Tuesday, February 17, 2009

Elegi Seorang Hamba Menggapai Harmoni

Oleh: Marsigit


Hamba menggapai harmoni meninggalkan gunung menuju ke kota

Hamba menggapai harmoni:
Kini saatnya aku menuruni gunungku. Aku mendapat amanah agar aku segera menuju ke kota. Bayanganku begitu indahnya kota itu. Lain dan sangat kontras dengan keadaanku di gunung ini. Konon berbagai macam kebutuhan ada di kota. Mulai dari sembako, pakaian, dan alat-alat modern ada di kota. Bahkan aku dengar jika aku sudah sampai di kota maka aku bisa bekerja apa saja, membuat pekerjaan apa saja. Lebih dari itu, tetapi yang ini agak mengkhawatirkanku, katanya di kota nanti aku bisa berpikir apa saja dan berbuat apa saja? Begitukah? Tetapi baiklah, karena apapun yang akan terjadi aku harus tetap menuju ke kota.

Hamba menggapai harmoni bertemu dengan satpam kota

Satpam kota:
Wahai seseorang asing, darimanakah engkau dan mau kemanakah engkau itu?

Hamba menggapai harmoni:
Aku orang gunung. Aku ingin ke kota. Bolehkah aku bertanya? Di manakah kota itu dan dimana pula jalan menuju ke sana? Aku ingin ke sana karena aku ingin menjadi orang kota.

Satpam kota:
Wahai orang gunung. Tidak sembarang orang bisa masuk kota. Aalagi engkau ini orang gunung. Maka engkau harus memenuhi persyaratan. Ini persyaratannya ada 10 butir. Jika engkau bisa memenuhi persyaratanku ini maka engkau aku ijinkan masuk kota.

Hamba menggapai harmoni:
Baiklah. Kebetulan aku telah mempersiapkan semua persyaratan itu. Maka terimalah persyaratan ini.

Satpam kota:
Baik. Kalau begitu silahkan lewat.

Hamba menggapai harmoni:
Terimakasih. Tetapi sebelum aku masuk kota, aku ingin bertanya dulu kepadamu. Benarkah di kota itu, terdapat apapun yang aku inginkan.

Satpam kota:
Ha..ha..ha. Pertanyaanmu sungguh lucu. Ya jelaslah. Di kota sebesar ini apa sih yang tidak ada. Semua yang engkau inginkan ada di sini. Aku juga bisa menginginkan segalanya di sini. Tetapi aku tidak bisa. Karena aku hanyalah seorang satpam. Maka aku hanya dapat melihat orang-orang silih berganti ke sana ke mari ke situ ke sini, untuk memuaskan hidupnya di sini. Sedangkan aku hanya terpaksa puas melihatnya saja. Maka kalau aku boleh tahu. Sebetulnya engkau ke kota ingin cari apa?

Hamba menggapai harmoni:
Aku tidak ingin mencari yang macam-macam. Aku hanya ingin mencari harmoni.

Satpam kota:
Ha..lucu juga kedengarannya. Apa itu harmoni? Apakah itu nama gedung bioskop? atau nama seseorang?

Hamba menggapai harmoni:
Harmoni itu jiwa, pikiran, hati, ibadah, badan, perasaan, baju, rumah, tidur, jalan, kebun, sungai, teman, alat, perkataan, program, buku, makan pagi, restoran, sekolah, universitas, pegawai, guru, dosen, ...

Satpam kota:
Sudah..sudah.. Ah sial benar aku ini. Pagi-pagi sudah jumpa orang gila. Ditanya ke tota ingin cari apa, jawabannya ngelantur tak karuan. Sudah sana masuk kota. Aku tidak mau lagi bicara dengan engkau.

Hamba menggapai harmoni:
Terimakasih satpam kota. Ketahuilalah. Bahwa masih banyak kata yang belum sempat aku ucapkan. Salah satunya adalah tentang satpam kota. Ketahuilah bahwa harmoni juga ada pada dirimu. Dirimu itulah harmoni. Maka sebenar-benar dirimu itu adalah harmoni.

