Friday, January 9, 2009

Elegi Seorang Guru Menggapai Batas

Oleh: Marsigit

Mulialah hati, pikiran dan tindakan pedagogik guru, karena tiadalah seorang guru bermaksud memberikan keburukan bagi siswanya. Totalitasnya dia mengidamkan kebaikan dan keberhasilan bahkan keberhasilan tertinggi jika memang mungkin bagi siswanya. Maka hati, pikiran dan jiwanya menyatu menjadi motivasi yang kuat bahkan mungkin SANGAT KUAT untuk mewujudkan tindakan pedagogik : MEMBIMBING, MENGAWASI, MEMBEKALI, MENASEHATI, MEWAJIBKAN dan kalau perlu MENGHUKUM siswanya DEMI KEPENTINGAN SISWA.
Ketika rakhmat Nya menghampiri guru sedemikian hingga guru dengan sengaja atau tak sengaja menembus BATAS jiwanya sehingga memperoleh kesempatan MELIHAT DIRINYA dari tempat nun jauh secara mandiri maupun berbantuan orang atau guru atau nara sumber, maka adalah suatu tempat dimana BATAS ITU akan digapainya. Dalam batas itulah guru menemukan FATAMORGANA.
Atas fatamorgana itu maka terdengarlah nyanyian AKAR dan RUMPUT yang sayup-sayup sampai kira-kira bait-baitnya begini:

-Jangan jangan motivasimu yang sangat KUAT telah MELEMAHKAN INISIATIF nya, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEMBIMBING telah menjadikannya TERGANTUNG DAN TAK BERDAYA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENGAWASI telah menjadikannya mereka merasa menjadi makhluk yang memang selalu perlu diawasi dan dengan demikian identik dengan KEBURUKAN, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEMBEKALI telah menjadikanmu SOMBONG DAN TAKABUR serta menjadikannya RENDAH DIRI DAN TAK BERDAYA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENASEHATI adalah AMBISI DAN EGOMU yang menyebabkan mereka hidup TIDAK BERGAIRAH, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEWAJIBKAN adalah pertanda HILANGNYA NURANIMU sekaligus HILANGNYA NURANI MEREKA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENGHUKUM adalah SEMPITNYA HIDUPMU dan juga SEMPITNYA HIDUP MEREKA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu DEMI KEPENTINGAN SISWA adalah keadaan HAMPA TAK BERMAKNA atau bahkan MENYESATKAN, apakah itu batas yang kau cari?

Orang tua berambut putih datang dan berkata:


"ITULAH SEBENAR-BENAR BATAS YANG KAU CARI, DAN BATASMU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN ADALAH BATAS MEREKA. ANTARA DIRIMU DAN MEREKA ITULAH SEBENAR-BENAR ILMUMU TENTANG DIRIMU DAN TENTANG DIRI MEREKA.
JIKA KAMU BELUM MENGETAHUI BATASMU JANGAN HARAP RAHMAT ITU DATANG MENGHAMPIRIMU KEMBALI, TETAPI JIKA TOH KAMU TELAH MENGETAHUI BATASMU MAKA ADALAH KODRAT NYA BAHWA KAMU MASIH HARUS BERJUANG MENGGAPAI RAHMATNYA.
NAMUN MAAF SAYA TELAH SALAH UCAP, KARENA SEBENAR-BENARNYA YANG ADA, ADALAH TIADALAH ORANG PERNAH DAN DAPAT MENGGAPAI BATASNYA. UNTUK ITU MARILAH KITA TAWADU' DENGAN KODRAT DAN IRADATNYA. TETAPI JANGAN SALAH PAHAM BAHWA IKHTIARMU MENGGAPAI BATASMU ADALAH JUGA KODRATNYA.AMIN YA ROBBIL ALAMIN"

Orang Tua berambut putih Beranjak Pergi Tetapi Guru Berusaha Menggapainya:


