Dari pada berpikir yang sulit-sulit, cobalah jawablah pertanyaanku yang sederhana ini. Duluan mana AYAM dan TELUR? Jelaskan mengapa anda memilih salah satu? Tidak perlu khawatir, karena aku pasti akan menjawab setelah anda sekalian menjawab terlebih dulu.
Selamat menjawab
(Marsigit)
Tuesday, April 7, 2009
Sunday, April 5, 2009
Elegi Menggapai Reduksi
Oleh Marsigit
Obyek pikir:
Wahai reduksi, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?
Reduksi:
Aku saat ini memikirkanmu sebagai lengkap. Tetapi aku dapat tidak memeikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu.
Kubus:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku kubus belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai kubus, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memeikirkan dirimu itu sebagai bentuk dan ukurannya saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Bola:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku bola belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai bola, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu sebagai bentuk dan ukurannya saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Guru matematika:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku guru matematika belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai guru matematika, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai guru matematika dan pembelajaran matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganmu dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Mahasiswa:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku mahasiswa belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai mahasiswa, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai mahasiswa maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi belajarmu dan hubunganmu dengan tugas-tugasmu sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswamu. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Bilangan:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku bilangan belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai bilangan, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu sebagai nilai saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Dosen:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku dosen belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai dosen, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai pendidik maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi mengajarmu dan hubunganmu dengan tugas-tugasmu sebagai dosen dan dunia dosenmu. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Diskusi:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku diskusi belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai diskusi, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dst.
Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu bagaimana berdiskusi yang baik maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi diskusi yang baik. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Berdoa:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku berdoa belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai berdoa, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dst.
Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu bagaimana berdoa yang baik maka aku hanya memikirkan tentang Tuhan. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Semua obyek pikir bertanya kepada reduksi:
Wahai reduksi, kenapa jawabanmu engkau ulang-ulang saja? Siapakah sebenarnya dirimu itu?
Orang tua berambut putih:
Wahai semua obyek pikir, sebenar-benar reduksi adalah metode berpikir. Ketahuilah bahwa reduksi itu sejalan dengan penyederhanaan, dia juga sejalan dengan abstraksi. Itulah reduksi yaitu metode berpikir dimana hanya mengambil bagian tertentu saja sesuai dengan peruntukan berpikirnya. Dia ibarat pisau tajam bersisi dua. Tiadalah orang dapat meninggalkannya, tetapi jika salah menggunakannya maka bisa berbahaya pula. Ketahuilah bahwa tiada mudah mengalaminya bagi sifat-sifat yang terpaksa dihilangkan.
Obyek pikir:
Wahai reduksi, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?
Reduksi:
Aku saat ini memikirkanmu sebagai lengkap. Tetapi aku dapat tidak memeikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu.
Kubus:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku kubus belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai kubus, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memeikirkan dirimu itu sebagai bentuk dan ukurannya saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Bola:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku bola belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai bola, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu sebagai bentuk dan ukurannya saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Guru matematika:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku guru matematika belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai guru matematika, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai guru matematika dan pembelajaran matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganmu dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Mahasiswa:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku mahasiswa belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai mahasiswa, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai mahasiswa maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi belajarmu dan hubunganmu dengan tugas-tugasmu sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswamu. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Bilangan:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku bilangan belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai bilangan, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai matematika maka aku hanya memikirkan dirimu itu sebagai nilai saja. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Dosen:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku dosen belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai dosen, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dst. Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu sebagai pendidik maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi kompetensi mengajarmu dan hubunganmu dengan tugas-tugasmu sebagai dosen dan dunia dosenmu. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Diskusi:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku diskusi belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai diskusi, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dst.
Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu bagaimana berdiskusi yang baik maka aku hanya memikirkan dirimu itu dari sisi diskusi yang baik. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Berdoa:
Wahai reduksi, maaf, sebagai salah satu obyek pikir, aku berdoa belum tahu apa yang engkau maksud dengan pernyataanmu itu?
Reduksi:
Wahai berdoa, sekarang aku memikirkanmu dalam keadaan engkau itu lengkap. Artinya, aku sedang memikirkan semua sifat-sifatmu yang engkau miliki. Padahal engkau tahu bahwa sifat-sifatmu itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka seluruh sifat-sifatmu itu adalah semuanya sampai batas pikiranku. Sifat-sifatmu itu bisa aku sebutkan sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dst.
Tetapi aku dapat tidak memikirkanmu sebagian atau banyak dari bagianmu. Dan aku dapat memikirkan sebagian kecil atau satu saja dari dirimu. Itulah pengetahuanku akan dirimu. Karena aku sedang mempelajarimu bagaimana berdoa yang baik maka aku hanya memikirkan tentang Tuhan. Jadi terpaksa sifat-sifatmu yang lain aku kurangi, aku hilangkan atau aku reduksi.
Semua obyek pikir bertanya kepada reduksi:
Wahai reduksi, kenapa jawabanmu engkau ulang-ulang saja? Siapakah sebenarnya dirimu itu?
Orang tua berambut putih:
Wahai semua obyek pikir, sebenar-benar reduksi adalah metode berpikir. Ketahuilah bahwa reduksi itu sejalan dengan penyederhanaan, dia juga sejalan dengan abstraksi. Itulah reduksi yaitu metode berpikir dimana hanya mengambil bagian tertentu saja sesuai dengan peruntukan berpikirnya. Dia ibarat pisau tajam bersisi dua. Tiadalah orang dapat meninggalkannya, tetapi jika salah menggunakannya maka bisa berbahaya pula. Ketahuilah bahwa tiada mudah mengalaminya bagi sifat-sifat yang terpaksa dihilangkan.