Hamba menggapai harmoni diterima sebagai mahasiswa dan mengikuti perkulihan

Dosen:
Saudara mahasiwa yang berbahagia. Prinsip hidup kontemporer adalah menjaga keseimbangan, yaitu keseimbangan semua unsur-unsurnya. Tiadalah satu unsur berlebih-lebihan, dan tiada pula unsur-unsur berkekurangan. Di samping itu keseimbangan juga meliputi hubungan antar unsur-unsurnya. Padahal kita tahu bahwa tiadalah unsur-unsur di dunia ini tidak saling berhubungan. Maka keseimbangan unsur-unsur beserta hubungannya itulah yang disebut harmoni.

Mahasiswa 1:
Bagaimanakah caranya agar kita memperoleh harmoni.

Dosen:
Diperlukan pemahaman yang mendasar bagi seseorang untuk memperolah harmoni. Harmoni itu sendiri harus mempunyai landasan yang kuat dan kokoh. Satu-satunya landasan yang dapat di andalkan adalah iman dan taqwa kepada Tuhan YME. Modal utama memperoleh harmoni adalah niat hidup untuk beribadah. Segala aktivitas untuk beribadah. Segala ilmu untuk beribadah. Segala keterampilan untuk beribadah. Dan segala pengalaman untuk beribadah.

Mahasiswa 2:
Ilmu yang bagaimanakah yang bermanfaat untuk memperoleh harmoni.

Dosen:
Untuk memperoleh harmoni maka pikiran anda harus terbebas dari segalam macam residu yang mengkotori pikiranmu itu. Pikiran murni yang belum terkontaminasi itulah dapat diibaratkan sebagai orang gunung. Jadi untuk memperoleh ilmu harmoni, hendaklah saudara-saudara mahasiswa menjadi orang gunung, kemudian turun ke kota.

Mahasiswa 3:
Apakah sebetulnya yang disebut sebagai pikiran murni?

Dosen:
Pikiran murni adalah berpikir kritis. Jikalau seseorang pikirannya masih bersih maka dia akan mampu berpikir kritis.

Mahasiswa 4:
Apakah yang disebut pikiran bersih?

Dosen:
Pikiran bersih adalah pikiran yang merdeka, yaitu pikirannya orang-orang yang masih merdeka untuk mengutarakan pikirannya. Dengan berpikir merdeka itulah dia akan berpikir kritis.

Mahasiswa 5:
Apakah yang disebut berpikir kritis?

Dosen:
Berpikir kritis adalah mengetahui kekurangan dan kelebihan diri orang yang berpikir. Jadi berpikir kritis tidak lain tidak bukan adalah batas pikiran.

Mahasiswa 6:
Aakah yang disebut batas pikiran?

Dosen:
Batas pikiran adalah jika engkau tahu kapan engkau berpikir dan kapan engkau tidak berpikir?

Mahasiswa 7:
Kapan aku tidak berpikir?

Dosen:
Engkau tidak berpikir jikalau engkau sedang tidur atau sedang berdoa.

Mahasiswa 8:
Mengapa aku berdoa dikatakan tidak berpikir?

Dosen:
Jika ketika engkau berdoa, engkau masih pikir-pikir, itu pertanda doa mu belum khusuk.

Mahasiswa 9:
Kapan doaku dikatakan khusuk?

Dosen:
Tiadalah manusia mengetahuinya, kecuali semata-mata hanya karunia Nya lah bahwa doa mu diterima atau tidak.

Hamba menggapai harmoni:
Menurut engkau wahai dosenku, apakah wajahku ini seperti orang gunung atau seperti orang kota?

Dosen:
Orang gunung itulah pikiran murnimu. Orang gunung itulah pikiran kritismu. Maka orang gunung itulah ilmumu.

Hamba menggapai harmoni:
Apakah saya kira-kira dapat menggapai harmoni?

