Wednesday, April 22, 2009

Elegi Pemberontakan Patung Filsafat

Oleh Marsigit

Pengikut Patung Filsafat:
Wahai logos, ketahuilah bahwa kami semua adalah pengikut Patung Filsafat. Kami itu meliputi pengikut contoh, pengikut tokoh, pengikut ide, pengikut slogan,pengikut nasehat, pengikut bijaksana, pengikut disiplin, pengikut pembimbing, pengikut pemimpin, pengikut informasi, pengikut dermawan, pengikut kebaikkan, pengikut keamanan, pengikut koordinator, pengikut administrator, pengikut ketua, pengikut sekretaris, pengikut peraturan, pengikut sahabat, pengikut editor, pengikut fasilitator, pengikut guru, pengikut dosen, pengikut mahasiswa, pengikut jabatan, pengikut profesi, pengikut dedikasi, pengikut senior, pengikut pakar, pengikut pengalaman, pengikut orang tua, pengikut piagam, pengikut sertifikat, pengikut suami, pengikut lurah, pengikut ganteng, pengikut polisi, pengikut moral, pengikut etika, pengikut semua yang ada dan yang mungkin ada.
Ketahuilah bahwa kami semua merasa sangat terganggu dan tersinggung oleh ucapan dan tuduhanmu mengenai patung-patung filsafat. Tuduhanmu bahwa kami adalah patung-patung filsafat, sungguh sangat aneh dan asing bagi kami. Maka kami semua akan menuntut kepada engkau. Kami menyatakan dengan ini pemberontakan terhadap dirimu. Hanya ada satu hal saja yang dapat membatalkan rencana kami itu, yaitu bahwa engkau harus dapat menjelaskan mengapa kami itu engkau sebut sebagai patung filsafat?

Logos:
Wahai semua pengikut patung filsafat, kami hanya berusaha mengungkap fakta yang sebenarnya. Aku menyadari tiadalah mudah bagi engkau semua untuk menerima fakta tentang dirimu masing-masing. Tetapi jikalau engkau semua mendesak diriku untuk menjelaskan mengapa engkau semua aku sebut sebagai patung filsafat, maka ada 2 (dua) macam cara. Pertama, penjelasan khusus. Kedua, penjelasan umum.

Pengikut Patung Filsafat:
Apakah yang engkau maksud dengan penjelasan khusus?

Logos:
Karena penjelasan khusus, maka hanya bisa diambil kasus per kasus. Maka kemarilah diantara engkau itu, agar aku bisa menjelaskan satu per satu secara terbatas.

Patung Guru:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal aku adalah guru. Ketahuilah bahwa guru adalah digugu dan ditiru. Aku punya tugas mulia yaitu mendidik dan mencerdaskan siswa?

Logos:
Baiklah, wahai patung guru. Apakah engkau pernah melihat seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru? Apakah engkau pernah melihat seorang guru melakukan tindakan tidak terpuji. Maka mereka itu sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan datang kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung guru, menjadi logos guru.

Patung Sertifikat:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal sertifikat ini aku peroleh dengan susah payah. Ketahuilah bahwa aku telah mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk memperoleh sertifikat ini.

Logos:
Baiklah, wahai patung sertifikat. Apakah engkau pernah melihat seseorang menyalah gunakan sertifikat? Apakah engkau pernah melihat seseorang bersikap tidak sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya? Apakah engkau pernah melihat seseorang mencari sertifikat dengan menggunakan cara yang tidak benar? Mereka itulah sebenar-benar patung sertifikat. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan menunjukkan penyesalanmu serta datang untuk protes kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung sertifikat menjadi logos sertifikat.

Pengikut Patung Filsafat:
Cukup, lalu apakah yang engkau maksud dengan penjelasan umum?

