Sunday, April 5, 2009

Elegi Menggapai Reduksi

Oleh Marsigit

Obyek pikir:
Wahai reduksi, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?

Reduksi:
Aku saat ini memikirkanmu sebagai lengkap. Tetapi aku dapat tidak memeikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu.

Kubus:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku kubus belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai kubus, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memeikirkan dirimu itu sebagai bentuk dan ukurannya saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Bola:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku bola belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai bola, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu sebagai bentuk dan ukurannya saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Guru matematika:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku guru matematika belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?


Reduksi:
Wahai guru matematika, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai guru matematika dan pembelajaran matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganmu dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Mahasiswa:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku mahasiswa belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai mahasiswa, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai mahasiswa maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi belajarmu dan hubunganmu dengan tugas-tugasmu sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswamu. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Bilangan:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku bilangan belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai bilangan, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu sebagai nilai saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Dosen:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku dosen belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai dosen, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai pendidik maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi mengajarmu dan hubunganmu dengan tugas-tugasmu sebagai dosen dan dunia dosenmu. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Diskusi:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku diskusi belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai diskusi, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dst.
Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu bagaimana berdiskusi yang baik maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi diskusi yang baik. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Berdoa:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku berdoa belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?

Reduksi:
Wahai berdoa, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dst.
Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu bagaimana berdoa yang baik maka aku hanya memikirkan tentang Tuhan. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.

Semua obyek pikir bertanya kepada reduksi:
Wahai reduksi, kenapa jawabanmu engkau ulang-ulang saja? Siapakah sebenarnya dirimu itu?

Orang tua berambut putih:
Wahai semua obyek pikir, sebenar-benar reduksi adalah metode berpikir. Ketahuilah bahwa reduksi itu sejalan dengan penyederhanaan, dia juga sejalan dengan abstraksi. Itulah reduksi yaitu metode berpikir dimana hanya mengambil bagian tertentu saja sesuai dengan peruntukan berpikirnya. Dia ibarat pisau tajam bersisi dua. Tiadalah orang dapat meninggalkannya, tetapi jika salah menggunakannya maka bisa berbahaya pula. Ketahuilah bahwa tiada mudah mengalaminya bagi sifat-sifat yang terpaksa dihilangkan.

16 comments:

Tegar Ganteng said...

maaf pak saya merepotkan lagi....

kalau boleh saya menganalogkan dalam berteman/berkenalan dengan sispapun, saya hanya harus melihat hal-hal positifnya saja pak? dengan kata lain harrus mereduksi hal-hal/ sifat-sifat negatif lainnya?

terima kasih atas perhatiannya pak...

Iwan Tegar Mandiri
06301244003

dewiervianita_philosphy said...

pak,saya ingin bertanya apakah dalam memandang segala sesuatu selalu melibatkan reduksi?lalu adakah batasan reduksi itu sendiri?

terima kasih pak...
Dewi Ervianita
07301244045
P.Mat R 06

c@sEy_05301244102 said...

Apapun obyek pikir kita kalau kita memikirkannya secara lengkap berarti kita sedang memikirkan semua sifat-sifatnya dan sebenar-benar sifatnya itu adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Namun jika kita memikirkan sebagian atau satu saja dari sifatnya berarti kita harus mereduksi sifat-sifat yang lainnya.
Seperti contoh dalm berdoa kita haruslah khusyuk dan tawadu' kepada Tuhan. Dengan berserah diri kepada-Nya, menghilangkan semua pikiran-pikiran tentang dunia atau masalah-masalah yang sedang dihadapi.
Betul Pak....

_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana Dewanti_...demikianlah amien.

Dr. Marsigit M.A. said...

Devi Ervianita...hubungan manusia itu jika direduksi maka yang tersisa adalah kasih sayang. Suami isteri itu jika direduksi maka yang tersisa adalah cinta. Semua manusia jika direduksi adalah ciptaan Tuhan. Seorang bayi yang baru lahir mendefinisikan ibunya sebagai ASI. Itulah reduksi. Maka dengan menggunakan reduksi, aku dapat mendefinisikan diriku sebagai apapun terserah diriku. Aku adalah ilmuku. Aku adalah pertanyaanku. Aku adalah ibadahku. Dsb. Itu semua adalah reduksi. Amien

Dr. Marsigit M.A. said...

Iwan Tegar Mandiri... tetapi jika suatu ketika engka menemukan temanmu, yang karena suatu apa engkau kemudian menyimpulkan bahwa temanmu itu tidak baik. Itu pun reduksi.

c@sEy_05301244102 said...

Pak apakah usaha/ kerja keras saya dalam usaha itu jika direduksi maka yang tersisa adalah uang dan uang...??
terima kasih.