Dosen:
Harmoni tidaklah diam di suatu tempat. Harmoni itu bergerak pada porosnya dan berjalan pada lintasannya. Maka untuk menggapai harmoni itu, tidak ada cara lain engkau juga harus berputar pada porosmu dan bergerak pada lintasanmu. Demikian juga berlaku bagi yang lainnya.

Mahasiswa 10:
Apa yang dimaksud dengan berputar pada porosnya dan bergerak pada lintasannya.

Dosen:
Itulah sebenar-benar kodrat. Manusia ditakdirkan untuk berusaha dan berikhtiar dalam hidupnya. Maka hati, jiwa dan hidupmu harus berputar pada poros iman dan taqwa mu agar engkau selalu mendapat rakhmat dan hidayah Nya. Itulah habluminallah. Sedangkan hati, jiwa dan hidupmu harus berikhtiar menghampiri sesama yang lain dalam pergaulanmua untuk memperkokoh tali ibadah mu dan ibadah mereka. Itulah habluminanash. Maka barang siapa tinggi putaran pada porosnya maka semakin stabil pulalah hidupnya. Dan barang siapa kuat gerakan pada lintasannya maka semakin mendapat banyak pula perolehannya di dunia. Itulah sifat black-hole. Putaran sangat tinggi sehingga seakan diam. Benda yang tidak tampak padahal kemampuannya luar biasa. Itulah sunatullah. Tuhan telah memberikan contoh-contohnya semata demi kebaikan manusia.

Hamba menggapai harmoni:
Aku merasa lega, karena aku merasa telah memperoleh titik terang bagaimana aku bisa menggapai harmoni. Terimakasih dosen. Bolehkah aku mengutarakan refleksiku tentang harmoni?

Dosen:
Boleh. Silahkan.

Hamba menggapai harmoni:
Nikmat terasa hidup ini. Aku melihat dan merasakan harmoni. Aku melihat harmoni di sekitarku. Mereka bekerja sesuai tugas masing-masing dan mereka saling menjaga harmoni. Mereka berkata-kata harmoni. Tugas-tugasnya adalah harmoni. Kantornya adalah harmoni. Perintahnya adalah harmoni. Gedungnya adalah harmoni. Jurusannya adalah harmoni. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah aku telah menemukan universitas harmoni. Tempat parkirnya harmoni. Komunikasinya harmoni. Taman dan jalannya harmoni. Jika yang kulihat adalah harmoni maka pikiranku adalah harmoni. Maka pikiranku dan kiran mereka adalah harmoni. Bahasanya dan bahasaku adalah harmoni. Kasih sayangnya adalah harmoni. Pimpinanya adalah harmoni. Petugasnya adalah harmoni. Dosennya adalah harmoni. Dosennya adalah harmoni. Ilmunya adalah harmoni. Maka aku temukan bahwa hidupku adalah harmoni dan hidup mereka adalah harmoni. Maka aku temukan bahwa dunia adalah harmoni. Maka aku berpikir dan apakah aku boleh berpikir bahwa surga itu adalah harmoni. Jika demikian maka aku berpikir dan apakah aku boleh berpikir bahwa berarti neraka itu adalah disharmoni. Maka surga itulah ada di dalam diri orang-orang harmoni dan neraka itulah ada dalam diri orang-orang disharmoni.


Hamba menggapai harmoni:
Dosen, aku ingin bertanya benarkah klaimku tadi. Memang bisakah saya memproduksi kata disharmoni. Lalu bagaimana contohnya disharmoni itu?

Dosen:
Pertanyaan yang baik. Benar pula apa yang engkau pikirkan. Disharmoni adalah lawan harmoni. Disharomi adalah berlebihan. Disharmoni adalah tidak cocok hubungan. Disharmoni adalah tidak sesuai suasana. Disharmoni adalah tidak sesuai peruntukan. Disharmoni adalah tidak sesuai tugasnya. Disharmoni adalah tidak sesuai fungsinya. Disharmoni adalah mendominasi. Disharmoni adalah tidak adil. Disharmoni adalah tidak jujur. Disharmoni adalah tidak selaras.

