, di mana tempat tinggalmu. Mengapa tiba-tiba engkau datang menghampiriku?

Khawatir:
Aku adalah rasa khawatirmu. Tempat tinggalku diantara batas hati dan pikiranmu. Maka aku bisa hadir baik dalam pikiran maupun hatimu.

Pikiranku:
Mengapa engkau tiba-tiba menghampiriku?

Khawatir:
Aku selalu hadir pada setiap keragu-raguanmu.

Pikiranku:
Apakah engkau mengetahui apakah sebenarnya keraguanku sekarang ini?

Khawatir:
Engkau betul-betul ragu-ragu karena engkau mulai memikirkan kebiasanmu. Sementara engkau masih teringat apa yang dikatakan orang tua berambut putih bahwa kebiasaan tanpa memikirkannya adalah mitosmu. Maka semakin banyak engkau mengingat-ingat kebiasaanmu maka semakin banyak pula mitos-mitosmu. Itulah sebenar-benari khawatirmu, yaitu bahwa engkau merasa khawatir dimangsa oleh mitos-mitosmu.

Pikiranku:
Benar juga apa yang engkau katakan. Lalu bagaimana solusinya menurutmu?

Khawatir:
Sesungguh-sungguh solusinya tergantung akan dirimu. Tetapi bagiku adalah di sini saja tempat yang paling nyaman. Aku tidak mau engkau bawa ke dalam pikiranmu, juga aku tidak mau engkau bawa ke dalam hatiku. Sesungguh-sungguh hakekat khawatir itu adalah diriku, yaitu batas antara pikiran dan hatimu.

Pikiranku:
Wahai khawatir. Betapa bodohnya engkau itu. Jawabanmu itulah sebenar-benar solusiku. Maka janganlah menolak perintahku. Maka engkau akan aku bawa jauh ke dalam pikiranku.

Khawatir:
Terserah engkau jualah. Tetapi jika engka ingin memaksaku, maka aku mempunyai permintaan kepadamu.

Pikiranku:
Apakah permintaanmu itu?

Khawatir:
Kemanapun aku engkau ajak pergi dalam pikiranmu, maka aku akan selalu muncul jikalau engkau tidak dapat menggunakan pikiranmu. Demikian juga, kemanapun engkau aku ajak pergi ke dalam hatimu, maka aku akan muncul ketika engkau tidak dapat membersihkan hatimu.

Pikiranku:
Baik syaratmu aku terima, maka marilah engkau masuk dalam-dalam ke dalam pikiranku.

Hatiku:
Wahai pikiran. Mengapa selama ini engkau abaikan diriku? Bukankah engkau telah berjanji bahwa diriku akan engkau selalu jadikan komandan kemanapun engkau pergi?

Pikiranku:
Wahai hatiku, bukankah engkau tahu dan menyaksikan sendiri betapa sibuknya aku sekarang ini. Pekerjaanku sangat banyak. Ditambah lagisekarang aku mempunyai penghuni baru dalam pikiranku. Dengan pikiranku ini aku harus menjaga dan selalu berpikir agar tidak muncul khawatir dalam pikiranku.

Hatiku:
Wahai pikiran, bukankah engkau tahu bahwa jika engkau biarkan terlalu lama hatiku tidak engkau hampiri maka sedikit-demi sedikit hatiku terkena debu dan menjadi kotor. Padahal aku baru saja mendengarkan permintaan khawatir, bahwa dia juga akan hadir dalam hatimu manakala hatimu kotor. Ketahuilah bahwa sesungguh-sungguhnya hatimu telah mulai kotor sekarang ini. Maka ketahuilah bahwa khawatir itu sebenarnya telah hadir dalam hatimu.

Pikiranku:
Lalu bagaimana. Kalau begitu aku ingin bertanya kepada orang tua berambut putih. Wahai orang tua berambut putih. Marilah engkau aku lepaskan borgolmu itu. Maafkanlah atas kesombonganku ini. Ketahuilah bahwa aku sekarang sedang mempunyai masalah besar. Khawatir telah muncul di mana-mana. Khawatir telah muncul baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku. Bagaimanakah wahai orang tua berambut putih solusinya?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat manusia. Tiadalah manusia dapat mencampuradukkan pikiran dan hatinya secara sembarangan. Sebenar-benar hati dan pikiran adalah berbeda. Itulah mengapa ada batas antara pikiranmu dan hatimu. Di dalam batas itulah khawatirmu berdomisili. Tetapi tiadalah manusia dapat mengetahui batas pikiran dan hatimu jika engkau menggunakan pikiranmu. Maka sebenar-benar batas antara pikiran dan hatimu itulah maka hatimu yang akan menunjukkanmu. Maka bertanyalah kepada hatimu untuk mengetahui batas pikiran dan hatimu.

