Oleh: Marsigit
Pelaut:
Dengan perahuku ini, aku sedang mengarungi laut. Anehnya, laut serasa tidak bertepi. Aku juga tidak melihat cakrawala. Aku tidak melihat pulau-pulau. Aku juga tidak melihat perahu lainnya. Tetapi di sana-sini aku melihat banyak puncak gunung es. Semakin aku cermati, semakin tampak banyak gunung-gunung es itu di laut. Aku penasaran. Maka aku ambil kaca pembesar. Subhanallah, ternyata di luar kesadaranku. Aku telah dikepung oleh gunung-gunung es tersebut, yang banyaknya tidak dapat aku hitung. Apa maknanya ini semua?
Orang tua berambut putih datang:
Maknanya adalah, kenalilah mereka satu persatu.
Pelaut:
Bagaimana aku bisa mengenalinya? Sedangkan aku hanya mengetahui puncaknya saja.
Orang tua berambut putih:
Tetap kenalilah mereka satu persatu puncaknya terlebih dulu, sebelum engkau mengenal yang lainnya. Untuk itu coba engkau sebutkan dari yang paling dekat dulu.
Pelaut:
Baiklah. Itu ada komunikasi. Itu ada malas. Itu ada bodoh. Itu ada rajin. Itu ada sukses. Itu ada kejam. Itu ada cantik. Itu ada tampan. Itu ada kaya. Itu ada miskin. Itu ada dosen. Itu ada guru. Itu ada mahasiswa. Itu ada siswa. itu ada lurah. Itu ada carik. Itu ada ilmu. Itu ada metode. Itu ada kualitatif. Itu ada hasil. Itu ada definisi. Itu ada matematika. Itu ada filsafat. Itu ada pendidikan. Itu ada kuliah. Itu ada makanan. Itu ada toko. Itu ada sosial. Itu ada budaya. Itu ada ontologi. Itu ada epistemologi. Itu ada tanggung jawab. Itu ada baik. Itu ada buruk. Itu ada benar. Itu ada salah. Itu ada hakekat. Itu ada spiritual. Itu ada materi. Itu ada hidup. Itu ada mati. Itu ada potensi. Itu ada fakta. Itu ada wadah. Itu ada isi. Itu ada harmoni. Itu ada doa. Itu ada iklhas. Itu ada kosong. Itu ada keputusan. Itu ada berpikir. Itu ada ruang. Itu ada waktu. Itu ada intuisi. Itu ada transenden. Itu ada rasional. Itu ada pengalaman. Wah...masih banyak lagi. Apakah aku masih perlu menyebutkannya? Apakah yang baru saja aku sebut semuanya itu adalah puncak-puncak gunung es?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmumu, yaitu kemampuan untuk menyebutkannya. Dan betul itulah sebenar-benar puncak gunung es.
Pelaut:
Kemudian, apakah sebetulnya yang disebut puncak gunung es?
Orang tua berambut putih:
Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.
Pelaut:
Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?
Orang tua berambut putih:
Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut.
Pelaut:
Bagaimanakah aku bisa mengenali mereka semuanya.
Orang tua berambut putih:
Caranya adalah dengan menyelam ke bawah permukaan laut.
Pelaut:
Bagaimana aku bisa menyelam ke bawah permukaan laut?
Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.
Pelaut:
Wahai orang tua berambut putih. Bukankah apa yang engkau sebutkan itu adalah puncak-puncak gunung. Karena itu semua adalah kata-katamu. Maka semua kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung.
Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa jika engkau dekati suatu gunung itu, maka tiadalah suatu gunung yang hanya mempunyai satu puncak. Di lembah gunung terdapatlah puncak-puncaknya yang lebih kecil, demikian seterusnya.
Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui tentang komunikasi, maka bagaimanakah caranya?
Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.
Pelaut:
Jika aku ingin mengetahui apa yang ada di bawah puncak gunung kosong, bagaimanakah caranya?
Orang tua berambut putih:
Gunakan akal sehatmu. Gunakan pikiran kritismu. Gunakan pertanyaanmu. Gunakan pengetahunmu. Gunakan cerminmu. Kenalilah setiap wadah dan isinya. Kembangkan metode yang dinamis. Lihatlah dengan multi perspektif. Lakukan perbandingan-perbandingan. Temukan tesisnya. Produksilah anti-tesisnya. Lakukan sintesis. Buatlah hipotesis. Temukan kontradiksinya. Temukan penjelasannya. Temukan contohnya. Temukan deskripsinya. Temukan cabangnya. Temukan tokohnya. Temukan referensinya. Lakukan crosschek. Dengarkan kata-katanya. Temukan sumber-sumbernya. Temukan konsistensinya. Ujilah nilai kebenarannya. Temukan a priorinya. Temukan a posteriorinya. Temukan hakekatnya. Dan tetapkanlah hatimu sebagai kompasmu.
Pelaut:
Kenapa engkau ulang-ulang saja jawabanmu?
Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Bahwa sebenar-benar yang sedang engkau lakukan adalah sedang menggapai filsafat.
Tuesday, March 17, 2009
Monday, March 16, 2009
Elegi Menggapai Diri
Oleh Marsigit
Monolog diriku:
Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?
Orang tua berambut putih datang:
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah..dst.
Diriku:
Jadi kalau begitu....
Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar dirimu itu bersifat terbuka, selagi engkau belum menunjuk dirimu. Engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai apapun, atau sama sekali engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai bukan apapun. Namun begitu engkau telah menunjuk dirimu, maka tertutuplah dirimu itu.
Diriku:
Kalau begitu siapakah diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Jika engkau belum juga jelas, maka akan aku jelaskan. Sebenar-benar dirimu adalah satu, atau dua, atau banyak, atau semuanya dari berikut ini:
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah..dst.
Monolog diriku:
Setelah membaca banyak elegi, aku menjadi tidak yakin terhadap diriku sendiri, siapakah diriku itu sebenarnya?
Orang tua berambut putih datang:
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, terserah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, terserah..dst.
Diriku:
Jadi kalau begitu....
Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar dirimu itu bersifat terbuka, selagi engkau belum menunjuk dirimu. Engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai apapun, atau sama sekali engkau bisa mendefinisikan dirimu sebagai bukan apapun. Namun begitu engkau telah menunjuk dirimu, maka tertutuplah dirimu itu.
Diriku:
Kalau begitu siapakah diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Jika engkau belum juga jelas, maka akan aku jelaskan. Sebenar-benar dirimu adalah satu, atau dua, atau banyak, atau semuanya dari berikut ini:
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ruangmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah waktumu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengakuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah aktivitasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tujuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pergaulanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah mimpimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bahasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kinerjamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah persepsimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah doamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhtiarmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kejujuranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah komitmenmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah rencanamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah faktamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah potensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah motivasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengalamanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ketrampilanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sikapmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pengetahuanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kesalahanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relativemu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah absolutmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah dimensimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah pertanyaanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah ikhlasmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keraguanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kepastianmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah daya kritismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bacanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kemerdekaanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bisnismu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah kuasamu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah penterjemahanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah khusyukmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah obyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah subyekmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah sifatmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah relasimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah bukumu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah keputusanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah tanggungjawabmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah wadahmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah isimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah harmonimu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah putaranmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah lintasanmu.
