Saturday, April 4, 2009

Elegi Menggapai Sepi

Oleh Marsigit

Ramai:
Aku adalah suaraku. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Maka ketika aku suaraku itu dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suaraku itu. Di dalam kesepian aku telah menemukan ramai luar biasa.
Wahai sepi, aku ingin bertanya benarkan semua pengakuan-pengakuan itu?
Apakah ramaiku itu sepi?
Apakah perbedaan ramai dan sepi?
Bagaimanakah menggapai sepi itu?

Sepi:
Wahai suara, menurut kesaksianku, tiadalah engkau mampu menggapai sepi jikalau engkau masih mengaku-aku dirimu itu. Sekali saja engkau membuat pengakuanmu, maka setidaknya sekali itu pula dirimu telah membuat tidak sepi. Itu artinya engkau tidak akan pernah bisa menggapai sebenar-benar sepi.

Ramai:
Contoh konkritnya bagaimana?

Sepi:
Ulangi saja ucapanmu tadi, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba.
Adalah suara. Diucapkan dengan sepenuh daya. Tiadalah orang di luar diri mendengar suara, karena bibir ditutup. Mulut juga ditutup. Leher juga ditutup. Tidak menggunakan hanya hati yang satu. Tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tidak hanya menggunakan seluruh tubuh sebagai hati. Tetapi juga menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiran sebagai hati. Anehnya mulai terdengar suara di dalam telinga. Juga mulai terdengar suara di dalam mulut. Juga mulai terdengar suara di leher. Juga mulai terdengar suara di hati yang satu. Juga mulai terdengar suara di hati yang tiga. Suara tidak hanya terdengar di seluruh tubuh. Tetapi terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Jika disebut seluruh lingkungan sampai batas pikiran adalah hati maka suara terdengar di semua hati. Suara terdengar di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran.
Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Aku agak merasakan bedanya. Setidaknya aku merasa telah kehilangan keakuanku.

Sepi:
Ulangi lagi saja ucapanmu bagian akhir, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba:
"Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa"

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Wahai sepi. Ampunilah diriku. Aku telah merasakan bedanya yang luar biasa. Aku telah merasakan diriku itu tiada daya dan upaya. Maka aku tidak tahu dari manakah suara itu. Aku terasa sangat lemah. Aku tidak mampu berpikir bahkan aku hampir lupa siapa diriku itu. Tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Tubuhku mulai terasa bergemetar.

Sepi:
Wahai ramai, mengapa masih saja engkau ucapkan dirimu itu? Maka jika engkau masih saja ucapkan dirimu itu, maka sepi itu tidaklah akan datang menghampiri dirimu. Maka ulangilah ucapanmu yang terakhir, tetapi janganlah ucapkan dirimu itu.

Ramai:
"Ampunilah. Telah terasa bedanya yang luar biasa. Telah dirasakan diri itu tiada daya dan upaya. Maka tidaklah diketahui dari manakah suara itu. Terasa sangat lemah. Tidak mampu berpikir bahkan hampir lupa siapa diri itu. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi. Tubuh mulai bergemetar"

Sepi:
Wahai ramai. Sia-sialah dirimu itu. Mengapa tidak engkau gunakan kata-katamu itu untuk sebenar-benar berdoa? Sebenar-benar sepi ialah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku.

Ramai:
Wahai sepi, ampunilah diriku. Oh maaf ampunilah diri. Aku ingin menangis. Oh maaf ingin menangis.

Sepi:
Wahai ramai, sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sebenar-benar sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku. Tangisanmu itulah kecerdasan hatimu. Maka marilah kita berdoa kepada Tuhan.

Sepi dan Ramai bersama-sama berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien

16 comments:

harist fadilah 'mellowsick' said...

sepi dan ramai dua hal yang sangat bertentangan.Akan tetapi bisa saja hati kita merasakan kesepian meski berada di tengah2 pasar.Atau sebaliknya di dalam doa kita dalam suasana sepi kita merasa sangat ramai.asumsi saya ramai dan sepi ada di dalam hati kita masing2.Apakah asumsi saya ini bisa di benarkan saya mohon penjelasan dari Pak mARsigit.Terimakasih

Dr. Marsigit M.A. said...

Haris Fadilah, coba pahamilah elegi ini dengan hatimu. Niscaya hasilnya lain.

Fithria Aisyah R_Math.06 said...

Sepi dan ramai memang merupakan dua hal yang berbeda akan tetapi ada yang mengatakan " Dalam keramaian aku merasa sepi "....Apakah itu berarti bahwa sepi dan ramai bisa juga terjadi secara bersamaan dalam konteks yang lain??

Pak, dalam elegi bapak saya merasa batas antara sepi dan ramai adalah ketika kita dapat menghilangkan " keakuan " dalam diri... apakah itu berarti sepi dapat digapai ketika kita berusaha menghilangkan "keakuan" yang merupakan simbol kesombongan dalam diri??

Dalam kenyataannya saya sering merasa sepi ketika tidak ada yang memperhatikan ,tidak ada yang merespon, hidup serasa sepi ketika hanya seorang diri apalagi ketika kita belum sempat menghadap kepada-Nya dalam Do'a.......