Logos:
Penjelasan umum dari diriku menyatakan bahwa tidaklah hanya dirimu semua, tetapi adalah bagi semua yang ada dan yang mungkin ada, itu bisa terkena hukumnya menjadi patung filsafat. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatmu. Maka ketika engkau semua datang berbondong-bondong mendatangiku, itu suatu bukti bahwa engkau tidak dalam keadaan berhenti. Pada mulanya aku melihat dirimu semua nun jauh di sana dalam keadaan berhenti. Engkau semua kelihatan sangat menikmati keadaanmu dalam keadaan berhenti itu. Itulah sebenar-benar patung-patung filsafat yang aku saksikan. Tetapi ketika engkau mendengar pernyataanku tentang dirimu sebagai patung filsafat, aku kemudian melihat bahwa dirimu semua menggeliat bergerak menuju ke mari mendatangi diriku untuk melakukan protes dan pemberontakan. Maka seketika itulah aku melihat bahwa semua patung-patung filsafatmu itu telah lenyap. Aku telah menyaksikan dirimu semua telah berubah menjadi diriku, yaitu menjadi logos. Ketika engkau sedang menempuh perjalananmu menuju ke mari itulah engkau semua dalam keadaan bergerak. Itulah sebenar-benar logos, yaitu keadaan bergerak.
Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua. Aku ucapkan selamat wahai para logos: logos contoh, logos tokoh, logos ide, logos slogan,logos nasehat, logos bijaksana, logos disiplin, logos pembimbing, logos pemimpin, logos informasi, logos dermawan, logos kebaikkan, logos keamanan, logos koordinator, logos administrator, logos ketua, logos sekretaris, logos peraturan, logos sahabat, logos editor, logos fasilitator, logos guru, logos dosen, logos mahasiswa, logos jabatan, logos profesi, logos dedikasi, logos senior, logos pakar, logos pengalaman, logos orang tua, logos piagam, logos sertifikat, logos suami, logos lurah, logos ganteng, logos polisi, logos moral, logos etika, logos semua yang ada dan yang mungkin ada.

Orang tua berambut putih:
Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu. Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua sebagai logos yang bernurani. Aku ucapkan selamat wahai para : logos contoh yang bernurani, logos tokoh yang bernurani, logos ide yang bernurani, logos slogan yang bernurani, logos nasehat yang bernurani, logos bijaksana yang bernurani, logos disiplin yang bernurani, logos pembimbing yang bernurani, logos pemimpin yang bernurani, logos informasi yang bernurani, logos dermawan yang bernurani, logos kebaikkan yang bernurani, logos keamanan yang bernurani, logos koordinator yang bernurani, logos administrator yang bernurani, logos ketua yang bernurani, logos sekretaris yang bernurani, logos peraturan yang bernurani, logos sahabat yang bernurani, logos editor yang bernurani, logos fasilitator yang bernurani, logos guru yang bernurani, logos dosen yang bernurani, logos mahasiswa yang bernurani, logos jabatan yang bernurani, logos profesi yang bernurani, logos dedikasi yang bernurani, logos senior yang bernurani, logos pakar yang bernurani, logos pengalaman yang bernurani, logos orang tua yang bernurani, logos piagam yang bernurani, logos sertifikat yang bernurani, logos suami yang bernurani, logos lurah yang bernurani, logos ganteng yang bernurani, logos polisi yang bernurani, logos moral yang bernurani, logos etika yang bernurani, logos semua yang ada dan yang mungkin ada yang bernurani.

14 comments:

Tegar said...

separuh hidupku kemarin saya isi dengan hal yang apa adanya sesuai kemampuanku. tapi ternyata yang saya dapatkan selalu kekecewaan. aku selalu merasa semua yang aku lakukan dulu hasilnya tidak maksimal. maka sejak saat itu aku rubah semua hidupku, dan aku mulai terlena disana. semua hidupku yang dulu aku hentikan dan saya ganti dengan hidup yang penuh kepalsuan. mungkin saya bisa menyebut aku adalah patung ganteng, patung pandai, patung bakat, patung wanita bahkan bisa saya sebut patung cinta. tapi saya terlena dengan keadaan itu. saya sudah jarang mendapatkan kegagalan lagi. tapi setelah membasa elegi ini, ternyata semua yang saya lakukan emang palsu, saya menjadi orang lain. maka mulai saat ini saya akan menjadi diri saya sendiri. paling tidak hati kecil saya memperoleh keberhasilan, walau mungkin raga saya penuh kegagalan....

Iwan Tegar Mandiri
06301244003

Dr. Marsigit, M.A said...

Tegar...maka bersyukurlah dikala manusia sedang mencari jati diri, di sana terdapat sarana untuk selalu bercermin. Sesungguhnya mencari jati diri itu dilakukan sepanjang hayat. Jika seseorang telah merasa mapan dan telah merasa menjadi orang, maka patung filsafat akan segera muncul untuk menemaninya. Sangatlah lembut batas antara mitos dan logos itu. Manusia semua tanpa kecuali hampir selalu salah menerka. Yang mereka anggap sebagai logos ternyata adalah mitos. Tetapi tidaklah sebaliknya. Itulah sebenar-benar permainan mitos. Mitos dapat menjelma menjadi sombong, jebakan filsafat, patung, ...dst. Maka perbedaan antara mitos dan logos begitu lembutnya seperti bawang dan kulitnya. Kiranya pepatah lama masih relevan. Berusahalah seakan masih akan hidup 1000 tahun, dan berdoalah seakan akan segera meninggal dunia. Itulah keunikan manusia sebagai karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Amien

HARYONO.S said...