Pikiranku:
Wahai hatiku. Dimanakah batas antara pikiranku dan hatiku?

Hatiku:
Aku bersedia menjawab jika aku telah engkau bersihkan dari segala kotoran yang ada dalam diriku.

Pikiranku:
Bagaimana aku bisa membersihkan engkau wahai hatiku?

Hatiku:
Tanyakanlah kepada orang tua berambut putih.

Pikiranku:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimanakah aku dapat membersihkan hatiku.

Orang tua berambut putih:
Tiadalah kuasa manusia itu untuk membersihkan hatinya sendiri. Berdoa dan berserah dirilah kepada Tuha YME agar berkenan membersihkan hatimu.

Pikiranku:
Wahai Tuhanku, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa-dosa leluhurku, ampunilah segala dosa-dosa pemimpinku, ampunilah segala dosa-dosa orang tuaku. Belas kasihanilah aku. Tolonglah aku. Bebaskanlah aku dari rasa khawatir baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku.

Pikiranku:
Wahai orang tua berabut putih. Kenapa doaku belum juga terkabul?

Orang tua berambut putih:
Doamu belum terkabul itu disebabkan oleh karena kesombonganmu.

Pikiranku:
Mengapa aku yang telah melantunkan doa-doaku ini masih engkau anggap sombong?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar dirimu, yang tidak tahu diri. Bukanlah semestinya engkau melantunkan doa-doa. Doa-doa itu bukan bidang pekerjaanmu. Itulah sebenar-benar pekerjaan hatimu.

Pikiranku:
Oh ampunilah Tuhanku maka aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Sekarang gantian. Giliran engkau yang akan aku borgol. Engkau akan aku borgol agar engkau tidak mengganggu aktivitas hatimu dalam melantunkan doa-doa.

Pikiranku:
Terus bagaimana nasib dan keadaanku nanti setelah engkau borgol diriku?

Orang tua berambut putih:
Jikalau engkau telah aku borgol, maka engkau akan terbebas dari khawatir. Ketahuilah bahwa terbebas dari khawatir ada dua cara dalam pikiranmu. Pertama, gunakan pikiranmu sebaik mungkin atau tidak engkau gunakan sama sekali.

Hatiku:
Terimakasih wahai orang tua berambut putih. Aku sekarang merasa ringan dan lega. Semoga aku akan bisa melantunkan doa-doaku dengan khusyuk dan tawadu’. Maka pergilah engkau dan tinggalkan aku sendiri di sini. Biarkan aku sendiri di sini tanpa siapapun, kecuali doa-doaku.

22 comments:

Tegar Ganteng said...

bila pikiran harus diborgol, apakah saya masih bisa hidup? apakah hatiku mampu mencari ilmu yang tak hingga banyaknya selayaknya pikiranku?
dengan menggunakan pikiran sebenar-benarnya serta keseimbangan dengan peran hati apakah yang akan saya dapatkan? bukankah ditengah-tengah hati dan pikiran adalah kekawatiran?

Iwan Tegar Mandiri

Dr. Marsigit M.A. said...

Tegar
Renungkanlah Elegi Menggapai Sang Kholik. Kenapa halaman dibiarkan kosong? Mencari ilmu haruslah berbekal ilmu dan berguru ilmu. Itulah pikiranmu. Mencari hidayah haruslah berbekal hidayah dan berguru hidayah. Itulah hatimu. Renungkan pula apa yang dimaksud dengan berguru hidayah.

AGUNG WAHYUDI said...

tak ada yang ahrus di borgol kecuali nafsu kita. karena nafsu akan membawa petaka.
tetapi dengan menggunakan pikaran yang relijius akan teratasi segala bentuk godaan yang timbul.
pikran adalh alat pertama kita gerak jadi kita harus mengajaknya berunding agar tidak pernah sakit hati nantinya.

Dr. Marsigit M.A. said...

Agung W
Tiadalah tanah bisa bergaul dengan semua udara. Tetapi sebaliknya udara bisa bergaul dengan setiap tanah bahkan lebih dari itu, udara bisa bergaul dengan hampir semua yang ada di muka bumi ini. Itulah gambaran bahwa senyatanya tanah dan udara mempunyai dimensi yang berbeda.

ety antikasari said...

subhanallah....selama ini saya belum bisa menjaga hati dan fikiran saya. rasa takut dan gelisah senantiasa datang. bahkan ketika hati ingin berteriak menanyakan kenapa saya ada di kota ini? hanya allah yang mampu menerangi. tapi hari ini, saya dapat pelajaran baru dari bapak marsigit, terima kasih banyak bapak semoga saya bisa belajar dari apa yang telah bapak paparkan

Dr. Marsigit, M.A said...