Elegi Menggapai fungsi f(x) = 1
Oleh Marsigit
Fungsi:
Wahai variabel x, operator sama dengan, dan bilangan satu. Engkau semua saya panggil kemari karena saya ingin mengadakan pertunjukkan perihal fungsi x sama dengan satu. Oleh karena itu saya ingin mengetahui persiapanmu semua. Engkau juga saya silahkan untuk mengenalkan dirimu masing-masing serta tugas-tugasmu. Silahkan.
Variabel x:
Wahai fungsi f, perkenankanlah diriku untuk mengenalkan terlebih dulu. Namaku adalah variabel. Khususnya namaku adalah variabel x. Fungsiku adalah sebagai rumah semua bilangan. Penghuniku bisa bilangan kontinu, bilangan diskret, bilangan pecah, bilangan real, bilangan rasional, bilangan kompleks, dst. Maka aku siap menjalankan semua perintah-perintahmu.
Operator sama dengan:
Wahai fungsi f, perkenankanlah diriku untuk mengenalkan terlebih dulu. Namaku adalah operator sama dengan. Lambangku adalah “=”. Fungsiku adalah mengidentikan semua yang ada di sebelah kiriku dan di sebelah kananku. Aku juga mengidentikan sebelum dan sesudahku. Tiadalah dapat terbebas dari hukumku, jika telah aku pasang lambangku. Maka aku siap menjalankan semua perintah-perintahmu.
Bilangan satu:
Wahai fungsi f, perkenankanlah diriku untuk mengenalkan terlebih dulu. Namaku adalah bilangan satu. Aku mempunyai beberapa sifat sekaligus. Bilangan satu itu adalah bilangan ganjil. Aku juga bilangan pertama dari membilang. Aku adalah bilangan rasional. Aku juga bilangan bulat. Aku juga bilangan positif.
Fungsi:
Wahai varfiabel x, aku telah memahami semua keteranganmu. Engkau adalah rumah dari semua bilangan. Tetapi sekarang engkau akan mendapat tugas yang lebih berat. Engkau tidak lagi hanya berfungsi sebagai rumah bilangan, tetapi engkau akan aku beri tugas sebagai rumah dari segala hal. Segala hal yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiranmu dan dalam hatimu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan.
Wahai operator sama dengan, aku telah memahami semua keteranganmu. Engkau berfungsi menyamakan apapun yang ada di sebelah kirimu dan di sebelah kananmu. Engkau juga berfungsi menyamakan sebelum dan sesudahmu. Tetapi sekarang engkau akan mendapat tugas yang lebih berat.
Tugasmu adalah menyadarkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan.
Wahai bilangan satu, aku telah memahami semua keteranganmu. Engkau adalah bilangan satu dengan semua sifat-sifatmu. Tetapi sekarang engkau akan mendapat tugas yang lebih berat. Engkau akan aku beri tugas sebagai penunjuk bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan.
Variabel x, operator sama dengan dan bilangan satu bersama-sama berkata:
Wahai fungsi f, terimakasih atas tugas-tugas baruku itu. Tetapi sesungguhnya aku belum begitu jelas apakah tugasku secara lebih khusus?
Fungsi:
Wahai variabel x, telah aku tetapkan bahwa engkau adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan. Maka kewajibanmu adalah selalu bertanya kepada operator sama dengan tentang penunjukkan dari semua dirimu.
Wahai operator sama dengan, telah aku tetapkan bahwa tugasmu adalah menyadarkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Maka sadarkanlah semuanya itu.
Wahai bilangan satu, engkau adalah penunjuk bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga.
Variabel x, operator sama dengan dan bilangan satu bersama-sama berkata:
Wahai fungsi f, terimakasih atas tugas-tugas baruku itu. Tetapi sesungguhnya aku belum begitu jelas apakah tugasku secara lebih khusus?
Fungsi:
Wahai semuanya kita adalah fungsi x sama dengan satu. Jika ditulis dalam bentuk lambang maka kita adalah f(x) =1, dimana x adalah semua yang ada dan yang mungkin ada; “=” adalah kesadaranmu semua tentang yang satu; “1” adalah penunjukkan bahwa tiadalah sesuatu itu terlepas dari kehendak Nya. Maka cukup jelaslah kiranya, bahwa tiadalah di dunia dan akhirat itu terlepas dari kehendak Nya.
Fungsi:
Wahai variabel x, operator sama dengan, dan bilangan satu. Engkau semua saya panggil kemari karena saya ingin mengadakan pertunjukkan perihal fungsi x sama dengan satu. Oleh karena itu saya ingin mengetahui persiapanmu semua. Engkau juga saya silahkan untuk mengenalkan dirimu masing-masing serta tugas-tugasmu. Silahkan.
Variabel x:
Wahai fungsi f, perkenankanlah diriku untuk mengenalkan terlebih dulu. Namaku adalah variabel. Khususnya namaku adalah variabel x. Fungsiku adalah sebagai rumah semua bilangan. Penghuniku bisa bilangan kontinu, bilangan diskret, bilangan pecah, bilangan real, bilangan rasional, bilangan kompleks, dst. Maka aku siap menjalankan semua perintah-perintahmu.