Hamba menggapai harmoni:
Maaf aku agak bingung. Bisakah engkau memberikan contoh yang konkrit?

Dosen:
Jika dikelas ini engkau selalu dan ingin selalu menonjol tanpa menghiraukan teman-temanmu, itulah disharmoni. Jika engkau menyampaikan pendapat jauh dari kenyataan itulah disharmoni. Jika engkau berkata aneh, itulah disharmoni. Jikalau sekonyong-konyong engkau bicara dalam Bahasa Inggris padahal konteksnya Bahasa Indonesia, itulah disharmoni. Jikalau engkau menasehati secara berlebihan itulah disharmoni. Jikalau engkau bersifat pamer, itulah disharmoni. Jikalau engkau diam, padahal mestinya engkau harus bicara, itulah disharmoni. Jikalau dalam daftar hanya namamu yang muncul itulah disharmoni. Jikalau engkau menuntut bukan hakmu itulah disharmoni. Jikalau engkau bicara vulgar itulah disharmoni. Jika engkau hanya andalkan pikiranmu saja, itulah disharmoni. Jikalau engkau menasehati tidak tepat waktu itulah disharmoni. Jikalau engkau merasa selalu bisa, itulah disharmoni. Jikalau engkau merasa mempunyai peran yang besar, itulah disharmoni. Jikalau engkau memaksakan kehendakmu, itulah disharmoni. Jikalau engkau mengambil jalan pintas, itulah disharmoni. Jikalah engkau terlalu sibuk, itulah disharmoni. Jikalau engkau terlalu banyak pekerjaan, itulah disharmoni. Jikalau engkau tidak menjawab pertanyaan, itulah disharmoni. Jikalau engkau tidak menjawab sms itulah disharmoni. Jikalau engkau bertengkar, itulah disharmoni. Maka sebenar-benar harmoni adalah surga bagimu. Dan sebenar-benar disharmoni adalah neraka bagimu.

Hamba menggapai harmoni:
Kalau begitu siapakah aku ini. Apakah aku ini orang gunung atau aku ini orang kota?

Dosen:
Sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Dirimu, diriku dan diri anda semua para mahasiswaku, sebenar-benar engkau semua adalah hamba menggapai harmoni. Alhamdullilah. Amien.

14 comments:

mufarikhin said...

Bpk. Marsigit Yth.
Saya juga setuju, kalau kumpulan elegi ini dijadikan menjadi sebuah buku, agar dapat menjadi air yang dapat menyejukkan hati para guru dan pemerhati pendidikan.

ambarwati said...

Pikiran bersih adalah pikiran yang merdeka, yaitu pikirannya orang-orang yang masih merdeka untuk mengutarakan pikirannya. Dengan berpikir merdeka itulah dia akan berpikir kritis.
Dari kalimat-kalimat tersebut yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana kiat-kiat agar kita dapat memerdekakan diri kita sehingga mampu berpikir kritis. Sementara saya adalah orang yang menurut saya bukan kategori tersebut.

Dr. Marsigit M.A. said...

Belum selesai anda bertanya, sudah datang jawabannya. Jawabannya adalah anda telah terbukti merdeka dalam berpikir. Belum selesai anda membuat pengakuan, jawabanya sudah datang. Jawabannya adalah dengan pengakuan itu terbukti anda berpikiran bersih.

Marsigit

great165 said...

Keharmonisan mungkin dapat diibaratkan seperti berotasinya planet pada sumbunya dan juga revolusinya terhadap matahari. Ketika planet bergeser beberapa derajat saja dari sumbu rotasinya, maka akan terjadi kekacauan. Lalu jika itu yang terjadi pada kehidupan manusia, maka sebenernya yang harus dicari lebih dulu adalah penyebab bergesernya sumbu rotasi itu, atau cara mengatasinya?

Ketika kita merasa cukup atau jelas, maka kita harus bersiap-siap diterkam ruang gelap yang akan membutakan kita. Menurut bapak, bagaimana perasaan cukup ini dibandingkan dengan bersyukur? Padahal kita sebagai cipataan dan hamba Allah harus selalu bersyukur. Terima kasih. (Silfia Maulida.06301241012.Pend.Mat R’06)

Dr. Marsigit M.A. said...