Ety Antikasari
Untuk menghilangkan rasa gelisahmu, maka tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu.
Jika hatimu telah menjadi komandanmu, maka seluruh hidupmu akan melebur ke dalam hatimu. Padahal engkau mengetahui bahwa sebenar-benar hatimu adalah doa-doamu. Itulah sebenar-benar doa. Ketika engkau berdoa maka doamu itu beserta segenap hidupmu. Jikalau Tuhan telah berkenan menginjinkan Nya,
maka hatimu akan melampaui dan mengatasi segala hidupmu, termasuk badan dan pikiranmu. Namun di manakah sebenar-benar hatimu berada? Jawabannya adalah dimanakah titik pusat dari lingkaran yang mempunyai jari-jari yang panjangnya tak berhingga. Maka titik pusatnya ada di mana-mana. Itulah kuasa Tuhan, ada di mana-mana dan tak terbatas. Jika rakhmat Nya berkenan menghampirimu, maka hatimu tidak hanya berada di dalam dadamu, tetapi hatimu akan berada pada segenap tubuhmu. Lebih dari itu, jika rakhmat Nya masih berkenan menghampirimu, maka atas ijin Nya, hatimu akan berada di mana-mana. Hatimu berada disekitarmu, hatimu berada di tempat yang jauh, hatimu berada di tempat sampai engkau tidak dapat lagi memikirkan. Apa maknanya? Jika hatimu berada di hutan, maka itu pertanda bahwa engkau harus merawat hutan, jika hatimu ada pada diri siswamu, maka engkau harus mendidik mereka dengan baik, jika hatimu berada di kendaraanmu maka engkau harus merawat kendaraanmu dengan baik, demikian seterusnya.

anggit_Riyanto said...

ya..

berdoa memang harus dalam keadaan tenang, tidak bisa kita berdoa jika kita masih ingat semua hal yang dilakukan oleh pikiran.

aku harus mulai sadar diri.

c@sEy_05301244102 said...

Hati...
Hati merupakan komandan bagi setiap pikiran akan pergi. Seperti pepatah mengatakan sebelum kau melangkah/ bertindak dengarkanlah apa kata hatimu. Apabila hati kita bersih maka hati akan membawa kita dalam suatu jalan terang yaitu jalan kebaikan.
Akan tetapi kadangkala jika ingin menuruti apa kata hati, pikiran selalu menakut-nakuti dengan segala pikiran yang kontradiksi. Yang benar yang ini. Ah...jangan-jangan yang itu. Jadi kadang bisa membuat bingung yang akhirnya bisa memilih pilihan yang salah. Bagaimanakah caranya supaya rasa ketakutan itu tidak lagi mengontrol dalam diriku, pikiranku dan jiwaku?
Hati...
Dengan hati yang khusyuk, tawadu' dan segenap hidup, kita berdoa dan berserah diri kepada Tuhan YME.Dengan rahmat Nya yang berkenan menghampiriku, maka atas izin Nya hatiku ada di mana-mana.
Apa maknanya, Jika hatiku itu berada di alam bawah sadarku yang aku sendiri tidak tau apa yang sedang aku pikirkan dan dimanakah aku, aku juga tidak tahu?

Dr. Marsigit, M.A said...

Casey
Janganlah sembunyikan identitasmu, karena sebanr-benar anda sendiri yang merugi. Itulah sebenar-benar perjuanganmu, yaitu meningkatkan dimensi.Tiadalah dapat aku temukan kata atau kalimat untuk menjelaskanmu tentang hatiku yang berada di mana-mana, kecuali lakukanlah sekarang juga. Yaitu berdoa dengan sungguh-sungguh dalam segenap jiwa ragamu sesuai dengan tuntunan yang ada.

ERVINTA said...

