Friday, February 13, 2009

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan

Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:
Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia. Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:
Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:
Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:
Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:
Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:
Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:
Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:
Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:
Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:
Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

10 comments:

isti said...

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan ini mengingatkan kita untuk selalu selalu berpikir dan menggunakan pengetahuan kita sebelum mengambil suatu keputusan. Dalam mengambil suatu keputusan, janganlah ada prasangka buruk. Karena kalau ada prasangka buruk, kita tidak akan mengambil keputusan dengan tepat.

Oleh: Isti Hardiyanti K
Pend. Matematika Reg 2006
06301241046

luthfiana said...
This comment has been removed by the author.
luthfiana said...

Hendaknya kita menggunakan pengetahuan dan fikiran yang jernih dalam mengambil suatu keputusan. Janganlah kita merasa cukup atas pengetahuan yang kita peroleh, karena sesungguhnya masih banyak pengetahuan yang lebih dari itu. Semakin banyak pengetahuan yang kita dapatkan, diharapkan kita bisa lebih tepat dalam mengambil keputusan.

Oleh:
Nama: Luthfiana Fatmawati
NIM : 06301241028
Kelas: Pend. Matematika Reg 2006

narita said...

if we want to learn something, we must get information from outside parties, or to see direct knowledge learned, and we should be able to remove the fear in learning the knowledge

narita said...

If we want to learn something, we must get information from outside parties, or to see direct knowledge learned, and we should be able to remove the fear in learning the knowledge.

oleh: Narita Yuri A.
Matematika Reg 2008
08305141013

meina said...

(MEINA BERLIANTI)
Salam....

"Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan"

Begitu saya membaca judul ini saya langsung tertarik untuk membacanya lebih lanjut,bukan hanya sekedar membaca judulnya saja tapi juga isi atau makna dari tulisan Bapak yang satu ini.
pada dasarnya saya termasuk salah satu orang yang sangat sulit mengambil keputusan,entah masalah apa saja seperti ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah saya di UNY,atau bahwa masalah sepele sekali pun.Setelah membaca tulisan Bapak,saya tersenyum geli karena saya jadi tahu ternyata yang membuat saya sulit mengambil keputusan sealma ini adalah "Prasangka Buruk". Prasangka buruk saya terhadap keputusan yang akan saya ambil begitu kuatnya hingga membuat saya bingung dan cemas.
Tapi Pak,,,bukankah berprasangka buruk terhadap suatu keputusan yang akan kita ambil itu wajar??? karena bagaimanapun juga ketika kita berprasangka buruk artinya kita sedang mimikirkan betul-betul efek dari keputusan kita. Bagaimana menurut Bapak?


Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari prasangka buruk itu Pak??



Terimakasih banyak Pak....

Wasalam...

Dr. Marsigit, M.A said...

Sdri Meina Berlianti
Good, anda telah melampaui pemikiran elegi hamba menggapai keputusan. Hendaknya anda bedakan antara berprasangka buruk dengan meragukan sesuatu. Berprasangka buruk itu telah masuk ke dalam ruang gelap musuh pengetahuan. Sedangkan meragukan sesuatu itu masih dipersimpangan jalan. Jadi sebenar-benar ilmu jika anda mempunyai kesempatan untuk meragukannya. Namun hendaknya upayakan agar engkau dapat menemukan kepastian dari keraguan itu. Itulah seorang Rene Descartes, yang menemukan bahwa satu-satunya kepastian adalah dirinya yang meragukan itu. Namun dirinya yang pasti ternyata tidak mampu menjawab semua persoalan. Maka kepastian berikutnya adalah dirinya itulah pasti sebagai maklhuk yang tidak sempurna. Karena menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, maka Rene Descartes menemukan bahwa ada yang sumpurna, tidak lain tidak bukan adalah Tuhan.

endang said...