Sebenar-benar dirimu itu, adalah amal perbuatanmu
Sebenar-benar dirimu itu, adalah..dst.
Saturday, March 14, 2009
Elegi Menggapai Merdeka
Oleh: Marsigit
Obyek satu:
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
Obyek dua:
Wahai obyek satu, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
Obyek ketiga:
Wahai obyek dua, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
.... dst
Obyek ke n:
Wahai obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
Obyek ke n masih ingin bicara:
Wahai obyek ke 1, obyek ke 2, obyek ke 3, obyek ke 4, ...obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua. Ya Tuhan betapa sengsara hidupku ini. Kenapa semua yang ada di sekitarku bersifat mengendalikanku. Kenapa yang ada di sekitarku selalu menimpakan sifat-sifatnya kepadaku. Kenapa aku tidak dapat menunjuk sifat-sifatku walau sebuahpun. Maka sebenar-benar diriku itu adalah sudah tiada. Tiadalah diriku. Tiadalah pikiranku. Tiadalah hatiku. Tiadalah jiwaku. Tiadalah jati diriku. Dan tiadalah identitasku. Maka senyata-nyatanya semua yang ada disekitarku adalah monster-monster pemangsa sifat-sifatku. Apakah masih ada makhluk yang dapat aku ajak bicara?
Orang tua berambut putih datang:
Akulah orang yang selalu muncul pada setiap pertanyaan. Karena sebetul-betul diriku adalah ilmumu. Boleh yang lain habis dan lenyap dari dirimu. Tetapi selama engkau masih mampu bertanya, maka dirikulah yang masih tersisa.
Obyek ke n:
Wahai orang tua berambut putih. Apakah engkau mendengar semua kalimat dan percakapanku? Jika ya maka bagaimanakah kelanjutan diriku itu. Kemudian apa pula yang harus aku lakukan.
Orang tua berambut putih:
Betul katamu. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa semua ucapan-ucapanmu itu hanyalah berkenaan dengan hubungan antar sifat-sifat. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek.
Obyek ke n:
Siapakah sebenarnya subyek dan obyek itu?
Orang tua berambut putih:
Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.
Obyek ke n:
Contoh kongkritnya?
Orang tua berambut putih:
Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. Si mobil adalah subyek, sedangkan si montor adalah obyeknya. Si lurah adalah subyek, sedangkan si carik adalah obyeknya. Si canggih adalah subyek, sedangkan si tradisional adalah obyeknya. Si mahal adalah subyek, sedangkan si murah adalah obyeknya. Si bicara adalah subyek, sedangkan si diam adalah obyeknya. Si banyak adalah subyek, sedangkan si sedikit adalah obyeknya. Si ketua adalah subyek, sedangkan si anggota adalah obyeknya. Si cantik adalah subyek, sedangkan si tidak cantik adalah obyeknya. Si banyak teman adalah subyek, sedangkan si sedikit teman adalah obyeknya. dst.dst.
Obyek ke n:
Jikalau aku ingin jadi subyek, maka siapakah obyekku itu?
Orang tua berambut putih:
Sayangnya tiadalah sesuatupun bersedia menjadi obyekmu.
Obyek ke n:
Ini tidak adil. Aku harus tuntut keadilan. Aku ingin memberontak. Mereka dan aku toh sama-sama makhluk hidup. Mengapa mesti aku dan mereka mempunyai nasib yang berbeda. Aku ingin merdeka dari segala sifat yang menimpaku.
Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku. Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka.
Obyek satu:
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
Obyek dua:
Wahai obyek satu, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
Obyek ketiga:
Wahai obyek dua, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
.... dst
Obyek ke n:
Wahai obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu.
Obyek ke n masih ingin bicara:
Wahai obyek ke 1, obyek ke 2, obyek ke 3, obyek ke 4, ...obyek ke n-1, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu semua adalah determinis-determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu semua adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu semua. Ya Tuhan betapa sengsara hidupku ini. Kenapa semua yang ada di sekitarku bersifat mengendalikanku. Kenapa yang ada di sekitarku selalu menimpakan sifat-sifatnya kepadaku. Kenapa aku tidak dapat menunjuk sifat-sifatku walau sebuahpun. Maka sebenar-benar diriku itu adalah sudah tiada. Tiadalah diriku. Tiadalah pikiranku. Tiadalah hatiku. Tiadalah jiwaku. Tiadalah jati diriku. Dan tiadalah identitasku. Maka senyata-nyatanya semua yang ada disekitarku adalah monster-monster pemangsa sifat-sifatku. Apakah masih ada makhluk yang dapat aku ajak bicara?
Orang tua berambut putih datang:
Akulah orang yang selalu muncul pada setiap pertanyaan. Karena sebetul-betul diriku adalah ilmumu. Boleh yang lain habis dan lenyap dari dirimu. Tetapi selama engkau masih mampu bertanya, maka dirikulah yang masih tersisa.
Obyek ke n:
Wahai orang tua berambut putih. Apakah engkau mendengar semua kalimat dan percakapanku? Jika ya maka bagaimanakah kelanjutan diriku itu. Kemudian apa pula yang harus aku lakukan.
Orang tua berambut putih:
Betul katamu. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Inilah kesaksianku, bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa semua ucapan-ucapanmu itu hanyalah berkenaan dengan hubungan antar sifat-sifat. Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek.
Obyek ke n:
Siapakah sebenarnya subyek dan obyek itu?
Orang tua berambut putih:
Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.
Obyek ke n:
Contoh kongkritnya?
Orang tua berambut putih:
Si kaya adalah subyek, sedangkan obyeknya adalah si miskin. Si tua adalah subyek, sedangkan si muda adalah obyeknya. Si pemodal adalah subyek, sedangkan si peminjam adalah obyeknya. Si bapak adalah subyek, sedangkan si anak adalah obyeknya. Si dosen adalah subyek, sedangkan si mahasiswa adalah obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. Si mobil adalah subyek, sedangkan si montor adalah obyeknya. Si lurah adalah subyek, sedangkan si carik adalah obyeknya. Si canggih adalah subyek, sedangkan si tradisional adalah obyeknya. Si mahal adalah subyek, sedangkan si murah adalah obyeknya. Si bicara adalah subyek, sedangkan si diam adalah obyeknya. Si banyak adalah subyek, sedangkan si sedikit adalah obyeknya. Si ketua adalah subyek, sedangkan si anggota adalah obyeknya. Si cantik adalah subyek, sedangkan si tidak cantik adalah obyeknya. Si banyak teman adalah subyek, sedangkan si sedikit teman adalah obyeknya. dst.dst.
Obyek ke n:
Jikalau aku ingin jadi subyek, maka siapakah obyekku itu?
Orang tua berambut putih:
Sayangnya tiadalah sesuatupun bersedia menjadi obyekmu.