Operator sama dengan:
Wahai fungsi f, perkenankanlah diriku untuk mengenalkan terlebih dulu. Namaku adalah operator sama dengan. Lambangku adalah “=”. Fungsiku adalah mengidentikan semua yang ada di sebelah kiriku dan di sebelah kananku. Aku juga mengidentikan sebelum dan sesudahku. Tiadalah dapat terbebas dari hukumku, jika telah aku pasang lambangku. Maka aku siap menjalankan semua perintah-perintahmu.
Bilangan satu:
Wahai fungsi f, perkenankanlah diriku untuk mengenalkan terlebih dulu. Namaku adalah bilangan satu. Aku mempunyai beberapa sifat sekaligus. Bilangan satu itu adalah bilangan ganjil. Aku juga bilangan pertama dari membilang. Aku adalah bilangan rasional. Aku juga bilangan bulat. Aku juga bilangan positif.
Fungsi:
Wahai varfiabel x, aku telah memahami semua keteranganmu. Engkau adalah rumah dari semua bilangan. Tetapi sekarang engkau akan mendapat tugas yang lebih berat. Engkau tidak lagi hanya berfungsi sebagai rumah bilangan, tetapi engkau akan aku beri tugas sebagai rumah dari segala hal. Segala hal yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiranmu dan dalam hatimu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan.
Wahai operator sama dengan, aku telah memahami semua keteranganmu. Engkau berfungsi menyamakan apapun yang ada di sebelah kirimu dan di sebelah kananmu. Engkau juga berfungsi menyamakan sebelum dan sesudahmu. Tetapi sekarang engkau akan mendapat tugas yang lebih berat.
Tugasmu adalah menyadarkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan.
Wahai bilangan satu, aku telah memahami semua keteranganmu. Engkau adalah bilangan satu dengan semua sifat-sifatmu. Tetapi sekarang engkau akan mendapat tugas yang lebih berat. Engkau akan aku beri tugas sebagai penunjuk bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan.
Variabel x, operator sama dengan dan bilangan satu bersama-sama berkata:
Wahai fungsi f, terimakasih atas tugas-tugas baruku itu. Tetapi sesungguhnya aku belum begitu jelas apakah tugasku secara lebih khusus?
Fungsi:
Wahai variabel x, telah aku tetapkan bahwa engkau adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Itulah seberat-berat tugasmu yang harus engkau laksanakan. Maka kewajibanmu adalah selalu bertanya kepada operator sama dengan tentang penunjukkan dari semua dirimu.
Wahai operator sama dengan, telah aku tetapkan bahwa tugasmu adalah menyadarkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga. Maka sadarkanlah semuanya itu.
Wahai bilangan satu, engkau adalah penunjuk bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu meliputi hati dan pikiranmu. Padahal pikiranmu dan hatimu itu berkenaan dengan dunia dan akhirat juga.
Variabel x, operator sama dengan dan bilangan satu bersama-sama berkata:
Wahai fungsi f, terimakasih atas tugas-tugas baruku itu. Tetapi sesungguhnya aku belum begitu jelas apakah tugasku secara lebih khusus?
Fungsi:
Wahai semuanya kita adalah fungsi x sama dengan satu. Jika ditulis dalam bentuk lambang maka kita adalah f(x) =1, dimana x adalah semua yang ada dan yang mungkin ada; “=” adalah kesadaranmu semua tentang yang satu; “1” adalah penunjukkan bahwa tiadalah sesuatu itu terlepas dari kehendak Nya. Maka cukup jelaslah kiranya, bahwa tiadalah di dunia dan akhirat itu terlepas dari kehendak Nya.
Saturday, April 4, 2009
Elegi Menggapai Obyek Penelitian
Oleh Marsigit
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin mengadakan penelitian kelas secara sederhana. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah engkau sebagai guru itu mempunyai sifat-sifat diri dan mampu mengembangkan sifat-sifat diri itu. Maka sifat-sifat dirimu itulah dapat menjadi obyek penelitianmu.
Bukankah siswa-siswamu itu mempunyai sifat-sifat diri dan mampu mengembangkan sifat-sifat diri. maka sifat-sifat diri siswa-siswamu itulah merupakan obyek penelitianmu.
Bukankah sifat-sifatmu sebagai guru itu dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Maka obyek peneltitianmu itu juga bisa berupa pengaruh sifat-sifat guru terhadap jenis aktivitas belajar siswa.
Bukankah engkau sebagai guru mempunai sikap dan perilaku pedagogik. Maka itulah juga merupakan obyek penelitianmu.
Bukankah sikap dan perilaku pedagogik guru itu akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Itulah juga merupakan obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah murid-muridmu itu juga mempunyai sikap dan perilaku belajar. Maka itulah obyek penelitianmu.
Bukankah sikap dan perilaku guru akan mempengaruhi sikap dan perilaku belajar siswa. Itulah obyek penelitianmu.
Bukankah sifat-sifat diri, sikap dan perilaku pedagogik guru itu juga mempengaruhi sifat-sifat, sikap dan perilaku belajar serta hasil belajar para siswa. Itulah obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah sifat-sifat, sikap dan perilaku muridmu juga mempengaruhi sifat-sifat, sikap dan perilaku pedagogikmu sebagai guru. Itulah obyek penelitianmu.
Bukankah sebenar-benar hasil belajar itu meliputi aspek kognitif, afektif maupun psikomotor? Itulah obyek-obyek penelitianmu yang semakin meningkat kualitasnya.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian kelas:
Bukankah banyak faktor yang mempengaruhi sifat-sifat dirimu sebagai guru itu. Sifatmu juga ditentukan oleh sikapmu. Sifatmu juga ditentukan oleh keyakinanmu. Sifatmu juga ditentukan oleh pengetahuanmu. Itulah obyek-obyek penelitianmu.