Guru menggapai batas:
Aduhai orang tua berambut putih yang telah bertitah dihadapanku..
Siapakah sebenarnya dirimu itu? Tunjukkanlah padaku wajah yang sebenar-benar wajahmu.
Aku sangat terharu mendengarkan titahmu. Masih bolehkah aku memohon titah-titahmu yang lain?
Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Ciri-ciri orang cerdas adalah jika secara proporsional mampu mengendalikan perasaanya. Dan aku melihat kamu bisa. Maka aku melihat bahwa kamu ternyata cerdas pula. Jika kamu merasa terharu maka sebetulnya aku merasa lebih terharu lagi. Jangankan mendengar teriakan dan tangismu, mendengar satu pertanyaanmu saja aku merasa tergetar dan terharu. Mengapa? Karena itu pertanda bahwa kamu sedang memulai ilmumu. Bukankah bertanya adalah juga karunia Tuhan? Maka ketika kamu mendengar pertanyaan murid-muridmu itu pertanda bahwa kamu sedang menjemput rakhmat Nya. Padahal aku mengerti bahwa kamu mempunyai tugas yang sangat mulia. Apa itu? Yaitu membuat para siswa-siswa mu kelak mampu bertanya pula. Bukankah jika siswamu mampu bertanya itu juga pertanda bahwa mereka telah merasa menemukan batasnya dan menggapai nuraninya kembali yang telah hilang terenggut. Jadi sebetulnya, sebenar-benar hidup adalah jikalau kamu masih mampu bertanya.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu. Bolehkan aku selalu mengikutimu?
Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat, tetapi saya mengkhawatirkan pertanyaanmu, karena pertanyaanmu terlalu mekanistis dan kekanak-kanakan. Perasaan harumu telah betul, artinya kamu sedang dalam proses melakukan komunikasi transenden? Apakah kamu tahu apa itu komunikasi transenden? Komunikasi transenden adalah komunikasi setelah pikiranmu. Apakah kamu tahu komunikasi setelah pikiranmu? Tidak lain tidak bukan adalah perasaanmu. Apakah perasaanmu itu? Itu bukan nafsumu, itu bukan egomu, itu bukan sifat negatifmu. Tetapi itu adalah naluri dan intuisimu. Maka ikutilah naluri dan intuisimu. Tetapi bukan sembarang naluri dan bukan pula sembarang intuisi. Naluri dan intuisimu sebagai seorang yang telah merasa menemukan batasmu sebagai hasil pengalamanmu, yang didukung oleh pengetahuanmu serta oleh doa-doamu.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu aku semakin mantap akan ikut denganmu.
Orang tua berambut putih:
Semakin mantap kamu ingin mengikutiku maka semakin mantap pula aku menolaknya. Karena jika kamu selalu mengikutiku maka kamu akan selalu tertutup oleh bayang-bayangku. Dan dengan demikian tiadalah sebetulnya hakekat dirimu itu. Jika kamu terlalu mengagung-agungkan bayanganku maka kamu akan menghadapi bahaya besar yaitu terperosok ke dalam ruang gelap di mana ilmu mu telah berubah menjadi mitosmu. Mitosmu adalah mitos tentang diriku. Ketahuilah bahwa musuhmu paling besar bagimu di dunia ini adalah mitos-mitosmu. Maka sungguhlah merugi bagi seorang guru yang mengajarnya hanya berdasarkan mitos-mitos. Bukankah sekedar hapal rumus tetapi tidak tahu maknanya itu juga merupakan mitos. Sekedar kagum tetapi tidak mampu berpikir kritis itu juga mitosmu. Maka kenalilah baik-baik musuhmu itu. Sedangkan bahaya paling besar di muka bumi ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menutupi jati diri orang lain dengan bayangannya. Apakah kamu juga menginginkan agar murid-muridmu selalu mengejar dan berlindung di bawah bayang-bayangmu. Bukankah hal yang demikian sebetulnya menghilangkan jati diri mereka dan dengan demikian kamu telah berbuat dholim kepadanya. Ingatlah bahwa tiadalah orang selalu dapat bersama dengan semua sifat-sifat dan miliknya. Hanya sifat dan milik tertentu saja yang Tuhan perkenankan untuk selalu mendampingimu kelak sampai ke akhir jaman. Kata orang bijak itulah amal dan perbuatanmu. Jadi keunikanmu itu adalah hargamu. Hanya dirimu sendirilah yang mempertanggungjawabkan perbuatanmua.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu siapakah sebenarnya kau dan dimanakah kau itu?
Orang tua berambut putih:
Aku sendiri sulit mendefinisikan diriku sendiri. Kadang-kadang aku adalah bacaanmu, kadang-kadang aku adalah referensimu, kadang-kadang aku adalah gurumu, kadang-kadang aku adalah pertanyaamu, kadang-kadang aku adalah pikiranmu, kadang kadang aku adalah pikiran gurumu dan kadang-kadang aku adalah gurumu. Tetapi aku bisa menjelma menjadi paradigma, menjadi teori, menjadi filsafat da menjadi cita-citamu. Maka untuk memahamiku tidaklah cukupkamu hanya menggunakan satu metode saja. Terlibatlah secara sinergis tali temali dengan ku dan juga dengan murid-muridmu. Berlandaskan keteguhan hati dan iman dan taqwa kepada Alloh ya Robbi.
Guru menggapai batas:
Aku bingung. Siapakah kau dan dimanakah kamu berada?
Orang tua berambut putih:
Kadang-kadang aku adalah kau juga. Kadang-kadang aku menyerupai dosenmu. Tetapi jika kamu ingin melihat wajahku yang sebenarnya maka tengoklah pada akal dan pikiranmu. Tempat tinggalku adalah di batas pikiranmu. Usahamu menggapai batas pikiranmu itulah sebenarnya aku. Padahal kita tahu bahwa batas pikiranmu itulah sebenar-banarnya ilmumu. Jadi aku tidak lain tidak bukan sebenarnya adalah ilmumu. Aku dan kau adalah sama juga yaitu menterjemahkan dan diterjemahkah. Itulah sebenar-benar hidup di dunia. Maka agar kau sukses dalam mendidik siswa-siswamu, sinergis tali-temalikanlah dirimu dengan mereka untuk bersama sama saling menterjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu. Bagaikan bola dunia yang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari. Gerakanmu dan gerakan mereka yang kokoh, kuat dan stabil seakan tenang sunyi dan hening, padahal sangat ramai di dalamnya. Itulah sifat black-hole yang mempunyai energi yang sangat besar dan mampu menarik segalanya yang ada disampingnya, yang ada dalam penglihatannya, yang ada dalam pergaulannya, yang ada dalam doa-doanya. Di situlah kamu sudah dapat dikatakan berada dalam kedudukan sistemik melakukan hijrah inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan jika didukung oleh semua orang yang sadar dengannya maka dia ibarat black-hole tersebut. Maka jadikanlah bahwa dirimu tidak lain tidak bukan adalah inovasi itu sendiri. Katakan bahwa aku adalah inovasi. Maka sebenar-benar diriku, Orang Tua Berambut Putih, tidak lain tidak bukan adalah inovasi. Ketahuilah bahwa bumi tidak hanya berputar pada porosnya, tetapi bergerak mengelilingi matahari. Itulah kodrat Nya. Jadi untuk mengetahuiku kamu harus berikhtiar. Apakah ikhtiar itu? Tidak lain tidak bukan adalah hijrah. Maka sebetul betulnya hidup adalah hijrah, disadari maupun tidak engkau sadari. Bukankah para Nabi telah mengajarkanmu apa itu dan bagaimana hijrah. Hijrahlah dalam doa, karena kita dapat juga katakan bahwa sebenar-benar hidupmu adalah doamu. Itulah sebetulbetulnya tujuan bagi semua manusia di dunia yaitu kebahagiaanmu didunia dan akhirat, jikalau dia telah mentransformir dirinya menjadi doa kepada Mu Ya Alloh Ya Robbi. Amien.
Guru menggapai batas:
Aku ingin menangis.
Orang tua berambut putih:
Boleh. Karena tangisanmu adalah tulisanmu, referensimu, bukumu dan juga ilmumu. Namun janganlah kamu terbuai dengan tangisanmu, karena tangisanmu hanyalah sebagian dari hidupmu. Lebih banyak lagi hal-hal yang perlu kamu pikirkan. Sebagai orang cerdas maka kamu ku tantang dapatkah menangis sambil memikirkan hal-hal yang lain? Bukankah kita maklum bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah ikhlas dan mengingat Tuhan. Maka setinggi-tinggi amal perbuatanmu adalah selalu ikhlas dan dalam keadaan mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun, dalam keadaan bercakap, dalam keadaan duduk, bahkan dalam keadaan menangis atau tidur sekalipun.
Guru menggapai batas:
Saya telah memperoleh terang yang luar biasa guruku. Dan sekarang saya iklhas berpisah dengan mu. Dan saya akah kembali pulang bertemu dengan keluarga untuk berjuang meningkatkan pendidikan matematika lebih bernurani.
Orang tua berambut putih:
Jika kau sebut aku sebagai gurumu maka itu adalah diriku yang lain. Sekali lagi aku khawatir tentang klaimmu bahwa kau telah memperoleh terang yang luar biasa. Jangan-jangan itu kesombonganmu. Karena klaim sekecil apapun tidak luput dari kesalahan. Mengapa? Itulah sifat terbatas manusia, dan sifat tak terbatas hanyalah milik Tuhan. Padahal kesombongan adalah dosa pertama dan dosa paling besar. Tetapi tidak. Saya melihat bahwa kamu tadi adalah spontan dan murni. Spontan, murni, orisinalitas dan tak berprasangka buruk adalah modal utama memperoleh ilmu. Tetapi maaf karena kalimatku yang terakhir itu juga adalah klaim ku. Jadi aku juga terancam kesombongan. Maka ighstifar adalah satu-satunya solusi. Alhamdullilah. Mudah-mudahan kita semuanya ikhlas. Jika terpaksa aku mengucapkan good bye, maka itu juga diriku yang lain. Jika aku teruskan ucapanku aku khawatir dituduh tidak sadar ruang dan waktu. Tiadalah ada sebenar-benarnya perpisahan itu bagi orang-orang beriman. Beterbaranlah dimuka bumi ini dan menjadilah pahlawan pendidikan. Tetapi ingatlah bahwa pahlawan bukannya seorang jendral yang memenangkan perang dimedan laga. Tetapi seorang hamba yang berilmu. Namun janganlah pernah mengklaim diri sebagai pahlawan, biarkan akar rumput yang menyanyikannya. Maka aku juga kurang begitu nyaman jika ada guru menyanyikan dirinya sebagai pahlawan. Selamat berjuang. Maafkan segala kekhilafanku. Semoga berhasil. Amien

Guru Menggapai Batas Ternyata Masih Mengejarnya:


Tunggu dulu guru, masih ada satu lagi pertanyaanku. Temanku mengatakan bahwa untuk menjadi guru yang baik, tentunya membutuhkan proses dan bimbingan. Dia mengatakan bahwa sesuai ungkapan " Man ta'allama bila syaikhin, fa syaikhuhu syaitoon " Orang yang belajar tanpa pembimbing maka pembimbingnya adalah setan. Maka jika guru meninggalkan ku aku khawatir muncul sifat - sifat setan yang mengajak pada perilaku yang tidak diridloi oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih Bersedia Menghantar Sampai Batas:


Jangan salah paham, sudah saya katakan bahwa yang mengucapkan good-bye adalah diriku yang lain. Sedangkan diriku yang lain lagi senyata-nyatanya selalu bersamamu kamanapun kamu pergi. Panggilah aku dengan pertanyaanmu, karena aku tidak lain tidak bukan adalah pertanyaanmu. Dan pertanyaanmu adalah pengetahuanmu.Tetapi hendaklah kamu belajar agar mengerti batas-batas sampai di mana aku bisa bersamamu. Aku selalu bersamamu sampai kamu tidak bisa lagi “bertanya”. Karena sesungguh-sungguhnya segala macam pertanyaanmu itu tidak bisa berada diluar pikiranmu. Padahal aku mengerti bahwa pikiranmu bersifat terbatas, dan batasnya tidak lain tidak bukan adalah diriku. Sekali lagi aku ingatkan bahwa disinilah kamu mulai masuk alam transenden, dimana segenap jiwa ragamu termasuk pikiranmu beserta diriku menjelma kedalam hatimu. Maka disini, sebenar-benar ilmumu adalah hatimu. Sebenar-benar hidupmu adalah juga hatimu. Tidaklah ada lagi pertanyaan di situ. Juga tidak ada kata-kata. Dan juga tidak ada lagi diriku. Yang ada adalah ikhlas, iman dan taqwa mu. Maka untuk bertemu Tuhan mu tidaklah cukup hanya dengan pikiranmu dan tidaklah cukup juga mengandalkan diriku, tetapi hatimu yang ikhlas itulah yang akan menuntunmu. Ketika kamu semakin dekat dengan Tuhan mu, maka tidaklah kamu memerlukan "pertanyaan". Keikhlasan yang dibimbing Tuhan mu itulah yang akan mampu mengusir setan dan Jin bertanduk tujuh. Itulah setinggi-tinggi tujuan hidup, yaitu dihampiri rakhmat Nya. Jikalau Tuhan telah berkenan menghampirimu, maka kemanapun kamu memandang, adalah rakhmat dan karunia Nya yang ada di situ. Itulah sebenar-benar makna pendidikan kualitas kedua, ketiga, dst. Baiklah kalau begitu marilah kau kuhantarkan sampai tempat di mana kamu tidak bisa lagi “bertanya”. Amien ya robbal alamin.

47 comments:

Sukandar said...

