Sunday, February 22, 2009

Elegi Hamba Menggapai Isi dan Wadah

Oleh: Marsigit

Wadah, bangga dengan statusnya
Aku adalah wadah. Wadah bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu isi apapun tidak memerlukan wadah. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai isi maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun wadahnya. Maka aku adalah wadah bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi isi dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan masuk kedalamku, yaitu mereka akan selaluterwadahkan oleh ku.

Isi, bangga dengan statusnya
Aku adalah isi. Isi bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu wadah apapun tidak memerlukan isi. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai wadah maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun isinya. Maka aku adalah isi bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi wadah dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan memerlukanku, yaitu mereka akan mencari isi.

Siswa tertegun melihat wadah dan isi gurunya:
Aku melihat guru-guru di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk pelajaran kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para guru. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para guru itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa guru-gur itu ternyata bersifat manipulatif.

Mahasisa dan guru tertegun melihat wadah dan isi dosennya:
Aku melihat dosen-dosen di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kuliah kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para dosen. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para dosen itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa dosen-dosen itu ternyata bersifat manipulatif.

Dosen tertegun melihat wadah dan isi orang tua berambut putih:
Aku melihat para orang tua berambut putih di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para orang tua berambut putih. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para orang tua berambut putih itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa para orang tua berambut putih itu ternyata bersifat manipulatif.

Siswa bertanya kepada mahasiswa:
Wahai kakak-kaka mahasiswa. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih suka wadah atau isi?

Mahasiswa1:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai mahasiswa itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Mahasiswa2:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai mahasiswa jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai mahasiswa. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai mahasiswa jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Guru bertanya kepada dosen:
Wahai para dosenku. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih menyukai wadah atau isi?

Dosen1:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai dosen itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Dosen2:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai dosen jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai dosen. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai dosen jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bimbang memikirkan wadah dan isi:
Dari percakapan yang kita dengar tentang wadah dan isi, aku menjadi bimbang. Apa sebetulnya wadah itu? Apa sebetulnya isi itu. Jika aku minum segelas air, maka gelas adalah wadahnya, dan air adalah isinya. Tetapi jika aku sebut air adalah wadah, maka aku belum tahu pasti apakah isinya, mungkin salah satu isinya adalah oksigen. Tetapi jika aku berpikir bahwa oksigen adalah wadah, maka aku semakin bingung apakah sebenarnya isinya. Jika siswa adalah wadah, maka isinya adalah kemampuannya dan kepribadiannya. Jika wadahku adalah mahasiswa maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika guru adalah wadahku maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika dosen adalah wadahku maka kemampuan dan kepribadianku adalah isinya. Nah ini aku temukan ijasah dan sertifikat. Aku cari-cari dalam daftar tetapi aku tidak menemukan secara tegas bahwa ijasah dan sertifikat adalah isi, tetapi samar-samar tertulis mereka sebagai wadah.

Orang tua berambut putih datang menghampiri siswa, mahasiswa, guru dan mahasiswa

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bersama-sama menegur orang tua berambut putih:
Wahai orang tua berambut putih. Kenapa engkau duduk di situ? Bukankan untuk duduk di situ engkau harus berbekal wadah dan isi. Maka tunjukkan manakah wadah dan isimu?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah, dan sebenar-benar diriku adalah tidak punya isi. Satu-satunya yang aku punya adalah kemampuanku untuk selalu hadir pada setiap pertannyaanmu.

Siswa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang siswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi siswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi siswa yang baik dan berprestasi, untuk mewujudkan cita-citamu itu maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai siswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang siswa.

Siswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang siswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai siswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para siswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika para siswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Guru bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang guru, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi guru, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi guru yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi guru yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai guru yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang guru.

Guru bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang guru, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai guru. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para guru yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang guru hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Mahasiwa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang mahasiswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi mahasiswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi mahasiswa yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang mahasiswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai mahasiswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para mahasiswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang mahasiswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Dosen bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang dosen, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi dosen, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi dosen yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi dosen yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang dosen.