Ervinta Astrining Dewi
07301241028
P. MAt R 07
Kuliah Filsafat Mat, senin jam 7.00 di M2

Assalamualaikum
astaghfirullah...
bahwasanya ketakutan, kekhawatiran yang muncul dalam diriku ini lebih banyak muncul dari dalam pikiranku. terkadang dalam menghadapi masalah, tugas atau pekerjaan yang baru, saya justru lebih banyak memikirkan bagaimana saya bisa mengatasinya sendiri tanpa merepotkan orang lain... ternyata tanpa sadar saya telah memborgol orang tua berambut putih yang bahwasanya baru mulai saya pahami keberadaannya dan telah berlaku sombong.
Astaghfirrullah...Astaghfirullah..
Dalam menghadapi masalah dan tugas sering kali saya lebih terpaku dan khawatir dengan bagaimana jika saya dimarahi yang memberi tugas, bagaimana jika saya ketahuan berbohong, bagaimana jika saya tidak mampu tampil maksimal seperti harapannya, dsb... Ternyata tanpa sadar saya sering melupakan hati saya dan ketika berdoa pun yang ada terkadang pemikiran bahwa dengan berdoa pada Allah Yang Maha Kuasa pastilah memberi jalan yang mungkin belum saya pahami dan sadari sebelumnya adalah lebih sering saya tidak dapat selalu dengan hati saya. Karena seringkali kita teringat jika kita dalam ujianNya, sehingga dengan membaca blog ini mudah-mudahan dapat membuka kesadaran diri saya, sehingga dapat menggapai Hati...demikian pula saya mengharap doa dari Bapak, dan terimakasih mungkin ini adalah salah satu petunjuk dariNYA.

Dr. Marsigit M.A. said...

Ervinta
Inilah sebenar-benar kesaksianku, bahwa engkau telah mulai menggapai hatimu. Amien.

c@sEy_05301244102 said...

Lanjutan dari jawaban bapak:

Pak,,,
Kenapa jika aku menyembunyikan identitasku maka aku sendiri yang rugi?bukankah dalam hal/situasi tertentu terkadang mengharuskanku untuk menyembunyikan identitasku itu.apakah aku akan rugi juga?
Dengan begitu kenapa bapak tidak dapat menemukan kata/kalimat untuk menjelaskanku tentang hatiku yang berada di mana-mana?

_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Jika engkau telah menaikkan dimensimu, maka dapat aku katakan bahwa tidaklah selamanya menjadi obyek itu merugi. Bukankah menjadi obyek itu juga salah satu kodrat Nya. Maka jikalau hatimu telah meningkat dimensinya maka, menjadi obyek itu sebetulnya juga rakhmat Nya. Ketika aku memikirkanmu, dalam rangka untuk kepentinganmu, agar engkau tidak hanya selalu menjadi subyek, itulah sebetulnya engkau masih menjadi obyekku. Ketika aku memerlukan identitasmu dalam perkuliahan, padahal aku engkau tahu manfaat-manfaat bagimu, maka itulah dirimu sedang menjadi obyek. Jadi terkadang menyembunyikan identitas itu tidak selamanya untung. Untuk menjelaskan hatimu maka aku gunakan pikiranku. Untuk meyakini hatimu maka aku gunakan hatiku.

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Salah ketik, mestinya...

Ketika aku memikirkanmu, dalam rangka untuk kepentinganmu, agar engkau tidak hanya selalu menjadi obyek,...

c@sEy_05301244102 said...

Jika menjadi obyek itu merupakan salah satu kodratNya.
Bagaimanakah tanggapan bapak terhadap orang-orang yang telah menyalahi kodratNya.Misal laki-laki menjadi waria dan laki-laki tersebut merasa nyaman menjadi waria serta selama itu dia merasa lebih afdhol dalam menjalankan semua printah Allah SWT misalnya dalam mengerjakan shalat saja dia merasa nyaman memakai mukena.Terimakasih.

_Kesi Rusdiana D_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Ingat jugalah bahwa IKHTIAR juga merupakan kodrat Nya. Manusia diberi akal dan hati, semata-mata untuk berikhtiar menggapai hidayah Nya. Padahal aku tahu bahwa Tuhan telah berfirman beserta ketetapan-ketetapan Nya. Untuk mengetahui kualitas manusia satu dengan yang lainnya, maka Tuhan memberi kita cobaan dan ujian. Maka hanya hatimu yang ikhlas, doamu yang tulus berdasarkan tuntunan Nya itulah yang menjadi syarat engkau memperoleh hidayah Nya. Maka jikalau Tuhan telah berkenan memberikan hidayah kepada ciptaan Nya, maka akan terjagalah dia di dunia dan akhirat. Amien.

WIDIA ENGLISH 2 2009 said...

