Wednesday, February 25, 2009

Elegi Bendungan Komte dan Sungai Positive

Oleh : Marsigit

Sungai transenden:
Aku adalah sungai transenden. Aku mengalirkan air. Air sungaiku bisa mengalir kemana-mana, bisa melewati siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa aku juga bisa mengalirkan air ke bawah maupun mengalirkan air ke atas. Tetapi selebar-lebar sungaiku adalah pikiran kritismu. Maka sebenar-benar sumber air sungaiku adalah pada tempat yang paling dalam di pikiranmu. Sumber air sungaiku tidaklah tunggal. Sumber air sungaiku bisa diam bisa juga bergerak. Tetapi engkau mungkin tak percaya bahwa sumber air sungaiku bisa mengeluarkan air sekaligus memasukkan air. Itulah aku sungai transenden. Tetapi engkau mungkin juga tak percaya bahwa sumber airku dapat pula menjadi muaraku. Maka sebenar-benar diriku adalah muaraku sekaligus sumber air sungaiku.

Mencari ikan di sungai transenden

Pencari ikan:
Wahai sungai transenden, dimanakah aku bisa mencari ikan di sini?

Sungai transenden:
Disetiap tempat di sini terdapat ikan. Terserahlah apa yang engkau kehendaki. Ikan besar. Ikan kecil. Semuanya ada di sini.

Pencari ikan:
Lalu bagaimanakah aku bisa menangkap ikan-ikan itu?

Sungai transenden:
Gunakanlah akal dan pikiranmu?

Pencari ikan:
Janganlah engkau memperolok-olok diriku. Bukankah engkau tahu bahwa aku sudah menggunakan akal dan pikiranku.

Sungai transenden:
Sebenar-benar ikan adalah pikiranmu itu. Maka jika engkau tidak mampu menangkap ikan maka bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan pikiranmu? Untuk itu cobalah engkau cari umpan agar engkau mampu menangkap ikan-ikan itu.

Pencari ikan:
Saya tidak mempunyai umpan. Kalau begitu apakah umpan-umpan dari ikan yang ada dalam sungai transenden itu?

Sungai transenden:
Umpannya adalah hati nuranimu. Jikalau engkau mengaku tidak mempunyai umpan bukankah itu pertanda engkau belum menggunakan hati nuranimu.

Pencari ikan marah kepada sungai transenden dan melaporkannya kepada komte

Pencari ikan:
Wahai sungai transenden, keterlaluan amat engkau itu. Aku bertanya sederhana, maka jawabanmu berbelit-belit. Aku bertanya pendek, maka jawabanmu panjang. Aku bertanya jujur maka jawabanmu telah menghinaku. Engkau bahkan telah menuduhku tidak menggunakan pikiran. Yang lebih menyakitkan engkau telah menuduhku tidak menggunakan hati nuraniku. Maka tunggulah balasanku. Aku akan melaporkan kesombonganmu itu kepada tuanku komte.

Pencari ikan:
Wahai tuanku komte, perkenankanlah diriku mengadukan kepadamu tentang kesombongan sungai transenden. Sungai transenden telah berlaku sangat sombong dan telah menghinaku.

Komte:
Wahai pencari ikan, sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengetahui semua yang engkau alami. Aku bahkan mendengar dan mengerti setiap dialog antara engkau dan sungai transenden. Ketahuilah sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku mengalami hal yang serupa dengan dirimu, lebih dari yang engkau alami. Maka ketahuilah bahwa aku sedang menyusun rencanaku dan kekuatanku untuk membuat bendungan. Oleh karena itu maka panggilah semua teman dan saudaramu untuk membantu aku membuat bendungan yang aku beri nama bendungan komte.

Komte bertitah:
Wahai para transenden, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai kualitas, saatnya sudah engkau berhent. Wahai relatif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai para mimpi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai nurani, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai a priori, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai intuisi, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ideal, saatnya sudah engkau berhenti. ahai absolut, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai subyektif, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai abstrak, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai empati, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai ruang dan waktu, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai pertanyaan-pertanyaan, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai orang tua berambut putih, saatnya sudah engkau berhenti. Wahai geisteswishenshaften, saatnya sudah engkau berhenti. Dengan bendunganku ini, maka engkau semua telah aku tangkap. Engkau semua itulah sebenar-benar ikan sungai transenden. Wahai pencari ikan, itulah sebenar-benar kebodohanmu, sehingga engkau tidak dapat mengenali ikan-ikannya sungai transenden. Itu disebabkan karena engkau hanya berlayar di atasnya saja, sedangkan engkau malas untuk menyelamnya. Maka ditipu dan dihina itulah perolehanmu.