Sungguh suatu ungkapan yang memiliki arti dan makna yang sangat dalam. kadang-kadang saya juga kepikiran apakah yang selama ini kami lakukan adalah penyebab matinya kreativitas dan inisiatif anak, membuat mereka tergantung dan tak berdaya, membikin mereka tak bergairah bahkan menyesatkan mereka.
namun demikian yang tidak pernah kepikiran olehku ternyata pak Marsigit adalah merupakan sosok sastrawan yang ulung.

Agus supranto,S.Pd said...

Saya terkadang juga berpikir, apa yang telah saya lakukan terhadap anak didik kita dengan maksud : memotivasi, membimbing, mengawasi, membekali, mewajibkan dan menghukum demi kepentingan peserta didik. Pada hal kita belum tahu batas-batas sejauh mana yang boleh kita lakukan agar sesuai nilai-nilai humanistik. Karena sebenarnya batas yang dimaksud juga batas yang dimilikinya. Ungkapan yang Bpk. sampaikan sungguh mempunyai arti yang tinggi dan makna yang dalam. Yang mungkin juga hakiki, karena menyentuh hati kepada setiap orang yang membacanya.Yang pada akhirnya suara hati akan senada. Saya terus terang salut kepada Bpk. yang mempunyai semangat tinggi untuk memajukan kualitas pendidikan bangsa ini. Mudah-mudahan kami semua dapat mengikuti semangat Bpk. untuk terus berinovasi, sesuai profesi kami dengan menghargai peserta didik kami. Terima kasih juga atas koreksinya, karena itu akan membuat kami-kami menjadi lebih paham dan mengerti.

IWAN SUMANTRI said...

Sungguh Indah dan menggetarkan hati, apa selama ini kita mengajar sudah sesuai dengan batas dan aturan kita dalam membelajarkan peserta didik, apa yang kita ajarkan sudah bermakna atau sebaliknya?atau menyesatkan mereka ?sungguh tulus apa yang bapak ungkapkan, dan memberikan innvirasi untuk merenung dan memaknai saya selama mengajar, mudaha-mudahan batas itu sesuai dengan harapan dan keinginan kita untuk tetap beristikomah dan seraya memohon kepada yang maha kuasa!! Selamat kepada pak Marsigit, itulah sosok dosen inovatif dan proefesional, tidak hanya menguasai ilmu matematika saja dan ilmu yang lainnya juga dimilikinya, ... harapan saya apa yang bapak miliki bisa saya gapai!!

Mulyati said...

Matematika memang sangat dekat sekali dengan keindahan. Itulah yang telah dibuktikan Pak Marsigit dengan ungkapan-ungkapan indahnya tanpa mengurangi makna humanisme di dalamnya. Dan mungkin langkah itu Pak sekarang yang saya coba rintis agar anak merasa bahwa matematika memang dekat dengan nilai-nilai keindahan dan humanisme di sekitar mereka.
Kita memang harus lari dari "keangkuhan" intelektual yang selama ini sering diagung-agungkan orang yang merasa bahwa matematika adalah ilmu yang kering dan teoritis. Padahal tokoh-tokoh besar di bidang Matematika selalu memanfaatkan intuisi keindahan seni dan sastra dalam karya besarnya. Contohnya Betrand Russel. Di Indonesia juga ada selain Pak Marsigit, adalah Dr Hadi Susanto (usia 30-an)yang sangat bagus sekali menuis pengantar di Novel Ayat Cinta. Sayang dia sekarang di Belanda.

MATHSUGIYANTA said...

Terima kasih ungkapan Bapak dapat menggugah kami, ternyata Seorang Matematikawan juga seorang Sastrawan seperti Bapak. Ungkapan Bapak sungguh mengingatkan pada diri kami tentang apa yang telah kami perbuat selama ini kepada anak didik kami. Semoga kami dapat lebih memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Amiin

Budiharjono said...

Ungkapan yang Pak Marsigit sampaikan telah membuat saya berpikir dan mengkaji tentang makna apa yang telah saya laksanakan sebagai pendidik. saya berpikir agar lebih berhati-hati lagi dalam bertindak melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, dan tentunya tetap gigih dan ulet dan bekerja keras mencapai tujuan yang diharapkan dalam koridor yang sesuai dengan tuntunan agama Islam dan "jangan berlebihan" (jangan melampaui batas) sebab memang Allah telah berfirman Bahwa Dia tidak suka orang-orang yang berlebihan (melampaui batas). Besar harapan kita semoga setiap tindakan kita tetap terjaga dan senantiasa mendapat lindungan dari Allah SWT, amien.

mufarikhin said...

Benar-benar sebuah ungkapan yang luar biasa dan sarat akan makna, bahasa sastra yang muncul dari seorang matematisi. Ini termasuk hal yang jarang kita jumpai. Biasanya seorang sastrawan sulit untuk menjadi matematisi, dan sebaliknya, seorang matematisi biasanya akan cukup susah mengungkapkan ide-ide sastranya.
Jujur, banyak dari kita (guru dan pelaku pendidikan lainnya)yang belum tahu batas-batas sejauh mana yang boleh kita lakukan agar sesuai nilai-nilai humanistik. Karena sebenarnya batas yang dimaksud juga batas yang dimilikinya, sudahkah
selama ini kita mengajar sudah sesuai dengan batas dan aturan, sudah bermaknakah pembelajaran kita, bagi kita dan peserta didik kita? atau sebaliknya? atau menyesatkan mereka ?
Sungguh, ungkapan yang membawa pada perenungan...
mudah-mudahan kita dapat mencapai batas sesuai dengan harapan dan keinginan seraya tetap beristigomah dalam berkhidmah. Terima kasih Bapak.

"man tawadla'a, rafa'a" (Barangsiapa bertawadlu' maka ia akan tinggi derajatnya.)
"man 'arafa nafsah, arafa rabbah." (Barangsiapa yang telah mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhan-Nya)

Asep Rahmat Saepuloh said...

betapa berharga apa yang diungkapkan. Bagi seorang guru, perkerjaan mendidik adalah ladang amal yang dapat menjadi bekal di dunia dan akhirat. Ungkapan yang disampaikan dapat menjadi motivasi bagi kami di mana semua manusia termasuk pendidik harus selalu memperbaiki kualitas diri.

Asep Rahmat Saepuloh said...

sangat menggugah apa yang telah bapak ungkapkan. suatu pencerahan bagi kami para pendidik bahwa kita harus senantiasa memperbaiki kualitas diri. Pekerjaan seorang pendidik adalah ladang amal yang dapat menjadi bekal di dunia maupun akhirat kelak.

anjayanimath said...

Bapak, saya menyampaikan terima kasih atas tulisan Elegi seorang guru menggapai batas, karena saya merasa seperti merefleksi apa yang telah saya lakukan selama ini sebagai pendidik yang ternyata jauh dari apa yang mungkin dimaui oleh siswa saya, sekaligus saya termotivasi untuk menjadi lebih baik dalam menjalankan tugas mulia sebagai pendidik.Amin.

anjayanimath said...

Pak Marsigit, saya terharu dengan tulisan bapak. Kali kedua saya tersentuh membaca sebuah puisi mengenai seorang guru. Begitu beratnya tugas yang harus diemban. Namun dengan begitu saya menjadi lebih bersemangat untuk memberikan yang terbaik buat siswa-siswa saya. Saya akan menunggu puisi-puisi bapak selanjutnya.

zulfa said...

Bapak, saya merasa apa yang ditulis menggugah hati nurani saya. Ternyata apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya dengan kriteria yang sebenarnya. Tetapi saya berharap dan akan terus berusaha menjadi lebih baik dari sekarang. Adalah suatu proses pembelajaran buat saya untuk tidak merasa sudah dapat memberi banyak pada orang lain dan siswa-siswa saya. Saya masih belum cukup untuk hal ini. Tapi yang jelas saya yakin Allah senantiasa membimbing para pendidik bangsa ini untuk berbuat lebih baik lagi.

Sairan said...

Akupun benar-benar tenggelam dalam bait kata demi kata yang bapak uraikan. Sungguh tak ku sangka sebelumnya, ternyata selain pinter matematik, dan filsafat Ada darah Penyair di dunia Bapak sana.
Guru memang harus jadi idola... Biarkan rumput bergoyang, angin bertiup,kemarau takkan kunjung hujan. Aku dan teman-temanku akan menjadi laskar di tengah pelangi...

Achmad Agus S, S.Pd. said...

Segala upaya telah diusahakan oleh guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. toh akhirnya sampai batas juga. karena memang kemampuan guru terbatas. semakin kita gapai yang lebih tinggi,toh akhirnya masih ada yang lebih tinggi.Mungkin kita merasa telah banyak memberi pada peserta didik, tetapi ternyata masih lebih banyak apa yang mereka butuhkan.
akhirnya yang penting adalah kita berikan yang terbaik yang kita miliki kepada siswa dengan rasa syukur dan ikhlas, itulah mungkin batas yang paling tinggi yang akan kita capai.
selebihnya biarlah siswa berkembang sesuai dengan kodrat yang ia miliki.

faijin blogspot said...