Itulah sebenar-benar tujuan semua manusia, yaitu syukur dan tafakur kepada Nya, yang mengandung makna kesadaran diri berserah akan kodrat Nya dan berikhtiar karena kodratnya pula. Maka sebenar-benar manusia adalah hamba yang mengabdi dan berjuang demi rakhmat dan hidayah Nya. Amien

Just said...

Harmoni merupakan keseimbangan unsur-unsur beserta hubungannya. Misalkan ada seseorang yang telah mencapai harmoni dalam kehidupannya. orang tersebut sangat paham akan arti harmoni, orang tersebut taat dalam beribadah, selalu melakukan segala hal sesuai porsinya, dan tidak pernah berlebih-lebihan serta tidak pernah memaksakan kehendaknya.namun, ternyata tanpa disadari orang tersebut telah merusak harmoni orang lain dan harmoni lingkungannya. Dari permisalan tersebut, saya berpikir begitu sulitnya untuk mencapai harmoni tanpa merusak harmoni orang lain atau harmoni lingkungan baik kita sadari maupun tidak disadari. Bagaimana agar seseorang mencapai harmoni tanpa mengganggu harmoni orang lain maupun harmoni lingkungannya baik secara sadar maupun tidak sadar?.
(Daria Anggawati/06301241026/Pendidikan Matematika Reg'06)

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdr Daria Anggawati
Analisis yang bagus. Harmoni yang satu dapat mengganggu harmoni yang lain dipahami dengan pendekatan wadah dan isi. Jika harmoni-harmoni itu adalah isi-isi, maka carilah wadahnya. Jika harmoni-harmoni itu adalah wadah maka tentukan isi dan wadah-wadahnya pula. Jika engkau adalah isi dari wadah harmoni maka carilah batasnya. Jika engkau adalah wadah dari harmoni, maka carilah batas-batasnya. Itulah sebenar-benar manusia, yaitu bersifat terbatas dalam menggapai batas. Maka satu-satunya solusi adalah tawaduk' dan tawakal kepada kuasa dan keagungan Tuhan YWM.

Lingga MATR08 said...

I have read your article that “Elegi Seorang Hamba Menggapai Harmoni, and my opinion, this article have contents is important. Moreover, this words that composed very well and easy to understood. In this article, you tell about meaning of harmony and disharmony. Harmony is to mean positive mind and disharmony is to mean negative mind. If I’m may know, where are you from to find inspiration to creat this article? And what are you purpose? Thanks from your attention before….

Dr. Marsigit, M.A said...

Good lingga, your analysis is very good. Why you asked me about the idea? Please read and learn more Elegis in order you understand me. I do not need any reference to write elegi. All elegis are my reflections. This is what I called as the second quality. All are my experience. So please you read, read and red more. Again, you can not find any other article except that there are lying deep in my mind. Have a good reading.

Tegar Ganteng said...

saya sadar bahwa hidup saya selama ini sangat disharmonis. saya ingin berubah...
tapi langkah awal apa yang harus saya lakukan untuk merubah segalanya menjadi harmoni pak?

Dr. Marsigit M.A. said...

Tegar
Dalam setiap tindakanmu, tetapkanlah hatimu sebagi komandannya. Maka berdoalah beserta segenap jiwa dan ragamu. Mengingat dan menyebut asma Allah SWT secara kontinu dalam hatimu, apapun dan bagaimanapun keadaanmu. Itulah sebenar-benar berdoa. Maka jika Allah SWT mengijinkan, kemanapun engkau palingkan wajahmu, maka di situlah rakhmat Nya. Dunia dan akhirat, di situ tersedia ilmu-ilmu beserta guru-gurunya masing-masing.