Selamat malam Pak,
Pak, boleh tidak jika saya tidak mendestruksi/menghancurkan semua patung tersebut. Tetapi saya mendekonstruksi patung tersebut. Sehingga Logos menggantikan patung tersebut.
Menurut saya, jika saya menghancurkan patung-patung tersebut, maka saya sama halnya menghancurkan diri saya dan semua keyakinan saya yang saya.
Semua yang ada di dalam diri saya dan perlengkapan saya adalah pemberian dari Sang Pencipta. Yang sepatutnya digunakan untuk kemuliaan nama-Nya.
Dengan masuknya Logos dalam diri saya maka angin ll'eivenir (angin kebenaran) akan mengganti patung-patung filsafat tersebut.
Dan Logos sendirilah yang akan membimbing dan mendewasakan kita.
Karena kita mau menerima Logos dalam hati kita.

Dr. Marsigit, M.A said...

Haryono...batas antara mitos dan logos itu begitu lembutnya. Hampir sebagian manusia tertipu oleh mite-mite. Jarak antara logos dan mitos itu seperti bawang dan kulitnya. Mengambil isi bawang itu sama saja dengan mengulitinya. Maka terkadang manusia tidak dapat terhindar dari menggunakan mitos untuk mencari logos. Sedangkan istilah yang aku gunakan sebagai "menghancurkan mitos" dapat dilihat dari berbagai aspek. Misal, dapat dimaksudkan untuk menyangatkan kejadiannya agar dapat lebih mudah disadarinya. Tetapi untuk beberapa orang itu mempunyai tingkat sensitifitas dan pendekatan yang berbeda. Tetapi sebenar-benar mitos itu adalah musuhnya logos. Pengertian mitos di sini bisa dibatasi untuk ranah pikiran. Paling banter ranah sikap atau perbuatan. Tetapi perlu hati-hati untuk memberi konotasi mitos pada hati, karena hati itu menyangkut keyakinan. Saya tidak akan pernah memasukkan mitos itu dalam ranah hati. Sedangkan istilah "dekonstruksi" itu pertanda anda sudah mempunyai bacaan lebih banyak lagi. Itu sebetulnya istilah filsafat yang berkaitan dengan bongkar membongkar paradigma lama menjadi baru. Dari pada menggunakan dekonstruksi untuk membongkar mitos, saya cenderung menggunakan "hermeneutika", yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan. Ini merupakan pendekatan yang lebih fleksibel dan natural.

herry prasetyo said...

assalamu'alaikum wr wb
banyak orang mengatakan dirinya bernurani. tetapi kabanyakan dari mereka itu palsu.
mudah-mudahan mereka disadarkan sebelum mereka menjadi logos yang tak bernurani.

Nina Agustyaningrum said...

Jadi ketika kita masih sanggup untuk berfikir dan berikhtiar maka kita akan terhindar dari menjadi si pembuat patung filsafat begitu pak?

tetapi bukankah setiap manusia itu itu memang selalu berfikir?bukankah si pembuat petung filsafat itu juga berfikir bagaimana membuat dirinya agar dapat menjadi contoh untuk yang lainnya tak terkecuali contoh tersebut dapat merupakan contoh yang baik dan yang buruk kan pak?
berarti tinggal bagaimana kita dapat menyortir mana yang ingin kita ikuti atau tidak sama sekali berdasarkan pikiran kita masing - masing..berfikir dan berikhtiar agar apa yang kita lakukan itu benar di jalan Allah SWT..

Maaf pak,mohon penjelasannya karena saya masih ragu - ragu dengan pendapat sayan di atas..
terimakasih..

c@sEy_05301244102 said...

Berdasar elegi terseut, menurut saya, saya bisa mengatakan bahwa patung bisa juga dikatakan dengan sebuah topeng.
Siapa pun yang mulai kelihatan ketidakmampuannya terhadap suatu bidang keahliannya akan bersembunyi di balik nama/ gelar/ pangkat, dsb. yang semuanya itu adalah adalah topeng (tipuan belaka). Di mana topeng adalah tutup yang digunakan untuk menyembunyikan kelemahan-kelemahan seseorang supaya kelemahan tersebut tidak di ketahui oleh orang lain. Dan supaya orang lain tidak mengatakan bahwa seseorang tersebut ternyata tidak mampu.
Bagaimana pak, kesimpulan saya...
Terima kasih.

