Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, standar itu proses dan proses itu standar,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon standar dan jargon proses. Wahai jargon standar dan jargon proses dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon standar kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon proses kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Standar terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi proses. Sedangkan proses kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon standar:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon standar. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada proses agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para proses tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon proses:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon proses. Saya menyadari bahwa jargon para standar itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada standar agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para standar. Ketahuilah tiadalah standar itu jika tidak ada proses. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon standar.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon standar. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon standar:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon standar. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi proses pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada proses. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada proses maka kedudukanku sebagai standar akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi standar yang kuat, yaitu sebear-benar standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai standar sejati maka aku harus mengelola semua proses sedemikian rupa sehingga semua prosesku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar proses selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para proses. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para proses. Dari pada jargon proses menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon standar, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.
Jargon standar terbaik :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon standar terbaik. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai terbaik. Ketika aku menjadi terbaik maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses. Maka setelah aku menjadi terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai terbaik, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan para prosesku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai terbaik. kekuasaanku sebagai terbaik itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai terbaik itu harus jujur, sebagai terbaik itu harus peduli, sebagai terbaik itu harus patuh, sebagai terbaik itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: terbaik harus terhormat, terbaik harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai terbaik adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai terbaik terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para proses. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai terbaik. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon standar terbaik. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon standar terbaik, agar diketahui oleh para proses-prosesku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon proses. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon proses:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon proses. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para standar. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada standar. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada standar maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh standar-standarku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai proses sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para standar. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para standar. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para standar. Tetapi apalah dayaku sebagai proses. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi prosesnya para jargon standar.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon proses, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.
Jargon proses tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon proses tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku diharapka mempunyai standar terbaik . Ketika aku diharapkan mempunyai standar terbaik aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses tertindas. Maka setelah aku mempunyai standar terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon standar terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai proses yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan standar terbaik itu mengalir melalui jargon-jargon : sebagai standar terbaik itu memang harus jujur, sebagai standar terbaik itu memang harus peduli, sebagai standar terbaik itu memang harus patuh, sebagai standar terbaik itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa standar terbaik tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: standar terbaik harus melindungi proses, standar terbaik harus menolong proses, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai proses adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur terbaik itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai proses sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para standar. Agar aku selamat dari penindasan para jargon standar. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai proses. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon proses. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon proses, agar aku bisa berlindung dari ancaman para standar. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon standar saja, saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para standar dan proses saling menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan standar, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap proses itu. Tiadalah sebenar-benar standar sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Saturday, May 23, 2009
Jargon Pertengkaran Pejabat dan Rakyat
Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, pejabat itu rakyat dan rakyat itu pejabat,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon pejabat dan jargon rakyat. Wahai jargon pejabat dan jargon rakyat dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon pejabat kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon rakyat kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Pejabat terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi rakyat. Sedangkan rakyat kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon pejabat:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon pejabat. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada rakyat agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para rakyat tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon rakyat:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon rakyat. Saya menyadari bahwa jargon para pejabat itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada pejabat agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para pejabat. Ketahuilah tiadalah pejabat itu jika tidak ada rakyat. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon pejabat.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon pejabat. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon pejabat:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon pejabat. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi rakyat pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada rakyat. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada rakyat maka kedudukanku sebagai pejabat akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi pejabat yang kuat, yaitu sebear-benar pejabat. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai pejabat sejati maka aku harus mengelola semua rakyat sedemikian rupa sehingga semua rakyatku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar rakyat selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para rakyat. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para rakyat. Dari pada jargon rakyat menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon pejabat, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon pejabat senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon pejabat senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para rakyat. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon pejabat senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon pejabat senior, agar diketahui oleh para rakyat-rakyatku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon rakyat. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon rakyat:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon rakyat. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para pejabat. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada pejabat. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada pejabat maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh pejabat-pejabatku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para pejabat. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai rakyat sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para pejabat. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para pejabat. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para pejabat. Tetapi apalah dayaku sebagai rakyat. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi rakyatnya para jargon pejabat.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon rakyat, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon rakyat tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon rakyat tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai pejabat senior . Ketika aku mempunyai pejabat senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai rakyat tertindas. Maka setelah aku mempunyai pejabat senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon pejabat senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai rakyat tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai rakyat tertindas itu harus jujur, sebagai rakyat tertindas itu harus peduli, sebagai rakyat tertindas harus patuh, sebagai rakyat tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan pejabat seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai pejabat senior itu memang harus jujur, sebagai pejabat senior itu memang harus peduli, sebagai pejabat senior itu memang harus patuh, sebagai pejabat senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa pejabat seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: pejabat senior harus melindungi tertindas, pejabat senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai rakyat tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para pejabat. Agar aku selamat dari penindasan para jargon pejabat. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai rakyat tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon rakyat tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon rakyat tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para pejabat. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon pejabat saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Pejabat memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai pejabat, sedangkan rakyat memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana pejabat dan rakyat dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para pejabat dan rakyat agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, pejabat itu adalah rakyat, dan rakyat itu adalah pejabat. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan pejabat, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap rakyat-rakyatmu itu. Tiadalah sebenar-benar pejabat sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, pejabat itu rakyat dan rakyat itu pejabat,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon pejabat dan jargon rakyat. Wahai jargon pejabat dan jargon rakyat dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon pejabat kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon rakyat kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Pejabat terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi rakyat. Sedangkan rakyat kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon pejabat:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon pejabat. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada rakyat agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para rakyat tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon rakyat:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon rakyat. Saya menyadari bahwa jargon para pejabat itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada pejabat agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para pejabat. Ketahuilah tiadalah pejabat itu jika tidak ada rakyat. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon pejabat.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon pejabat. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon pejabat:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon pejabat. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi rakyat pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada rakyat. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada rakyat maka kedudukanku sebagai pejabat akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi pejabat yang kuat, yaitu sebear-benar pejabat. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai pejabat sejati maka aku harus mengelola semua rakyat sedemikian rupa sehingga semua rakyatku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar rakyat selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para rakyat. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para rakyat. Dari pada jargon rakyat menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon pejabat, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon pejabat senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon pejabat senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para rakyat. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon pejabat senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon pejabat senior, agar diketahui oleh para rakyat-rakyatku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon rakyat. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon rakyat:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon rakyat. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para pejabat. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada pejabat. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada pejabat maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh pejabat-pejabatku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para pejabat. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai rakyat sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para pejabat. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para pejabat. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para pejabat. Tetapi apalah dayaku sebagai rakyat. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi rakyatnya para jargon pejabat.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon rakyat, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon rakyat tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon rakyat tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai pejabat senior . Ketika aku mempunyai pejabat senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai rakyat tertindas. Maka setelah aku mempunyai pejabat senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon pejabat senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai rakyat tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai rakyat tertindas itu harus jujur, sebagai rakyat tertindas itu harus peduli, sebagai rakyat tertindas harus patuh, sebagai rakyat tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan pejabat seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai pejabat senior itu memang harus jujur, sebagai pejabat senior itu memang harus peduli, sebagai pejabat senior itu memang harus patuh, sebagai pejabat senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa pejabat seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: pejabat senior harus melindungi tertindas, pejabat senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai rakyat tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para pejabat. Agar aku selamat dari penindasan para jargon pejabat. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai rakyat tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon rakyat tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon rakyat tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para pejabat. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon pejabat saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Pejabat memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai pejabat, sedangkan rakyat memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana pejabat dan rakyat dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para pejabat dan rakyat agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, pejabat itu adalah rakyat, dan rakyat itu adalah pejabat. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan pejabat, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap rakyat-rakyatmu itu. Tiadalah sebenar-benar pejabat sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Jargon Pertengkaran Orang tua dan Orang muda
Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, orang tua itu orang muda dan orang muda itu orang tua,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon orang tua dan jargon orang muda. Wahai jargon orang tua dan jargon orang muda dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon orang tua kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon orang muda kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Orang tua terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi orang muda. Sedangkan orang muda kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon orang tua:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon orang tua. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada orang muda agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para orang muda tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon orang muda:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon orang muda. Saya menyadari bahwa jargon para orang tua itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada orang tua agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para orang tua. Ketahuilah tiadalah orang tua itu jika tidak ada orang muda. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon orang tua.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon orang tua. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon orang tua:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon orang tua. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi orang muda pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada orang muda. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada orang muda maka kedudukanku sebagai orang tua akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi orang tua yang kuat, yaitu sebear-benar orang tua. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai orang tua sejati maka aku harus mengelola semua orang muda sedemikian rupa sehingga semua orang mudaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar orang muda selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para orang muda. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para orang muda. Dari pada jargon orang muda menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon orang tua, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon orang tua senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon orang tua senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para orang muda. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon orang tua senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon orang tua senior, agar diketahui oleh para orang muda-orang mudaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon orang muda. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon orang muda:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon orang muda. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para orang tua. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada orang tua. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada orang tua maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh orang tua-orang tuaku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para orang tua. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai orang muda sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para orang tua. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para orang tua. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para orang tua. Tetapi apalah dayaku sebagai orang muda. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi orang mudanya para jargon orang tua.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon orang muda, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon orang muda tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon orang muda tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai orang tua senior . Ketika aku mempunyai orang tua senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai orang muda tertindas. Maka setelah aku mempunyai orang tua senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon orang tua senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai orang muda tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai orang muda tertindas itu harus jujur, sebagai orang muda tertindas itu harus peduli, sebagai orang muda tertindas harus patuh, sebagai orang muda tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan orang tua seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai orang tua senior itu memang harus jujur, sebagai orang tua senior itu memang harus peduli, sebagai orang tua senior itu memang harus patuh, sebagai orang tua senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa orang tua seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: orang tua senior harus melindungi tertindas, orang tua senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai orang muda tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para orang tua. Agar aku selamat dari penindasan para jargon orang tua. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai orang muda tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon orang muda tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon orang muda tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para orang tua. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon orang tua saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Orang tua memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai orang tua, sedangkan orang muda memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana orang tua dan orang muda dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para orang tua dan orang muda agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, orang tua itu adalah orang muda, dan orang muda itu adalah orang tua. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan orang tua, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar orang tua sejati itu bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, orang tua itu orang muda dan orang muda itu orang tua,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon orang tua dan jargon orang muda. Wahai jargon orang tua dan jargon orang muda dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon orang tua kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon orang muda kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Orang tua terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi orang muda. Sedangkan orang muda kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon orang tua:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon orang tua. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada orang muda agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para orang muda tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon orang muda:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon orang muda. Saya menyadari bahwa jargon para orang tua itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada orang tua agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para orang tua. Ketahuilah tiadalah orang tua itu jika tidak ada orang muda. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon orang tua.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon orang tua. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon orang tua:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon orang tua. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi orang muda pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada orang muda. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada orang muda maka kedudukanku sebagai orang tua akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi orang tua yang kuat, yaitu sebear-benar orang tua. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai orang tua sejati maka aku harus mengelola semua orang muda sedemikian rupa sehingga semua orang mudaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar orang muda selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para orang muda. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para orang muda. Dari pada jargon orang muda menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon orang tua, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon orang tua senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon orang tua senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para orang muda. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon orang tua senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon orang tua senior, agar diketahui oleh para orang muda-orang mudaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon orang muda. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon orang muda:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon orang muda. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para orang tua. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada orang tua. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada orang tua maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh orang tua-orang tuaku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para orang tua. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai orang muda sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para orang tua. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para orang tua. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para orang tua. Tetapi apalah dayaku sebagai orang muda. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi orang mudanya para jargon orang tua.