Obyek ke n:
Ini tidak adil. Aku harus tuntut keadilan. Aku ingin memberontak. Mereka dan aku toh sama-sama makhluk hidup. Mengapa mesti aku dan mereka mempunyai nasib yang berbeda. Aku ingin merdeka dari segala sifat yang menimpaku.
Orang tua berambut putih:
Inilah kesaksianku. Aku benar-benar telah menyaksikan dirimu telah menjadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah keinginanmu untuk merdeka.
Elegi Menggapai Hakekat
Oleh: Marsigit
Subyek penanya:
Wahai hakekat, siapakah sebenarnya dirimu itu? Dimana tempat tinggalmu? Bagaimana aku mengenalmu? Seperti apa ciri-cirimu?
Hakekat:
Aku adalah paling dalam dan paling luas. Tempat tinggalku tidak menentu. Aku terkadang di dalam dirimu, tetapi terkadang di luar dirimu.
Subyek penanya:
Jika engkau paling dalam dan paling luas, bagaimana aku bisa mengenalmu?
Hakekat:
Jikalau engkau menemukan masih ada yang lebih dalam dari diriku, maka diriku itu bukan diriku.
Jikalau engkau menemukan masih ada yang lebih luas dari diriku, maka diriku itu bukan diriku.
Subyek penanya:
Jika engkau di dalam diriku, bagaimana aku bisa mengenalmu?
Hakekat:
Aku yang berada dalam dirimu itu sesungguhnya bermacam-macam. Aku bisa satu dan aku bisa banyak. Aku bisa diam dan aku bisa bergerak. Aku bisa bergerak keluar dan aku bisa bergerak ke dalam. Aku bisa permulaan dan aku bisa bukan permulaan. Aku bisa akhiran dan aku bisa bukan akhiran. Aku bisa dalam pikiranmu tetapi aku juga bisa di dalam hatimu. Aku bisa relatif, tetapi aku juga bisa absolut. Aku bisa yang benar dan aku bisa yang salah. Aku bisa yang baik dan aku bisa yang buruk. Aku bisa mandiri dan aku bisa tidak mandiri. Aku bisa tersembunyi, tetapi aku juga bisa tidak tersembunyi. Aku bisa sebab, tetapi aku juga bisa bukan sebab. Au bisa konsisten, aku juga bisa tidak konsisten.
Sunyek penanya:
Jika engkau berada di dalam diriku, bagaimana aku bisa menemui dan berkomunikasi denganmu?
Hakekat:
Untuk menemuiku yang berada dalam dirimu, maka tengoklah pada dirimu. Menengok pada dirimu adalah bercerminlah untuk mengetahui siapa dirimu. Untuk mengetahui siapa dirimu maka bertanyalah kepada orang tua beramut putih.
Subyek penanya:
Wahai orang tua berambut putih, bagaimanakah aku bisa menemui dan berkomunikasi dengan hakekat –hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Banyaklah membaca. Bacaanmu adalah semua yang berada di dalam maupun yang berada di luar kesadaranmu. Maka sesungguh-sungguhnya membaca adalah kesadaran. Jadi sebenar-benar aku ingin mengatakan bahwa cara bagi anda untuk menemui dan berkomunikasi dengan hakekat yang berada di dalam dirimu adalah kesadaran itu sendiri.
Subyek penanya:
Jika kesadaran adalah alatku maka bagaimana kesadaran itu mampu menemui dan berkomunikasi dengan hakekat - hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa kesadaran pastilah tentang kesadaran sesuatu.
Subyek penanya:
Saya belum jelas apa yang dimaksud dengan kesadaran sesuatu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar kesaksianku, bahwa kesadaran sesuatu, dapat ditaruh di depan hakekat apapun.
Subyek penanya:
Aku belum jelas. Misal aku ingin mengetahui hakekat satu, hakekat banyak, hakekat diam, hakekat bergerak, hakekat bergerak keluar, hakekat bergerak ke dalam, hakekat permulaan, hakekat bukan permulaan, hakekat akhiran, hakekat bukan akhiran, hakekat dalam pikiranmu, hakekat di dalam hatimu, hakekat relatif, hakekat absolut, hakekat benar, hakekat salah, hakekat baik, hakekat buruk, mandiri, hakekat tidak mandiri, hakekat tersembunyi, hakekat tidak tersembunyi, hakekat sebab, hakekat bukan sebab, hakekat konsisten, dan hakekat tidak konsisten.
Kemudian bagaimana caranya?
Orang tua berambut putih:
Tinggal letakkanlah kesadaranmu tentang di depan mereka semua?
Subyek penanya:
Jadi untuk mengetahui hakekat satu, maka aku harus punya kesadaran tentang satu begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat banyak, maka aku harus punya kesadaran tentang banyak begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat diam, maka aku harus punya kesadaran tentang diam begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat bergerak, maka aku harus punya kesadaran tentang bergerak begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat bergerak keluar, maka aku harus punya kesadaran tentang bergerak keluar begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat bergerak ke dalam, maka aku harus punya kesadaran tentang bergerak ke dalam begitu?
..
dst..dst..?
Orang tua berambut putih:
Tepat sekali. Seterusnya silahkan berkomunikasi dengan hakekat-hakekat tersebut
Subyek penanya:
Wahai hakekat satu. Bagaimana bisa aku mempunyai kesadaran tentang dirimu itu?
Hakekat satu:
Sejak lahir ibumu sudah menunjukkan satu tulunjuk jarinnya kepadamu. Setelah besar, engkau mengatahui bahwa ibumu hanyalah satu. Setelah remaja, engkau mempelajari bahwa Tuhan mu hanya ada satu. Demikian seterusnya. Apakah engkau belum menyadari tentang hakekat satu?
Subyek penanya:
Wahai hakekat banyak. Bagaimana bisa aku mempunyai kesadaran tentang dirimu itu?
Hakekat banyak:
Sejak lahir engkau telah mengetahui banyak orang di sekitarmu. Setelah besar, engkau mempunyai banyak teman-teman. Setelah remaja dan dewasa engkau mempunyai banyak masalah. Demikian seterusnya. Apakah engkau belum menyadari tentang hakekat banyak?
Subyek penanya:
Wahai hakekat diam. Bagaimana bisa aku mempunyai kesadaran tentang dirimu itu?
Hakekat diam:
Sejak lahir engkau telah mengetahui bahwa gunung-gunung itu dalam keadaan diam. Setelah besar dan dewasa engkau mengetahui bahwa jantungmu suatu saat nanti dalam keadaan diam. Apakah engkau belum menyadari tentang hakekat diam?
Subyek penanya:
Wah..banyak sekali ternyata hakekat-hakekat itu yang harus aku sadari. Wahai orang tua berambut putih, jadi kalau begitu secara umum bagaimanakah aku bisa menyadari semua hakekat-hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Itulah sebenar-benar ilmumu. Jikalau engkau ingin menggapai hakekat, maka letakkan segenap kesadaranmu di depan mereka. Agar engkau dapat menyadari tentang hakekat-hakekat itu, maka terjemahkan dan diterjemahkanlah mereka dan dirimu itu dalam ruang dan waktu.