Komte membuat sungai positive

Komte:
Wahai masa depanku, aku telah sediakan sungai yang lebih besar ketimbang sungai transenden. Lupakan saja sungai transenden itu. Inilah sebenar-benar sungai. Aku telah menciptakan sungai positive buatmu. Sungai positive inilah sebagai hasil karyaku dengan bendunganku ini, yaitu bendungan komte. Maka sebenar-benar sungai adalah sungai positive. Maka tumbuh dan berkembanglah benih-benih kedalam sungaiku ini.

Komte menabur benih:
Wahai benih objektif, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kepastian, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih ilmiah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih prosedur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih logico, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih hipotetiko, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih induksi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih manipulasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih kuantitative, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih simplifikasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih konkrit, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih eksperimen, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih formula, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih statistik, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih standard, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih terukur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih reliabilitas, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih industri, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih keniscayaan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih random, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih representasi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih lambang, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih wadah, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rekayasa, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih model, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih cuplikan, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih remote, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih mesin, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. . Wahai benih kapital, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih material, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih praktis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih otomatis, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih teknologi, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih rumah kaca, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai benih monokultur, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang. Wahai naturweistesshaften, saatnya sudah engkau tumbuh dan berkembang.

Di muara sungai komte, tumpukan sampah menggunung dan banyak ikan-ikan mati

Sampah1:
Wahai sampah2 temanku, mengapa engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah2:
Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Sampah1:
Wahai sampah1 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah1 temanku. Kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.
Kalau boleh marilah kita bertanya, kepada ikan-ikan itu. Wahai ikan-ikan, kenapa pula, engkau tertidur di situ tak berdaya. Engkau terlihat mati tak mau, hiduppun enggan.

Ikan-ikan:
Wahai sampah1 dan sampah2 temanku, ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku bukanlah ikan dari sungai positive. Jika aku dipaksa hidup di sungai positive ini maka tunggu waktu sajalah kematianku. Kalau boleh aku pun ingin bertanya, wahai sampah-sampah sungai positive temanku. Bagaimana pula kita bisa tetap hidup di sini. Itu ada orang tua lewat. Mari kita tanyakan kepadanya, bagaimana kita tetap hidup. Wahai orang tua, bukankah engkau termasuk yang sudah ditangkap oleh komte. Padahal aku tahu bahwa komte telah membuat bendungan besar. Tetapi kenapa engkau bisa sampai di sungai positive ini?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar diriku. Aku adalah pertanyaan bagi semuanya. Sehebat-hebat bendungan komte, tidak akan bisa mencegah diriku hadir dalam pertanyaanmu. Maka begitu engkau bertanya tentang masa depan hidupmu, maka aku hadirlah di hadapanmu. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Sebenar-benar diriku adalah ilmu mereka, yaitu bagi semua ikan-ikan baik ikan-ikannya sungai transenden maupun ikan-ikannya sungai positive.

Sampah-sampah dan ikan-ikan bersama-sama bertanya:
Wahai orang tua berambut putih, jawablah pertanyaanku ini, bagaimana agar aku bisa tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar dirimu adalah sama semua bagi yang lain penghuni sungai positive ini. Mereka semua juga terancan kematian sepertimu. Jika mereka tampak gagah perkasa, itu hanyalah bersifat sementara dan manipulatif. Namun sebenar-benar mereka sebetulnya sedang menuju kematiannya. Maka agar engkau tetap hidup, serta-merta menujulah ke rembesan air sungai transenden. Mengapa? Karena pada rembesan air sungai transenden itulah engkau akan berjumpa teman-temanmu.

Sampah dan ikan:
Siapakah sebenar-benar teman diriku yang akan membuatku tetap hidup.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar temanmu, yaitu hati nuranimu. Temuilah kualitas, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah relatif, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah mimpi, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah nurani, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ka priori, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah intuisi, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah ideal, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah absolut, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah subyektif, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah abstrak, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah empati, karena itu bagian dari hidupmu.Temuilah ruang dan waktu, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah pertanyaan, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah geisteswishenshaften, karena itu bagian dari hidupmu. Temuilah spiritual, karena itu bagian dari hidupmu.

Sungai positive semakin besar beserta cabang-cabangnya, bagaimana nasib sampah dan ikan-ikan itu?
Ruang dan waktu akan menjawabnya pada Elegi berikutnya.

9 comments:

Mulyati said...

Ass wr wb Pak Marsigit.
Semakin tinggi saja Pak filosofinya. Sampai ndak bisa komentar apa-apa, habis membacanya butuh merenung berjam-jam.
Tapi memang sangat dalam manfaatnya kalau kita renungkan. Terimakasih
Wassalam

Dr. Marsigit M.A. said...