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon orang muda, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon orang muda tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon orang muda tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai orang tua senior . Ketika aku mempunyai orang tua senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai orang muda tertindas. Maka setelah aku mempunyai orang tua senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon orang tua senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai orang muda tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai orang muda tertindas itu harus jujur, sebagai orang muda tertindas itu harus peduli, sebagai orang muda tertindas harus patuh, sebagai orang muda tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan orang tua seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai orang tua senior itu memang harus jujur, sebagai orang tua senior itu memang harus peduli, sebagai orang tua senior itu memang harus patuh, sebagai orang tua senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa orang tua seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: orang tua senior harus melindungi tertindas, orang tua senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai orang muda tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para orang tua. Agar aku selamat dari penindasan para jargon orang tua. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai orang muda tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon orang muda tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon orang muda tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para orang tua. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon orang tua saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Orang tua memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai orang tua, sedangkan orang muda memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana orang tua dan orang muda dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para orang tua dan orang muda agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, orang tua itu adalah orang muda, dan orang muda itu adalah orang tua. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan orang tua, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar orang tua sejati itu bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Jargon Pertengkaran Dosen dan Mahasiswa
Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, dosen itu mahasiswa dan mahasiswa itu dosen,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon dosen dan jargon mahasiswa. Wahai jargon dosen dan jargon mahasiswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon dosen kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon mahasiswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Dosen terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi mahasiswa. Sedangkan mahasiswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon dosen:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon dosen. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada mahasiswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para mahasiswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon mahasiswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon mahasiswa. Saya menyadari bahwa jargon para dosen itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada dosen agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para dosen. Ketahuilah tiadalah dosen itu jika tidak ada mahasiswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon dosen.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon dosen. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon dosen:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon dosen. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi mahasiswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada mahasiswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada mahasiswa maka kedudukanku sebagai dosen akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi dosen yang kuat, yaitu sebear-benar dosen. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai dosen sejati maka aku harus mengelola semua mahasiswa sedemikian rupa sehingga semua mahasiswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar mahasiswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para mahasiswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para mahasiswa. Dari pada jargon mahasiswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon dosen, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon dosen senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon dosen senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para mahasiswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon dosen senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon dosen senior, agar diketahui oleh para mahasiswa-mahasiswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon mahasiswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon mahasiswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon mahasiswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para dosen. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada dosen. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada dosen maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh dosen-dosenku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para dosen. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai mahasiswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para dosen. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para dosen. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para dosen. Tetapi apalah dayaku sebagai mahasiswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi mahasiswanya para jargon dosen.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon mahasiswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon mahasiswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon mahasiswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai dosen senior . Ketika aku mempunyai dosen senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai mahasiswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai dosen senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon dosen senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai mahasiswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai mahasiswa tertindas itu harus jujur, sebagai mahasiswa tertindas itu harus peduli, sebagai mahasiswa tertindas harus patuh, sebagai mahasiswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan dosen seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai dosen senior itu memang harus jujur, sebagai dosen senior itu memang harus peduli, sebagai dosen senior itu memang harus patuh, sebagai dosen senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa dosen seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: dosen senior harus melindungi tertindas, dosen senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai mahasiswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para dosen. Agar aku selamat dari penindasan para jargon dosen. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai mahasiswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon mahasiswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon mahasiswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para dosen. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon dosen saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Dosen memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai dosen, sedangkan mahasiswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana dosen dan mahasiswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para dosen dan mahasiswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, dosen itu adalah mahasiswa, dan mahasiswa itu adalah dosen. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan dosen, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar dosen sejati itu bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, dosen itu mahasiswa dan mahasiswa itu dosen,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon dosen dan jargon mahasiswa. Wahai jargon dosen dan jargon mahasiswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon dosen kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon mahasiswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Dosen terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi mahasiswa. Sedangkan mahasiswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon dosen:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon dosen. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada mahasiswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para mahasiswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon mahasiswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon mahasiswa. Saya menyadari bahwa jargon para dosen itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada dosen agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para dosen. Ketahuilah tiadalah dosen itu jika tidak ada mahasiswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon dosen.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon dosen. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon dosen:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon dosen. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi mahasiswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada mahasiswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada mahasiswa maka kedudukanku sebagai dosen akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi dosen yang kuat, yaitu sebear-benar dosen. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai dosen sejati maka aku harus mengelola semua mahasiswa sedemikian rupa sehingga semua mahasiswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar mahasiswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para mahasiswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para mahasiswa. Dari pada jargon mahasiswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon dosen, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon dosen senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon dosen senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para mahasiswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon dosen senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon dosen senior, agar diketahui oleh para mahasiswa-mahasiswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon mahasiswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon mahasiswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon mahasiswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para dosen. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada dosen. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada dosen maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh dosen-dosenku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para dosen. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai mahasiswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para dosen. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para dosen. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para dosen. Tetapi apalah dayaku sebagai mahasiswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi mahasiswanya para jargon dosen.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon mahasiswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon mahasiswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon mahasiswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai dosen senior . Ketika aku mempunyai dosen senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai mahasiswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai dosen senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon dosen senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai mahasiswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai mahasiswa tertindas itu harus jujur, sebagai mahasiswa tertindas itu harus peduli, sebagai mahasiswa tertindas harus patuh, sebagai mahasiswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan dosen seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai dosen senior itu memang harus jujur, sebagai dosen senior itu memang harus peduli, sebagai dosen senior itu memang harus patuh, sebagai dosen senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa dosen seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: dosen senior harus melindungi tertindas, dosen senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai mahasiswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para dosen. Agar aku selamat dari penindasan para jargon dosen. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai mahasiswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon mahasiswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon mahasiswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para dosen. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon dosen saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Dosen memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai dosen, sedangkan mahasiswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana dosen dan mahasiswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para dosen dan mahasiswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, dosen itu adalah mahasiswa, dan mahasiswa itu adalah dosen. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan dosen, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar dosen sejati itu bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa
Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.
Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Friday, May 22, 2009
Jargon Pertengkaran antara Subyek dan Obyek
Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, subyek itu obyek dan obyek itu subyek,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon subyek dan jargon obyek. Wahai jargon subyek dan jargon obyek dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon subyek kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon obyek kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon subyek. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada obyek agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para obyek tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon obyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon obyek. Saya menyadari bahwa jargon para subyek itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada subyek agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para subyek. Ketahuilah tiadalah subyek itu jika tidak ada obyek.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon subyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon subyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon subyek. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi obyek pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada obyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada obyek maka kedudukanku sebagai subyek akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi subyek yang kuat, yaitu sebear-benar subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai subyek sejati maka aku harus mengelola semua obyek sedemikian rupa sehingga semua obyekku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar obyek selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para obyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para obyek. Dari pada jargon obyek menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon subyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.
Jargon subyek ketua :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon subyek ketua. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai ketua. Ketika aku menjadi ketua maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku menjadi ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai ketua, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan para anggotaku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai ketua. kekuasaanku sebagai ketua itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai ketua itu harus jujur, sebagai ketua itu harus peduli, sebagai ketua itu harus adil, sebagai ketua itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus terhormat, ketua harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai ketua adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai ketua terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para obyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai ketua. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon subyek ketua. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon subyek ketua, agar diketahui oleh para obyek-obyekku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon obyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon obyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon obyek. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para subyek. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada subyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada subyek maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh subyek-subyekku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai obyek sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para subyek. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para subyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para subyek. Tetapi aplah dayaku sebagai obyek. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi obyeknya para jargon subyek.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon obyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.
Jargon obyek anggota :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon obyek anggota. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai ketua baru. Ketika aku mempunyai ketua baru aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku mempunyai ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai anggota yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan ketuaku itu mengalir melalui jargon-jargon ketua: sebagai ketua itu memang harus jujur, sebagai ketua itu memang harus peduli, sebagai ketua itu memang harus patuh, sebagai ketua itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa ketuaku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus melindungi anggota, ketua harus menolong anggota, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai anggota adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, ketua itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu tidak pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai anggota sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para subyek. Agar aku selamat dari penindasan para jargon subyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai anggota. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon obyek anggota. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon obyek anggota, agar aku bisa berlindung dari ancaman para subyek. Aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon subyek saja kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para subyek dan obyek agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Dengan ini aku peringatkan kepada subyek. Janganlah engkau bertindak melebihi batas. Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, subyek itu obyek dan obyek itu subyek,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.
Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon subyek dan jargon obyek. Wahai jargon subyek dan jargon obyek dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon subyek kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon obyek kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?
Jargon subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon subyek. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada obyek agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para obyek tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.
Jargon obyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon obyek. Saya menyadari bahwa jargon para subyek itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada subyek agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para subyek. Ketahuilah tiadalah subyek itu jika tidak ada obyek.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon subyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon subyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon subyek. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi obyek pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada obyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada obyek maka kedudukanku sebagai subyek akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi subyek yang kuat, yaitu sebear-benar subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai subyek sejati maka aku harus mengelola semua obyek sedemikian rupa sehingga semua obyekku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar obyek selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para obyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para obyek. Dari pada jargon obyek menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon subyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.
Jargon subyek ketua :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon subyek ketua. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai ketua. Ketika aku menjadi ketua maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku menjadi ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai ketua, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan para anggotaku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai ketua. kekuasaanku sebagai ketua itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai ketua itu harus jujur, sebagai ketua itu harus peduli, sebagai ketua itu harus adil, sebagai ketua itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus terhormat, ketua harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai ketua adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai ketua terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para obyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai ketua. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon subyek ketua. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon subyek ketua, agar diketahui oleh para obyek-obyekku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.
Orang tua berambut putih:
Wahai jargon obyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.
Jargon obyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon obyek. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para subyek. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada subyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada subyek maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh subyek-subyekku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai obyek sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para subyek. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para subyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para subyek. Tetapi aplah dayaku sebagai obyek. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi obyeknya para jargon subyek.
Orang tua berambut putih:
Maaf jargon obyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.
Jargon obyek anggota :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon obyek anggota. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai ketua baru. Ketika aku mempunyai ketua baru aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku mempunyai ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai anggota yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan ketuaku itu mengalir melalui jargon-jargon ketua: sebagai ketua itu memang harus jujur, sebagai ketua itu memang harus peduli, sebagai ketua itu memang harus patuh, sebagai ketua itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa ketuaku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus melindungi anggota, ketua harus menolong anggota, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai anggota adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, ketua itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu tidak pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai anggota sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para subyek. Agar aku selamat dari penindasan para jargon subyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai anggota. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon obyek anggota. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon obyek anggota, agar aku bisa berlindung dari ancaman para subyek. Aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon subyek saja kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.
Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para subyek dan obyek agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Dengan ini aku peringatkan kepada subyek. Janganlah engkau bertindak melebihi batas. Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.
Jargon Para Obyek
Oleh Marsigit
Jargon:
Wahai para obyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?
Para obyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pembuat.
Aku itu meliputi para obyek pembuat tugas, obyek pembuat mandat, obyek pembuat amanah, obyek pembuat kewajiban, obyek pembuat aturan, obyek pembuat obyek, obyek pembuat sifat, obyek pembuat permulaan, obyek pembuat inisiatif, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat pertanyaan, obyek pembuat jawaban, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat benar, obyek pembuat salah, obyek pembuat suasana, obyek pembuat akhiran, obyek pembuat laporan, obyek pembuat metode, obyek pembuat alat, obyek pembuat tulisan, obyek pembuat bicara, obyek pembuat proposal, obyek pembuat baik, obyek pembuat buruk, obyek pembuat bergerak, obyek pembuat diam, obyek pembuat tidak jelas, obyek pembuat kacau, obyek pembuat tidak kacau, obyek pembuat jargon, obyek pembuat elegi, obyek pembuat contoh, obyek pembuat hubungan, obyek pembuat sesuai, obyek pembuat tidak sesuai, obyek pembuat terang, obyek pembuat gelap, obyek pembuat mahal, obyek pembuat murah, obyek pembuat turun, obyek pembuat naik, pambuat ramai, obyek pembuat sepi, obyek pembuat perang, obyek pembuat kacau, obyek pembuat adil, obyek pembuat jabatan, obyek pembuat PR, obyek pembuat nilai, obyek pembuat naik kelas, obyek pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek pembuat. Para obyek pembuat itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek penentu.
Aku itu meliputi para obyek penentu tugas, obyek penentu mandat, obyek penentu amanah, obyek penentu kewajiban, obyek penentu aturan, obyek penentu obyek, obyek penentu sifat, obyek penentu permulaan, obyek penentu inisiatif, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu pertanyaan, obyek penentu jawaban, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu benar, obyek penentu salah, obyek penentu suasana, obyek penentu akhiran, obyek penentu laporan, obyek penentu metode, obyek penentu alat, obyek penentu tulisan, obyek penentu bicara, obyek penentu proposal, obyek penentu baik, obyek penentu buruk, obyek penentu bergerak, obyek penentu diam, obyek penentu tidak jelas, obyek penentu kacau, obyek penentu tidak kacau, obyek penentu jargon, obyek penentu elegi, obyek penentu contoh, obyek penentu hubungan, obyek penentu sesuai, obyek penentu tidak sesuai, obyek penentu terang, obyek penentu gelap, obyek penentu mahal, obyek penentu murah, obyek penentu turun, obyek penentu naik, obyek penentu ramai, obyek penentu sepi, obyek penentu perang, obyek penentu kacau, obyek pembuat adil, obyek penentu jabatan, obyek penentu PR, obyek penentu nilai, obyek penentu naik kelas, obyek penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek penentu. Para obyek penentu itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengemban.
Aku itu meliputi para obyek pengemban tugas, obyek pengemban mandat, obyek pengemban amanah, obyek pengemban kewajiban, obyek pengemban aturan, obyek pengemban obyek, obyek pengemban sifat, obyek pengemban permulaan, obyek pengemban inisiatif, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban pertanyaan, obyek pengemban jawaban, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban benar, obyek pengemban salah, obyek pengemban suasana, obyek pengemban akhiran, obyek pengemban laporan, obyek pengemban metode, obyek pengemban alat, obyek pengemban tulisan, obyek pengemban bicara, obyek pengemban proposal, obyek pengemban baik, obyek pengemban buruk, obyek pengemban bergerak, obyek pengemban diam, obyek pengemban tidak jelas, obyek pengemban kacau, obyek pengemban tidak kacau, obyek pengemban jargon, obyek pengemban elegi, obyek pengemban contoh, obyek pengemban hubungan, obyek pengemban sesuai, obyek pengemban tidak sesuai, obyek pengemban terang, obyek pengemban gelap, obyek pengemban mahal, obyek pengemban murah, obyek pengemban turun, obyek pengemban naik, obyek pengemban ramai, obyek pengemban sepi, obyek pengemban perang, obyek pengemban kacau, obyek pembuat adil, obyek pengemban jabatan, obyek pengemban PR, obyek pengemban nilai, obyek pengemban naik kelas, obyek pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengemban. Para obyek pengemban itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemangku.
Aku itu meliputi para obyek pemangku tugas, obyek pemangku mandat, obyek pemangku amanah, obyek pemangku kewajiban, obyek pemangku aturan, obyek pemangku obyek, obyek pemangku sifat, obyek pemangku permulaan, obyek pemangku inisiatif, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku pertanyaan, obyek pemangku jawaban, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku benar, obyek pemangku salah, obyek pemangku suasana, obyek pemangku akhiran, obyek pemangku laporan, obyek pemangku metode, obyek pemangku alat, obyek pemangku tulisan, obyek pemangku bicara, obyek pemangku proposal, obyek pemangku baik, obyek pemangku buruk, obyek pemangku bergerak, obyek pemangku diam, obyek pemangku tidak jelas, obyek pemangku kacau, obyek pemangku tidak kacau, obyek pemangku jargon, obyek pemangku elegi, obyek pemangku contoh, obyek pemangku hubungan, obyek pemangku sesuai, obyek pemangku tidak sesuai, obyek pemangku terang, obyek pemangku gelap, obyek pemangku mahal, obyek pemangku murah, obyek pemangku turun, obyek pemangku naik, obyek pemangku ramai, obyek pemangku sepi, obyek pemangku perang, obyek pemangku kacau, obyek pembuat adil, obyek pemangku jabatan, obyek pemangku PR, obyek pemangku nilai, obyek pemangku naik kelas, obyek pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemangku. Para obyek pemangku itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pelaksana.
