Friday, March 6, 2009

Elegi Konferensi Internasional Imajiner

Oleh: Marsigit

Orang tua berambut putih ingin menyelenggarakan konferensi internasional imajiner. Semua orang penting diundang. Temanya adalah mengungkap hakekat ilmu. Moderatornya Socrates. Berikut jalannya sidang:

Socrates:
Wahai Permenides, Heraclitos, Pythagoras, ....Apakah ilmu menurut dirimu?

Thales:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam air. Barang siapa mampu mengungkap misteri air, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari air.

Anaximenes:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam udara. Barang siapa mampu mengungkap misteri udara, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari udara.

Pythagoras:
Menurutku ilmu itu suci. Maka hanya orang-orang sucilah yang berhak mempunyai ilmu.

Permenides:
Menurutku, ilmu itu bersifat tetap. Tiadalah sesuatu yang berubah dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang berubah bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah tetap. Hanyalah yang tetap yang aku sebut sebagai ilmu. Maka sebenar-benar segala sesuatu itu pada hakekatnya adalah tetap.

Heraclitos:
Menurutku, ilmu itu bersifat berubah. Tiadalah sesuatu yang tetap dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang tetap bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah berubah. Hanyalah yang berubah yang aku sebut sebagai ilmu.

Demokritos:
Menurutku, ilmu ada yang benar dan ada yang tidak benar. Ilmu yang benar adalah yang berada dalam pikiran. Sedangkan ilmu yang tidak benar yang diperoleh dengan melihat.

Plato:
Menurutku manusia mempunyai dua dunia, yaitu dunia pengalaman dan dunia ide. Sedankan ilmuharus bersifat tetap, dan yang tetap itu adalah ide. Jadi menurutku ilmu adalah ide itu sendiri.

Aristoteles:
Menurutku ilmu adalah pengalaman. Tiadalah ilmu tanpa pengalaman. Jadi pengalaman itulah sebenar-benar ilmu.

Euclides:
Menurutku ilmu adalah deduksi. Maka tiadalah ilmu kecuali ditemukan dengan metode deduksi.

Plotinos:
Menurutku ilmu adalah pancaran dari Tuhan. Maka tiadalah ilmu jika hal demikian tidak dipancarkan oleh Tuhan.

Rene Descartes:
Menurutku ilmu itu identik dengan keraguan. Maka tiadalah ilmu tanpa keraguan. Keraguanku itulah ilmuku.

Bacon:
Menurutku ilmu itu kalau terbebas dari idol. Idol adalah berhala pengganggu manusia dalam memperoleh ilmunya. Jadi sebenar-benar ilmu menurutku adalah terbebas dari idol.

Berkely:
Menurutku, ilmu adalah tipuan belaka. Sesungguhnya dunia itu tipuan. Maka tiadalah aku mempunyai ilmu kecuali tipuan belaka.

Hume:
Menurutku ilmu adalah totalitas dari pengalaman kita. Ilmu itu berada di atas pengalaman kita. Jadi tiadalah ilmu jika tidak berada di atas pengalaman.

Kant:
Menurutku ilmu adalah keputusan. Keputusanku itulah ilmuku. Maka janganlah berharap mempunyai ilmu jika tidak dapat mengambil keputusan.

Fichte:
Menurutku ilmu adalah diriku yang otonom. Diriku yang otonom itulah ilmuku. Itu sama artinya bahwa ilmuku adalah idealismeku.

Hegel:
Menurutku ilmu adalah sejarah. Dunia itu mensejarah. Maka sebenar-benar ilmu adalah sejarahnya dunia dengan segenap isinya.

Comte:
Menurutku ilmu adalah positive. Ilmu itu tentang hal yang sungguh-sungguh terjadi dan real. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu positive.

Darwin:
Menurutku ilmu adalah perkembangan. Suatu perkembangan betul-betul disebut ilmu jika sesuai dengan hukum-hukum mekanik.

Husserl:
Menurutku ilmu adalah mengabaikan yang tidak diselidiki, dan memperhatikan yang diselidiki. Itulah fenomenologi. Maka sebenar-benar ilmu adalah fenomenologi.

Hartman:
Menurutku ilmu adalah nilai. Tiadalah ilmu jika tidak mempunyai nilai.

Satre:
Menurutku ilmu adalah merdeka. Merdeka dari segala macam aturan itulah ilmu. Itulah sebenar-benar nihilisme.

Freud:
Menurutku ilmu adalah asmara. Maka sebetulbetul dunia adalah asmara. Ilmuku itulah asmaraku.

Enstein:
Menurutku, ilmu adalah relatif. Semuanya adalah relatif. Duania itu adalah relativitas. Itu juga ilmuku.

Piaget:
Menurutku ilmu adalah membangun. Tiadalah orang dapat dikatakan berilmu jika tidak mampu membangun. Itulah sebenar-benar konstructivist.

Wittgenstain:
Menurutku ilmu adalah bahasa. Maka bahasaku itulah rumah sekaligus ilmuku.

Brouwer:
Menurutku, ilmu adalah intuisi. Maka intuisiku adalah ilmuku. Itulah sebenar-benar intuisionisme.

Russell:
Menurutku, ilmu adalah logika. Tiadalah suatu dikatakan sebagai ilmu jika dia tidak logis.

Lakatos:
Menurutku ilmu adalah kesalahan. Maka tiadalah sesuatu disebut ilmu jika tidak ada kesalahan. Itulah sebenar-benar fallibisme.

Stuart Mill:
Menurutku ilmu adalah manfaat. Maka tiadalah sesuatu disebut sebagi ilmu jika tidak membawa manfaat.