Subyek penanya:
Wahai hakekat, siapakah sebenarnya dirimu itu? Dimana tempat tinggalmu? Bagaimana aku mengenalmu? Seperti apa ciri-cirimu?
Hakekat:
Aku adalah paling dalam dan paling luas. Tempat tinggalku tidak menentu. Aku terkadang di dalam dirimu, tetapi terkadang di luar dirimu.
Subyek penanya:
Jika engkau paling dalam dan paling luas, bagaimana aku bisa mengenalmu?
Hakekat:
Jikalau engkau menemukan masih ada yang lebih dalam dari diriku, maka diriku itu bukan diriku.
Jikalau engkau menemukan masih ada yang lebih luas dari diriku, maka diriku itu bukan diriku.
Subyek penanya:
Jika engkau di dalam diriku, bagaimana aku bisa mengenalmu?
Hakekat:
Aku yang berada dalam dirimu itu sesungguhnya bermacam-macam. Aku bisa satu dan aku bisa banyak. Aku bisa diam dan aku bisa bergerak. Aku bisa bergerak keluar dan aku bisa bergerak ke dalam. Aku bisa permulaan dan aku bisa bukan permulaan. Aku bisa akhiran dan aku bisa bukan akhiran. Aku bisa dalam pikiranmu tetapi aku juga bisa di dalam hatimu. Aku bisa relatif, tetapi aku juga bisa absolut. Aku bisa yang benar dan aku bisa yang salah. Aku bisa yang baik dan aku bisa yang buruk. Aku bisa mandiri dan aku bisa tidak mandiri. Aku bisa tersembunyi, tetapi aku juga bisa tidak tersembunyi. Aku bisa sebab, tetapi aku juga bisa bukan sebab. Au bisa konsisten, aku juga bisa tidak konsisten.
Sunyek penanya:
Jika engkau berada di dalam diriku, bagaimana aku bisa menemui dan berkomunikasi denganmu?
Hakekat:
Untuk menemuiku yang berada dalam dirimu, maka tengoklah pada dirimu. Menengok pada dirimu adalah bercerminlah untuk mengetahui siapa dirimu. Untuk mengetahui siapa dirimu maka bertanyalah kepada orang tua beramut putih.
Subyek penanya:
Wahai orang tua berambut putih, bagaimanakah aku bisa menemui dan berkomunikasi dengan hakekat –hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Banyaklah membaca. Bacaanmu adalah semua yang berada di dalam maupun yang berada di luar kesadaranmu. Maka sesungguh-sungguhnya membaca adalah kesadaran. Jadi sebenar-benar aku ingin mengatakan bahwa cara bagi anda untuk menemui dan berkomunikasi dengan hakekat yang berada di dalam dirimu adalah kesadaran itu sendiri.
Subyek penanya:
Jika kesadaran adalah alatku maka bagaimana kesadaran itu mampu menemui dan berkomunikasi dengan hakekat - hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa kesadaran pastilah tentang kesadaran sesuatu.
Subyek penanya:
Saya belum jelas apa yang dimaksud dengan kesadaran sesuatu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar kesaksianku, bahwa kesadaran sesuatu, dapat ditaruh di depan hakekat apapun.
Subyek penanya:
Aku belum jelas. Misal aku ingin mengetahui hakekat satu, hakekat banyak, hakekat diam, hakekat bergerak, hakekat bergerak keluar, hakekat bergerak ke dalam, hakekat permulaan, hakekat bukan permulaan, hakekat akhiran, hakekat bukan akhiran, hakekat dalam pikiranmu, hakekat di dalam hatimu, hakekat relatif, hakekat absolut, hakekat benar, hakekat salah, hakekat baik, hakekat buruk, mandiri, hakekat tidak mandiri, hakekat tersembunyi, hakekat tidak tersembunyi, hakekat sebab, hakekat bukan sebab, hakekat konsisten, dan hakekat tidak konsisten.
Kemudian bagaimana caranya?
Orang tua berambut putih:
Tinggal letakkanlah kesadaranmu tentang di depan mereka semua?
Subyek penanya:
Jadi untuk mengetahui hakekat satu, maka aku harus punya kesadaran tentang satu begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat banyak, maka aku harus punya kesadaran tentang banyak begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat diam, maka aku harus punya kesadaran tentang diam begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat bergerak, maka aku harus punya kesadaran tentang bergerak begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat bergerak keluar, maka aku harus punya kesadaran tentang bergerak keluar begitu?
Jadi untuk mengetahui hakekat bergerak ke dalam, maka aku harus punya kesadaran tentang bergerak ke dalam begitu?
..
dst..dst..?
Orang tua berambut putih:
Tepat sekali. Seterusnya silahkan berkomunikasi dengan hakekat-hakekat tersebut
Subyek penanya:
Wahai hakekat satu. Bagaimana bisa aku mempunyai kesadaran tentang dirimu itu?
Hakekat satu:
Sejak lahir ibumu sudah menunjukkan satu tulunjuk jarinnya kepadamu. Setelah besar, engkau mengatahui bahwa ibumu hanyalah satu. Setelah remaja, engkau mempelajari bahwa Tuhan mu hanya ada satu. Demikian seterusnya. Apakah engkau belum menyadari tentang hakekat satu?
Subyek penanya:
Wahai hakekat banyak. Bagaimana bisa aku mempunyai kesadaran tentang dirimu itu?
Hakekat banyak:
Sejak lahir engkau telah mengetahui banyak orang di sekitarmu. Setelah besar, engkau mempunyai banyak teman-teman. Setelah remaja dan dewasa engkau mempunyai banyak masalah. Demikian seterusnya. Apakah engkau belum menyadari tentang hakekat banyak?
Subyek penanya:
Wahai hakekat diam. Bagaimana bisa aku mempunyai kesadaran tentang dirimu itu?
Hakekat diam:
Sejak lahir engkau telah mengetahui bahwa gunung-gunung itu dalam keadaan diam. Setelah besar dan dewasa engkau mengetahui bahwa jantungmu suatu saat nanti dalam keadaan diam. Apakah engkau belum menyadari tentang hakekat diam?
Subyek penanya:
Wah..banyak sekali ternyata hakekat-hakekat itu yang harus aku sadari. Wahai orang tua berambut putih, jadi kalau begitu secara umum bagaimanakah aku bisa menyadari semua hakekat-hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Inilah sebenar-benar kesaksianku. Itulah sebenar-benar ilmumu. Jikalau engkau ingin menggapai hakekat, maka letakkan segenap kesadaranmu di depan mereka. Agar engkau dapat menyadari tentang hakekat-hakekat itu, maka terjemahkan dan diterjemahkanlah mereka dan dirimu itu dalam ruang dan waktu.
Elegi Menggapai Dimensi
Oleh : Marsigit
Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar. Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?
Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.
Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?
Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.
Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.
Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.
Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.
Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.
Batu:
Jika boleh aku ingin menyampaikan isi hati dan pikiranku. Isi hati dan pikiranku akan aku sampaikan kepada siapapun, didengar ataupun tidak didengar. Mengapa? Karena selama ini aku mengalami berbagai macam peristiwa, tetapi aku belum pernah memberitahukan kepada siapapun. Selama ini aku mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Dan seterusnya. Aku hanya ingin mengetahui apakah nasib yang sama juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan. Wahai tumbuh-tumbuhan, apakah engkau mendengar ceritaku ini? Jika engkau mendengar, apakah engkau juga mengalami hal yang sama denganku?