Aku itu meliputi para obyek pelaksana tugas, obyek pelaksana mandat, obyek pelaksana amanah, obyek pelaksana kewajiban, obyek pelaksana aturan, obyek pelaksana obyek, obyek pelaksana sifat, obyek pelaksana permulaan, obyek pelaksana inisiatif, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana pertanyaan, obyek pelaksana jawaban, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana benar, obyek pelaksana salah, obyek pelaksana suasana, obyek pelaksana akhiran, obyek pelaksana laporan, obyek pelaksana metode, obyek pelaksana alat, obyek pelaksana tulisan, obyek pelaksana bicara, obyek pelaksana proposal, obyek pelaksana baik, obyek pelaksana buruk, obyek pelaksana bergerak, obyek pelaksana diam, obyek pelaksana tidak jelas, obyek pelaksana kacau, obyek pelaksana tidak kacau, obyek pelaksana jargon, obyek pelaksana elegi, obyek pelaksana contoh, obyek pelaksana hubungan, obyek pelaksana sesuai, obyek pelaksana tidak sesuai, obyek pelaksana terang, obyek pelaksana gelap, obyek pelaksana mahal, obyek pelaksana murah, obyek pelaksana turun, obyek pelaksana naik, obyek pelaksana ramai, obyek pelaksana sepi, obyek pelaksana perang, obyek pelaksana kacau, obyek pembuat adil, obyek pelaksana jabatan, obyek pelaksana PR, obyek pelaksana nilai, obyek pelaksana naik kelas, obyek pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pelaksana. Para obyek pelaksana itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemelihara.
Aku itu meliputi para obyek pemelihara tugas, obyek pemelihara mandat, obyek pemelihara amanah, obyek pemelihara kewajiban, obyek pemelihara aturan, obyek pemelihara obyek, obyek pemelihara sifat, obyek pemelihara permulaan, obyek pemelihara inisiatif, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara pertanyaan, obyek pemelihara jawaban, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara benar, obyek pemelihara salah, obyek pemelihara suasana, obyek pemelihara akhiran, obyek pemelihara laporan, obyek pemelihara metode, obyek pemelihara alat, obyek pemelihara tulisan, obyek pemelihara bicara, obyek pemelihara proposal, obyek pemelihara baik, obyek pemelihara buruk, obyek pemelihara bergerak, obyek pemelihara diam, obyek pemelihara tidak jelas, obyek pemelihara kacau, obyek pemelihara tidak kacau, obyek pemelihara jargon, obyek pemelihara elegi, obyek pemelihara contoh, obyek pemelihara hubungan, obyek pemelihara sesuai, obyek pemelihara tidak sesuai, obyek pemelihara terang, obyek pemelihara gelap, obyek pemelihara mahal, obyek pemelihara murah, obyek pemelihara turun, obyek pemelihara naik, obyek pemelihara ramai, obyek pemelihara sepi, obyek pemelihara perang, obyek pemelihara kacau, obyek pembuat adil, obyek pemelihara jabatan, obyek pemelihara PR, obyek pemelihara nilai, obyek pemelihara naik kelas, obyek pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemelihara. Para obyek pemelihara itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengawas.
Aku itu meliputi para obyek pengawas tugas, obyek pengawas mandat, obyek pengawas amanah, obyek pengawas kewajiban, obyek pengawas aturan, obyek pengawas obyek, obyek pengawas sifat, obyek pengawas permulaan, obyek pengawas inisiatif, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas pertanyaan, obyek pengawas jawaban, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas benar, obyek pengawas salah, obyek pengawas suasana, obyek pengawas akhiran, obyek pengawas laporan, obyek pengawas metode, obyek pengawas alat, obyek pengawas tulisan, obyek pengawas bicara, obyek pengawas proposal, obyek pengawas baik, obyek pengawas buruk, obyek pengawas bergerak, obyek pengawas diam, obyek pengawas tidak jelas, obyek pengawas kacau, obyek pengawas tidak kacau, obyek pengawas jargon, obyek pengawas elegi, obyek pengawas contoh, obyek pengawas hubungan, obyek pengawas sesuai, obyek pengawas tidak sesuai, obyek pengawas terang, obyek pengawas gelap, obyek pengawas mahal, obyek pengawas murah, obyek pengawas turun, obyek pengawas naik, obyek pengawas ramai, obyek pengawas sepi, obyek pengawas perang, obyek pengawas kacau, obyek pembuat adil, obyek pengawas jabatan, obyek pengawas PR, obyek pengawas nilai, obyek pengawas naik kelas, obyek pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengawas. Para obyek pengawas itu adalah para obyek.
...
Jargon:
Aku ternyata masih melihat para obyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat obyek para penilai, obyek para komentator, obyek para pendoa, obyek para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para obyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...obyek.
Para para para ...obyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?
Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para obyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar obyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek. Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengemban, subyek pemangku, subyek penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.
Para para para ...obyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan obyek pembuat kacau, obyek penentu kacau, obyek pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, obyek pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.
Jargon:
Wahai para obyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para obyek dengan pikiran kacau, bahasa kacau, obyek pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.