Dosen bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang dosen, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai dosen. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para dosen yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang dosen hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Lalu, bagaimanakah agar aku bisa selalu mewujudkan wadahku dan bisa mengisinya?

Orang tua berambut putih:
Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Karena sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadahmu tidak lain tidak bukan adalah amanah bagimu. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Tetapi jika engkau mampu mewujudkan bahwa isimu juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu yang meningkat kualitasnya. Barang siapa mampu meningkatkan kualitas wadahnya maka meningkat pula kualitas isinya, dan dengan demikian meningkat pula kualitas dan dimensi hidupnya. Namun tantangan terbesarmu adalah sejauh mana dirimu bekerjasama dengan orang lain, sejauh mana engkau masuk dan memuat jejaring, sejauh mana engkau mampu berkomunikasi, sejauh mana engkau duduk dan berperan pada jejaring yang lebih luas sehingga engkau dapat berperan dan berkontribusi untuk orang-orang banyak pada tataran aatau level yang lebih luas pula. Itulah setinggi-tinggi kualitas wadah dan isimu di dunia ini.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Terimakasih orang tua berambut putih. Kemudian kalau boleh kami masih ingin bertanya. Maka, sebagai orang tua berambut putih apakah wadah dan isimu itu?

Orang tua berambut putih:
Bagi orang-orang yang baru mengenalku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah dan tidak punya isi. Tetapi karena engkau telah lama mengenal diriku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Diriku adalah ilmumu. Diriku adalah pertanyaanmu. Tempat tinggalku adalah pada batas pengetahuanmu. Maka keberadaanku tergantung dirimu. Maka sebenar-benar tempat tinggalku adalah pada batas antara wadah dan isimu. Tugas dan fungsiku adalah menjadi saksi atas keberadaanmu. Jadi wadahku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Dan isiku tidak lain-tidak bukan adalah dirimu juga. Maka sebenar-benar diriku adalah semua wadah dan isi mu para siswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada mahasiswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada guru. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada dosen. Dan sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi bagi semua. Itulah ilmu, sekaligus wadah dan isinya bagi semuanya.

10 comments:

Shulfan Aceh S2 UGM said...

Ass.
Saya menginginkan foto-foto dan vidio pemebelajaran matematika yang pernah bapak tunjukkan ketika kuliah metodelogi pendidikan di UGM, mohon ditampilkan diblog Bapak, karena itu sangat berguna untuk mewariskan ilmu kepada guru yang lain terutama didaerah saya. dan trima kaasih

apri said...

Untuk mencapai harmoni hidup, hendaknya kita senantiasa meningkatkan wadah dan isi, wadah merupakan peran, sedangkan isi merupakan usaha dan ikhtiar untuk melaksanakannya, apabila dalam pelaksanaannya dapat memberi manfaat bagi orang lain, maka kulatitas hidup kita akan meningkat.

Apriyani
06301241048
Pend. Matematika Reguler UNY

MAYNA said...
This comment has been removed by the author.
MEINA berlianti said...

MEINA BERLIANTI(06301241054)

memang benar,terseasatlah para manusia yang hanya mengejar wadah,tetapi tidak mengisinya,dan merugilah bagi manusia yang mengejar isi tapi tak mau mengenal wadahnya. pada kenyataanya wadah dan isi adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan.ketika saya menemukan sebuah wadah disaat itu pula saya akn memikirkan isi yang seperti apa yanng akna saya isikan pada wadah ini??. tinggi rendahnya kualitas isi tergantung pada usaha kita.usaha yang keras akan menghasilkan isi yang berkualitas. isi yang berkualitas akan menghasilkan wadah yang berkualitas pula.

suatu saat wadah saya dapat mengubah isi saya.begitu pula dengan isi saya sewaktu-waktu akan mengubah wadah saya. sebagai contoh disaat wadah saya adalah sebagai seorang mahasiswa maka sikap dan perbuatan serta ikhtiar-ikhtiar yang saya lakukan tentunya akan jauh berbeda disaat wadah saya adalah sebagai seorang pelajar SMA.sehingga, wadah saya telah merubah isi saya.

