Tuesday, February 24, 2009

Elegi Pengakuan Orang Tua Berambut Putih

Oleh Marsigit

Kini aku merasa sudah saatnya aku berterus terang. Aku ingin berterus terang kepada semuanya. Tetapi ketahuilah tidak berterus terang bukanlah berarti bohong. Mengapa aku ingin berterus terang? Karena aku tidak tahu kapan aku berakhir, sedemikian juga seperti ketidaktahuanku kapan aku mulai. Supaya pengakuanku mempunyai bobot yang cukup baik, maka aku akan mencari saksi. Tetapi sebelum aku bertanya kepada saksi-saksi terlebih aku ingin sampaikan bahwa sebenar-benar sebenar-benar saksi tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku mengetahui segala sesuatu, tetapi jika mereka bertanya kepadaku maka dengan serta merta aku tidak mengetahuinya. Mengapa? Karena sebenar-benar diriku adalah pertanyaan mereka. Bagaimana mungkin aku mengerti tentang pertanyaanku sendiri? Maka sebodoh-bodoh orang adalah diriku ini, karena aku selalu bertanya tentang segala hal, tetapi aku selalu tidak dapat menjelaskannya. Tetapi bukankah mengerti bahwa aku tidak dapat menjawab itu pertanda bahwa tidak tidak mengerti. Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak tidak mengerti. Hendaknya jangan terkejut bahwa tidak tidak mengerti itu sebenarnya adalah mengerti pula. Maka bukanlah aku yang ingin mengatakan, tetapi mereka yang boleh mengatakan bahwa aku selalu mengerti tentang pertanyaanku itu. Bukankah di sini mereka tahu bahwa sebenar-benar diriku adalah kontradiksi, karena aku sekaligus mengerti dan tidak mengerti. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu kontradiktif. Tetapi janganlah salah paham, kontradiksi itu adalah ilmu, tempat tinggalnya ada dalam pikiranmu.

Orang tua berambut putih berjumpa Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Wahai Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, ..., bolehka aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku?

Socrates:
Wahai orang tua berambut putih. Sebenar-benar diriku adalah pertanyaanku. Maka aku akan bertanya kepada siapapun tentang segala hal yang aku sukai. Sedangkan sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Maka sebenar-benar dirimu tidak lain adalah pertanyaanku juga pertanyaanmu. Jawaban para pakar dan para ahli itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu pertanyaanmu.

Plato:
Sebenar-benar dirimu adalah pikiranku. Sebenar-benar dirimu adalah imajinasiku. Tidak aku panggil, engkau sudah ada dalam pikiranku. Maka dirimu yang absolut itulah yang selalu aku pikirkan. Semuanya tentang dirimu sudah ada dalam pikiranku. Hanya terkadang aku sulit mengenalimu. Tetapi aku sadar, bahwa banyak orang mencoba mirip-mirip dengan mu. Itulah mereka yang dapat aku lihat dan dapat aku raba. Mereka jumlahnya sangat banyak. Tetapi mereka semuanya bersifat sementara. Maka sebenar-benar dirimu adalah ide-ide ku. Tempat tinggalmu ada dalam pikiranku. Tetapi aku selalu mengkhawatirkanmu, karena dalam pikiranku selalu ada lubang gelap seperti gua. Gua-gua seperti itulah yang menyebabkan aku sulit mengenalmu. Aku juga mengkhawatirkan akan badanku, karena badanku inilah penyebab munculnya gua-gua itu. Maka sebenar-benar dirimu adalah hamba yang terlepas dari penjara badanku. Maka sebenar-benar dirimu adalah pikiranku yang berada di luar gua kegelapanku dan terbebas dari badanku. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiranku. Tetapi aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang tempat tinggalmu itu.

Aristoteles:
Aku agak berbeda dengan guruku Plato. Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah adalah pengalamanku. Maka tempat tinggalmu adalah pada pengalamanku. Begitu aku menggapai pengalamanku maka dengan serta merta muncullah dirimu itu. Maka menurutku, sebenar-benar dirimu adalah yang dapat aku lihat, aku raba, dan aku indera. Maka sebenar-benar dirimu adalah diluar diriku. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku. Maka aku tidak lain tidak bukan adalah sekaligus bukan aku. Mengapa? Karena aku mengalami kesulitan memahami engkau yang berada diluar diriku. Dan juga mengalami kesulitan bagaimana aku dapat menjelaskan kepada orang-orang bahwa engkau yang berada di luar diriku itu sebenar-benarnya adalah diriku.