Tumbuh-tumbuhan:
Wahai batu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa saya mendengan semua ceritamu. Aku juga mempunyai bermacam-macam pengalaman. Tetapi pengalamanku sedikit berbeda denganmu. Aku juga mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku mengalami penderitaan. Aku mengalami perakuan buruk. Aku mengalami pelecehan. Aku mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku dipukul. Aku dibelah. Aku dipecah. Aku dihancurkan. Aku diledakkan. Aku diserap. Aku disedot oleh akar-akar. Aku ditumbuhi rumput-rumput. Aku disiram air. Aku dijemur di bawah terik matahari. Bahkan aku pernah dipotong, tetapi aku tumbuh kembali.
Batu:
Lalu apakah pengalamanmu yang berbeda dengan pengalamanku?
Tumbuh-tumbuhan:
Walaupun aku mengalami penderitaan hampir sama denganmu, tetapi setidaknya aku pernah andil sebagai sebab penderitaanmu. Bukankah engkau ingat ketika akarku menancap padamu. Goyangan tubuhku telah menentukan apakah engkau berhak memperoleh sinar atau tidak. Aku juga pernah roboh dan menimpa dirimu. Aku juga pernah digunakan orang untuk memukulmu. Aku bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, sementara engkau tidak. Aku bisa berbuah sementara engkau tidak. Masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Itulah semua pengalamanku yang berbeda denganmu.
Batu:
Tidak adil. Wahai tumbuh-tumbuhan, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasib diriku? Bolehkah aku menirumu? Kalau perlu aku ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Tumbuh-tumbuhan:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi dirimu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tunggulah batu, aku melihat ada seekor binatang hinggap pada diriku. Saya akan bertanya kepada binatang apakah mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan kita atau tidak. Wahai binatang apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Binatang:
Wahai batu dan tumbuh-tumbuhan. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berdua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku agak berbeda dengan pengalamanmu berdua. Aku tidak banyak mengalami penderitaan. Aku tidak mengalami berbagai macam ketidak adilan. Aku tidak mengalami banyak penderitaan. Aku tidak banyak mengalami perakuan buruk. Aku tidak banyak mengalami pelecehan. Aku tidak banyak mengalami penderitaan yang luar biasa. Aku tidak banyak dipukul. Aku tidak dibelah. Aku tidak dipecah. Aku tidak dihancurkan. Aku tidak diledakkan. Aku tidak diserap. Aku tidak disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi aku selalu dikejar-kejar pemburu. Aku pernah ditembak. Aku pernah dipisahkan dari keluargaku. Namun pengalamn buruk itu tidak seberapa dibanding dengan pengalaman manisku. Aku mempunyai banyak pengalaman manis dan menyenangkan. Aku sering memukul engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering menginjak-injak engkau wahai batu dan tanaman. Aku sering mengotori engkau wahai batu dan tanaman. Akulah yang sering memakan buahmu wahai tanaman. Akulah yang sering memakan daun mudamu wahai tanaman. Au juga pernah merobohkanmu. Aku juga pernah menggunakan engkau tanaman untuk memukul engkau batu. Aku gunakan engkau tanaman untuk ayunan permainanku. Aku gunakan engkau batu, untuk loncatan. Aku juga pernah memecahkanmu wahai batu. Aku bisa berlaku apa saja terhadapmu berdua.
Batu dan tumbuh-tumbuhan bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai binatang, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berdua. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berdua. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berdua? Bolehkah aku berdua menirumu? Kalau perlu aku berdua ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Binatang:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah setingkat lebih tinggi dari dimensi tumbuh-tumbuhan. Dan dua tingkat lebih tinggi dari dimensi batu. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai manusia apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu dan tumbuh-tumbuhan tadi? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Manusia :
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu bertiga. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu bertiga. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu bertiga. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga.
Batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Wahai manusia, mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku bertiga. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku bertiga. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku bertiga? Bolehkah aku bertiga menirumu? Kalau perlu aku bertiga ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Manusia:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Manusia berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu berempat. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu berempat. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu berempat. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku. Maka aku bisa berlaku apa saja terhadapmu bertiga. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian. Aku pernah tidak memberimu hakmu. Aku sering menyuruhmu. Aku selalu mengaturmu. Aku membayar gajimu. Aku sering tak peduli denganmu. Aku sering tidak mendengarkan ucapan dan usulmu. Aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini. Aku punya banyak teman sedangkan engkau tidak punya teman. Aku punya banyak hiburan sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak pengalaman sedangkan engkau tidak. Aku punya banyak keterampilan sedangkan engkau tidak. Aku selalu mengetahui dimana, kapan, kemana, dengan siapa dirimu itu. Seangkan engkau tidak mengetahuiku. Maka sebenar-benar diriku adalah dapat menentukan dirimu semua.
Batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang pertama tadi bersama-sama menjawab:
Tidak adil. Mengapa engkau bisa melakukan yang lebih banyak dari diriku berempat?. Bahkan engkau bisa menyakiti diriku berempat. Mengapa engkau seakan juga bisa menentukan nasibku berempat? Bolehkah aku berempat menirumu? Kalau perlu aku berempat ingin membalas perlakuan burukmu terhadapku.
Manusia berilmu:
Itulah sebenar-benar diriku. Dimensi diriku adalah lebih tinggi dari dimensi dirimu semua. Itulah kodratku dan juga kodratmu. Aku tidak tahu apakah doa-doaku dan juga doa-doamu dapat merubah nasib kita? Tetapi inilah kesaksianku. Bahwa untuk engkau saudaraku manusia, maka ikhtiarmu juga merupakan kodratmu. Itulah sebenar-benar keunggulan manusia dari batu, tumbuhan dan binatang. Jika engkau berusaha, maka dimensimu dapat meningkat setara dengan dimensiku, yaitu menjadi orang yang berilmu. Tetapi tunggulah. Kelihatannya ada orang yang berbeda denganku lewat. Aku ingin bertanya kepada orang itu. Wahai saudaraku siapakah engkau? Apakah engkau mendengarkan percakapanku dengan batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang ini? Jika engkau mendengarkan, apakah engkau juga dapat menceritakan pengalamanmu?