_Kesi Rusdiana Dewanti_
05301244102

Dr. Marsigit M.A. said...

Kesi Rusdiana Dewanti..dengan saling menterjemahkan dan diterjemahkan ternyata pada saat tertentu seseorang itu dapat berada pada waktu dan ruang yang sama. Yang aku maksud adalah telah lama aku memikirkan untuk menulis Elegi Membuka Topeng Filsafat. Tetapi engkau telah memikirkannya walaupun aku belum menyampaikan itu kepadamu. Maka renungkanlah

Dr. Marsigit, M.A said...

Nina Agustyaningrum...kenapa engkau belum posting tugas-tugas filsafat?

Dr. Marsigit, M.A said...

Untuk semua...ketahuilah bahwa patung filsafat itu telah mewabah sampai kemana-mana. Dia tidak hanya meliputi pikiran dan perbuatan kita semua. Tetapi bahkan identitas kita termasuk nama-nama itu ternyata juga telah terjangkiti oleh patung filsafat. Tetapi aku agak sedikit beruntung karena namaku adalah Marsigit. Sejak kecil hingga kini aku sulit memberi makna tentang namaku itu. Dengan demikian aku sedikit beruntung, paling tidak aku selalu berusaha dalam posisi logos dalam menghadapi namaku sendiri. Tetapi aku menyadari bahwa setinggi-tinggi namaku itu jika dia terbebas dari patung filsafat. Jadi aku selalu menggapai bahwa namaku itu bermakna doa. Itulah perjuanganku. Maka bersyukurlah atas nama kita masing-masing. Tetap jagalah nama kita baik-baik. Jika engkau mempunyai kesempatan memproduksi kata-kata atau kalimat atau nama samaran atau apapun, maka setinggi-tinggi kata-kata atau kalimat atau nama samaran adalah doa. Amien

Dr. Marsigit, M.A said...

Untuk semuanya...ketahuilah bahwa patung filsafatku itu sungguh besar-besar. Mereka lebih besar dari patung-patung filsafatmu. Ketahuilah patung-patung filsafatku itu datang sungguh besar dan mengerikan ketika aku merasa dengan serta merta mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu di kolom comment elegi ini. Oleh karena itu maka aku berniat menulis comment ini. Ketika aku berniat menulis comment ini dan menulisnya, maka aku melihat bahwa patung-patung besar filsafatku itu segera meninggalkanku. Bersamaan dengan itu maka bermunculanlah logos-logos menemui diriku. Maka mohon ampunlah aku ya Tuhanku atas kesombongan dan arogansiku terhadap mahasiswaku. Tiadalah daya upayaku untuk mengusir kesombonganku itu kecuali atas pertolongan Mu. Maka mohon ampunlah juga semua kekhilafan orang tuaku, keluargaku, mahasiswaku, pemimpinku dan bangsaku. Jadikanlah usaha dan ikhtiarku tidak hanya berhenti sampai patung-patung filsafat, melainkan menjadi logos-logos yang bernurani. Segala puja dan puji hanya untuk Mu ya Allah. Amien

dewiervianita_philosphy said...

wah setelah saya baca elegi pemberontakan patung filsafat ada yang dapat saya kaji.
Segala sesuatu yang kita miliki haruslah sesuai dengan fungsinya dan tepat guna.Kita tidak boleh hanya diam seperti patung tapi aktif sesuai kemampuan yang kita miliki.Kita gali ptensi yang ada dalam kita.Jangan sampai kita hanya stagnan dan berdiam diri padahal sebenarnya kita mampu.Kuncinya untuk menghindari dari patung filsafat adalah berusaha disertai pendekatan diri kepada Tuhan.

Kalau mungkin salah,saya mohon pembetulannya dari Bapak...Trmksh

Dewi Ervianita
07301244045
P.Mat R 06

harist fadilah 'mellowsick' said...

Segala yang bernurani,akan menjadi filter diri agar tidak menjadi congkak atau memandang rendah orang lain.Nurani tidak bisa didapat atau di jargonkan pada diri kita.Nurani timbul dari ketulusan hati yang terdalam.

Dini Wirianti, S.Pd::Graduate student::LTA said...

Terkadang manusia terjebak dalam comfort zone (zona kenyamanan), ketika menerima kritik pedas dia baru tersadar bahwa dirinya tidak berkembang (hanya berjalan di tempat). Layaknya tumbuhan, manusia perlu dipangkas dan dipupuk kembali untuk menghasilkan buah yang berlimpah.