So everything. Marhaban ahlan wa sahlan bi khudhurikum .antum bil khoir.
guru berambut putih sangat terkagum dengan tausiah yang ada dalam serat pbm matmarsigit.blogspot.
andai didunia ini 1000 guru saja komit dan konsen terhadap tugasnya maka 10 tahun lagi akan tumbuh 100000 generasi yang hebat-hebat, bukan hanya Prof habibi, Prof baiquni, Prof M. Surya dan tokoh kaliber lainnya.
subhanallah.
Tausiah pada serat Pbm matmarsigit .blogspot. menggambarkan betapa agungnya nilai sebuah ilmu dan ilmu tidak akan mati meskipun kiamat menghancurkan Dunia seisinya tetapi ilmu tidak akan pudar. ilmu akan teringat meski maut menjemput sang guru.Panjang umur buat Pak sigit dan keluarga.

imamsantoso said...

Niat menebar ilmu bermanfaat awalan menuju ridhoNya. Keharuan mendalam dari relung-relung hati seorang guru tafakur membaca"Elegi Seorang Guru Menggapai Batas" adalah ungkapan yang bermakna bagi dunia pendidikan. Seorang hamba berikhtiar meraih 'suluh' untuk menerangi kegelapan anak didik penerus,pewaris ilmu.Dengan peningkatan profesionalisme semoga Tuhan memberi jalan lurus dan benar bagi semua guru.

Tri Mulyono Edi Saputro said...

Setelah melihat alegi yang bapak tulis, ternyata tidak hanya seorang sastrawan yang dapat menulis syair, tetapi seorang matematikawanpun punya kemampuan dalam menulisnya dengan sarat makna yang terkandung didalamnya.
Memang selama ini kita terbuai oleh kata-kata membimbing, memotivasi, membelajarkan, tetapi kita tidak sadar apa yang kita lakukan apakah benar-benar sesuai dengan tujuan atau malah membuat diri orang lain tersakiti, tertekan, tertindas. Kita tidak sadar bahwa selama ini kita terbuai kata hebat, hebat, dan menghebatkan diri kita, walaupun diluar sana akibat perbuatan kita orang yang kita beri pencerahan masih merasakan kepedihan, rintihan, bahkan ketakutan (khususnya matematika). Sebenarnya kalau kita mau berkaca pada wajah kita, tentunya jangan lupa kita membelajarkan siswa itu tidak sebatas memberikan bumbu-bumbu saja, tetapi mengolah bumbu-bumbu itu menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memberikan makna dalam kehidupannya. Jangan merasa niat kita benar ternyata membunuh kreativitasnya, membelenggu pendapatnya, biarlah mereka berkembang sesuai dengan kemampuannya. Bekalilah mereka dengan IQ + EQ + SQ = sukses, dan hanya satu kata dalam benak kita jadilah pembelajar yang “ikhlas” segalanya. Dan janganlah kita hanya sekedar memberikan solusi permasalahan yang ada tetapi kita harus berkaca apakah kita sendiri sudah melaksanakan atau belum itu juga berat, tidak semua manusia dapat memahami itu semua. akhirnya semoga alegi yang bapak tulis memberikan pencerahan kita semua khususnya dunia pendidikan matematika, tidak ada lagi ada guru yang mendoktrin siswa, tidak adalagi guru yang memarahi siswa karena malas, tidak ada lagi guru yang merasa sok pintar, semoga matematika menjadi jalan kedamaian dunia pendidikan. Tidak terdengar lahir generasi yang angkuh, sombong, tidak jujur, keras hati, dan sebagainya. AMIN. Selamat Berjuang seluruh teman-teman pemerhati dunia pendidikan matematika.

Puji Haryanto_Peserta Pend.Sertifikasi Guru said...

Sanggupkah aku menjelajah, mencari makna batas yang tak terbatas? Sementara realita adalah penjara, yang harus aku anut.
Untuk Pak Marsigit, doakan kami :
Mudah-mudahan kami tidak terpaku pada Nyanyian sayup-sayup AKAR dan RUMPUT : "Jangan-jangan ..."???

La Ode A.Alam-Buton said...

Dengan pembelajaran yang selama ini kami ikuti dalam perkuliahan ternyata banyak hal yang selama ini kami lakukan yang menurut kami itu adalah hal paling benar di mata siswa ternyata justru menjadikan kami sebagai orang-orang yang memasung kreativitas siswa untuk bisa mengembangkan proses berpikir dengan baik.
Sebagai guru kami tidak seharusnya hanya memberikan materi kepada siswa tetapi sudah selaknya kita harus berusaha untuk memaksimalkan daya pikir siswa dengan cara memberikan keleluasaan dalam berpikir, bertindak sehingga mereka akan mempunyai kemampuan yang optimal dalam bertindak dan berprilaku.
Seperti ilustrasi yang dimunculkan dalam blog ini bahwa kita sebagai guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan diri dengan cara banyak membaca literatur dan tidak selalu bergantungpada pendapat orang lain tetapi pendapat itu dijadikan sebagai jalan menuju pengembangan diri yang diinginkan.

Asep Rahmat Saepuloh said...

Sebagai manusia biasa seharusnya kita selalu memperbaiki kualitas diri. Bagi seorang guru meningkatkan kemampuan dalam mendidik bukan lagi menjadi kewajiban tetapi harus menjadi kebutuhan.
Setiap manusia adalah unik. Seorang guru juga adalah unik. Selayaknya dengan keunikan masing-masing kita sebagai guru harus menjadi diri sendiri. Guru yang menghadapi permasalahan, guru itu sendiri yang harus mencari penyelesaian masalah yang dihadapi. Upaya tersebut sebaiknya dilakukan dengan berbagai literatur baik dari buku sumber maupun dari internet.Niatkan segala yang kita lakukan adalah ibadah kepada Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa usaha dan do'a bisa menjadi jalan keberhasilan guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga Allah SWT meridhoi setiap gerak dan langkah kita dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan matematika. Amiin....

Eni Rohayatun said...

Sungguh agung apa yang Bapak tuangkan. “Guru Menggapai Batas”, sangat jauh batas yang harus digapai, namun kita (guru) harus berniat dan berusaha menggapai batas itu. Sertifikasi jalur pendidikan ini kita jadikan pijakan untuk “HIJRAH” dari: persipan pembelajaran yang hanya sekedar kelengkapan administrasi menjadi suatu kebutuhan, pembelajaran tradisional menjadi inovatif, teacher centered menjadi student centered, gaptek menjadi hightec, emosi menjadi penuh kesabaran, penuh dengan pamrih menjadi ikhlas, belum profesional menjadi professional. Kesemuanya itu kita niati demi peningkatan layanan kepada anak didik.
Pada akhirnya terimakasih yang sebesar-besarnya atas petuah-petuah yang Bapak sampaikan, karena dengan “ITULAH” mata hati terbuka dan kami berniat untuk “HIJRAH” menuju ke yang lebih baik. Marilah kita gapai bersama, seperti apa yang telah dipetuahkan oleh Orang Tua Berambut Putih, tanpa kehilangan karaktek diri kita. Kita bersinergi dengan putera-puteri menggapai tujuan yang diinginkan. “ELEGI GURU MENGGAPAI BATAS”, dengan niat dan mengharap RIDHO-NYA kami akan berusaha menggapai-nya…..AMIEN…..YA ROBBAL’ALAMIN.

matugm07 siti r said...

Membaca tulisan-tulisan P Marsigit membuat saya terbengong dan kemudian tersadarkan.Barangkali apa yang kami lakukan selama ini benar-benar membuat kreativitas anak didik kami terpenjarakan dan mengungkung daya inovasinya??Kami akan mencoba dan berusaha untuk mengubahnya...BISMILLAH

Faizah said...

waduuh bahasa yang sulit untuk dipahami, tapi dengan keterbatasan saya, saya akan berusaha untuk memahaminya. saya sadar bahwa selama ini mungkin saya tertidur dan membuka matanya setelah dibangunkan oleh orang tua berambut putih. orang tua yang baik penuh bijaksana dan ikhlastelah memberikan penerangan dan pencerahan pada guru menggapai batas. agar suksek mendidik dengan siswa-siswanya saling menerjamah dan diterjemahkan ini saya artikan dengan kemampuan saya yang minim bahwa seorang guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif, dimana siswa dapat mengembangkan aktivitas dan kreatifitas belajar secara optimal, kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komonikasi yang bebas dan pengawasan tidak terlalu ketat. ini merupakan pengetahuan yang sangat berharga sekali bagi saya karena saya sadar selama ini saya belum merealisasikan apa yang guru berambut putih inginkan, tapi saya akan berusaha untuk mengkreasikan apa yang sudah didapat dari seorang guru menggapai batas.

Nunung Nurjanah, S.Pd. said...