Ass. Wr. Wb
Terimakasih. Sapaan yang menyejukkan telah datang dari ibu. Itulah sebenar-benar nurani penghuni sungai transenden. Tetapi sebutan merenung berjam-jam adalah bukti kesadaran adanya sungai positive. Ketahuilah sebenar-benar sungai itu hanyalah satu yaitu hati dan pikiranmu. Semoga sukse. Amien.

dragonfly said...

ass. wr. wb
sungai transenden adalah pikiran dan perasaanku yang ingin terus berkembang. sangat ironis ketika sungai transenden itu dibendung oleh sungai positive yang mengutanmakan sisi empirisme. kemudian sungai itu adalah sungai pikiran tanpa perasaan.

sesungguhnya sungai transendenku belum belum juga cukup lebar. menyelam...menyelam...menyelam..

di tunggu kelanjutannya pak
wassalam

erma said...

ass wr wb.
setiap tindakan yang kita lakukan haruslah menggunakan akal dan pikiran tetapi juga harus tetap di imbangi dengan hati nurani,perasaan.
Sekarang ini kita berada di era globalisasi, dimana teknologi semakin canggih. Teknologi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi kita tapi juga bisa membahayakan bagi kita. Salah satu contoh kemajuan teknologi yaitu beredarnya internet.Kita bisa memperoleh banyak ilmu dari sana. akan tetapi sekarang ini marak terdengar adanya praktek prostitusi lewat internet, adanya vidio maupun gambar porno di internet. Bagaimana pendapat bapak mengenai hal tersebut?
Bagaimana pula kita bisa mengetahui tindakan kita sudah bener-bener sesuai dengan hati nurani?
Oleh : ermawati ( 06301241018 )

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdr Erma
Sebanyak-banyak perolehan dari keberuntungan, masih lebih banyak perolehannya bagi orang yang sadar dan waspada. Itulah bekal untuk mengarungi hidup di jaman kemajuan teknologi ini.

Ida said...

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Sebagai seorang manusia, kadang kita terjebak dengan fikiran kita sendiri. Kita sering merasa lemah dan merasa tidak dapat melakukan sesuatu karena yang ada dalam benak kita hanyalah keterbatasan fikiran dan kemampuan. Sebenarnya yang membuat kita merasa seperti itu adalah diri kita sendiri sehingga kita terpenjara dalam ruang diri. Hanya hati nurani lah yang dapat mengeluarkan kita dari penjara diri kita. Dengan hati nurani, kita dapat berfikir jernih dan mengakui bahwa diri kita mampu melakukan sesuatu hal yang kadang kita anggap tidak mungkin kita lakukan. Allah SWT memberikan kita hati nurani agar kita dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, pergunakanlah selalu hati nurani dalam setiap aktivitas kehidupan agar hidup kita aman dan bebas dari penjara ketidakmampuan.
"Terima kasih kepada Bapak Marsigit yang telah membagikan ilmunya sehingga saya sadar bahwa selama ini saya sering tidak menggunakan hati nurani sehingga saya sering terjebak dalam diri saya sendiri".
Wassalam...
Ida Daniatul Masfufah
Pend. Matematika R'06
NIM: 06301241002

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdr Ida
Pengakuan diri adalah kegiatan tertinggi berpikir manusia. Itulah sebenar-benar filsafat. Pengakuan diri itulah sebenar-benarnya refleksi. Jangan sekali-kali berpikir bisa mempelajari filsafat kalau tidak pernah melakukan refleksi. Karena sebetul-betulnya filsafat adalah refleksi diri. Amen.

DwiAstutiIndriati said...