Para para para ...obyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para obyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai obyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu. Dan ternyata aku menemukan bahwa ketika aku memikirkanku maka aku obyek telah berubah menjadi aku subyek, yaitu jargon. Maka dapat aku katakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat aku katakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.
Jargon:
Wahai para obyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?
Para obyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pembuat.
Aku itu meliputi para obyek pembuat tugas, obyek pembuat mandat, obyek pembuat amanah, obyek pembuat kewajiban, obyek pembuat aturan, obyek pembuat obyek, obyek pembuat sifat, obyek pembuat permulaan, obyek pembuat inisiatif, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat pertanyaan, obyek pembuat jawaban, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat benar, obyek pembuat salah, obyek pembuat suasana, obyek pembuat akhiran, obyek pembuat laporan, obyek pembuat metode, obyek pembuat alat, obyek pembuat tulisan, obyek pembuat bicara, obyek pembuat proposal, obyek pembuat baik, obyek pembuat buruk, obyek pembuat bergerak, obyek pembuat diam, obyek pembuat tidak jelas, obyek pembuat kacau, obyek pembuat tidak kacau, obyek pembuat jargon, obyek pembuat elegi, obyek pembuat contoh, obyek pembuat hubungan, obyek pembuat sesuai, obyek pembuat tidak sesuai, obyek pembuat terang, obyek pembuat gelap, obyek pembuat mahal, obyek pembuat murah, obyek pembuat turun, obyek pembuat naik, pambuat ramai, obyek pembuat sepi, obyek pembuat perang, obyek pembuat kacau, obyek pembuat adil, obyek pembuat jabatan, obyek pembuat PR, obyek pembuat nilai, obyek pembuat naik kelas, obyek pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek pembuat. Para obyek pembuat itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek penentu.
Aku itu meliputi para obyek penentu tugas, obyek penentu mandat, obyek penentu amanah, obyek penentu kewajiban, obyek penentu aturan, obyek penentu obyek, obyek penentu sifat, obyek penentu permulaan, obyek penentu inisiatif, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu pertanyaan, obyek penentu jawaban, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu benar, obyek penentu salah, obyek penentu suasana, obyek penentu akhiran, obyek penentu laporan, obyek penentu metode, obyek penentu alat, obyek penentu tulisan, obyek penentu bicara, obyek penentu proposal, obyek penentu baik, obyek penentu buruk, obyek penentu bergerak, obyek penentu diam, obyek penentu tidak jelas, obyek penentu kacau, obyek penentu tidak kacau, obyek penentu jargon, obyek penentu elegi, obyek penentu contoh, obyek penentu hubungan, obyek penentu sesuai, obyek penentu tidak sesuai, obyek penentu terang, obyek penentu gelap, obyek penentu mahal, obyek penentu murah, obyek penentu turun, obyek penentu naik, obyek penentu ramai, obyek penentu sepi, obyek penentu perang, obyek penentu kacau, obyek pembuat adil, obyek penentu jabatan, obyek penentu PR, obyek penentu nilai, obyek penentu naik kelas, obyek penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek penentu. Para obyek penentu itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengemban.
Aku itu meliputi para obyek pengemban tugas, obyek pengemban mandat, obyek pengemban amanah, obyek pengemban kewajiban, obyek pengemban aturan, obyek pengemban obyek, obyek pengemban sifat, obyek pengemban permulaan, obyek pengemban inisiatif, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban pertanyaan, obyek pengemban jawaban, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban benar, obyek pengemban salah, obyek pengemban suasana, obyek pengemban akhiran, obyek pengemban laporan, obyek pengemban metode, obyek pengemban alat, obyek pengemban tulisan, obyek pengemban bicara, obyek pengemban proposal, obyek pengemban baik, obyek pengemban buruk, obyek pengemban bergerak, obyek pengemban diam, obyek pengemban tidak jelas, obyek pengemban kacau, obyek pengemban tidak kacau, obyek pengemban jargon, obyek pengemban elegi, obyek pengemban contoh, obyek pengemban hubungan, obyek pengemban sesuai, obyek pengemban tidak sesuai, obyek pengemban terang, obyek pengemban gelap, obyek pengemban mahal, obyek pengemban murah, obyek pengemban turun, obyek pengemban naik, obyek pengemban ramai, obyek pengemban sepi, obyek pengemban perang, obyek pengemban kacau, obyek pembuat adil, obyek pengemban jabatan, obyek pengemban PR, obyek pengemban nilai, obyek pengemban naik kelas, obyek pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengemban. Para obyek pengemban itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemangku.
Aku itu meliputi para obyek pemangku tugas, obyek pemangku mandat, obyek pemangku amanah, obyek pemangku kewajiban, obyek pemangku aturan, obyek pemangku obyek, obyek pemangku sifat, obyek pemangku permulaan, obyek pemangku inisiatif, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku pertanyaan, obyek pemangku jawaban, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku benar, obyek pemangku salah, obyek pemangku suasana, obyek pemangku akhiran, obyek pemangku laporan, obyek pemangku metode, obyek pemangku alat, obyek pemangku tulisan, obyek pemangku bicara, obyek pemangku proposal, obyek pemangku baik, obyek pemangku buruk, obyek pemangku bergerak, obyek pemangku diam, obyek pemangku tidak jelas, obyek pemangku kacau, obyek pemangku tidak kacau, obyek pemangku jargon, obyek pemangku elegi, obyek pemangku contoh, obyek pemangku hubungan, obyek pemangku sesuai, obyek pemangku tidak sesuai, obyek pemangku terang, obyek pemangku gelap, obyek pemangku mahal, obyek pemangku murah, obyek pemangku turun, obyek pemangku naik, obyek pemangku ramai, obyek pemangku sepi, obyek pemangku perang, obyek pemangku kacau, obyek pembuat adil, obyek pemangku jabatan, obyek pemangku PR, obyek pemangku nilai, obyek pemangku naik kelas, obyek pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemangku. Para obyek pemangku itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pelaksana.