Bukankah engkau harus mengetahui bagaimana siswa-siswamu belajar. Engkau juga harus mengetahui berbagai macam teori pembelajaran. Engkau juga harus menguasai konten pembelajaran. Itu semua adalah obyek-obyek penelitianmu.
Bukankah engkau juga harus mengetahui tentang inovasi pembelajaran. Engkau juga harus mengetahui teori-teori pendidikan dan paradigmanya. Itulah obyek-obyek penelitian.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah siswa-siswamu itu perlu motivasi untuk belajar. Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu itu perlu appersepsi dalam belajar. Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau sebagai guru perlu mengetahui hakekat motivasi, bagaimana mengembangkan motivasi, hakekat appersepsi dan mengembangkan appersepsi. Itulah obyek-obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mempunyai sikap yang baik terhadap pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu itu juga perlu mengembangkan metode dalam belajarnya. Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu juga perlu menguasai konten pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu melakukan aktivitas belajar secara mandiri?. Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu bekerjasama dalam belajar? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu melakukan diskusi kelompok? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan keterampilan-keterampilan? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mencapai kompetensi-kompetensi? Itulah obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah engkau perlu melakukan evaluasi proses belajar? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu melakukan evaluasi hasil belajar? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan berbagai instrumen penilaian? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan portfolio untuk hasil-hasil belajar siswa? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau ingin mengetahui reliabilitas dan validitas instrumen-instrumen penilaian? Itulah obyek penelitian.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah engkau perlu mengembangkan RPP yang cocok bagi pembelajaranmu? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan Lembar Kerja? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan alat bantu pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan alat peraga pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah siswa-siswamu perlu mengetahui pola-pola dan hubungan antar konsep-konsep? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan ketrampilan problem solving? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan keterampilan mengadakan penelitian? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan hasil-hasil belajarnya? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu memerlukan konteks dalam belajarnya? Itulah obyek-obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin mengadakan penelitian kelas secara sederhana. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah engkau sebagai guru itu mempunyai sifat-sifat diri dan mampu mengembangkan sifat-sifat diri itu. Maka sifat-sifat dirimu itulah dapat menjadi obyek penelitianmu.
Bukankah siswa-siswamu itu mempunyai sifat-sifat diri dan mampu mengembangkan sifat-sifat diri. maka sifat-sifat diri siswa-siswamu itulah merupakan obyek penelitianmu.
Bukankah sifat-sifatmu sebagai guru itu dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Maka obyek peneltitianmu itu juga bisa berupa pengaruh sifat-sifat guru terhadap jenis aktivitas belajar siswa.
Bukankah engkau sebagai guru mempunai sikap dan perilaku pedagogik. Maka itulah juga merupakan obyek penelitianmu.
Bukankah sikap dan perilaku pedagogik guru itu akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Itulah juga merupakan obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah murid-muridmu itu juga mempunyai sikap dan perilaku belajar. Maka itulah obyek penelitianmu.
Bukankah sikap dan perilaku guru akan mempengaruhi sikap dan perilaku belajar siswa. Itulah obyek penelitianmu.
Bukankah sifat-sifat diri, sikap dan perilaku pedagogik guru itu juga mempengaruhi sifat-sifat, sikap dan perilaku belajar serta hasil belajar para siswa. Itulah obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah sifat-sifat, sikap dan perilaku muridmu juga mempengaruhi sifat-sifat, sikap dan perilaku pedagogikmu sebagai guru. Itulah obyek penelitianmu.
Bukankah sebenar-benar hasil belajar itu meliputi aspek kognitif, afektif maupun psikomotor? Itulah obyek-obyek penelitianmu yang semakin meningkat kualitasnya.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian kelas:
Bukankah banyak faktor yang mempengaruhi sifat-sifat dirimu sebagai guru itu. Sifatmu juga ditentukan oleh sikapmu. Sifatmu juga ditentukan oleh keyakinanmu. Sifatmu juga ditentukan oleh pengetahuanmu. Itulah obyek-obyek penelitianmu.
Bukankah engkau harus mengetahui bagaimana siswa-siswamu belajar. Engkau juga harus mengetahui berbagai macam teori pembelajaran. Engkau juga harus menguasai konten pembelajaran. Itu semua adalah obyek-obyek penelitianmu.
Bukankah engkau juga harus mengetahui tentang inovasi pembelajaran. Engkau juga harus mengetahui teori-teori pendidikan dan paradigmanya. Itulah obyek-obyek penelitian.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah siswa-siswamu itu perlu motivasi untuk belajar. Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu itu perlu appersepsi dalam belajar. Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau sebagai guru perlu mengetahui hakekat motivasi, bagaimana mengembangkan motivasi, hakekat appersepsi dan mengembangkan appersepsi. Itulah obyek-obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mempunyai sikap yang baik terhadap pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu itu juga perlu mengembangkan metode dalam belajarnya. Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu juga perlu menguasai konten pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu melakukan aktivitas belajar secara mandiri?. Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu bekerjasama dalam belajar? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu melakukan diskusi kelompok? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan keterampilan-keterampilan? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mencapai kompetensi-kompetensi? Itulah obyek penelitianmu.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah engkau perlu melakukan evaluasi proses belajar? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu melakukan evaluasi hasil belajar? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan berbagai instrumen penilaian? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan portfolio untuk hasil-hasil belajar siswa? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau ingin mengetahui reliabilitas dan validitas instrumen-instrumen penilaian? Itulah obyek penelitian.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah engkau perlu mengembangkan RPP yang cocok bagi pembelajaranmu? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan Lembar Kerja? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan alat bantu pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Bukankah engkau perlu mengembangkan alat peraga pembelajaran? Itulah obyek penelitian.
