Monday, March 16, 2009

Elegi Menggapai Diri

Oleh Marsigit

Monolog diriku:
Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?

Orang tua berambut putih datang:
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah..dst.

Diriku:
Jadi kalau begitu....

Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar dirimu itu bersifat terbuka, selagi engkau belum menunjuk dirimu. Engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai apapun, atau sama sekali engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai bukan apapun. Namun begitu engkau telah menunjuk dirimu, maka tertutuplah dirimu itu.

Diriku:
Kalau begitu siapakah diriku itu?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau belum juga jelas, maka akan aku jelaskan. Sebenar-benar dirimu adalah satu, atau dua, atau banyak, atau semuanya dari berikut ini:
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah..dst.

7 comments:

c@sEy_05301244102 said...

Assalamu'alaikum.....

Menurut "Elegi Menggapai Diri" Sesungguhnnya bahwa sebenar-benar diriku ini bersifat terbuka,selagi aku belum menunjuk diriku. Aku bisa mendefinisikan diriku sebagai apapun dan sebaliknya aku bisa mendefinisikan diriku sebagai bukan apapun. Tetapi begitu aku menunjuk diriku maka tertutuplah diriku.
Bagaimanakah pak terhadap orang yang menyebut dirinya/mengaku dirinya itu sebagai rasul atau nabi??yang telah kita ketahui bahwa nabi/rasul terakhir itu adalah Muhammad SAW....terimakasih.

_Kesi Rusdiana D_
05301244102

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana
Sesungguhnya hanyalah ada dua macam hati itu, yaitu baik dan buruk. Hati yang baik itulah semata-mata petunjuk Nya. Sedangkan hati yang buruk itulah tiada petunjuk Nya. Padahal aku tahu, Tuhan telah berfirman beserta ketetapan-ketetapan.
Barang siapa sesuatu dengan ketetapan Nya, tentulah hatinya baik. Tetapi barang siapa tidak sesuai dengan ketetapan-ketetapan Nya, maka tentulah hatinya adalah buruk. Itulah sebenar-benar kesaksian hatiku.

Tegar Ganteng said...

"Namun begitu engkau telah menunjuk dirimu, maka tertutuplah dirimu itu".
apakah pernyataan itu berarti bila output dari diri sudah saya keluarkan saya kepada orang lain, maka itulah diri saya sebenarnya? padahal sebenar-benarnya diri saya ini tidak mungkin bisa saya keluarkan semua sebagai konsumsi orang sekitar?

Iwan Tegar Mandiri
06301244003

anggit_Riyanto said...

jika saya menganalogkan elegi bapak sebagai berikut, Bahwa dalam ke-akuanku terdapat saya-saya yang lain yang angat banyak dan masih bisa saya definisikan dan saya akui sebagai aku di tempat ruang waktu dan dimensi yang tepat.

apakah bisa?
apakah sama?

Yulida Ekawati said...

setelah membaca elegi menggapai diri, mungkin saya bisa berpendapat bahwa diriku tak bisa kusebut yulida saja. Tetapi diriku itu adalah terserah. Terserah apa saja yang akan ku maksud dengan diriku. Namun, semua pernuatanku haruslah berdasarkan apa yang sudah menjadi perintah-Nya dan menjadi larangan-Nya.
terimakasih

harist sIck say "W3lcome to my World" said...

Definisi diriku sebenarnya sebagai apa?apakah hal ini terjawab sangat relative tergantung pada waktu,kapan dan bagaimana keadaan diri kita pada saat itu?
Ataukah diriku ini adalah sesuatu yang bebas untuk saya definisikan sendiri?

Dr. Marsigit, M.A said...

Harist
Pertanyaanmu itulah awal dari pengetahuanmu. Sedangkan pengetahuanmu adalah jawaban dari pertanyaanmu. Tetapi usahamu untuk mencari jawaban dari pertanyaanmu itulah juga ilmumu. Untuk semua
Elegi menggapai dasar gunung es merupakan gambaran bahwa tiadalah orang mampu mengetahui hakekat sesuatu kecuali hanya berusaha meraihnya. Usaha meraih hakekat itulah sebenar-benar pengetahuanmu. Jadi pengetahuan itu sendiri sebagai suatu yang bergerak seirama dengan aktivitas kita. Itulah sebenar-benar epistemologi. Itulah pula landasan bagi setiap ilmu pengetahuan.