Manusia bernurani dan berilmu:
Wahai batu, tumbuh-tumbuhan, binatang dan saudaraku-saudaraku. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku mendengar semua percakapanmu semua. Aku juga mempunyai pengalaman, tetapi pengalamanku sangat berbeda dengan pengalamanmu semua. Aku mengalami penderitaan, tetapi penderitaanku tidak seperti penderitaanmu semua. Aku mengalami berbagai macam ketidak adilan, tetapi bukan ketidak adilan seperti yang engkau alami. Aku mengalami banyak penderitaan, tatapi bukan penderitaan seperti yang engkau alami. Aku banyak mengalami perakuan buruk, tetapi tidak seperti perlakuan buruk yang engkau alami. Aku juga mengalami pelecehan, tetapi bukan pelecehan seperti yang engkau alami. Aku aku juga pernah dipukul. Tetapi aku tidak pernah dibelah. Aku tidak pernah dipecah. Aku tidak pernah dihancurkan. Aku tidak pernah diledakkan. Aku tidak pernah disedot oleh akar-akar. Aku tidak ditumbuhi rumput-rumput. Aku tidak disiram air. Aku tidak dijemur di bawah terik matahari. Tetapi ketahuilah bahwa aku gunakan batu dan batang tanaman untuk menangkap engkau wahai binatang. Aku jadikan engkau wahai tumbuhan dan binatang sebagai makananku, selama itu diijinkan oleh Tuhanku. Maka aku berusaha hidup seimbang dan harmonis. Wahai saudaraku sesama manusia, aku juga pernah meninggalkanmu sendirian, tetapi semata karena aku ingin berdoa dan menuntut ilmu. Aku berusaha jangan sampai tidak memberimu hakmu. Aku berusaha menyuruhmu sesuatu fungsi dan tugasmu. Aku mengaturmu itu memang karena amanah yang diberikan kepadaku. Aku berusaha membayar gajimu dengan tepat. Aku selalu berusaha memperdulikanmu. Aku selalu berusaha mendengarkan ucapan dan usulmu. Jika aku sering bepergian sedangkan engkau aku suruh untuk menjaga di sini, itu adalah semata-mata karena perbedaan tugas kita masing-masing. Aku punya banyak teman dan aku anggap engkau juga teman-temanku. Aku punya banyak hiburan tetapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Aku punya banyak pengalaman tetapi aku berusaha menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Aku mengajak kepada saudara-saudaraku marilah selalu menuntut ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, agar kita bisa meningkatkan dimensi kita. Setinggi tinggi dimensi adalah dimensi absolut, yaitu dimensi Tuhan YME. Aku berusaha selalu melantunkan doa-doaku. Doa-doaku itu adalah untuk semuanya. Ya Tuhan limpahkanlah karunia dan hidayah Mu bagi hamba-hambamu ini. Amien.
Friday, March 13, 2009
Elegi Menggapai Sang Kholik
Oleh Marsigit
-------halaman ini sengaja dibiarkan kosong dan dianggap kosong-------
-------halaman ini sengaja dibiarkan kosong dan dianggap kosong-------
Thursday, March 12, 2009
Elegi Menggapai Hati
Oleh Marsigit
Kebiasaanku:
Bekerja, istirahat, beribadah, makan, minum, tidur, nonton tv, kuliah, naik motor, belanja, arisan, piknik, merapikan kamar tidur, mandi, ... itu kebiasanku. Tetapi aku ingin masih mencari kebiasaanku yang lain. Membaca buku, membaca koran, ngobrol dengan teman, membaca kitab, nginternet, ... itu juga kebiasaanku. Kayaknya masih ada. Membantu orang tua, kerjabakti, tidur..eh sudah, kuliah..eh sudah. Apa lagi ya kebiasaanku? Oh iya sekarang aku punya kebiasaan yaitu berfilsafat.
Pikiranku berfilsafat:
Karena aku sedang berfilsafat maka aku sekarang akan melakukan eksperimen yaitu akan aku borgol orang tua berambut putih agar tidak bisa lagi mendekatiku. Mengapa supaya aku bisa leluasa bertanya tanpa harus diganggu oleh kehadiran dia. Aku mulai bertanya. Untuk apa aku bekerja, untuk apa aku istirahat, untuk apa aku beribadah, untuk apa aku makan, untuk apa aku minum, untuk apa aku tidur, untuk apa aku nonton tv, untuk apa aku kuliah, untuk apa aku naik motor, untuk apa aku belanja, untuk apa aku arisan, untuk apa aku piknik, untuk apa aku merapikan kamar tidur, mandi, ... untuk apa aku itu kebiasanku. Untuk apa aku membaca buku, untuk apa aku piknik, untuk apa aku membaca koran, untuk apa aku ngobrol dengan teman, untuk apa aku membaca kitab, untuk apa aku nginternet..dst.
Pikiranku didatangi rasa khawatir?:
Ketika aku berfilsafat tiba-tiba muncul rasa khawatir. Yah itulah datang rasa khawatir. Setiap aku mulai berfilsafat datanglah rasa khawatir. Aneh, padahal orang tua berambut putih sudah bisa aku lumpuhkan. Tetapi mengapa sekarang muncul rasa khawatir. Wahai khawatir siapakah dirimu itu, dari manakah engkau, di mana tempat tinggalmu. Mengapa tiba-tiba engkau datang menghampiriku?
Khawatir:
Aku adalah rasa khawatirmu. Tempat tinggalku diantara batas hati dan pikiranmu. Maka aku bisa hadir baik dalam pikiran maupun hatimu.
Pikiranku:
Mengapa engkau tiba-tiba menghampiriku?
Khawatir:
Aku selalu hadir pada setiap keragu-raguanmu.
Pikiranku:
Apakah engkau mengetahui apakah sebenarnya keraguanku sekarang ini?
Khawatir:
Engkau betul-betul ragu-ragu karena engkau mulai memikirkan kebiasanmu. Sementara engkau masih teringat apa yang dikatakan orang tua berambut putih bahwa kebiasaan tanpa memikirkannya adalah mitosmu. Maka semakin banyak engkau mengingat-ingat kebiasaanmu maka semakin banyak pula mitos-mitosmu. Itulah sebenar-benari khawatirmu, yaitu bahwa engkau merasa khawatir dimangsa oleh mitos-mitosmu.
Pikiranku:
Benar juga apa yang engkau katakan. Lalu bagaimana solusinya menurutmu?
Khawatir:
Sesungguh-sungguh solusinya tergantung akan dirimu. Tetapi bagiku adalah di sini saja tempat yang paling nyaman. Aku tidak mau engkau bawa ke dalam pikiranmu, juga aku tidak mau engkau bawa ke dalam hatiku. Sesungguh-sungguh hakekat khawatir itu adalah diriku, yaitu batas antara pikiran dan hatimu.
Pikiranku:
Wahai khawatir. Betapa bodohnya engkau itu. Jawabanmu itulah sebenar-benar solusiku. Maka janganlah menolak perintahku. Maka engkau akan aku bawa jauh ke dalam pikiranku.
Khawatir:
Terserah engkau jualah. Tetapi jika engka ingin memaksaku, maka aku mempunyai permintaan kepadamu.
Pikiranku:
Apakah permintaanmu itu?
Khawatir:
Kemanapun aku engkau ajak pergi dalam pikiranmu, maka aku akan selalu muncul jikalau engkau tidak dapat menggunakan pikiranmu. Demikian juga, kemanapun engkau aku ajak pergi ke dalam hatimu, maka aku akan muncul ketika engkau tidak dapat membersihkan hatimu.
Pikiranku:
Baik syaratmu aku terima, maka marilah engkau masuk dalam-dalam ke dalam pikiranku.