Guru:
Wahai penelitian kelas, jika aku ingin meningkatkan lagi kualitas penelitian kelas. Maka apakah yang harus aku cari dan aku amati?
Penelitian Kelas:
Bukankah siswa-siswamu perlu mengetahui pola-pola dan hubungan antar konsep-konsep? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan ketrampilan problem solving? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan keterampilan mengadakan penelitian? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu perlu mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan hasil-hasil belajarnya? Itulah obyek penelitian.
Bukankah siswa-siswamu memerlukan konteks dalam belajarnya? Itulah obyek-obyek penelitianmu.
Elegi Menggapai Sepi
Oleh Marsigit
Ramai:
Aku adalah suaraku. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Maka ketika aku suaraku itu dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suaraku itu. Di dalam kesepian aku telah menemukan ramai luar biasa.
Wahai sepi, aku ingin bertanya benarkan semua pengakuan-pengakuan itu?
Apakah ramaiku itu sepi?
Apakah perbedaan ramai dan sepi?
Bagaimanakah menggapai sepi itu?
Sepi:
Wahai suara, menurut kesaksianku, tiadalah engkau mampu menggapai sepi jikalau engkau masih mengaku-aku dirimu itu. Sekali saja engkau membuat pengakuanmu, maka setidaknya sekali itu pula dirimu telah membuat tidak sepi. Itu artinya engkau tidak akan pernah bisa menggapai sebenar-benar sepi.
Ramai:
Contoh konkritnya bagaimana?
Sepi:
Ulangi saja ucapanmu tadi, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.
Ramai:
Baiklah akan aku coba.
Adalah suara. Diucapkan dengan sepenuh daya. Tiadalah orang di luar diri mendengar suara, karena bibir ditutup. Mulut juga ditutup. Leher juga ditutup. Tidak menggunakan hanya hati yang satu. Tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tidak hanya menggunakan seluruh tubuh sebagai hati. Tetapi juga menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiran sebagai hati. Anehnya mulai terdengar suara di dalam telinga. Juga mulai terdengar suara di dalam mulut. Juga mulai terdengar suara di leher. Juga mulai terdengar suara di hati yang satu. Juga mulai terdengar suara di hati yang tiga. Suara tidak hanya terdengar di seluruh tubuh. Tetapi terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Jika disebut seluruh lingkungan sampai batas pikiran adalah hati maka suara terdengar di semua hati. Suara terdengar di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran.
Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.
Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?
Ramai:
Aku agak merasakan bedanya. Setidaknya aku merasa telah kehilangan keakuanku.
Sepi:
Ulangi lagi saja ucapanmu bagian akhir, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.
Ramai:
Baiklah akan aku coba:
"Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa"
Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?
Ramai:
Wahai sepi. Ampunilah diriku. Aku telah merasakan bedanya yang luar biasa. Aku telah merasakan diriku itu tiada daya dan upaya. Maka aku tidak tahu dari manakah suara itu. Aku terasa sangat lemah. Aku tidak mampu berpikir bahkan aku hampir lupa siapa diriku itu. Tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Tubuhku mulai terasa bergemetar.
Sepi:
Wahai ramai, mengapa masih saja engkau ucapkan dirimu itu? Maka jika engkau masih saja ucapkan dirimu itu, maka sepi itu tidaklah akan datang menghampiri dirimu. Maka ulangilah ucapanmu yang terakhir, tetapi janganlah ucapkan dirimu itu.
Ramai:
"Ampunilah. Telah terasa bedanya yang luar biasa. Telah dirasakan diri itu tiada daya dan upaya. Maka tidaklah diketahui dari manakah suara itu. Terasa sangat lemah. Tidak mampu berpikir bahkan hampir lupa siapa diri itu. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi. Tubuh mulai bergemetar"
Sepi:
Wahai ramai. Sia-sialah dirimu itu. Mengapa tidak engkau gunakan kata-katamu itu untuk sebenar-benar berdoa? Sebenar-benar sepi ialah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku.
Ramai:
Wahai sepi, ampunilah diriku. Oh maaf ampunilah diri. Aku ingin menangis. Oh maaf ingin menangis.
Sepi:
Wahai ramai, sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sebenar-benar sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku. Tangisanmu itulah kecerdasan hatimu. Maka marilah kita berdoa kepada Tuhan.
Sepi dan Ramai bersama-sama berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien
Ramai:
Aku adalah suaraku. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu. Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Maka ketika aku suaraku itu dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suaraku itu. Di dalam kesepian aku telah menemukan ramai luar biasa.
Wahai sepi, aku ingin bertanya benarkan semua pengakuan-pengakuan itu?
Apakah ramaiku itu sepi?
Apakah perbedaan ramai dan sepi?
Bagaimanakah menggapai sepi itu?
Sepi:
Wahai suara, menurut kesaksianku, tiadalah engkau mampu menggapai sepi jikalau engkau masih mengaku-aku dirimu itu. Sekali saja engkau membuat pengakuanmu, maka setidaknya sekali itu pula dirimu telah membuat tidak sepi. Itu artinya engkau tidak akan pernah bisa menggapai sebenar-benar sepi.
Ramai:
Contoh konkritnya bagaimana?
Sepi:
Ulangi saja ucapanmu tadi, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.
Ramai:
Baiklah akan aku coba.