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Subhanalllah..
Saya mencoba mendalami makna dari apa yang telah Bapak tulis ini.
Saya menyadari bahwa selama ini hati manusia memang tidak pernah luput dari suatu noda, sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya namun , manusia sebagai makhlukNya yang di bekali kelebihan berfikir, namun tidak mampu menjaga kesucian hatinya sendiri.
Di dalam persepsi saya, ada suatu dugaan bahwa pikiran ini bekerja di landasi oleh suara hati dan intuisi, tetapi apakah keraguan dan rasa emosi telah membuat hati ini menjadi kotor ? Saya akan terus menzalimi hati ini dengan rasa kesombongan jika saya terus membiarkan pikiran dan hati saya terbebebani oleh kekhawatiran tanpa berbuat apa-apa, padahal saya telah diberi karunia olehNya berupa kemampuan berpikir agar saya mengerti maksud dari ini semua dan mengambil hikmahnya bagi hidup saya.

Dr. Marsigit M.A. said...

Widia
Sebenar-benar sombong adalah jika engkau masih mengaku-aku di depan penciptamu. Sebenar-benar sombong itulah penyakit paling besar bagi hatimu. Agar terbebas dari sombong maka semata-mata kata dan kalimatmu jadikan sebagai doa-doamu. Itulah sejernih-jernih hatimu yang telah terbebas dari keraguan. Sedangkan keraguanmu dalam pikiranmu itu adalah sebenar-benar ilmumu.

ERVINTA said...

sebenar-benarnya diriku tidak berani dan poantas menerima kesaksian ini. kemarin saya sempat bingung maksud bapak diperkuliahan. tetapi sungguh saya masih jau dari yang bapak kira. Namun sebenarnya apa tho kesaksian disini yang bapak maksud? apakah sama halnya dengan yang telah bapak sampaikan pada perkuliahan filsafat hari senin kemarin?
dari kesekian blog elegi blog tentang elegi menghapai hati, elegi menggapai sang kholik, E. menggapai dimensi dan hakekat benar menggugah hati dan pemikiran saya. sekiranya saya ucapkan terima kasih dan permohonan maaf saya atas hal yang kurang berkenan. terimakasih,
was..

Dr. Marsigit, M.A said...

Ervinta, itulah bahwa manusia bersifat kontradiktif. Setinggi-tingginya ilmu dunia adalah pengakuan akan kemampuanku. Setinggi tinggi ilmu akhirat adalah keikhlasanku. Tetapi begitu aku mengaku tentang ikhlasku, maka aku terancam kesombonganku. Karena tiadalah keakuanku itu dihadapan Nya. Maka sebenar yang terjadi adalah aku tidak dapat menyaksikan keikhlasanku.

ERVINTA said...

Asalamualaikum..

Terkadang kebimbangan hati mengarungi hati kita. Terkadang luka pun tergoreh didalamnya. Dalam elegi menggapai hati ini bagi saya merupakan tempat untuk merenung dan mencari sebenar-benarnya apa yang masih aku ragukan dan tidak kumengerti.

Bapak, ada kalanya kita merasa tidak bisa diterima oleh orang sekeliling kita, bahkan mungkin kita serasa dibenci sekeliling kita dengan pemikiran ataupun tindakan kita. Tetapi masih banyak orang yang tidak bisa menyadari akan perasaan yang mungkin orang sebut prasangka itu.

Tetapi benar terkadang tiba-tiba saya bisa merasa ada yang kurang suka terhadap saya, secara kebetulan sering kali itu terbukti benar. Tetapi kadang saya sadar alasannya hanyalah sesuatu hal sepele, tetapi besar baginya. Dan sering kali saya abaikan daripada saya salah menyikapinya... saya rasa sikap saya ini kurang tepat. tetapi kenapa ya, ya tetap begitulah diriku terkadang? atsu bahkan saya terlalu berhati-hati menyikapi orang, tetapi justru sedikit salah saja padanya orang itu menjadi justru lebih cepat tersinggung? Apakah dengan demikian perlu saya kembali merenung dan belajar akan keikhlasan dan kedamaian? karena mungkin ada orang yang hatinya bimbang, kadang sadar salah, tapi ya kok kenapa ya susah untuk merubahnya secara sadar?

terimakasih.

vivin riyani (lt kls a) said...

Vivin Riyani
PPS LT A (09706251017)
Elegi menggapai hati
Ass. Rasa kwatir itu hadir dalam pikiran dan hati bagaimana cara menghilangkan rasa kwatir dalam hati?kalau dalam pikiran ketika kita tidak memikirkan rasa kwatir rasa itu akan hilang dengan sendirinya bagaimana dengan hati?karena kita tahu hati paling peka tehadap semua perasaan kalau tidak dirasakan dalam hati kita tidak akan memikirkannya.