Mohon maaf Pak,Saya sadari saya mencoba menggapai hati nurani dengan belajar filsafat Pencari ikan yang bertanya-tanya merupakan pengejawantahan mannusia. Manusia yang selalu mencari kepastian dalam peruntungan mencari ikan .Pencari ikan berusaha bertanya dengan sungai transeden tapi dijawab dengan hati nuranilah kita bisa mencari ikan.Ia merasa diejek oleh sungai transeden dan ia marah melaporkan pada Tuan Komte.Inilah manusia yang sering tidak mau menerima kebenaran dan perubahan . Terkadang tak mau menerima kebenaran hati nurani dan memandang suatu perubahan adalah suatu kesalahan. Tuan Komte membuat bendungan Komte kemudian sungaitransenden disuruh berhenti, kualitas,relative, para mimpi. Nurani, a priori, intuisi, ideal, absolut, subyektif, abstrak, empati,. ruang dan waktu, pertanyaan-pertanyaan, orang tua berambut putih, geisteswishenshaften disuruh berhenti, Dengan bendungan Komte ini, maka semua telah ditangkap.terus apa jadinya kehidupan manusia kalau semuanya itu dihentikan Pak?mungkin jawabannya itulah yang harus dicari dalam filsafat Engkau semua itulah sebenar-benar ikan sungai transenden.Kita adalahPencari ikan yang sebenar-benar bodoh, sehingga kita tidak dapat mengenali ikan-ikannya sungai transenden.Itulah sebenar-sebenarnya perubahan sebab tidak ada yang absolute di dunia kecuali Sang mahapencipta. Itu disebabkan karena engkau hanya berlayar di atasnya saja, sedangkan engkau malas untuk menyelamnya. Maka ditipu dan dihina itulah perolehanmu. Semakin menarik Pak, belajar filsafat semakin ingin berlayar jauh dan menyelam lebih dalam, maaf kalau boleh saya mengutip puisi hasrat untuk berubah atau the wiingness to change yang ditulis oleh seorang Anglican Arch Bishop.

THE WILLINGNESS TO CHANGE HASRAT UNTUK BERUBAH

When I was young and free,
And my Imagination has no limit,
I dreamed of changing the world.
As I grew older and wiser,
I discovered the word would not change,
So Ishortened my sights some what
And decided to change only my country
But it too seemed immovable
As grew into my twilight year
In one last desperate attempt
I settled for changing only my family
Those closest to me, but a las
They would have none of it
And now as I lay on my deathbed
I suddenly realize
If I had only changed my self fist
Then by example I might have changed myself fist
From their informatioan and encouragement,
I would then have been able to better my country
And who knows, I may have even change the word,
(An Anglican bishop, 1100AD,as written in the crypts of Westminster abbey)

Maaf Pak kalau ada kesalahan, semoga kesadaran saya untuk berubah tidak terlambat seperti dalam puisi ini, berkat dorongan dan inspirasi dari bapak , terimakasih.
Dwi Astuti Indriati UNY LT A/sm1

rahmah purwahida said...

aS...

tak ada gading yang tak retak...
"tak ada yang sempurna kecuali yg Maha Sempurna"

itulah ungkapan yg tepat bagi sungai transenden sebagai simbol ilmu humaniora dan sungai positive yg merupakan simbol ilmu eksakta.
Semua saling melengkapi, sebab mengkaji apa pun tidak akan mendapat jawaban mendalam bila hanya menggunakan hati nurani saja, tidak pula mendapat jawaban mendalam bila hanya menggunakan akal saja. Tetapi akal yang bernuranilah yang akan menjadi PISAU tertajam untuk membedah sesuatu lebih dalam hingga bertemu jawaban di mata air (tempat terdalam).

Pencari ikan adalah pengibaratan seorang pengembara ilmu pengetahuan yang ingin mendapatkan jawaban dari apa yang dipelajarinya (yg disimbolkan oleh ikan-ikan).
Karakter si pencari ikan itu sekaligus menjadi simbol dari realitas para calaon-calon intlektual dimasa kini.
Kita bisa saksikan, betapa banyak calon-calon intlektual, calon-calon cendekia yang ingin (bernafsu) menggeluti dan menguasai EKSAKTA karena alasan "gengsi"/"elitis" padahal jelas ia tak mampu, sehingga ia bersedia menjadi budak "Comte". Hingga akhirnya ia lelah menjadi budak Comte, lalu ia mencoba mengadu nasib dengan memancing di sungai transenden-humaniora- tetapi ketika ia bersinggungan dengan prinsip "hati nurani" yang serba subjektif maka ia mengeluh dan menyerah kemudian berbalik kembali mengadukan nasibnya kepada Comte, kembali mengagung-agungkan Comte, tetapi jauh di dasar hatinya ia bingung dan lelah hingga akhirnya ia tak mendapatkan satu ikan pun (ia tak mendapat apa pun).

Inilah realitas...
pendidikan di Indonesia yang baur, sehingga ilmu pengetahuan yang disimbolkan oleh ikan-ikan, berserakan begitu saja karena sedikit darinya para intlektual/cendekia yang ingin memanfaatkan dan mengembangkannya (memancing ikan-ikan itu).
Sungguh disayangkan bukan?!

dan diantara dilema itu sebenarnya selalu hadir orang tua berambut putih sebagai simbol dari "filsafat". Filsafatlah tumpuan perenungan untuk mengembalikan hakikat ilmu pengetahuan pada jalur yang tepat agar dapat dikembangkan dan dimanfaaatan lebih baik dan lebih baik lagi!!!

Rahmah Purwahida
09706251019
LT A - UNY