Nama : Endang Wahyuningsih
NIM : 07301244004
Kelas : Pend. Matematika NR C '07


Elegi Seorang Hamba Mencapai Keputusan ini benar-benar telah mengingatkan saya supaya tidak berburuk sangka kepada setiap orang yang mungkin baru saja dikenal.Terkadang tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan menilai seseorang sesuai dengan tampilan awalnya atau hanya dari sedikit keterangan/cerita dari orang di sekitar kita tanpa mengkaji lebih dalam bagaimana sebenarnya sifat orang yang sedang kita hadapi tersebut. Seperti kasus adik angkatan saya. Sebut saja ia si A. Ia menyesal mengikuti sebuah organisasi hanya karena di sana ada beberapa orang(sekitar 5-6 orang)yang tidak disukai. Padahal Si A belum mengenal teman-teman satu organisasinya itu, terbukti ketika saya tanya siapa yang tidak disukainya, ia menjawab " Saya tidak tahu mereka siapa,yang jelas mereka seangkatan dengan saya." Memang mereka selalu berkelompok, dan kalau sudah berkumpul dengan kelompoknya, mereka sering rame, asyik dengan kelompoknya sendiri. Mungkin agak tidak cocok dengan kepribadian si A yang agak sedikit pendiam. Saya hanya bisa berkata bahwa kasus seperti itu sudah biasa dalam sebuah organisasi. Dalam organisasi akan ada banyak orang dengan berbagai macam karakter. Nah tugas kita di sana adalah bagaimana dengan berbagai macam karakter orang di dalam organisasi, kita mampu membaur dengan mereka dan bisa bersama-sama menggapai tujuan yang sama. Seperti semboyan negera kita Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda suku, agama, bahasa tapi kita tetap mempunyai satu tujuan. Saya menasihati supaya berusaha lebih mengenal saja, karena bisa jadi setelah kita benar-benar mengenalnya kelak justru mereka bisa menjadi sahabat dekat, tapi si A malah berkata "Semakin saya berusaha mengenalnya, justru semakin berprasangka buruk kepada mereka". Yang akan saya tanyakan, bagaimana meyakinkan diri sendiri untuk kembali berpikir positif ketika hati/pikiran sudah terlanjur memutuskan bahwa seseorang di mata kita buruk? Karena seperti kasus adik angkatan saya tadi, semakin kita berusaha untuk lebih mengenal, justru semakin berpikiran negatif kepada orang tersebut.

Dr. Marsigit, M.A said...

Endang Wahyuningsih
Selamat anda telah berusaha menggapai Elegi Seorang Hamba Mencapai Keputusan. Itulah usaha anda menterjemahkan diri anda dan sekitar anda. Tetapi anda pun harus siap dan ikhlas diterjemahkan. Menterjemahkan adalah mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan, sedangkan diterjemahkan adalah selalu mencari ilmu yang bermanfaat. Filsafat dan pikiran anda itu hanya sebatas pikiran atau referensi. Jika anda bermaksud pikiran-pikiran anda menjadi operasional dan funsional, maka itu telah berubah menjadi ilmu bidang atau ilmu cabang misalnya psikologi, pendidikan, dst.
Selamat atas usaha anda.

Siti Salamah Graduate Student LT/A said...

Bapak,,, seringkali saya sulit membedakan antara prasangka dan firasat.
Karena saya sering mengalami hal bahwa apa yang tersirat dalam hati kesimpulanya seringkali benar. Misalnya saat perasaan saya begitu kuat bahwa orang yang berbicara pada saya tidaklah benar atau sedang membual. lalu dengan sendirinya saya merasa a priori dengan apa yang ia sampaiakan. kejadian ini seringkali terjadi bahwa apa yang tersirat dalam hati kesimpulanya adalah sama (benar). di sinilah lalu seringkali sulit membedakan mana itu firasat dan mana itu prasangka.
dari pengalaman ini pernah saya mencoba mengingat-ingat tentang kondisi saya waktu itu. Bahwa datangnya firasat adalah ketika hati saya dan kedekatan saya denganNya begitu kuat. maka nugerah firasat (kebenaran) saya dapat. Namun jika kondisi hati saya sedang jauh dariNya yang datang hanyalah prasangka.
Huwallahu'alam..
terima kasih Bapak...
saya tidak tahu apa ini..