ARIF MUNANDAR said...

m…elegi yang cukup rumit dipahami hakekatnya. Namun, setelah beberapa waktu merenungkan, justru ini dahsyat. Sebatas pemahaman saya,saya sedang berusaha menggapai harmoni dengan mencari kunci hakekatnya. Kunci yang saya dapatkan telah meruntuhkan gambaran (awal) saya mengenai surga dan neraka.
PERTAMA, pemahaman mengenai ‘surga dan neraka’ telah terlepas dari belenggu dimensi ruang dan waktu (mpan papan)se iring munculnya uraian “harmoni dan disharmoni dalam diri manusia” tanpa harus menyimpang dari konsep qur’an dan sunnah. Setauku ini pula yang diajarkan musa,isa, bahkan (mungkin) gaotama.
KEDUA, ketika aku renungkan orang gunung atau kota,maka disanalah hatiku.dengan kata lain,hatiku bisa berada pada kendaraan,rumah, harta,taman,ruangkelas,makanan,dsb. Semua itu bersifat relatif dimana saja dan kapansaja.menterjemahkan dan diterjemahkan. tapi yang takpernah berubah adalah Allah.
Keliru apa tidak ya,…… wallohu a’lam

Nini Wahyuni said...

Harmoni. Harmoni adalah sesuatu yang menenangkan dan melahirkan kebahagian.Semua kita pasti ingin segala sesuatunya berjalan harmoni.

Namun, ternyata harmoni itu tidak untuk ditunggu dan dinantikan dengan diam. Dia harus dicari dan diikuti sesuai porosnya yang selalu berputar.

Harmoni tercipta karena adanya Tawazun atau keseimbangan. Seperti bumi ada karena tawazun-nya, angin berhembus karena tawazun-nya, burung2 terbang dengan membentuk huruf v karena tawazun-nya, air sungai yang mengalir juga karena tawazun-nya. Tawazun tadilah yang melahirkan harmoni2 yang indah.

Namun sayang, terkadang ada manusia2 yang mengacaukan segala ke-harmoni-an itu yang akhirnya melahirkan sesuatu yang bernama disharmoni. Disharmoni membawa sesuatu yang buruk, dan bisa menjadi bencana.

Ketika sesorang merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, lebih berkuasa, lebih memiliki segalanya, sebenar dia telah berhasil menciptakan kedisharmonian. Dan ini tidak hanya akan ber-effect pada dirinya sendiri tapi juga orang lain, lingkungan sekitar dan alam yang Maha luas ini.

Semoga kita bukanlah termasuk kedalam kategori manusia2 yang memproduksi kedisharmionian.

Sebagai manusia beriman tentunya hati, jiwa dan hidup kita sudah sepantasnya selalu berada di line-Nya.

Jika pun saat ini kita masih terus mencari dimana letak harmoni yang sebenarnya, dan mengajaknya pulang ke hidup kita masing2 maka jangalah pernah berhenti. Karena ketika kita merasa tidak puas dengan pemberian-Nya dan mencari terus menerus sampai merasa letih...sebenarnya saat itu kita sedang menjalankan harmoni kebahagiaan...

Siti Salamah Graduate Student LT/A said...

membaca tulisan Bapak saya teringat tentang peran manusia. Keseimbanganatau harmoni dapat dicapai seseorang jika dia berada pada titik tengah atau garis keseimbangan antara habluminallah dan habluminannas. Pencapaian Keseimbangan dapat diraih jika kedua peran dan posisi itu berjalan seimbang.
maka kita tidak akan melihat lagi seoorang ahli ibadah yang "anti sosial" atau mereka yang berjiwa sosial tapi tidak percaya Tuhan.
Yang seringkali menjadi pertanyaan kita pada umumnya adalah seorang ahli ibadah namun hidup dalam dunia sendiri atau eksklusif. realitas inilah yang seringkali memuncuulkan kontraversi. Karena pada dataran ideal atau pencapaian harmoni ini seharusnya manusia mengikitu juga sunnah rosul ataupun petunjuk nabbi. Bagaimana mereka adalah sosok2 ahli ibadah namun begitu peka terhadap lingkungan.
Huwallahu'alam..
terima kasih Bapak...