Hatiku:
Wahai pikiran. Mengapa selama ini engkau abaikan diriku? Bukankah engkau telah berjanji bahwa diriku akan engkau selalu jadikan komandan kemanapun engkau pergi?
Pikiranku:
Wahai hatiku, bukankah engkau tahu dan menyaksikan sendiri betapa sibuknya aku sekarang ini. Pekerjaanku sangat banyak. Ditambah lagisekarang aku mempunyai penghuni baru dalam pikiranku. Dengan pikiranku ini aku harus menjaga dan selalu berpikir agar tidak muncul khawatir dalam pikiranku.
Hatiku:
Wahai pikiran, bukankah engkau tahu bahwa jika engkau biarkan terlalu lama hatiku tidak engkau hampiri maka sedikit-demi sedikit hatiku terkena debu dan menjadi kotor. Padahal aku baru saja mendengarkan permintaan khawatir, bahwa dia juga akan hadir dalam hatimu manakala hatimu kotor. Ketahuilah bahwa sesungguh-sungguhnya hatimu telah mulai kotor sekarang ini. Maka ketahuilah bahwa khawatir itu sebenarnya telah hadir dalam hatimu.
Pikiranku:
Lalu bagaimana. Kalau begitu aku ingin bertanya kepada orang tua berambut putih. Wahai orang tua berambut putih. Marilah engkau aku lepaskan borgolmu itu. Maafkanlah atas kesombonganku ini. Ketahuilah bahwa aku sekarang sedang mempunyai masalah besar. Khawatir telah muncul di mana-mana. Khawatir telah muncul baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku. Bagaimanakah wahai orang tua berambut putih solusinya?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat manusia. Tiadalah manusia dapat mencampuradukkan pikiran dan hatinya secara sembarangan. Sebenar-benar hati dan pikiran adalah berbeda. Itulah mengapa ada batas antara pikiranmu dan hatimu. Di dalam batas itulah khawatirmu berdomisili. Tetapi tiadalah manusia dapat mengetahui batas pikiran dan hatimu jika engkau menggunakan pikiranmu. Maka sebenar-benar batas antara pikiran dan hatimu itulah maka hatimu yang akan menunjukkanmu. Maka bertanyalah kepada hatimu untuk mengetahui batas pikiran dan hatimu.
Pikiranku:
Wahai hatiku. Dimanakah batas antara pikiranku dan hatiku?
Hatiku:
Aku bersedia menjawab jika aku telah engkau bersihkan dari segala kotoran yang ada dalam diriku.
Pikiranku:
Bagaimana aku bisa membersihkan engkau wahai hatiku?
Hatiku:
Tanyakanlah kepada orang tua berambut putih.
Pikiranku:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimanakah aku dapat membersihkan hatiku.
Orang tua berambut putih:
Tiadalah kuasa manusia itu untuk membersihkan hatinya sendiri. Berdoa dan berserah dirilah kepada Tuha YME agar berkenan membersihkan hatimu.
Pikiranku:
Wahai Tuhanku, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa-dosa leluhurku, ampunilah segala dosa-dosa pemimpinku, ampunilah segala dosa-dosa orang tuaku. Belas kasihanilah aku. Tolonglah aku. Bebaskanlah aku dari rasa khawatir baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku.
Pikiranku:
Wahai orang tua berabut putih. Kenapa doaku belum juga terkabul?
Orang tua berambut putih:
Doamu belum terkabul itu disebabkan oleh karena kesombonganmu.
Pikiranku:
Mengapa aku yang telah melantunkan doa-doaku ini masih engkau anggap sombong?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar dirimu, yang tidak tahu diri. Bukanlah semestinya engkau melantunkan doa-doa. Doa-doa itu bukan bidang pekerjaanmu. Itulah sebenar-benar pekerjaan hatimu.
Pikiranku:
Oh ampunilah Tuhanku maka aku harus bagaimana?
Orang tua berambut putih:
Sekarang gantian. Giliran engkau yang akan aku borgol. Engkau akan aku borgol agar engkau tidak mengganggu aktivitas hatimu dalam melantunkan doa-doa.
Pikiranku:
Terus bagaimana nasib dan keadaanku nanti setelah engkau borgol diriku?
Orang tua berambut putih:
Jikalau engkau telah aku borgol, maka engkau akan terbebas dari khawatir. Ketahuilah bahwa terbebas dari khawatir ada dua cara dalam pikiranmu. Pertama, gunakan pikiranmu sebaik mungkin atau tidak engkau gunakan sama sekali.
Hatiku:
Terimakasih wahai orang tua berambut putih. Aku sekarang merasa ringan dan lega. Semoga aku akan bisa melantunkan doa-doaku dengan khusyuk dan tawadu’. Maka pergilah engkau dan tinggalkan aku sendiri di sini. Biarkan aku sendiri di sini tanpa siapapun, kecuali doa-doaku.
Kebiasaanku:
Bekerja, istirahat, beribadah, makan, minum, tidur, nonton tv, kuliah, naik motor, belanja, arisan, piknik, merapikan kamar tidur, mandi, ... itu kebiasanku. Tetapi aku ingin masih mencari kebiasaanku yang lain. Membaca buku, membaca koran, ngobrol dengan teman, membaca kitab, nginternet, ... itu juga kebiasaanku. Kayaknya masih ada. Membantu orang tua, kerjabakti, tidur..eh sudah, kuliah..eh sudah. Apa lagi ya kebiasaanku? Oh iya sekarang aku punya kebiasaan yaitu berfilsafat.
Pikiranku berfilsafat:
Karena aku sedang berfilsafat maka aku sekarang akan melakukan eksperimen yaitu akan aku borgol orang tua berambut putih agar tidak bisa lagi mendekatiku. Mengapa supaya aku bisa leluasa bertanya tanpa harus diganggu oleh kehadiran dia. Aku mulai bertanya. Untuk apa aku bekerja, untuk apa aku istirahat, untuk apa aku beribadah, untuk apa aku makan, untuk apa aku minum, untuk apa aku tidur, untuk apa aku nonton tv, untuk apa aku kuliah, untuk apa aku naik motor, untuk apa aku belanja, untuk apa aku arisan, untuk apa aku piknik, untuk apa aku merapikan kamar tidur, mandi, ... untuk apa aku itu kebiasanku. Untuk apa aku membaca buku, untuk apa aku piknik, untuk apa aku membaca koran, untuk apa aku ngobrol dengan teman, untuk apa aku membaca kitab, untuk apa aku nginternet..dst.
Pikiranku didatangi rasa khawatir?:
Ketika aku berfilsafat tiba-tiba muncul rasa khawatir. Yah itulah datang rasa khawatir. Setiap aku mulai berfilsafat datanglah rasa khawatir. Aneh, padahal orang tua berambut putih sudah bisa aku lumpuhkan. Tetapi mengapa sekarang muncul rasa khawatir. Wahai khawatir siapakah dirimu itu, dari manakah engkau, di mana tempat tinggalmu. Mengapa tiba-tiba engkau datang menghampiriku?
Khawatir:
Aku adalah rasa khawatirmu. Tempat tinggalku diantara batas hati dan pikiranmu. Maka aku bisa hadir baik dalam pikiran maupun hatimu.