begitu pula dengan usaha2 yang keras yang selama ini saya lakukan dengan belajar tekun mampu mengubah wadah saya sebagai seorang mahasiswa menjadi seorang sarjana pendidikan matematika nantinya.

itulah wadah dan isi, dua hal yang tidak bisa terpisahkan.wadah tak bisa hidup tanpa isi begitu pula isi yang tak mampu hidup tanpa wadah.

bagaiman amenurut Bapak dengan pendapat saya??
maaf,,,,jika pendapat saya belum pas.....

Nni Wahyuni said...

Berbicara tentang isi dan wadah maka kita tidak akan pernah yakin mana yang lebih dulu ada, apakah isi atau wadah. Pertanyaan ini tak akan pernah selesai, sama halnya ketika bertanya tentang mana yang lebih dulu antara ayam dan telur.

Yang jelas, wadah ada karena ada isi. Isi pun ada karena ada wadah. Tak ada gunanya wadah tanpa isi, ataupun sebaliknya isi tanpa wadah. Semua akan terasa sia-sia.

Siapapun kita dan apapun kedudukan kita maka semestinya kita memiliki wadah dan isi. Sebagai mana yang di contohkan Mr. Marsigit dlm tulisannya bahwa siswa, guru, mahasiswa dan dosen masing2 mempunyai wadah dan isi-nya.

Kalo mau mengambil benang merahnya, menurut saya dan berdasarkan tulisannya yang saya pahami, bahwa kita semua sebenarnya memiliki wadah dan isi yang sama.

Isi kita adalah bagaimana kita harus bisa Bersyukur dengan segala apa yang kita miliki, karena dengan kesyukuran itu maka akan lahirlah rasa senang dan motivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sedangkan wadah kita adalah status, kedudukan, tugas dan tanggung jawab masing2. Dan itu tentunya haruslah kita tempatkan pada tempat yang sebaiknya.

Terkait kata2 bersyukur, saya jadi ingat dengan kata-kata Mr. Mario Teguh dalam The Golden Ways-nya yang mengatakan bahwa " Bukan Bahagia yang membuat kita bersyukur tapi dengan Bersyukur membuat kita akan Bahagia ...."


NINI WAHYUNI
S2-LT UNY (CLASS A)
2009-2010

vivin riyani (lt kls a) said...

Vivin Riyani
PPS LT A (09706251017)
Elegi hamba menggapai wadah dan isi
Ass. Wadah dan isi adalah 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Wadah adalah orang yang berperan penting sedangkan isinya adalah pengetahuan, ilmu, kepribadian, potensi semua yang ada pada dirinya. Sebenar – benarnya wadah dan isi jika berguna bagi orang lain. Maka kita meningkatkan kualitas wadah dan isinya. Sebagai seorang mahasisiwa adalah wadah dan isinya adalah potensinya, kemampuannya, dan kepribadiannya kita harus meningkatkan kwalitas wadah dan isi dengan mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita, menambah ilmu agar menjadi wadah yang berkualitas mahasisiwa yang berprestasi dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Rahmah Purwahida said...

Rahmah Purwahida
LT - UNY
Kelas A

aS...
Setiap insan manusia memiliki status dan peran. Status akan melahirkan dan menuntut peran seseorang dalam kehidupannya. Peran seseorang dalam kehidupannya pun dapat menimbulkan status. Jadi status dan peran saling berkaitan, tidak terpisahkan, itulah yang diibaratkan wadah dan isi.
wadah adalah status, kedudukan, tugas dan tanggungjawab. isi adalah pelaksanaan tugas dan tanggungjawab berupa ikhtiar yang didasarai rasa syukur (karena senang dan motivasi).
seseorang dalam kehidupannya memiliki berbagai staus, kedudukan, tugas dan tanggungjawab. Hal itu menuntutnya berikhtiar dilandasi rasa syukur, rasa senang dan motivasi yang tinggi. Begitupun sebaliknya. Rasa syukur seseorang akan kehidupannya akan melahirkan ikhtiar yang dialandasi rasa senag dan motivasi yang tinggi. Hal ini akan menciptakan "satatus" dalam kehidupannya.