Aku itu meliputi para obyek pelaksana tugas, obyek pelaksana mandat, obyek pelaksana amanah, obyek pelaksana kewajiban, obyek pelaksana aturan, obyek pelaksana obyek, obyek pelaksana sifat, obyek pelaksana permulaan, obyek pelaksana inisiatif, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana pertanyaan, obyek pelaksana jawaban, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana benar, obyek pelaksana salah, obyek pelaksana suasana, obyek pelaksana akhiran, obyek pelaksana laporan, obyek pelaksana metode, obyek pelaksana alat, obyek pelaksana tulisan, obyek pelaksana bicara, obyek pelaksana proposal, obyek pelaksana baik, obyek pelaksana buruk, obyek pelaksana bergerak, obyek pelaksana diam, obyek pelaksana tidak jelas, obyek pelaksana kacau, obyek pelaksana tidak kacau, obyek pelaksana jargon, obyek pelaksana elegi, obyek pelaksana contoh, obyek pelaksana hubungan, obyek pelaksana sesuai, obyek pelaksana tidak sesuai, obyek pelaksana terang, obyek pelaksana gelap, obyek pelaksana mahal, obyek pelaksana murah, obyek pelaksana turun, obyek pelaksana naik, obyek pelaksana ramai, obyek pelaksana sepi, obyek pelaksana perang, obyek pelaksana kacau, obyek pembuat adil, obyek pelaksana jabatan, obyek pelaksana PR, obyek pelaksana nilai, obyek pelaksana naik kelas, obyek pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pelaksana. Para obyek pelaksana itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemelihara.
Aku itu meliputi para obyek pemelihara tugas, obyek pemelihara mandat, obyek pemelihara amanah, obyek pemelihara kewajiban, obyek pemelihara aturan, obyek pemelihara obyek, obyek pemelihara sifat, obyek pemelihara permulaan, obyek pemelihara inisiatif, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara pertanyaan, obyek pemelihara jawaban, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara benar, obyek pemelihara salah, obyek pemelihara suasana, obyek pemelihara akhiran, obyek pemelihara laporan, obyek pemelihara metode, obyek pemelihara alat, obyek pemelihara tulisan, obyek pemelihara bicara, obyek pemelihara proposal, obyek pemelihara baik, obyek pemelihara buruk, obyek pemelihara bergerak, obyek pemelihara diam, obyek pemelihara tidak jelas, obyek pemelihara kacau, obyek pemelihara tidak kacau, obyek pemelihara jargon, obyek pemelihara elegi, obyek pemelihara contoh, obyek pemelihara hubungan, obyek pemelihara sesuai, obyek pemelihara tidak sesuai, obyek pemelihara terang, obyek pemelihara gelap, obyek pemelihara mahal, obyek pemelihara murah, obyek pemelihara turun, obyek pemelihara naik, obyek pemelihara ramai, obyek pemelihara sepi, obyek pemelihara perang, obyek pemelihara kacau, obyek pembuat adil, obyek pemelihara jabatan, obyek pemelihara PR, obyek pemelihara nilai, obyek pemelihara naik kelas, obyek pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemelihara. Para obyek pemelihara itu adalah para obyek.
Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?
Para obyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengawas.
Aku itu meliputi para obyek pengawas tugas, obyek pengawas mandat, obyek pengawas amanah, obyek pengawas kewajiban, obyek pengawas aturan, obyek pengawas obyek, obyek pengawas sifat, obyek pengawas permulaan, obyek pengawas inisiatif, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas pertanyaan, obyek pengawas jawaban, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas benar, obyek pengawas salah, obyek pengawas suasana, obyek pengawas akhiran, obyek pengawas laporan, obyek pengawas metode, obyek pengawas alat, obyek pengawas tulisan, obyek pengawas bicara, obyek pengawas proposal, obyek pengawas baik, obyek pengawas buruk, obyek pengawas bergerak, obyek pengawas diam, obyek pengawas tidak jelas, obyek pengawas kacau, obyek pengawas tidak kacau, obyek pengawas jargon, obyek pengawas elegi, obyek pengawas contoh, obyek pengawas hubungan, obyek pengawas sesuai, obyek pengawas tidak sesuai, obyek pengawas terang, obyek pengawas gelap, obyek pengawas mahal, obyek pengawas murah, obyek pengawas turun, obyek pengawas naik, obyek pengawas ramai, obyek pengawas sepi, obyek pengawas perang, obyek pengawas kacau, obyek pembuat adil, obyek pengawas jabatan, obyek pengawas PR, obyek pengawas nilai, obyek pengawas naik kelas, obyek pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengawas. Para obyek pengawas itu adalah para obyek.
...
Jargon:
Aku ternyata masih melihat para obyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat obyek para penilai, obyek para komentator, obyek para pendoa, obyek para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para obyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...obyek.
Para para para ...obyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?
Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para obyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar obyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek. Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengemban, subyek pemangku, subyek penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.
Para para para ...obyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan obyek pembuat kacau, obyek penentu kacau, obyek pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, obyek pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.
Jargon:
Wahai para obyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para obyek dengan pikiran kacau, bahasa kacau, obyek pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.
Para para para ...obyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para obyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai obyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu. Dan ternyata aku menemukan bahwa ketika aku memikirkanku maka aku obyek telah berubah menjadi aku subyek, yaitu jargon. Maka dapat aku katakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat aku katakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.
Subscribe to:
Posts (Atom)