Setelah membaca dan mencoba memahami makna yang ada pada tulisan Pak Dr Marsigit tentang elegi guru menggapai batas ,saya sempat terharu dan merinding kemudian saya merasa berada di antara dua kutub yang saling tarik menarik yaitu kutub harapan dan kutub kecemasan.
Akhirnya pada saat ini saya hanya baru dapat berdoa pada yang maha kuasa pemilik alam semesta dan penggemgam setiap jiwa.
Ya Allah yang Maha 'Aliim limpahkanlah pada kami pengetahuan yang membuat kami semakin mengenal dan dekat padaMu.Ya Nuur,Ya Hadii,cahayaMu di atas cahaya,terangilah dan bimbinglah setiap langkah kami agar kami senantiasa berada di jalan yang Kau Ridhoi dan tidak terjebak pada batas kemungkaran.Ya Rohmaan Ya Rohiim kasihanilah kami,Ya ghofuur ampunilah setiap kekhilapan dan dosa kami,Ya mujiib kabulkanlah setiap permohonan kami hanya Engkaulah penolong kami,Segala puji hanyalah milikMu.Amiin Ya Robbal 'Alamiin.

Dede_Sudjadi said...

Dengan membaca, memahami dan mdmaknai untaian kalimat-kalimat dalam 'Elegi seorang guru dalam menggapai batas' sesuai kemanpuan saya, mengandung bahan hikmah pemikiran yang dalam tentang makng dedikasi guru sebagai pendidik. Saya kagum dengan sosok 'orang tua berambut putih' yang senantiasa mdmbimbing guru untuk menunjukkan jalan mardhotillah. Jika saya akan menggapah batas, berarti harus sanggup memperanggungjawabkan diri sebagai insan intelektual yang profesional dan mempertanggungjawabkan akibat yang telah dilakukan melalui interaksi dengan peserta didik

ACH FAO ZIE said...

Untuk menjadi guru yang baik, tentunya membutuhkan ptoses dan bimbingan.Tetapi kita kadang merasa sudah mencapai batas optimal, sebenarnya itu hanyalah titik awal dari apa yang diharapkan selama ini. Hanya karena " gelar dan kapasitas keilmuan " kita yang menutupi diri kita sehingga perubahan itu tidak terwujudkan. Dari apa yang Pak Marsigit ungkapkan, guru yang baik membutuhkan orang - orang yang baik untuk membimbingnya. Hal ini sesuai ungkapan " Man ta'allama bila syaikhin, fa syaikhuhu syaitoon " Orang yang belajar tanpa pembimbing maka pembimbingnya adalah setan. Tidak heran jika pada diri kita sebagai guru, muncul sifat - sifat setan yang mengajak pada perilaku yang tidak diridloi oleh Allah SWT.
Pemikiran Pak Marsigit memberikan pencerahan bagaimana pribadi guru dapat berubah dari hal - hal yang bersifat datar menuju hal - hal yang lebih bermakna. Semoga pemikiran Pak Marsigit memberikan perubahan pada pola pikir kita dalam pengembangan kegiatan pembelajaran matematika menuju tercapainya tujuan pendidikan nasional yang kita cita - citakan. Amiin Ya Robbal 'Aalamiin.

suharnagurusertifikasi said...

Hidup adalah perubahan, tapi apa yang telah Bapak tulis membawa arahan yang lebih baik untuk perubahan.
Semoga saya dapat melakukan perubahan sehingga batasku tidak terlalu jauh dan batas batas anak-anakku tidak terenggut olehku, tidak ada anak tumbuh kerdil karena batasku jauh dari mereka dan tidak ada yang bergantung padaku karena kurenggut dan kurampas batas-batasnya,
Semoga kita berubah dan berubah, karena perubahan adalah kodrat-Nya

suharnagurusertifikasi said...

Dari, kata mutiara yang bapak percikan,pancarkan, nasehatkan dan wariskan pada kami mengilhami kami,untuk memahami bahwa semua yang ada dialam adalah berubah yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri, sejauh mana akal dan pikiran yang Allah anugrahkan pada kita dapat bermanfaat membantu perubahan mengoptimalkan perkembangan akal pikir peserta didik untuk membekali hidup tanpa ada yang dikurangi atau yang dilebihkan supaya batas-batasnya tidak saling mendholimi.
Dan tidak ada yang merasa dikurangi karena haknya belum diberikan!!
Dan tidak ada yang merasa terampas haknya karena haknya terambil oleh kita, karena kita berlaku/berbuat melampui batas !!

Mulyati said...

Untuk menggapai batas seperti yang telah ditulis secara indah oleh Bapak Marsigit tersebut, memang tidak mudah dilakukan oleh guru. Namun dengan usaha dan kerja keras insyaallah semuanya akan bias digapai. Oleh karena itu sebagai guru harus menfungsikan otak, pancaindera dan hati secara sinergis dan harmonis. Hal ini merupakan suatu proses pembelajaran seorang guru untuk mendapatkan keridhaan Allah atas ilmu-Nya. Proses ini berlangsung terus menerus dan mungkin sangat panjang. Tetapi dengan keikhlasan insyallah setiap langkahnya akan menghasilkan energi tersendiri yang tidak akan membuat seorang guru kelelahan.
Denga memaksimalkan ketiganya guru akan mengetahui kebenaran, bertindak dan berbicara dengan mempertimbangkan karakteristik murid-muridnya. Guru tidak akan menjejalkan pengetahuan ke benak murid dan merampas sukacita belajar, tetapi akan menjadi sumber inspirasi bagi murid-muridnya. Guru yang mengajar untuk belajar menjadi pembelajar sejati. Belajar tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Guru yang memiliki cahaya hati

Euis Kurniawati said...

Membaca tulisanmu Bapak, membekukan tanganku, mengaburkan kedua mataku dengan kabut kesedihan. Sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk dapat menuliskan komentar ini. Kesedihan yang terlahir dari kesadaran, akulah (kami) yang akan kau tinggalkan itu.
‘Elegi Seorang Guru Menggapai Batas’ menurutku adalah ilustrasi dan refleksi kegelisahan, kekhawatiran seorang mahaguru (yang saya maksud: gurunya guru) atau Orang Tua Berambut Putih, terhadap muridnya (Guru Menggapai Batas). Tak lain adalah dirimu guruku.
Seperti yang kau definisikan, bahwa dirimu bisa apa dan siapa saja. Dirimu bisa saja adalah bacaanku, referensiku, pertanyaanku, pikiranku, guruku, atau dosenku. Aku bisa melihat wajahmu yang sebenarnya pada akal dan pikiranku. Tempat tinggalmu adalah di batas pikiranku. Usahaku menggapai batas pikiranmu itulah sebenarnya dirimu. Dirimu tidak lain tidak bukan sebenarnya adalah ilmuku.
Baiklah, kau bisa apa dan siapa saja, kini tak begitu penting lagi mempertanyakan dirimu. Bagiku yang terpenting adalah komunikasi transenden itu tetap terjalin, tali temali antara kau, aku, mereka, dan siapa saja yang ingin menggapai ‘batas’ itu.
Wahai mahaguru, benarlah adanya, keberadaanmu baik kau akui maupun tidak, telah membukakan pintu kesadaran kami akan adanya batas yang membedakan kami atas kualitas diri, Kesatu atau Kedua. Meski awalnya membingungkan, memusingkan sepusing-pusingnya, itu karena kami belum mampu berputar pada poros kami sendiri (Rotasi) untuk bersama-sama berputar mengelilingi ‘matahari’(Revolusi). Untunglah, medan gravitasimu (kebijaksanaanmu, bimbinganmu, sekali lagi: kau akui maupun tidak) yang menyelamatkan kami sehingga tidak terlempar ke rimba raya luar angkasa yang pekat hitam kelam.
Alhamdulillah, seiring waktu, kami mulai berputar pada poros masing-masing. Semoga kami tidak salah menilai diri sendiri. Maafkanlah jika ini salah, inilah barangkali salah satu kesombongan kami yang kau khawatirkan itu.
Kekhawatiranmu mahaguru, jikalau kesadaran kami hanyalah euphoria sesaat. Kekhawatiranmu adalah jika semangat perubahan yang kami miliki luntur seiring waktu dan jarak yang kian terentang antara kita. Meski senyatanya tiadalah jarak itu dalam pikiranmu dan pikiran kami. Namun kau pun tak menginginkan kami selalu berada di dekatmu, mengikuti, mengejar bayang-bayangmu. Bukan, bukan itu yang kau inginkan.
Baiklah, kami pahami meski awalnya sulit menerima bahwa dirimu tak menginginkan kami ikuti; kau tahu sejak awal itulah yang kami harapkan. Kami akan merintis jalan kami masing-masing untuk menggapai batas itu. Bukankah pintu-pintu kesadaran itu kini terbuka sudah?
Meski terbayang betapa aral rintang yang menanti sepanjang jalan yang akan kami lewati, namun berbekal senjata: ilmu-naluri-intuisi serta berbekal kompas:doa-ikhlas-iman-takwa, kami akan berjuang sepanjang sisa waktu yang Allah SWT anugerahkan untuk kami. Semoga upaya yang kami tempuh memberi manfaat bagi dunia guru, dunia pendidikan matematika, dunia pembelajaran matematika, dan terutama tentunya dunia anak (siswa).
Ya Allah ridhoilah hijrah kami menembus furqon (pembeda, batas) dari kegelapan menuju terang (... minaddhulimati ilannuur... QS. Al Baqarah: 257).
Wahai Bapak, doakanlah kami agar dapat saling bersinergi satu sama lain sehingga terjalin ‘planet besar’ kekuatan untuk dimampatkan semampat-mampatnya menjadi black hole dalam dunia pendidikan. Lahaula wala kuwata illa billah...
Semoga perjumpaan dan perpisahan kita semata-mata karena Allah SWT yang akan mendapat naungan Arasy di hari akhirat kelak. Amiin ya robbal ‘alamiin.
Allohu 'alam bi showab.
(Jazakumulloh Khoiron Katsiron atas segala pencerahannya, hanya Allah SWT yang berkuasa membalas semua amal sholeh Bapak. Amiin.)

suhermanmath.blogspot.com said...