Dr. Marsigit, M.A said...

Fithria Aisyah, teruskanlah pahami elegi ini dengan hatimu, niscaya hasilnya akan lebih. Amien

dewiervianita_philosphy said...

saya ingin bertanya kepada Bapak apakah ketenangan batin hanya didapat di tempat sepi?Kita tahu bahwa dalam berdoa kita perlu sebuah ketenangan.
Terima kasih Bapak...

Dewi Ervianita
07301244045
P.Mat R 06

c@sEy_05301244102 said...

"Sepi"............
Sebenar-benar sepi adalah doa-doa tanpa keakuan/ pengakuan,
baik diriku maupun dirimu,
sebenar-benar pengakuan itu adalah tak berarti di hadapan Tuhan,
sepi atau doa yang berari adalah doa di mana doa yang sebenar-benar kita lakukan dengan khusuk dan ikhlas,
berserah diri kepada-Nya,
untuk menggapai rakhmat,hidayah dan ampunan-Nya....
Amiiin.
Bagaimana pak??

_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana Dewanti..Amien ya robbul alamin

Dr. Marsigit M.A. said...

Dewi Ervianita ...sayangnya memang elegi ini tidak cukup hanya dipahami dengan pikiran saja. Coba dalamilah elegi ini dengan hatimu. Niscaya engkau akan mendapat lebih. Amien.

c@sEy_05301244102 said...

Untuk memahami elegi ini tidaklah cukup hanya dipahami dengan pikiran akan tetapi juga dengan hati.
Berarti sebenar-benar sepi dan ramai itu yang benar-benar bisa merasakan adalah hati dan hati kita...?

_Kesi Rusdiana Dewanti_

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana Dewanti, ...aku masih melihat hatimu belum optimal dalam memahami elegi ini. Maka ulangilah bersuara tanpa keakuanmu. Ulangi dan ulangilah. Padahal engkau tahu setinggi-tinggi suaramu itu adalah memanggil nama Tuhan mu. Maka panggillah nama Tuhan mu tanpa keakuanmu. Ulangi dan ulangilah. Niscaya hatimu akan menjemputmu. Semoga kecerdasan menyertai hatimu. Amien.

ARIF MU'NANDA'R said...

sepi dan ramai memang dua keadaan yang berbeda...
mungkin,orang yang beruntung itulah yang dapat merasakan keramaian yang muncul dari dirinya yang bersambut pada lingkungan sekelilingnya. Lebih beruntung lagi jika dapat melaksanakan secara kontinu.(sekalilagi mungkin). akan tetapi, bukankah selama aku masih merasa bisa mendekat kepada Tuhan, maka aku masih belum mengakui kefanaanku?

ERVINTA said...
This comment has been removed by the author.
ERVINTA said...

assalamualaikum..

Pak sepi di sini bukan secara harafiah sama halnya yang sering dibahasakan orang maupun diriku... sepi disini adalah keheningan, doa tanpa diiringi keakuan yang hanya saja menunjukkan kesombongan kita semata. Sejatinya pengakuan itu tidak berarti dihadapan Tuhan. Sepi disini perlu didalami dan dipahami, susah diungkapkan karena sepi ini adalah doa, permohonan, upaya menggapai kekhusyukan namun tak sanggup di utarakan maupun bahasakan.

Sesunguhnya dirikupun bingung dan yakin bahwa sebenarnya bapak sudah berupaya menyampaikan kepada kami, namun keterbatasan kami pulalah yang masih menjadikan kami bimbang memahami elegi ini. Namun seyogyanya kita tidak terbelenggu dalam kebimbangan, mungkin untuk memahaminya selain meminta penjelasan simplenya dari bapak, juga perlu waktu untuk merenung sejenak keluar dari pikiran dan kebimbangan diri, namun lebih menggunakan hati nurani...
terimakasih.

Dr. Marsigit, M.A said...

Ervinta..maka lantunkan.. lantunkan.. lantunkan.. doa-doamu itu tanpa keakuanmu. Ulangi.. ulangi dan ulangi.. dan hayatilah dengan hatimu dan jangan pikirkan dengan pikiranmu. Lantunkan doamu dengan segenap jiwa ragamu. Maka sesunguh-sungguh hidup adalah doa-doa. Amien

Nina Agustyaningrum said...

Maaf pak,bagaimanakah sesungguhnya yang dimaksud dengan berdo'a tanpa keakuan kita dan bagaimana agar kita dapat melakukannya?

Saya pernah mendengar bahwa jika kita mampu berdo'a hingga menangis betul-betul karena hati kita memohon ampunan kepadaNya maka itulah kekhusyukan kita.Namun mengapa sulit sekali untuk dapat melakukannya?ketika sholat atau berdo'a masih saja saya tidak bisa benar - benar melupakan segala urusan duniawi saya padahal saya sangat ingin untuk dapat mencapai apa yang dinamakan dengan khusyuk..

terimakasih pak..

Dr. Marsigit, M.A said...

Nina Agustyaningrum...saya pernah menangis karena tertawa. Maka apakah hakekat menangis itu? Ketahuilah bahwa untuk urusan dunia dan akhirat itu ada gurunya masing-masing.