Adalah suara. Diucapkan dengan sepenuh daya. Tiadalah orang di luar diri mendengar suara, karena bibir ditutup. Mulut juga ditutup. Leher juga ditutup. Tidak menggunakan hanya hati yang satu. Tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tidak hanya menggunakan seluruh tubuh sebagai hati. Tetapi juga menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiran sebagai hati. Anehnya mulai terdengar suara di dalam telinga. Juga mulai terdengar suara di dalam mulut. Juga mulai terdengar suara di leher. Juga mulai terdengar suara di hati yang satu. Juga mulai terdengar suara di hati yang tiga. Suara tidak hanya terdengar di seluruh tubuh. Tetapi terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Jika disebut seluruh lingkungan sampai batas pikiran adalah hati maka suara terdengar di semua hati. Suara terdengar di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran.
Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.
Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?
Ramai:
Aku agak merasakan bedanya. Setidaknya aku merasa telah kehilangan keakuanku.
Sepi:
Ulangi lagi saja ucapanmu bagian akhir, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.
Ramai:
Baiklah akan aku coba:
"Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa"
Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?
Ramai:
Wahai sepi. Ampunilah diriku. Aku telah merasakan bedanya yang luar biasa. Aku telah merasakan diriku itu tiada daya dan upaya. Maka aku tidak tahu dari manakah suara itu. Aku terasa sangat lemah. Aku tidak mampu berpikir bahkan aku hampir lupa siapa diriku itu. Tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Tubuhku mulai terasa bergemetar.
Sepi:
Wahai ramai, mengapa masih saja engkau ucapkan dirimu itu? Maka jika engkau masih saja ucapkan dirimu itu, maka sepi itu tidaklah akan datang menghampiri dirimu. Maka ulangilah ucapanmu yang terakhir, tetapi janganlah ucapkan dirimu itu.
Ramai:
"Ampunilah. Telah terasa bedanya yang luar biasa. Telah dirasakan diri itu tiada daya dan upaya. Maka tidaklah diketahui dari manakah suara itu. Terasa sangat lemah. Tidak mampu berpikir bahkan hampir lupa siapa diri itu. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi. Tubuh mulai bergemetar"
Sepi:
Wahai ramai. Sia-sialah dirimu itu. Mengapa tidak engkau gunakan kata-katamu itu untuk sebenar-benar berdoa? Sebenar-benar sepi ialah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku.
Ramai:
Wahai sepi, ampunilah diriku. Oh maaf ampunilah diri. Aku ingin menangis. Oh maaf ingin menangis.
Sepi:
Wahai ramai, sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sebenar-benar sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku. Tangisanmu itulah kecerdasan hatimu. Maka marilah kita berdoa kepada Tuhan.
Sepi dan Ramai bersama-sama berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien
Friday, April 3, 2009
Elegi Guru Mengetahui Mengapa Perlu Meneliti
Oleh Marsigit
(Digali dari Grouws dan Elliot)
Guru:
Aku ingin meneliti, tetapi aku bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Konseptual:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak mempunyai pemahaman tentang hakekat penelitian. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak tahu hakekat meneliti, maka engkau itu sebenarnya berpura-pura meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak konseptual. Ketahuilah bahwa sebenar-benar hakekat meneliti itu adalah rasa ingin tahu. Apakah engkau sudah mempunyai rasa ingin tahu tentang pekerjaanmu itu?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Manfaat:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak mempunyai pemahaman tentang manfaat penelitian. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak tahu manfaat meneliti, maka engkau itu sebenarnya berpura-pura meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat manfaat. Ketahuilah bahwa sebenar-benar manfaat meneliti itu adalah untuk meningkatkan dimensimu pikiranmu, dimensi keterampilanmu, dimensi pengalamanmu serta dimensi hidupmu. Apakah engkau sudah mengetahui manfaat penelitian bagi pekerjaanmu itu?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Pengalaman meneliti:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak ingin mempunyai pengalaman meneliti. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak berkehendak mencari pengalaman meneliti, maka engkau itu sebenarnya berpura-pura meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat pengalaman. Ketahuilah bahwa sebenar-benar pengalaman meneliti itu adalah
dimulai dari yang sederhana. Pengalaman meneliti itu tidak harus diakhiri dengan membuat laporan. Engkau dapat melakukan penelitian mandiri untuk kepentinganmu sendiri. Jikalau engkau berkehendak memperbaiki praktek pembelajaranmu berdasar pengalamanmu maka itulah sudah dapat disebut sebagai penelitian sederhana. Apakah engkau sudah berkeinginan untuk memperoleh pengalaman penelitian?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Faktor penunjang:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak mempunyai faktor penunjang dalam meneliti. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak mempunyai faktor penunjang maka, maka engkau itu sebenarnya memaksakan diri meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat inefisiensi. Ketahuilah bahwa sebenar-benar faktor penunjang dalam penelitianmu adalah keadaan sekolahmu, keadaan kelasmu, keadaan keluargamu, kepala sekolahmu, MGMP mu, baik mikro maupun makro, adanya bantuan dana, adanya pengertian dan pemahaman dari sekolah dan dinas, tersedianya referensi atau bacaan, dan follow up hasil penelitian. Apakah engkau sudah menemukan faktor-faktor pendudkung untuk penelitianmu?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Inovasi:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau belum paham mengenai inovasi pembelajaran. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau belum paham mengenai inovasi pembelajaran, maka engkau sebenar-benarnya sia-sia melakukan penelitian. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat sia-sia. Ketahuilah bahwa sebenar-benar inovasi pembelajaran adalah mengetahui kompetensi apa yang harus dikuasai siswa, mengetahui bagaimana siswa dapat memperoleh kompetensi demikian, mengetahui bagaimana guru mampu melayani kebutuhan belajar siswa, mengetahui bagaimana mempersiapkan pembelajaran dan mengelolan kelas pembelajaran. Lebih dari itu, inovasi pembelajaran juga mengandung arti guru mengerti mengapa siswa melakukan apa, kapan, di mana dan bagaimana. Apakah engkau sudah memahami inovasi pembelajaran?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, dan saya juga sudah merasa mengetahui apa itu inovasi pembelajaran, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Kemampuan guru:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau belum paham mengenai apa saja kemampuan guru yang harus dikembangkan. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau belum paham mengenai apa saja kemampuan guru yang harus dikembangkan, maka engkau sebenar-benar kehilangan orientasi dalam penelitianmu. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat disorientasi. Ketahuilah bahwa sebenar-benar kemampuan guru itu meliputi tiga hal, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan keterampilan sosial. Kemampuan merencanakan pembelajaran meliputi merencanakan kegiatan pembelajaran, merencanakan pengelolaan kelas, merencanakan penggunaan media dan sumbar ajar, serta merencanakan penilaian. Sedangkan untuk melaksanakan pembelajaran engkau perlu menguasai prosedur mengajar, menguasai materi, menguasai dan mengembangkan berbagai metode dan pendekatan pembelajaran, menguasai dan penggunaan media, menguasai dan menggunakan alat peraga, mengembangkan pola interaksi, mengaktifkan siswa, alokasi waktu, mengembangkan penggunaan alat bantu pembelajaran, dan melakukan evaluasi. Apakah engkau sudah mengerti tentang kemampuan guru yang harus dikembangkan?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, dan saya juga sudah merasa mengetahui apa itu inovasi pembelajaran, tetapi aku masih bingung bagaimana mengembangkan keterampilan sosial?
Kemampuan sosial:
Wahai guru, aku adalah sikap dan berpikir positif. Sikap dan berpikir positif adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai sikap dan berpikir positif.
Wahai guru, akau adalah percaya dirimu. Percaya diri adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai kepercayaan diri.
Wahai guru, aku adalah kemandirianmu. Kemandirianmu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai kemandirian.
Wahai guru, aku adalah sosio-emosionalmu. Sosio-emosionalmu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai sosio-emosional yang baik.
Wahai guru, aku adalah keterbukaan. Keterbukaan adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai keterbukaan.
Wahai guru, aku adalah fleksibel. Fleksibilitas adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai fleksibilitas.
Wahai guru, aku adalah motivasi. Motivasimu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai motivasi.
Wahai guru, aku adalah semangat. Semangatmu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai semangat.
Wahai guru, aku adalah fleksibel. Fleksibilitas adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai fleksibilitas.
Wahai guru, aku adalah melayani. Melayani kebutuhan belajar siswamu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai keterampilan melayani.
Wahai guru, aku adalah mengembangkan konsep. Kemampuan mengembangkan konsep adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai kemampuan megembangkan konsep.
Wahai guru, aku adalah keputusan pedagogik. Keputusan pedagogik adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus dapat mengambil keputusan pedagogik yang tepat.
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, dan saya juga sudah merasa mengetahui apa itu inovasi pembelajaran, saya sedikit mengetahui bagaimana mengembangkan keterampilan sosial? Wah tak terasa aku telah diliputi semangat untuk meneliti. Ya Tuhan berilah petunjuk kepadaku agar aku dapat meningkatkan kompetensiku sebagai guru melalui kegiatan penelitian. Amien.
(Digali dari Grouws dan Elliot)
Guru:
Aku ingin meneliti, tetapi aku bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Konseptual:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak mempunyai pemahaman tentang hakekat penelitian. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak tahu hakekat meneliti, maka engkau itu sebenarnya berpura-pura meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak konseptual. Ketahuilah bahwa sebenar-benar hakekat meneliti itu adalah rasa ingin tahu. Apakah engkau sudah mempunyai rasa ingin tahu tentang pekerjaanmu itu?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Manfaat:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak mempunyai pemahaman tentang manfaat penelitian. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak tahu manfaat meneliti, maka engkau itu sebenarnya berpura-pura meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat manfaat. Ketahuilah bahwa sebenar-benar manfaat meneliti itu adalah untuk meningkatkan dimensimu pikiranmu, dimensi keterampilanmu, dimensi pengalamanmu serta dimensi hidupmu. Apakah engkau sudah mengetahui manfaat penelitian bagi pekerjaanmu itu?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Pengalaman meneliti:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak ingin mempunyai pengalaman meneliti. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak berkehendak mencari pengalaman meneliti, maka engkau itu sebenarnya berpura-pura meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat pengalaman. Ketahuilah bahwa sebenar-benar pengalaman meneliti itu adalah
dimulai dari yang sederhana. Pengalaman meneliti itu tidak harus diakhiri dengan membuat laporan. Engkau dapat melakukan penelitian mandiri untuk kepentinganmu sendiri. Jikalau engkau berkehendak memperbaiki praktek pembelajaranmu berdasar pengalamanmu maka itulah sudah dapat disebut sebagai penelitian sederhana. Apakah engkau sudah berkeinginan untuk memperoleh pengalaman penelitian?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Faktor penunjang:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau tidak mempunyai faktor penunjang dalam meneliti. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau tidak mempunyai faktor penunjang maka, maka engkau itu sebenarnya memaksakan diri meneliti. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat inefisiensi. Ketahuilah bahwa sebenar-benar faktor penunjang dalam penelitianmu adalah keadaan sekolahmu, keadaan kelasmu, keadaan keluargamu, kepala sekolahmu, MGMP mu, baik mikro maupun makro, adanya bantuan dana, adanya pengertian dan pemahaman dari sekolah dan dinas, tersedianya referensi atau bacaan, dan follow up hasil penelitian. Apakah engkau sudah menemukan faktor-faktor pendudkung untuk penelitianmu?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Inovasi:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau belum paham mengenai inovasi pembelajaran. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau belum paham mengenai inovasi pembelajaran, maka engkau sebenar-benarnya sia-sia melakukan penelitian. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat sia-sia. Ketahuilah bahwa sebenar-benar inovasi pembelajaran adalah mengetahui kompetensi apa yang harus dikuasai siswa, mengetahui bagaimana siswa dapat memperoleh kompetensi demikian, mengetahui bagaimana guru mampu melayani kebutuhan belajar siswa, mengetahui bagaimana mempersiapkan pembelajaran dan mengelolan kelas pembelajaran. Lebih dari itu, inovasi pembelajaran juga mengandung arti guru mengerti mengapa siswa melakukan apa, kapan, di mana dan bagaimana. Apakah engkau sudah memahami inovasi pembelajaran?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, dan saya juga sudah merasa mengetahui apa itu inovasi pembelajaran, tetapi aku masih bingung apa, mengapa, bagaimana, untuk apa meneliti buatku?