Elegi yang Bapak Marsigit tulis mengingatkan kami kepada perjalanan panjang dua orang sholeh Khidir dan Musa. Dimana Khidir selalu mengatakan kepada Musa: "kamu tidak akan pernah sabar bersamaku". Musa tidak bisa bersabar dengan Khidir seperti kami tdak bersikap sabar dengan pembelajaran Pa Marsigit, Sungguh kuat kehendak bapak kepada kami, hanya dengan ketawaduan Bapak kepada kami, kami dapat bangkit, hanya dengan ketawaduan bapak, kelemahan kami dianggap kekuatan, keteledoran kami dianggap ketelitian, kesombongan kami bapak anggap sebagai kepatuhan, kelalaian kami dianggap kecerdikan, itulah motivasi yang selama ini kami cari sehingga kami siap menyongsong hari esok yang lebih cerah. Terima kasih atas bimbingan bapak selama ini.

atiaturrahmaniah S2 dikdas said...

kalimat-kalimat yang tertuang dalam tulisan tentang elegi seorang guru menggapai batas memiliki banyak makna dan pelajaran yang berarti bagi semua orang bukan hanya guru saja. Makna yang saya temukan dari tulisan tersebut adalah seseorang itu jangan pernah merasa menjadi orang yang cukup dengan dirinya sehingga dia menjadi sombong karena yang paling tinggi dan berhak untuk sombong hanya Alloh SWT pencipata segalanya. Dalam kehidupan kita harus mampu mengendalikan perasaan kita dan menyadari bahwa kita masih perlu berbagi pengalaman dan pelajaran dari orang lain.
Guru bukanlah sosok yang sempurna, dan menjadi orang harus mampu segala-galanya, yang memaksa siswanya harus tunduk pada perintah dan kata-katanya yang tanpa pernah tahu apa yang dirasakan dan diinginkan siswa. Guru yang bijak adalah guru mendengar dan menjawab pertanyaan murid-muridnya, guru yang mau menerima kritikan dan pendapatorang lain.

Teguh Waluyo said...

Membaca tulisan Pak Marsigit berjudul “Elegi seorang guru menggapai batas”, membuatku tersadar.
Di dalam pikiran saya, sang guru menggapai batas adalah diriku sendiri.
Orang tua berambut putih adalah Dosenku di UNY.
Saya telah disadarkan.
Jangan-jangan motivasi saya membuat lemahnya inisiatif siswa.
Jangan-jangan bimbingan saya membuatnya tergantung dan tak berdaya
Jangan-jangan maksudku membekali membuatku menjadi sombong
Jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan ....

Akan tetapi,
Siapapun sang guru menggapai batas
Siapapun orang tua berambut putih...
“Elegi” itu menggugah saya untuk lebih berhati-hati.
Terima kasih Pak Marsigit.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan hidayahNya pada kita semua.
Aamiin.

SUGIPARYANTO said...

Matematika memang indah, sebagai buktinya tulisan dari Bapak tersebut. Setiap kalimat mengandung makna yang dalam sekali. Inilah tulisan "kualitas kedua".
Saya jadi ingat ketika ada orang yang "ngomongin" saya, guru matematika kok bisa nyanyi campursari, bisa MC pada mantenan, padahal matematika itu kaku, "saklek"". Ternyata setelah membaca tulisan Bapak, orang yang "dekat" dengan matematika bisa bertutur yang "indah-indah".
Dengan tulisan Bapak tersebut, saya banyak kekurangannya untuk menjadi seorang "guru". Semoga yang kami sampaikan, yang diberikan ke siswa ada manfaatnya dan dengan keikhlasan yang dilandasi dengan ibadah semoga menjadi amal para guru. Amiin.

sumadi said...

Guru adalah pekerjaan yang mulia bila dilandasi dengan keimanan,bersyukurlah bapak dan ibu yang sekarang mengabdikan dirinya untuk membantu anak bangsa mengembangkan pontensi dirinya.Namun perlu disadari bahwa bekal ilmu yang bapak dan ibu miliki belum apa-apa bila dibanding dengan ilmu yang Allah miliki bahkan tidak ubahnya bagaikan setetes air dari ujung jarum dalam lautan. Namun begitu jika ilmu yang bapak ibu miliki diamalkan dengan landasan iman dan taqwa insaallah itulah yang akan menjadikan amal di sisi Allah. Ingat hadis Nabi apabila anak adam telah meninggal dunia maka ada tiga perkara yang tidak terputus yaitu anak yang sholeh yang mendoakan orang tuanya, ilmu yang bermanfaat, amal jariah.semoga apa yang bapak dan ibu amalkan termasuk ilmu yang bermanfaat.Terimakasih atas tulisannya saya sampaikan kepada bapak Dr. Marsigiti yang telah mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dengan ilmu yang saya miliki.

Amiable said...

guru, digugu dan ditiru. so do the best and let god do the rest. bukankah Allah swt sudah berfirman: hal jazaul ihsani illal ihsan.

Jero Budi D. (S2 - P.Mat UNY) said...

"Elegi Guru Menggapai Batas"
Artikel ini mengingatkan saya kepada salah satu tembang Bali (Tembang Rakyat), dimana tertulis seuntaian lirik sebagai berikut " De Ngaden Awak Bisa, Depang Anake Ngadanin. Diastun Ririh, Enu Liu Pelajahan". Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, maknanya kurang lebih sebagai berikut:"Jangan Menganggap diri sudah cakap, biarkan orang lain yang menilai. Walupun sebenarnya pandai, masih banyak hal yang perlu dipelajari". Lirik ini sekaligus memberikan makna bahwa setiap insan memiliki keterbatasan, yaitu dibatasi oleh pikirannya. Jikalaupun ingin tau sampai dimana sebenarnya posisi diri ini diukur dari ribuan "Orang Tua Berambut Putih", hanya orang yang bukan diriku yang pantas untuk menilainya dan mengetahuinya. Barangkali kita sangat dekat dan bahkan mampu untuk bertanya dan menjelaskan karakteristik dan sifat serta manfaat dari seorang "orang tua berambut putih", namun sebenarnya masih ada "orang tua berambut putih" lainnya yang masih belum bisa kita jangkau.
Dalam kondisi seorang guru, ada banyak jalan untuk berusaha menggapai batas, tapi hendaknya dalam setiap langkah yang kita tempuh tetap harus diperhatikan dan dilhami, karena itu semua merupakan wujud dari "orang tua berambut putih" yang tidak lain tindakanmu adalah dirinya juga.
Terima Kasih (Jero)

Simon Manangkot (Filsafat S2 UNY) said...