George Berkely:
Menurutku, engkau adalah yang aku lihat atau aku persepsi. Jikalau engkau tidak adalah di situ, maka tidak adalah sebenar-benarnya engkau itu. Esse est percipi itulah kata-kataku. Maka sebenar-benar engkau adalah tipuanmu belaka. Engkau adalah fatamorgana. Maka sebenar-benar engkau yang adapat aku lihat adalah tipuan juga. Jadi apalah artnya sesuatu yang dapat engkau lihat itu, kecuali hanya tipuan belaka. Maka dunia ini tidak lain tidak bukan adalah tipuan belaka. Itulah sebenar-benar dirimu itu. Padahal aku tahu bahwa dirimu adalah diriku juga, maka sebenar-benar ilmu itu tidak lain tidak bukan adalah tipuan butamu.

Rene Descartes:
Menurutku, sebenar-benar dirimu adalah mimpiku. Tiadalah aku dapat menemukanmu tanpa mimpi-mimpi itu. Bagiku mimpi adalah nyata. Dan yang nyata bisa juga menjadi mimpiku. Maka sebenar-benar diriku adalah tidak dapat membedakan apakah kenyataan atau mimpiku. Namun aku selalu risau karena jika aku ingin berjumpa denganmu aku selalu dihadang makhluk hitam yang akan menyesatkanku, sehingga aku selalu salah mengertimu. Maka selalulah terjadi bahwa aku selalu meragukan keberadaanmu. Maka sebenar-benar dirimu adalah keraguanku itu sendiri. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu keraguanmu. Aku meragukan semuanya tanpa kecuali. Hanyalah ada satu yang tidak dapat aku ragukan yaitu diriku sendiri yang meragukan itu. Itulah satu-satunya kepastian bagiku. Cogito ergosum itulah kata-kataku, yaitu bahwa diriku itu ada karena aku tahu sedang meragukannya. Bukankah itu sebenar-benar dirimu. Maka sebenar-benar keberadaanku adalah diriku yang berpikir ini.

Immanuel Kant:
Menurutku engkau adalah pikiranku sekaligus pengalamanku. Tiadalah dirimu itu ada di situ tanpa pikiranku atau tanpa pengalamanku. Sedangkan tempat tinggalmu adalah di dalam intuisiku. Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua intuisi yaitu intuisi ruang dan intuisi waktu. Itulah sebenar-benar tempat tinggalmu. Tetapi untuk mengerti tentang dirimu aku harus bersifat kritis. Maka sebanar-benar dirimu adalah pikiranku yang kritis. Itulah sebenar-benar ilmu, tidak lain tidak bukan adalah pikiran kritismu. Namun ketahui pula bahwa tidaklah mudah menggapai dirimu. Ketika engkau kukejar dengan pikiran kritisku, maka engkau lari menuju keputusanmu. Itulah setinggi-tinggi tempat tinggalmu, yaitu pada keputusanku. Maka sebenar-benar ilmu tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu.

Orang tua berambut putih tidak puas dengan jawaban Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkely, Rene Descartes, dan Immanuel Kant.
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku alan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada pada jaman jauh sebelum diriku sekarang. Padahal aku belum sempat bertanya kepada orang sekarang yang berseliweran didepanku. Maka aku berjanji akan meneruskan perjalananku untuk bertanya siapa sebenarnya diriku itu?