Ernest:
Menurutku, ilmu adalah pergaulan. Maka tiadalah seseorang dapat memperoleh ilmu tanpa interaksi dengan sesama untuk membangun ilmunya. Itulahh sebenar-benar socio-constructivist.

Materialist:
menurutku, ilmu adalah materi. Tiadalah sesuatu hakekat apapun kecuali materi. Itulah sebenar-bear materialis.

Hedonist:
Menurutku ilmu adalah kenikmatan. Maka tiadalah ilmu kecuali aku mendapat kenikmatan. Kenikmatan dunia itulah sebenar-benar ilmuku.

Fatalist:
Menurutku, ilmu adalah takdir. Maka suratan takdir itulah ilmuku. Tiada daya upaya manusia kecuali sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu seratus persen berserah diri.

Humanis:
Menurutku, ilmu itulah diri manusia. Maka tiadalah ilmu berada diluar diri manusia. Itulah sebenar-benar humanisme.

Kapitalist:
Menurutku, ilmu adalah kapital. Maka tiadalah sebenar-benar ilmu tanpa kapital. Itulah sebenar-benar kapitalisme.

Liberalist:
Menurutku, ilmu adalah bebas mutlak. Itulah hak-hak ku. Itu pula sebenar-benar liberalisme.

Pancasilaist:
Menurutku, ilmu adalah mono-dualis. Dua yang satu, satu yang dua. Habluminallah dan habluminanash itulah hakekat ilmuku.

Religist:
Menurutku, ilmu adalah ibadah. Maka tiadalah sesuatu itu dikatakan ilmu jika tidak untuk ibadah.

Semua pembicara bertanya kepada Moderator:
Wahai Socrates, kalau menurutmu sendiri apakah ilmu itu.

Socrates:
Menurutku, ilmu adalah pertanyaan. Maka sebenar-benar ilmuku adalah pertanyaanku. Janganlah engkau berharap memperoleh ilmu jika engkau tidak mampu bertanya. Itulah mengapa pada konferensi ini aku banyak bertanya.

8 comments:

Anonymous said...

Banyak sekali,tanggapan orang terdahulu terkait dengan pendefinisian ilmu. Ilmu didefinisikan tidak sama oleh setiap orang, tergantung dari sudut pandang yang mereka lihat. Tetapi sumber ilmu yang hakiki itu adalah dari Tuhan YME. kita hanyalah mengetahui sebagian kecil dari ilmu tersebut. Semakin banyak kita mencarinya, kita akan semakin menyadari bahwa ilmu yang kita miliki masih sedikit dan kita akan menjadi manusia yang pandai bersyukur jika kita menyadarinya.

Dina Radlia

Dr. Marsigit, M.A said...

Dina Radlia
Itulah sebenar-benar kesaksianmu. Setinggi-tinggi tujuan mempelajari filsafat adalah untuk menjadi saksi. Tetapi janganlah berpikir bahwa kesaksianmu hanyalah sampai disitu. Karena begitu selesai anda mengucapkan kesaksianmu, maka kesaksianmu itu dengan serta merta telah berubah menjadi mitosmu.

harist sIck say "W3lcome to my World" said...

Jika kita telaah lebih dalam definisi dari ilmu tergantung dari diri seseorang untuk mendefinisikan ilmu itu seperti apa.Definisi ilmu yang di katakana pada dasarnya merupakan daya imajinasi dari seseorang untuk mengartiakan makna ilmu.Secara sempit dan ekstrim dapat di katakana ilmu adalah kepandaian,kecepatan menangkap sesuatu yg di ajarkan.Padahal ilmu bukan Cuma itu saja.Maknanya sangat luas.

Anonymous said...

Terkadang sesuatu yang sulit, ketika hati terus bertanya dan terus berupaya mencari tahu dan menyelesaikan akhirnya didapat pengalaman menyelesaikan. Lalu apakah cukup dari itu saja kita dapat membenarkan pengalaman adalah bagian dari ilmu? Karena -suatu ketika- pengalaman tinggal sejarah karena yang tersisa -suatu saat- adalah "aku sudah lupa". Bolehkah lalu saya berpendapat ilmuku adalah waktuku?
Kawit Sayoto (06301241053)

Tegar Ganteng said...

setiap orang berhak mengemukakan pengertian ilmu. saya sangatlah setuju dengan semua definisi ilmu diatas. karena ilmu ada disetiap ruang dan waktu. tinggal kita mampu memilih ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain serta didunia dan akhirat nanti.

tapi yang saya bingungkan, ilmu berawal dari pikiran kita. pikiranku bisa menjadi kekuatanku. tapi kekuatanku lebih pada pikiran yang sombong. sehingga kadang juga menjadi boomerang bagiku. bagaimana saya membuang pikiran sombong itu tanpa mengurangi kekuatan pikiranku?

Iwan Tegar Mandiri

Dr. Marsigit, M.A said...

Tegar Ganteng
Bacalah elegi terakhir Menggapai Hati

Dr. Marsigit, M.A said...

Kawit S
Sembarang ungkapanmu itulah ilmumu. Tetapi sebenar-benar ilmumu adalah penjelasan tentang ungkapanmu itu.

anggit_Riyanto said...

sesungguhnya ilmu ada didalam alam dan didalam isi alam. alam yang tak lain adalah diri dalam diri kita, semua saya dibalik ke-aku-anku..

tetapi dalam diri setiap orang memang tidak bisa sama karena dalam setiap saya-saya yang lain juga berbeda.

memang benar.
saya sangat setuju dengan apa yang bapak ungkapkan,
tetapi yang menjadi pertanyaan untuk sebuah ilmu adalah bagaimana aku harus menjadi saya-saya yang mana, yang sesuai untuk keadaan yang terjadi dalam ruang dan waktu yang berbeda.