Pikiranku:
Mengapa engkau tiba-tiba menghampiriku?
Khawatir:
Aku selalu hadir pada setiap keragu-raguanmu.
Pikiranku:
Apakah engkau mengetahui apakah sebenarnya keraguanku sekarang ini?
Khawatir:
Engkau betul-betul ragu-ragu karena engkau mulai memikirkan kebiasanmu. Sementara engkau masih teringat apa yang dikatakan orang tua berambut putih bahwa kebiasaan tanpa memikirkannya adalah mitosmu. Maka semakin banyak engkau mengingat-ingat kebiasaanmu maka semakin banyak pula mitos-mitosmu. Itulah sebenar-benari khawatirmu, yaitu bahwa engkau merasa khawatir dimangsa oleh mitos-mitosmu.
Pikiranku:
Benar juga apa yang engkau katakan. Lalu bagaimana solusinya menurutmu?
Khawatir:
Sesungguh-sungguh solusinya tergantung akan dirimu. Tetapi bagiku adalah di sini saja tempat yang paling nyaman. Aku tidak mau engkau bawa ke dalam pikiranmu, juga aku tidak mau engkau bawa ke dalam hatiku. Sesungguh-sungguh hakekat khawatir itu adalah diriku, yaitu batas antara pikiran dan hatimu.
Pikiranku:
Wahai khawatir. Betapa bodohnya engkau itu. Jawabanmu itulah sebenar-benar solusiku. Maka janganlah menolak perintahku. Maka engkau akan aku bawa jauh ke dalam pikiranku.
Khawatir:
Terserah engkau jualah. Tetapi jika engka ingin memaksaku, maka aku mempunyai permintaan kepadamu.
Pikiranku:
Apakah permintaanmu itu?
Khawatir:
Kemanapun aku engkau ajak pergi dalam pikiranmu, maka aku akan selalu muncul jikalau engkau tidak dapat menggunakan pikiranmu. Demikian juga, kemanapun engkau aku ajak pergi ke dalam hatimu, maka aku akan muncul ketika engkau tidak dapat membersihkan hatimu.
Pikiranku:
Baik syaratmu aku terima, maka marilah engkau masuk dalam-dalam ke dalam pikiranku.
Hatiku:
Wahai pikiran. Mengapa selama ini engkau abaikan diriku? Bukankah engkau telah berjanji bahwa diriku akan engkau selalu jadikan komandan kemanapun engkau pergi?
Pikiranku:
Wahai hatiku, bukankah engkau tahu dan menyaksikan sendiri betapa sibuknya aku sekarang ini. Pekerjaanku sangat banyak. Ditambah lagisekarang aku mempunyai penghuni baru dalam pikiranku. Dengan pikiranku ini aku harus menjaga dan selalu berpikir agar tidak muncul khawatir dalam pikiranku.
Hatiku:
Wahai pikiran, bukankah engkau tahu bahwa jika engkau biarkan terlalu lama hatiku tidak engkau hampiri maka sedikit-demi sedikit hatiku terkena debu dan menjadi kotor. Padahal aku baru saja mendengarkan permintaan khawatir, bahwa dia juga akan hadir dalam hatimu manakala hatimu kotor. Ketahuilah bahwa sesungguh-sungguhnya hatimu telah mulai kotor sekarang ini. Maka ketahuilah bahwa khawatir itu sebenarnya telah hadir dalam hatimu.
Pikiranku:
Lalu bagaimana. Kalau begitu aku ingin bertanya kepada orang tua berambut putih. Wahai orang tua berambut putih. Marilah engkau aku lepaskan borgolmu itu. Maafkanlah atas kesombonganku ini. Ketahuilah bahwa aku sekarang sedang mempunyai masalah besar. Khawatir telah muncul di mana-mana. Khawatir telah muncul baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku. Bagaimanakah wahai orang tua berambut putih solusinya?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat manusia. Tiadalah manusia dapat mencampuradukkan pikiran dan hatinya secara sembarangan. Sebenar-benar hati dan pikiran adalah berbeda. Itulah mengapa ada batas antara pikiranmu dan hatimu. Di dalam batas itulah khawatirmu berdomisili. Tetapi tiadalah manusia dapat mengetahui batas pikiran dan hatimu jika engkau menggunakan pikiranmu. Maka sebenar-benar batas antara pikiran dan hatimu itulah maka hatimu yang akan menunjukkanmu. Maka bertanyalah kepada hatimu untuk mengetahui batas pikiran dan hatimu.
Pikiranku:
Wahai hatiku. Dimanakah batas antara pikiranku dan hatiku?
Hatiku:
Aku bersedia menjawab jika aku telah engkau bersihkan dari segala kotoran yang ada dalam diriku.
Pikiranku:
Bagaimana aku bisa membersihkan engkau wahai hatiku?
Hatiku:
Tanyakanlah kepada orang tua berambut putih.
Pikiranku:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimanakah aku dapat membersihkan hatiku.
Orang tua berambut putih:
Tiadalah kuasa manusia itu untuk membersihkan hatinya sendiri. Berdoa dan berserah dirilah kepada Tuha YME agar berkenan membersihkan hatimu.
Pikiranku:
Wahai Tuhanku, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa-dosa leluhurku, ampunilah segala dosa-dosa pemimpinku, ampunilah segala dosa-dosa orang tuaku. Belas kasihanilah aku. Tolonglah aku. Bebaskanlah aku dari rasa khawatir baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku.
Pikiranku:
Wahai orang tua berabut putih. Kenapa doaku belum juga terkabul?
Orang tua berambut putih:
Doamu belum terkabul itu disebabkan oleh karena kesombonganmu.
Pikiranku:
Mengapa aku yang telah melantunkan doa-doaku ini masih engkau anggap sombong?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar dirimu, yang tidak tahu diri. Bukanlah semestinya engkau melantunkan doa-doa. Doa-doa itu bukan bidang pekerjaanmu. Itulah sebenar-benar pekerjaan hatimu.
Pikiranku:
Oh ampunilah Tuhanku maka aku harus bagaimana?
Orang tua berambut putih:
Sekarang gantian. Giliran engkau yang akan aku borgol. Engkau akan aku borgol agar engkau tidak mengganggu aktivitas hatimu dalam melantunkan doa-doa.
Pikiranku:
Terus bagaimana nasib dan keadaanku nanti setelah engkau borgol diriku?
Orang tua berambut putih:
Jikalau engkau telah aku borgol, maka engkau akan terbebas dari khawatir. Ketahuilah bahwa terbebas dari khawatir ada dua cara dalam pikiranmu. Pertama, gunakan pikiranmu sebaik mungkin atau tidak engkau gunakan sama sekali.
Hatiku:
Terimakasih wahai orang tua berambut putih. Aku sekarang merasa ringan dan lega. Semoga aku akan bisa melantunkan doa-doaku dengan khusyuk dan tawadu’. Maka pergilah engkau dan tinggalkan aku sendiri di sini. Biarkan aku sendiri di sini tanpa siapapun, kecuali doa-doaku.
Subscribe to:
Posts (Atom)