Orang tua berambut putih bertemu Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, dan Ernest
Wahai Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, dan Ernest, ..bolehkah aku bertanya kepadamu. Menurut kesaksianmu, siapakah sebenar-benar dirimu dan sebenar-benar diriku itu?
Hegel:
Sebenar-benar dirimu adalah riwayatku. Padahal hidupku telah melampuai masa laluku, dan sedang mengalami waktu kiniku dan bersiap-siap untuk menempuh masa depanku. Itulah sebenar-benar dirimu, adalah sejarah bagimu. Maka akupun tidak lain tidak bukan adalah sejarah itu sendiri. Jadi sebenar-benar ilmu adalah sejarah dirimu. Hidupmu adalah sejarah diriku. Diriku adalah sejarah dunia ini. Maka sebenar-benar dunia adalah mensejarah. Ketahuilah bahwa tiadalah ada di dunia ini beserta wadah dan isinya yang tidak mensejarah. Make tersesatlah wahai orang-orang yang melupakan akan sejarahnya.
Brouwer:
Sebenar-benar dirimu adalah intuisiku. Namun hendaknya engkau ketahui bahwa intuisiku bersifat ganda. Maksudnya adalah jika aku memikirkanmu yang satu maka aku masih dapat mengingat engkau yang lain. Demikianlah seterusnya. Itulah sebenar-benar ilmuku. Yaitu intuisiku yang bersifat ganda.
Russell:
Sebenar-benar dirimu adalah logikaku. Hukum sebab-akibat dalam koherensi itulah sebenar-benar dirimu itu. Dirimu adalah konsistensi logikaku. Dirimu adalah kepastian pikiranku. Dirimu adalah kejelasan pikiranku. Maka sebenar-benar dirimu adalah premis-premis dan kesimpulan yang bersifat rigor. Tiadalah ada dirimu di situ jikalau engkau menyalahi hukum-hukumnya. Tetapi ternyata aku mempunyai musuh yang maha besar yang siap menerkam diriku. Yaitu ketika aku tidak bisa menjawab apakah engkau yang tidak sama dengan engkau itu termasuk anggota dari kumpulan engkau.
Wittgenstein:
Sebenar-benar dirimu adalah kata-kataku. Maka sebenar-benar ilmu itu adalah kata-kata. Kata-kata dan bahasa itulah rumahku. Maka engkau yang besar dapat aku lihat sebagai kumpulan engkau yang kecil-kecil. Engkau yang besar adalah gabungan engkau yang kecil-kecil. Demikianlah sifat kata-kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa. Maka barang siapa tidak dapat mengucapkan kata-katanya, maka dia terncam kehilangan ilmunya.
Hilbert:
Sebenar-benar dirimu adalah sistimku. Sebenar-benar dirimu adalah formalitasku. Maka sistimku yang tersusun secara formal itulah sebenar-benar engkau. Itulah engkau yang mampu menaungi semuanya tanpa kecuali. Engkau yang satu adalah tujuanku. Maka tiadalah ilmu yang lain kecuali engkau yang satu itu. Engkau yang satu itulah konsistensi dan kelengkapanmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah satu, konsisten dan lengkap. Tetapi aku bermimpi akan ada seseorang muridku yang membalikkan pikiranku ini. Tetapi entahlah.
Godel:
Sebenar-benar dirimu adalah pilihanmu. Engkau tingal memilih salah satu. Jika engkau memilih konsisten, maka tidak akan lengkapkah engkau itu. Jika engkau memilih kelengkapan, maka tidak akanlah engkau itu konsisten. Untuk itu aku berani mempertaruhkan segalanya di depan guruku Hilbert bahwa pernyataanku itu memang benar demikianlah.
Husserll:
Sebenar benar dirimu adalah hanya sebagian dari diriku. Engkau tidak akan mengerti akan dirimu jika engkau berusaha menggapai semuanya. Maka sebenar-benar ilmu adalah phenonemologi, yaitu sebagian darimu yang aku sembunyikan yang lainnya di dalam rumah epoche. Jika aku berpikir tentang satu maka aku singkirkan yang lainnya. Aku bersihkan pikiranku dari memikirkan yang lainnya. Jika aku memikirkan engkau sebagai kubus matematika, maka aku singkirkan semua sifat-sifat yang tidak aku kehendaki. Bukankah ketika aku memikirkan kubus matematika aku tidak perlu memikirkan aroma, aku tidak perlu memikirkan harga jual, aku tidak perlu memikirkan keindahan. Itu semua aku simpan dalam rumah epoche. Sedang yang aku pikirkan hanyalah ukuran dan bentuk dari kubus itu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu satu atau beberapa sifat dari dirimu yang aku pilih untuk aku pikirkan.