Kemampuan guru:
Wahai guru, sebenar-benar dirimu itu tidak perlu meneliti jika engkau belum paham mengenai apa saja kemampuan guru yang harus dikembangkan. Jika engkau paksakan meneliti, padahal engkau belum paham mengenai apa saja kemampuan guru yang harus dikembangkan, maka engkau sebenar-benar kehilangan orientasi dalam penelitianmu. Maka ancaman bagi dirimu adalah terjebak hakekat disorientasi. Ketahuilah bahwa sebenar-benar kemampuan guru itu meliputi tiga hal, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan keterampilan sosial. Kemampuan merencanakan pembelajaran meliputi merencanakan kegiatan pembelajaran, merencanakan pengelolaan kelas, merencanakan penggunaan media dan sumbar ajar, serta merencanakan penilaian. Sedangkan untuk melaksanakan pembelajaran engkau perlu menguasai prosedur mengajar, menguasai materi, menguasai dan mengembangkan berbagai metode dan pendekatan pembelajaran, menguasai dan penggunaan media, menguasai dan menggunakan alat peraga, mengembangkan pola interaksi, mengaktifkan siswa, alokasi waktu, mengembangkan penggunaan alat bantu pembelajaran, dan melakukan evaluasi. Apakah engkau sudah mengerti tentang kemampuan guru yang harus dikembangkan?
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, dan saya juga sudah merasa mengetahui apa itu inovasi pembelajaran, tetapi aku masih bingung bagaimana mengembangkan keterampilan sosial?
Kemampuan sosial:
Wahai guru, aku adalah sikap dan berpikir positif. Sikap dan berpikir positif adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai sikap dan berpikir positif.
Wahai guru, akau adalah percaya dirimu. Percaya diri adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai kepercayaan diri.
Wahai guru, aku adalah kemandirianmu. Kemandirianmu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai kemandirian.
Wahai guru, aku adalah sosio-emosionalmu. Sosio-emosionalmu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai sosio-emosional yang baik.
Wahai guru, aku adalah keterbukaan. Keterbukaan adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai keterbukaan.
Wahai guru, aku adalah fleksibel. Fleksibilitas adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai fleksibilitas.
Wahai guru, aku adalah motivasi. Motivasimu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai motivasi.
Wahai guru, aku adalah semangat. Semangatmu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai semangat.
Wahai guru, aku adalah fleksibel. Fleksibilitas adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai fleksibilitas.
Wahai guru, aku adalah melayani. Melayani kebutuhan belajar siswamu adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai keterampilan melayani.
Wahai guru, aku adalah mengembangkan konsep. Kemampuan mengembangkan konsep adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus mempunyai kemampuan megembangkan konsep.
Wahai guru, aku adalah keputusan pedagogik. Keputusan pedagogik adalah salah satu keterampilan sosialmu. Maka agar engkau dapat mengembangkan kompetensimu, engkau harus dapat mengambil keputusan pedagogik yang tepat.
Guru:
Aku ingin meneliti, saya merasa sudah mempunyai rasa ingin tahu, saya juga merasa sudah mengetahui manfaat meneliti bagi pekerjaanku, saya juga sudah mempunyai keinginan untuk memperoleh pengalaman meneliti, saya juga sudah menemukan faktor-faktor pendukung, dan saya juga sudah merasa mengetahui apa itu inovasi pembelajaran, saya sedikit mengetahui bagaimana mengembangkan keterampilan sosial? Wah tak terasa aku telah diliputi semangat untuk meneliti. Ya Tuhan berilah petunjuk kepadaku agar aku dapat meningkatkan kompetensiku sebagai guru melalui kegiatan penelitian. Amien.
Wednesday, April 1, 2009
Elegi Jebakan Filsafat
Oleh Marsigit
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.
Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?
Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Jika aku sebutkan semua ciri-ciriku maka aku bukan lagi menjadi jebakan filsafat. Tetapi aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.
Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?
Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.
Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?
Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Jika aku sebutkan semua ciri-ciriku maka aku bukan lagi menjadi jebakan filsafat. Tetapi aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.
Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.
Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Karena aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.
Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?
Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