Sesaat aku duduk dimalam hari sambil termenung memandang keindahan bintang di angkasa, dengan penuh bangga akupun barharap dapat mengumpulkan seluruh bintang-bintang tersebut dalam suatu wadah sehingga aku dapat mengamatinya lebih dekat. Tapi apakah itu bisa terlaksana? Jawabku dalam relung hati “bisa iyah bisa tidak” itulah pendapatku dalam hati. Karena pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri walau nantinya mungkin ditertawakan, ataupun diejek tak masalah untukku.
Sambil merenung masalah keindahan bintang-bintang yang bertebaran, akupun tersentak dengan keistimewaan yang dimiliki oleh guru. Dimana guru memiliki angan-angan yang merupakan harapan dalam diri maupun diluar dirinya sendiri. Pertarungan antar waktu, tenaga, pikiran, hati dan jiwa pun diberikan hanya untuk satu tujuan yang ingin digapai. Tapi apakah semuanya dapat dicapai dengan semudah membalikan telapak tangan? Bisa ya bisa tidak. Jika ya, patutlah bersyukur pada Tuhan karena memberikan akal budi yang tepat. Tapi jika tidak, apakah kita harus bertanya kepada Tuhan kenapa semua ini terjadi. Maafkan aku karena kesalahan sebab aku telah melibatkan Tuhan yang maha segalanya.(Apakah ini juga merupakan batas pikiranku?). Lalu apakah kita biarkan semangat dan pengetahuan itu sirna atau membeku? Jawabnya tidak, karena seperti yang telah dikatakan oleh orang bijak ”jika kamu belum mengetahui batasmu jangan harap rahmat itu datang menghampirmu kembali, tetapi jika kamu mengetahui batasmu maka adalah kodratnya bahwa kamu harus berjuang menggapai rahmatnya” dengan kata-kata di atas aku pun sadar bahwa begitu besar tantangan dalam tugas seorang guru yang harus dan terus berjuang dalam menggapai batas. Dengan demikian tak bedanya hidup seorang guru ibarat lilin yang membakar dirinya hingga habis demi menerangi setiap sudut ruang yang kadangkala hembusan angin berupaya meredupkan dan mematikan cahayanya. tanpa menuntut secercah pengharapan, penghargaan ataupun junjungan.
Dengan menggunakan cara pandang sebuah lilin dan kata-kata dari orang bijak yang telah berambut putih entah seputih salju atau seputih cahaya. perlu pemahaman yang cukup dalam sesuai dengan sebatas kemampuanku, yaitu kapan dan dimanakah kita memberikan cahaya untuk menerangi sekeliling kita?
- Jangan-jangan kita gunakan cahaya disaat siang ataupun saat terang bendenrang karna cahaya lampu menyorot lingkungannya
- Janga-jangan kita meletakkan cahayanya dibawah meja sehingga tidak dapat menerangi yang lain.
Oleh karena itu, usaha yang mau dibangun memang perlu perjuangan baik fisik, mental, dan pikiran yang akan digunakan untuk mengumpulkan segala daya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dalam diri. Karena didalam diri kita merupak wadah untuk menampung segala isi baik buruk maupun yang baik. ”Kita harus selalu optimis bukan pesimis”. Sekali lagi ”pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri, apa yang benar bagiku boleh jadi tidak untuk orang lain dan apa yang kukatakan baik bagiku boleh jadi jahat bagi orang lain serta apa yang aku katakan bagus bagiku, boleh jadi buruk dalam pandangannya” karena disitulah letak batas yang kita miliki. Terima kasih (Simon Manangkot)

MULIADI / 08709251023 said...

REFLEKSI filsafat: ELEGI SEORANG GURU MENGGAPAI BATAS

Berbicara tentang "batas" sama halnya dengan mencari berlian di padang pasir. Seorang guru tidak akan pernah menggenggam batasnya dengan hati dan jiwanya bahkan tidak akan pernah dekat dengan batas yang ingin digapainya melainkan ia hanya menikmati separuh dari kodratnya sebab semakin dikejarnya batas itu maka akan semakin menjauhi jiwanya jika tidak membekali jiwa dan raganya dengan kata iman, taqwa, sabar, ikhlas, tawaddu’, tawaqqal ‘alalloh. Sejalan dengan kutipan “Tenang dan sabarlah. Ciri-ciri orang cerdas adalah jika secara proporsional mampu mengendalikan perasaannya”. Tentulah kita sebagai manusia (bahru) yang nantinya menjadi kader-kader pendidik tidak akan pernah terlepas dari “I’mal lidunniyaka kaannaka ta’isyu’abadan wa’mal liakhirotika kaannaka tamutugodan, artinya bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamnya dan bekerjaan kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok” dalam wujud sikap ilmiah kita tentang ilmu pengetahuan yang kita miliki, Maha besar Allah SWT pada firman-Nya pada garis-Nya kepada hamba-Nya. Sehingga kita akan sadar bahwa antara hablumminalloh dan hablumminannas itu muncullah sebuah batas tetapi batas manusia di dunia tidak lain seketika rohnya berpisah dari jasadnya dan batas di akhirat tidak lain seketika roh itu bersaksi dan mengakui amal ibadahnya di dunia sebagai pertanggungjawabannya kepada Tuhannya (bertemu dengan Allah SWT). Sejalan dengan kutipan ”Itulah sebenar-benar batas yang kau cari, dan batasmu tidak lain tidak bukan adalah batas mereka. Antara dirimu dan mereka itulah sebenar-benar ilmumu tentang dirimu dan tentang diri mereka.., dan …Tiadalah orang pernah dan dapat menggapai batasnya untuk itu marilah kita tawaddu’ dengan kodrat dan iradatNya”

Sebagaimana mustika yang pernah diucapkan Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi Allah SWT menasehatkan engkau 9 sikap yang hidup sekarang, 9 sikap tersebut diantaranya 1) Bersikap ikhlas baik di waktu sepi maupun di waktu ramai, 2) Bersikap adil di kala ridha maupun ketika marah, 3) Hidup secara sederhana dikala kaya maupun dikala papa, 4) Jadikanlah waktu diam untuk berpikir, 5) Apabila engkau berbicara selalulah memberi peringatan, 6) Dikala engkau memandang hendaklah selalu memberi ibarat, dan lain-lain. Berdasar pada Hadits Qudsi tersebut maka ketika kita berbicara tentang “batas” maka ingatlah kita semua akan kembali menghadap Tuhan Rabbul ‘Izzati menyampaikan laporan amal sendiri, seluruh makhluk menjadi saksi. Mereka yang hidup jiwanya tentulah yang membela imannya dan taqwanya serta tidak tertahan harta dan tahta. Karena bila seseorang kehilangan akhlaq, zahir batinnya suka memberak dan Ibu Bapaknya serta Gurunya dipandang budak bila tak dapat emas dan perak. Memang berkah tak dapat dibeli dengan emas berlian sebesar jagad ini, berkah itu rahasia Illahi Rabbi yang dialamatkan kepada insan yang murni. Justru itu haruslah menjaga hati, mengikhlaskannya ke Rabbul ‘Izzati karena Dia lah raja sejati. Maka sucikanlah hatimu, dalam hatimulah rahasiamu dan rahasia hatimu ada pada dirimukarena itu hatimu sehingga kamu akan menemukan batasmu. Sejalan dengan kutipan “Yang ada adalah ikhlas, iman dan taqwa mu. Maka untuk bertemu Tuhan mu tidaklah cukup hanya dengan pikiranmu dan tidaklah cukup juga mengandalkan diriku, tetapi hatimu yang ikhlas itulah yang akan menuntunmu”.

Note: Mohon maaf jika ada kekeliruan kata dalam refleksi saya ini, sekian dan terimakasih.

Nurrahmah said...

Saya sangat tertarik sekali dengan artikel elegi seorang guru menggapai batas. Awalnya saya merasa terkejut tentang semua ini. Saya sadar memang tanggung jawab seorang guru sangat besar, sehingga kita dapat melihat keterbatasan ilmu dan rasa tanggung jawab dalam menjalani hidup. Dari sini kita bisa instrokspeksi diri sebagai pendidik. Ketika kita berbicara tentang elegi seorang guru menggapai batas maka tidak terlepas dari diri kita, Sudah sampai pada batas mana kita berhasil mendidik peserta didik? Apa yang menjadi pandangan/tolak ukur kita kedepan dalam menghadapi bangsa yang akan semakin maju sampai ke tingkat internasional? Untuk mampu bersaing pada tingkat internasional apakah sudah cukup bekal yang kita miliki. Apakah mampu kita menghadapi semua itu tanpa berusaha merubah diri kita. Apakah hati kita tidak akan menilai diri kita ketika kita telah membaca blog ini. Jawaban dari semua itu hanyalah hati kita yang dapat menjawab dan seharusnya mulai sekarang kita instrokspeksi diri kita. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Dr.Marsigit, ini merupakan langkah awal saya dalam bercermin tentang apa yang telah saya miliki dan bagaimana saya mengeksploitasi semua itu dengan tidak memandang sebelah mata. Dalam upaya peningkatan mutu peserta didik, mulai sekarang saya harus mempelajari batas-batas pengetahuan yang saya miliki dan bagaimana saya meningkatkan batas-batas yang saya miliki tersebut. Setiap sesuatu yang saya kerjakan dan pekerjaan itu membuat saya ragu maka apakah itu tandanya sesuatu yang saya lakukan tidak dengan ketentuan hati dan apakah itu yang dinamakan bukan suatu keikhlasan bagi saya? Saya juga sangat merasa bahwa ilmu itu bukan didapat dari pengalaman saja, tetapi ilmu itu berada dimana-mana. Ketika kita memiliki wawasan yang luas apakah mungkin kita merasa bahwa kita sudah memiliki segala-galanya? Apakah dengan memiliki wawasan luas seseorang dapat berlaku bijak dalam segala sesuatu, saya sadar sesungguhnya didunia ini tidak ada yang sempurna. Sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT. Mulai sekarang kita bercermin tentang apa yang kita miliki dan apa yang kita kerjakan sesungguhnya semua itu dari keikhlasan hati. Kita berusaha untuk terus maju dan bisa berlaku bijak dengan segala yang kita perbuat. Dengan keterbatasan ilmu dan pemahaman yang saya miliki, tulisan ini saya cukupkan dan mohon maaf atas segalanya. Sekian dan terima kasih

NikenWU(PMat Pasca/08709251005) said...