Ernest:
Sebenar-benar dirimu adalah pergaulanmu. Maka tiadalah dirimu itu tanpa pergaulanmu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu pergaulan itu sendiri. Maka selalu bergaullah antar sesamamu agar engkau memperoleh ilmumu. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu perolehanmu dalam pergaulanmu. Maka socio-constructivist adalah kata-kataku. Yaitu bahwa ilmumu kamu peroleh melalui pergaulanmu.
Orang tua berambut putih ternyata belum puas dengan jawaban Hegel, Brouwer, Russell, Wittgenstein, Hilbert, Godel, Husserll, dan Ernest
Ah, ngacau semua mereka itu. Jawaban mereka sesuai selera masing-masing. Maka belum puaslah diriku akan jawaban mereka semua. Tetapi aku sadar bahwa aku sedang berada perjalananku. Tetapi aku ragu apakah aku mampu memikirkan masa depanku?
Orang tua berambut putih bertemu dengan Teleologi
Wahai seseorang, siapakah dirimu itu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tetapi tidaklah begitu jelas. Rasa-rasanya aku pernah pergi bersamamu tetapi aku lupa kemana ketika itu. Rasa-rasanya aku pernah berdiskusi denganmu, tetapi aku lupa tentang apa yang kita diskusikan ketika itu.
Teleologi:
Kenalkanlah namaku adalah teleologi. Aku adalah adalah seorang pembantu. Engkau ingatlah seseorang yang bernama Immanuel Kant. Itulah sebenar-benar tuanku. Aku disuruh oleh Immanuel Kant untuk menemuimu. Mengapa? Karena Immanuel Kant mendengar pertanyaan dan kegelisahan dirimu tentang masa depanmu.
Orang tua berambut putih:
Menurut pengetahuanku, Immanuel Kant mempunyai banyak sekali pembantu. Maka tolong jelaskanlah engkau siapa sebenarnya.
Teleologi:
Aku adalah masa depan. Aku berangkat dari masa lampau. Aku adalah semuanya dalam dimensi ruang dan waktu.
Orang tua berambut putih:
Aku tidak jelas penjelasanmu itu. Tolong bicara yang agak rinci.
Teleologi:
Tiadalah sesuatu itu tidak berasal dari sesuatu yang lain. Tiadalah pula sesuatu itu tidak menjadi sesuatu yang lain. Benda sebesar bumi ini akan menjadi sebuah titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi bumi pada masa depannya. Garis sepanjang ini akan menjadi titik jika engkau melihatnya dari kejauhan. Maka sebaliknya, tidaklah engkau dapat menduga bahwa sebuah titik pun bisa menjadi garis pada masa depannya. Berdasarkan analogi tersebut maka aku mengkhawatirkanmu bahwa di masa depanmu engkau akan bisa berbentuk apa saja. Engkau bisa saja terbang seperti seekor burung jika seribu, sejuta, semilyard keturunanmu selalu menginginkan terbang dan beratih untuk terbang. Itulah sebenar-benar diriku. Itu pulalah sebenar-benar ilmuku dan juga ilmumu. Jadi sebenar-benar ilmu adalah diriku, yaitu teleologi.
Pengakuan oran tua berambut putih:
Oh begitu indah dan hebat titah-titah para filsuf itu. Itu baru sebagian kecil yang aku tanyai. Jika berkenan. dengarkanlah pengakuanku ini. Sekarang aku merasa sangat menyesal atas perbuatanku selama ini. Mengapa? Karena aku telah berlaku sombong. Aku telah merasa bisa untuk bicara tentang apa saja. Padahal semua titaf-titaf para filsuf itu semuanya adalah hebat-hebat bagi diriku. Maka aku ingin bersaksi bahwa tiadalah suatu arti bagi ilmu-ilmu jika tidak tentang pikiran para ilmuwan-ilmuwan atau para filsuf-filsuf. Sebaliknya, adalah buta pulalah ilmu-ilmu itu jikalau tidak minta kesaksian akar dan rumputnya. Maka sebenar-benar diriku adalah pikiran mereka dan kesaksian mereka.