Dengan demikian, seseorang suddah pasti seseorang memiliki berbagai status dan peran dalam kehidupannya. Contohnya seseorang berumur 20 th dalam sebuah keluarga dianggap sebagai seorang anak karena belum menikah, ia berkuliah di UNY statusnya adalah mahasiswa, setelah pulang kuliah ia mengajar di bimbel, maka ditempat itu statusnya sebagai pengajar (guru/tentor). Sebagai seorang anak ia berikhiar untuk memnbantu pekerjaan di rumah semisal menyapu, mengepel, mencuci piring dan mendoakan kedua orang tuanya. Seabagai seorang mahasiswa ikhtiarnya adalah belajar bersungguh-sungguh, sebagai guru/tentor, ikhtiarnya mengajar dengan baik.

dalam dunia pendidikan terdapat status dan peran yang familiar bagi kita, yaitu siswa, guru, mahasiswa dan dosen. Idealnya siswa, guru, mahasiswa dan dosen dapat mengemban dan melaksanakan status dan perannya dengan baik, sebagaimana mestinya.

Seharusnya siswa, guru, mahasiswa dan dosen mementingakn wadah sekaligus isinya tanpa memandang tinggi atau pun rendah keduanya, tanpa membedakan keduanya atau mementingkan salah satunya.

Sebab waah tanpa isi adalah kosong (hampa), sedangkan isi tanpa wadah bertaburan/berserakan/berterbangan yang akhirnya juga hampa. Jadi wadah tanpa isi dan isi tanpa wadah hanyalah menghasilkan kehampaan.

Agar kita tidak menjadi seseorang yang hampa dalam kehidupan ini, marilah kita menghormati dan menyadari bahwa wadah (satatus) dan isi (peran) adalah kesatuan. Trims.

wS.

DAFID SLAMET SETIANA said...

Sebuah elegi yang memiliki makna begitu mendalam dan banyak hikmahnya pada kehidupan manusia. Pada hakekatnya semua manusia diciptakan dengan wadah dan isinya masing-masing. Yang membedakan adalah bagaimana cara manusia menjaga wadahnya dengan baik dan bagaimana mengisi wadah tersebut. Apakah dengan hal-hal positif yang dapat meningkatkan dimensi serta kualitasnya, ataukah justru diisi dengan hal-hal negatif yang sebenarnya akan mengecilkan wadah yang dimilikinya, atau bahkan menyia-nyiakan wadahnya.

DAFID SLAMET SETIANA said...

sebuah wadah hendaknya dapat mengemban tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya. Seperti hal yang diungkapkan oleh Saudara Heru Sukoco, saya sependapat bahwa jabatan atau status atau pekerjaan itulah wadah kita di dunia ini, sedangkan isinya adalah bagaimana kita menjalankan jabatan atau status atau pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang pendidik, dalam mengisi wadah hendaknya mengetahui esensinya sebagai pendidik. Pendidik harus selalu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan selalu menambah ilmu pengetahuan, meningkatkan keterampilan, prestasi dan pengalaman.

DAFID SLAMET SETIANA said...

Semakin banyak wadah yang dimiliki oleh manusia, semakin besar tanggung jawab yang diembannya. Bukan hanya perkara bagaimana mengisi wadah tersebut, tetapi juga bagaimana manusia berusaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas isinya serta menjaga batas-batas wadahnya. Sebagai contoh, manusia memiliki wadah sebagai seorang mahasiswa sekaligus pendidik. Sebagai mahasiswa, ia bertanggung jawab dalam belajar mengejar cita-citanya, dalam melaksanakan tugas yang diterimanya, dan meningkatkan pengetahuannya. Sebagai pendidik ia bertanggungjawab terhadap kualitas siswanya, sehingga ia harus selalu meningkatkan kualitas pembelajarannya, kualitas kemampuannya serta ilmunya. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mengisi wadah dengan amanah.