_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana Dewanti...itulah hati, pikiran hidupmu. Sebenar-benar reduksi itu tergantung subyeknya. Reduksi hanyalah sebuah metode berpikir. Maka engkau dapat mengarahkannya sesuka hatimu, kebajikanmu, kemaslahatanmu dan tujuan-tujuan hidupmu. Demikian juga orang lain. Dirimu itulah bermacam-macam bentuknya dalam ruang dan waktu. Demikian juga orang lain. Sedangkan engkau dengan orang lain perbedaannya itu pun bisa seluas bumi dan langit. Maka renungkanlah. Semoga sukses. Amien.

JK said...

waduh pak...

aquh bingung jadi na...

aquh sapa yach...

kemana harus bertanya...

reduksi dmn?

Dr. Marsigit, M.A said...

Selamat saya ucapkan kepada Bapak JSuwarno yang telah membaca elegi menggapai reduksi. Sementara saya mengenal bapak hanya dari lima baris kalimat yang bapak postingkan sebagai koment. Maka pengetahuan saya tentang bapak hanyalah lima baris itu. Maka aku hanya dapat mendefinisikan bapak dari lima baris itu. Itulah reduksi. Terimakasih.

Irnawati said...

mungkinkah hidupku juga merupakan hasil dari reduksi-reduksi yang aku lakukan?

Dr. Marsigit, M.A said...

Irnawati, ...itulah hebatnya filsafat. Itu pulalah hebatnya refleksi. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang saja, termasuk engkau. Amien. Maka sebenar-benar hidupmu adalah reduksimu. Sebenar-benar hidupku adalah reduksiku. Tetapi filsafat dengan refleksinya telah memberikan warning kepada kita, bahwa apapun reduksi yang kita temukan terhadap diri kita maupun dunia pada umumnya, itulah merupakan puncaknya gunung es. Padahal engkau tahu bahwa sebenar-benar ilmumu adalah bagaimana engkau menyelami dasar dari gunung es itu. Itulah sebenar-benar hidup yang lebih benar lagi. Selamat dan Amien.

harist fadilah 'mellowsick' said...

reduksi mengurangi segala sesuatu yang kurang berguna tau tidak berguna sema sekali untuk kemudian menjadikannya sesuatu yang baru.Demikian juga dengan diri kita,dengan hidup kita.Sudahkan kita mereduksi diri kita sendiri?Dari awal akhil balig sampai saat ini
mungkin secara tidak langsung ataupun langsung hidup kita juga merupakan hasil dari reduksi-reduksi yang kita lakukan dengan kemampuan pola pikir kita yang semakin berkembang

Dr. Marsigit, M.A said...

Untuk Haris Fadilah dan yang lain, ...setiap kata yang engkau ucapkan adalah reduksi. Kenapa engkau memilih satu katamu yang satu itu sebagai yang engkau ucapkan pertama kali? Padahal engkau tahu di sekitarmu terdapat bermilyar-milyar kata, apakah mereka itu tidak merasa iri hati? Mereka berhak mengatakan bahwa engkau tidak adil dalam memilih kata-kata. Padahal engkau akan mengucapkan kata-katamu yang kedua, ketiga, dst. Itulah sebenar-benar reduksi. Maka dapat aku katakan bahwa hidup adalah reduksi. Tetapi Elegi Menggapai Lengkap adalah pemberontakan terhadap ketidak adilanmu. Maka bacalah dan renungkanlah.
Tidak hanya setiap katamu yang reduksi. Bahkan setiap pandanganmu itu juga reduksi. Sekarang pandanglah di sekitarmu. Kenapa engkau pada suatu saat memandang suatu obyek tertentu. Bukankah engkau tahu bahwa di sekelilingmu terdapat bermilyar-milyar obyek. Maka obyek yang lain berhak mengatakan bahwa engkau tidak adil. Demikian juga pikiranmu. Pikirkanlah obyek-obyek. Kenapa pada suatu saat engkau memikirkan obyek tertentu. Bukankah engkau tahu bahwa di sekelilingmu terdapat bermilyar-milyar obyek. Maka obyek yang lain berhak mengatakan bahwa engkau tidak adil. Demikian juga gerakkanmu. Coba bergeraklah sesuka hatimu. Bukankah engkau tahu bahwa engkau mampu melakukan gerakan beraneka ragam. Kenapa pada suatu saat engkau melakukan gerakan tertentu? Maka gerakanmu yang lain berhak mengatakan bahwa engkau tidak adil. Maka Elegi Menggapai Lengkap adalah pemberontakan terhadap ketidak adilanmu. Maka bacalah dan renungkanlah.

ARIF MU'NANDA'R said...

Stuju. Mungkin memang selamanya kita hanya bisa mereduksi obyek kita. Adil ato tdk, itulah knyataan bhw tak mungkin kt mendiskrpskan obyek dg sgala ciriny. Itu kita sadari sbg ketrbatsn n kelemahn kita sebagai manusia.\
Arif munandar

Dr. Marsigit M.A. said...

Arif Munandar, ...tugas filsafat adalah merefleksikan segala yang ada dan yang mungkin ada. Kesadaranmu tentang adanya reduksi itulah sebagai hasil berfilsafatmu. Demikian juga kesadaran tentang menggapai lengkap. Maka renungkanlah.