10 comments:

Jero Budi D. (S2 - P.Mat UNY) said...

Dalam setiap pengakuan, saksi memegang peranan penting. Pernikahan, jual beli, serah terima, dan beberapa kegiatan penting selalu menghadirkan saksi. Dalam penentuan saksi, diperlukan persyaratan yang khusus, sebagaimana "Orang tua berambut putih" mengharapkan saksi maka para Filsuf (Socrates, Plato, Aristoteles, George Berkeley, Rene Descartes, dan Immanuel Kant)adalah orang-orang yang dianggap memenuhi. Dan ketidakpuasan muncul ketika para saksi merupakan orang-orang yang hidup pada jaman sebelumnya (bukan sekarang). Tetapi karena orang tua berambut putih adalah Abbadi, maka saksi-saksi yang akan memberikan jawaban atas pertanyaannya tentu berbeda untuk setiap dekade. Dan sebagai pembaca, saya akan mendapatkan jawaban baru dari artikel-artikel seperti ini.
Terima Kasih Bapak, artikel ini memberikan tambahan wawasan bagi saya.
Jero

Shulfan Aceh S2 UGM said...

Assalamu'laikum Wr. Wb
Rasa sejuk dan damai dihati ketika mengetahui hakekat sesuatu yang kita tidak tau, ditambah lagi jawaban yang sangat memuaskan dan sasaran yang tepat. Ilmu dapat menjawab berbagai pesoalan yang dihadapi manusia melalui ide pikiran yang dituangkan dalam bahasa. Saya menikmati bahasa yang dtuangkan oleh Bapak Marsigit dengan berbagai cara lewat elegi-elegi yang ada. Disini barangkali saya ingin menambahkan lewat pendekatan spritual. Lebih lengkap jika kita merenungkan siapa kita dan apa tujuan kita. Alquran menjelaskan, Kita adalah hamba Allah dan tujuannya untuk berbakti dan beribadah kepadaNya. Artinya apapun yang dikerjakan sebatas manusia sebagai hamba dan ada yang lebih tinggi yaitu pencipta hamba yaitu Allah. Kewajiban hamba berusaha yang menentukan adalah yang kuasa. saya pikir ............

sumadi said...

Dari tulisan tentang "elegi pengakuan orang tua berambut putih" oleh Bpk Marsigit saya dapat sedikit menangkap yang disampaikan yaitu:
1)orang berambut putih itu adalah orang yang setiap harinya mengabdikan diri untuk mempersiapkan hidup orang lain dalam menghadapi hidupnya.Ia akan bangga jika orang yang dipersiapkan menjadi orang yang mampu melebihi dirinya.
2) Disinilah indahnya seorang guru, dia akan selalu bertanya dan bertanya tiada hari tanpa pertanyaan yang dilontarkan baik pada orang lain (murid/mahasiswa) maupun pertanyaan pada dirinya sendiri.pertanyaan pada murid/mahasiswa merupakan alat ukur keberhasilannya. pertanyaan pada dirinya adalah cara untukmenambah tentang wawasan dirinya.
Selanjutnya mohon bagi kawan-kawan untuk dapat menuliskan tentang makna tulisan di atas, saya belum mengerti benar makna yang disampaikan oleh penulis.

fithria said...

Dalam mendapatkan ilmu terdapat kontradiksi di sana...disitulah kita akan merasa asing dan mulai mencari tahu kebenaran yang sebenarnya...Artikel ini membuat saya makin menyadari bahwa ilmu pengetahuan tak akan pernah cukup jika dicari dari satu atau dua sumber saja karena ilmu pengetahuan tak pernah habis dan mati sampai tidak ada yang menggunakannya lagi...terimakasih ya pak..

ikaindriyati.English1 said...

Assalamu'alaikum wr.wb
Thank you Mr.Marsigit,after I read yours article,I know many experience.
I know,"Just our selves who the most know about condition or potential of us.".
Ika Indriyati
08305141020
Matematika Reguler 2008

endang said...

Nama : Endang Wahyuningsih
Kelas : P.Matematika NR C '07
NIM : 07301244004


Setelah berulang kali saya membaca "Elegi Pengakuan Orang Tua Berambut Putih" ini akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa ilmu awalnya adalah pemikiran /ide-ide kreatif para ilmuwan zaman dahulu dan pada akhirnya terus berkembang sampai sekarang dan mungkin akan terus berkembang dimasa yang akan datang. Semoga saja saya tidak salah menyimpulkan. Apabila saya salah dalam menyimpulkan, saya mohon bapak Marsigit selaku penulis artikel itu menjelaskan seperti apa kesimpulan yang benar agar tidak ada kesalahpahaman bagi saya dalam memaknai sebuah karya. Namun ada hal yang ingin saya tanyakan tentang pertanyaan plato bahwa "ilmu adalah pikiran yang berada di dalam gua kegelapan". Nah, pikiran yang berada dalam gua kegelapan itu pikiran yang seperti apa? Mohon diberikan contohnya.

Dr. Marsigit M.A. said...

Endang Wahyuningsih
Mungki anda salah baca. Saya selalau berpendapat bahwa ilmu adalah sesuatu yang berada diluar kegelapan gua Plato. Sedangkan yang berada di dalam gua Plato itu adalah sebenar-benar mitosmu. Maka keluar dari gua Plato itulah sebenar-benar mencari ilmu.

Nini said...

Dalam film Spiderman, ada sebuah kata2 yang cukup menarik dari seorang Petter Paker, redaksinya lebih kurang seperti ini;" Great Power becomes great responsibility..."

Yap, semakin besar kekuatan yang kita miliki, maka tentunya akan semakin besar pula beban yang akan kita pikul. Hal ini menurut saya juga berlaku pada ilmu pengetahuan. Semakin tinggi grade ilmu seseorang maka akan semakin tinggi pulalah tangung jawabnya, dan idealnya semakin bertambahlah ketawadhu'-annya. Bukaknkah padi semakin berisi semakin merunduk?

Setiap orang memiliki filsafat terhadap ilmunya masing-masing. Begitu juga dengan para pembesar2 Filsafat seperti Socrates, Aristoteles, Plato dll yang mendefinisikan ilmu itu sesuai dengan apa yang mereka rasa, fikirkan dan lakukan. Diantaranya mengatakan ilmu pengetahuan itu adalah pertanyaan itu sendiri, pikiran, imajinasi pengalaman, persepsi, intuisi, pejalanan hidup, logika, sistem pergaulan dll.

Definisi2 itu tidak ada yang salah, semua benar. Benar menurut mereka masing-masing. Kita yang awam pun juga bisa dan berhak mendefinisikan ilmu pengetahuan sesuai dengan apa yang kita rasa, pikirkan dan lakukan. Itu juga benar. Minimal untuk diri kita pribadi.

Tentunya kita tak perlu merasa expert karena berhasil memiliki ilmu yang lebih dari yang lain dan juga tidak perlu merasa diri paling benar. Toh, jauh sebelum kita juga sudah banyak para expert yang menelurkan ilmu pengetahuan, tapi santai saja dan malah tak mau disebut expert.

Jadi sehebat apapun kita, tentunya tak lepas dari jasa2 para pendahulu kita. Bahkan mungkin ilmu yang kita lahirkan sekarang ini terisnpirsi dari kehebatan2 ilmu pengetahuan mereka.

So keep learning!
Menjadi manusia berilmu pengetahuan itu indah, lebih indah lagi jika kita bisa membaginya ke orang lain.

" Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain."

Wallahualan bi showab.

NINI WAHYUNI
S2-LT UNY (CLASS A)
2009-2010

Siti Salamah Graduate Student LT/A said...

"sebenar-benar diriku adalh kontradiksi" adanya pemikiran2 filusuf: Plato, Aristoteles, Imanuel Kant dll. Dengan berbagai perbedaan penafsiran dan sudut pandang yang ada, adalah ilmu itu sendiri. Memberi batas dengan pengakuan pada salah satu filusuf karena kita menganggap pendapatnyalah yang paling sesuai, mungkin bisa jadi kita sedang mereduksi sebuah ilmu.
bisa jadi dengan memberi pengakuan terhadap semua pemikir filusuf itulah sebenar-benarnya jalan menggapai ilmu.
sebagai wujud atau bentuk ikhtiar kita itulah maka lantunan doa2 yang kita panjatkan adalah jembatan untuk menggapai ilmu. sehingga bentuk terakhir dari perjalanan mencari ilmu adalah ketawakalan kita, kepasrahan kita untuk dapat menggapai cahaya hidayahNya....

vivin riyani (lt kls a) said...

Vivin Riyani
PPS LT A (09706251017)
Elegi pengakuan orang tua berambut putih
Ass. Menurut saya sebenar benar ilmu adlah apa yang ada didalam diriku,otakku dan fikiranku.dan sebenar benar ilmu yang aku dapat adalah dari pergaulanku, sesungguhnya kebenaran itu ada karena ada kesalahan, tanpa ada kesalahan tidak ada kebenaran. Sedangkan untuk mencari kebenaran tidak berarti menghindari yang salah. Tanpa pergaulan aku tidak akan mendapat ilmu. Pergaulan adalah salah satu cara orang untuk bersosialisasi saling share, mentransfer ilmu yang telah didapat sehingga berguna bagi orang lain.sebenar-benar ilmu adalah bermanfaat bagi orang lain