Dalam artikel ini, “Orang Tua Berambut Putih” adalah wujud yang tak terbatas, bukan hanya “Dasa Muka” melainkan “Multi Facet” yang akan memiliki wujud yang berbeda dalam ruang dan waktu yang berbeda walaupun barangkali arti dan maknanya tidak akan jauh berbeda.
Sebagai contoh, cerita pewayangan yang begitu mempengaruhi pola pikir dan perkembangan kebudayaan masa lalu akan memiliki nilai yang berbeda jika dibandingkan dengan nilai saat ini. Walupun nilai dan pesan yang ingin disampaikan dalam suatu cerita pewayangan mungkin ”sama” antara masa kini dan masa 50 tahun yang lalu dan antara di satu segmen di tanah air tercinta ini dengan segmen lain, maka cara penyampaiannya sudah tentu sangat berbeda. Inilah bagian dari perwujudan “Orang Tua Berambut Putih” dalam upaya perkembangannya seiring dengan pergantian waktu.
Mungkin sulit untuk memaknai, namun ternyata secara sadar ataupun tidak sadar; setiap detik dari napasku, setiap benda yang memantulkan cahaya ke mataku, setiap karakter yang aku baca, setiap rasa yang aku kecap, setiap kata yang terungkap, setiap suara yang kudengar, dan setiap bau yang aku hirup, semua itu adalah perwujudan dari’nya. Karena sifat multikarakternya yang dapat berwujud sebagai guru, sebagai tulisan, sebagai suara, sebagai kegiatan dan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
Dan pada kenyataannya, karakter yang disimbulkan dengan guru menggapai batas adalah sebuah profesi dimana di dalamnya terdapat diriku sebagai elemennya dan juga ribuan insan/orang lain yang sudah tentu adalah elemennya juga. Mereka setiap detik bergelut diantara batas-batas tanpa ada yang pernah mengetahui kapan batas akhir akan tiba. Karena, ketika batas akhir telah tiba, tiada kemampuan lagi untuk bertanya, tiada kemampuan lagi untuk melihat, tiada kemampuan lagi untuk berpikir, tiada kemampuan lagi untuk berkomunikasi di luar pikiran. Maka, saya/kita selaku insan dunia dan selaku pendidik sudah sewajarnya selalu instropeksi diri, ikhlas, berdoa, dan mengambil hikmah dari setiap langkah yang dilaksanakan sebelum batas itu tiba.
Terima kasih.

Melly Andriani said...

saya setuju untuk memulai dari hati. kadang untuk menutupi kesalahan yang diperbuat, kita memcari pembenaran. padahal seharus kita mencoba merenungi apa yang kita lakukan. guru juga manusia biasa yang tidak harus lebih dari muridnya, tapi kenapa guru ingin lebih di mata muridnya.
elegi guru menggapai batas sebuah smerupakan refleksi kita sebagai guru. kita tanya kembali hati kita, apakah yang kita perbuat untuk kepentingan siswa atau hanya ego kita. saya jadi teringat AA Gym dengan menajemen kalbunya. pekerjaan guru mulia, tapi benarkah kita termasuk guru yang mulia?

ARIS GUNANTO said...

“ATAU BARANGKALI DAN JANGAN-JANGAN KITA INI YAITU PENDIDIK DAN PENDIDIKAN YANG MENJADI BIANG DARI SEGALA KRISIS YANG ADA”. Sebagai guru saya sangat tersentak membaca tulisan DR. Marsigit diatas. Seakan menyadarkan bahwa saya sedang berjalan diatas rel yang lurus tanpa hambatan tetapi membawa muatan yang terkadang bisa rusak atau malah busuk. Berhentii berjalan tentunya suatu pilihan tetapi muatan harus sampai tujuan. Padahal saya selalu memberi motivasi yang sangat kuat, tetapi tidak tahu kalau malah melemahkan inisiatif, selalu membimbing, mengawasi dan membekali hingga muatanku rendah diri. Semua nasehatku jadi egoku dan ambisiku, sehingga tidak bergairah hidup. Bisakah aku mewajibkan lagi, menghukum yang semua itu demi kepentingan siswa.
Mahaguruku datang, “ITULAH SEBENAR-BENAR BATAS YANG KAU CARI”. Ya, sebuah kesadaran yang mungkin belum terlambat. Kesadaran untuk mengetahui diriku dan diri mereka. Sebuah kesadaran bahwa adalah kodratnya kita semua masih harus berjuang menggapai rahmatNya.

RINAWATI said...

Terima kasih ungkapan Bapak dapat menggugah kami,ternyata selama ini kami terlena dengan kesibukan kami.
Mudah - mudahan dengan tulisan Bapak ini saya dapat menggapai batas itu sesuai dengan harapan dan keinginan kita untuk tetap beristikomah dan seraya memohon kepada yang maha kuasa!! Terima kasih Pak atas segala peringatan dan bimbingannya.

Siti Salamah Graduate Student LT/A said...

benar sekali apa yang telah dituliskan Bpk, sungguh apa yang Bapak tulis membuat saya berfikir. apakah yang telah saya lakukan terhadap anak didik saya. telah sampailah saya pada makna pendidikan yang susungguhnya. Atau jangan2 benar adanya jika yang saya lakukan selama ini bukanlah mendidik mereka tetapi membelenggu mereka dalam dunia dan keinginan saya.
Membuat mereka dengan satu bentuk yaitu bentuk yang saya inginkan.
Saya jadi berfikir, kapan saya dapat menghargai mereka dengan berbagai bentuk dan keinginan mereka.Tanpa ada domonasi keinginan saya. Saya sepakat bahwa hakekat pendidikan bukanlah proses atau upaya penyeragaman.

Sriles UPY said...

Sri Lestari (07410065)
Pend. Matematika UPY

Assalamu’alaikum, Wr, Wb
Tugas guru sangatlah mulia, menjadi panutan/ contoh bagi murid-muridnya. Tugasnyapun terlihat mudah tetapi sesungguhnya sangatlah berat.
Ternyata tidak semua penjelasan guru itu sudah benar, tidak sedikit guru mengajarkan siswa berdasarkan mitos-mitos yang sesungguhnya sangat tidak dianjurkan .
Guru yang baik adalah guru yang mengajarkan, membimbing siswa-siswanya berdasarkan keteguhan hati dan iman serta taqwa kepada Allah SWT, selalu ikhlas dan mengingat Tuhan dalam keadaan apapun. Guru dikatakan sukses dalam mendidik siswanya jika selalu sinergis antar guru dengan siswa untuk bersama-sama saling menerjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu.
Memang tidak semua perkataan/ jawaban dari guru itu benar, mereka terkadang masih banyak kesalahan yang yang gengsi untuk diakui dihadapan siswa . sebenarnya gurupun masih perlu banyak belajar tidak cukup hanya sampai disini, menjadi seorang guru. Tidak ada kata malu untuk mendapatkan ilmu. Karena pepatah juga mengatakan gapailah ilmu sampai ke negri cina. Ilmu tidak akan ketemu tiitk ujungnya karena ilmu masih perlu untuk terus kita cari sampai ke liang lahat sekalipun karena ilmu merupakan Rahmat dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum

Sriles UPY said...

Sri Lestari (07410065)
Pend. Matematika UPY

Assalamu’alaikum, Wr, Wb
Tugas guru sangatlah mulia, menjadi panutan/ contoh bagi murid-muridnya. Tugasnyapun terlihat mudah tetapi sesungguhnya sangatlah berat.
Ternyata tidak semua penjelasan guru itu sudah benar, tidak sedikit guru mengajarkan siswa berdasarkan mitos-mitos yang sesungguhnya sangat tidak dianjurkan .
Guru yang baik adalah guru yang mengajarkan, membimbing siswa-siswanya berdasarkan keteguhan hati dan iman serta taqwa kepada Allah SWT, selalu ikhlas dan mengingat Tuhan dalam keadaan apapun. Guru dikatakan sukses dalam mendidik siswanya jika selalu sinergis antar guru dengan siswa untuk bersama-sama saling menerjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu.
Memang tidak semua perkataan/ jawaban dari guru itu benar, mereka terkadang masih banyak kesalahan yang yang gengsi untuk diakui dihadapan siswa . sebenarnya gurupun masih perlu banyak belajar tidak cukup hanya sampai disini, menjadi seorang guru. Tidak ada kata malu untuk mendapatkan ilmu. Karena pepatah juga mengatakan gapailah ilmu sampai ke negri cina. Ilmu tidak akan ketemu tiitk ujungnya karena ilmu masih perlu untuk terus kita cari sampai ke liang lahat sekalipun karena ilmu merupakan Rahmat dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum