Oleh Marsigit
Akar:
Wahai rumput, apakah engkau mengikuti konferensi internasional imajiner baru-baru ini. Jika engkau mengikuti apakah hasil-hasilnya. Bolehkah aku sebagai akarmu memperoleh sedikit pengalaman darimu.
Rumput:
Wahai akarku, jangankan aku, orang-orang yang lain yang lebih penting saja tidak dapat mengikuti karena terbatasnya kapasitas. Tetapi aku hanya menyaksikan para tamu lalu lalang kesana kemari. Aku juga sempat melihat dan mendengar percakapan mereka.
Akar:
Kalau boleh aku tahu apakah tema dari konferensi internasional imajiner itu?
Rumput:
Temanya adalah hakekat ilmu
Akar:
Wah...wah. Ini tidak adil.
Rumput:
Kenapa?
Akar:
Wahai rumput, bukankah engkau tahu bahwa ilmu itu bukan monopoli orang-orang penting saja. Bukankah untuk sekedar menjadi akar seperti aku ini juga memerlukan ilmu.
Rumput:
Benar apa katamu. Lalu kalau begitu, apa maksudmu?
Akar :
Begini saja. Daripada mengharap terlalu besar, kita mengadakan sendiri konferensi dengan tema yang sama yaitu hakekat ilmu, tetapi dengan peserta kelompok umum, kelompok awam, kelompok jalanan, kelompok sepele, kelompok sederhana dan kelompok pinggiran bahkan kelompok terpencil.
Rumput:
Ide yang bagus. Aku setuju itu. Baik kalau begitu aku akan undang semuanya untuk hadir besok dilapangan berumput ini untuk mengadakan konferensi daerah dengan tema “hakekat ilmu” juga.
Dari pada susah-susah mencarinya, maka engkau akar rumput saya jadikan moderatornya.
Konferensi Daerah Imajiner di Gelar
Akar Rumput:
Wahai pedagang klontong, bank plecit, tukang bakso, tukang becak, guru ngaji, petani, sopir bus, dukun pijat, prt, teknisi komputer, pemancing ikan, siswa sekolah, menurutmu apakah yang engkau maksud dengan ilmu itu?
Pedagang klontong:
Menurutku, ilmu adalah laku jualanku. Sebenar-benar diriku adalah bisa menjual sebanyak-banyak daganganku. Maka aku tidaklah perlu yang lain-lain. Maka laku daganganku itulah ilmuku.
Bank plecit:
Menurutku, ilmu adalah sebesar-besar laba modalku. Tiadalah peduli aku bagaimana mereka mengembalikan uangku, tetapi hidupku adalah laba-laba modalku. Itulah sebenar-benar ilmuku yaitu laba-labaku.
Tukang bakso:
Menurutku, ilmu adalah habis terjuallah bakso ku ini. Bagiku tiadalah yang lebih penting dari pada bagaimana menjajakan bakso ini sampai habis. Maka itulah sebenar-benar ilmuku.
Guru ngaji:
Menurutku, ilmu adalah membaca kitab suci dan mengamalkannya. Tiadalah kegiatanku dan kegiatan mereka melebihi yang lain kecuali membaca kitab dan mengamalkannya. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Tukang becak:
Menurutku, ilmu adalah sebanyak-banyak aku bisa menghantar orang bebergian, tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Maka sehari-hari yang aku pikir adalah bagaimana orang mau ku antar dengan becakku ini dalam bebergiannya. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Petani:
Menurutku, ilmu adalah panen. Siang dan malam aku berpikir bagaimana pada musim ini aku bisa panen dengan baik, karena jika tidak maka habis sudah harapanku. Itulah sebenar-benar ilmuku yaitu bagaimana bisa panen dengan baik.
Sopir bus:
Menurutku, ilmu adalah setoran. Aku selalu berusaha bagaiman setoranku terpenuhi, syukur-syukur pendapatanku bisa melebihi setoran. Terkadang aku harus ngebut dan menanggung resiko tabrakan di jalan, itu semua demi setoran. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Dukun pijat:
Menurutku, ilmu adalah bagaiman pijatanku bisa terasa enak dan nyaman, sehingga orang yang aku pijat dapat kembali ke sini. Syukur-syukur jika orang yang ku pijat itu bisa menyampaikan kehebatan pijatanku ini. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Prt:
Menurutku, ilmu adalah bagaiman bos atau juraganku tidak marah dengan aku dan tetap terjamin memberi gaji bulanan kepadaku. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Teknisi komputer:
Menurutku, ilmu adalah komputer dan jaringannya tidak ngadat. Listriknya juga tidak padam, virus-virus didalam komputer bisa aku hilangkan. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Pemancing Ikan:
Menurutku, ilmu adalah kesabaranku menunggu datangnya ikan. Jika aku tidak sabar maka ikan-ikan itu tidak mau datang dan tidak mau memakan umpanku. Itulah sebenar-benar ilmuku.
Siswa sekolah:
Menurutku, ilmu adalah nilai UAN. Tiadalah yang lebih penting dari hidupku kecuali nilai UAN. Maka siang dan malam aku berusaha berpikir bagaimana aku memperoleh nilai yang tinggi pada UAN.
Semua peserta konferensi daerah imajiner, bersama-sama bertanya kepada rumput. Wahai rumput, lha kalau engkau. Menurutmu ilmu itu apa?
Rumput:
Menurutku, ilmu adalah kesaksianku. Siang malam aku hanya bisa melihat dan menyaksikan segala macam ucapan dan perbuatanmu. Maka setinggi ilmuku adalah menyaksikan engkau semua. Itulah sebenar-benar ilmuku. Itulah sebabnya aku selalu bergoyang-goyang agar aku selalu bisa menyaksikanmu. Maka bolehlah engkau panggil aku sebagai rumput yang bergoyang.
Sebelum aku menutup kenferensi ini, perkenankanlah juga aku ingin bertanya kepada moderator, wahai akar rumput, lha kalau menurutmu apakah ilmu itu?
Akar rumput:
Menurutku, ilmu adalah kewajibanku melayanimu. Siang dan malam kegiatanku hanyalah melayanimu agar engkau tidak kurang satu apapun, agar engkau sebagai rumputku bisa tetap hidup.
Saturday, March 7, 2009
Friday, March 6, 2009
Elegi Konferensi Internasional Imajiner
Oleh: Marsigit
Orang tua berambut putih ingin menyelenggarakan konferensi internasional imajiner. Semua orang penting diundang. Temanya adalah mengungkap hakekat ilmu. Moderatornya Socrates. Berikut jalannya sidang:
Socrates:
Wahai Permenides, Heraclitos, Pythagoras, ....Apakah ilmu menurut dirimu?
Thales:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam air. Barang siapa mampu mengungkap misteri air, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari air.
Anaximenes:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam udara. Barang siapa mampu mengungkap misteri udara, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari udara.
Pythagoras:
Menurutku ilmu itu suci. Maka hanya orang-orang sucilah yang berhak mempunyai ilmu.
Permenides:
Menurutku, ilmu itu bersifat tetap. Tiadalah sesuatu yang berubah dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang berubah bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah tetap. Hanyalah yang tetap yang aku sebut sebagai ilmu. Maka sebenar-benar segala sesuatu itu pada hakekatnya adalah tetap.
Heraclitos:
Menurutku, ilmu itu bersifat berubah. Tiadalah sesuatu yang tetap dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang tetap bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah berubah. Hanyalah yang berubah yang aku sebut sebagai ilmu.
Demokritos:
Menurutku, ilmu ada yang benar dan ada yang tidak benar. Ilmu yang benar adalah yang berada dalam pikiran. Sedangkan ilmu yang tidak benar yang diperoleh dengan melihat.
Plato:
Menurutku manusia mempunyai dua dunia, yaitu dunia pengalaman dan dunia ide. Sedankan ilmuharus bersifat tetap, dan yang tetap itu adalah ide. Jadi menurutku ilmu adalah ide itu sendiri.
Aristoteles:
Menurutku ilmu adalah pengalaman. Tiadalah ilmu tanpa pengalaman. Jadi pengalaman itulah sebenar-benar ilmu.
Euclides:
Menurutku ilmu adalah deduksi. Maka tiadalah ilmu kecuali ditemukan dengan metode deduksi.
Plotinos:
Menurutku ilmu adalah pancaran dari Tuhan. Maka tiadalah ilmu jika hal demikian tidak dipancarkan oleh Tuhan.
Rene Descartes:
Menurutku ilmu itu identik dengan keraguan. Maka tiadalah ilmu tanpa keraguan. Keraguanku itulah ilmuku.
Bacon:
Menurutku ilmu itu kalau terbebas dari idol. Idol adalah berhala pengganggu manusia dalam memperoleh ilmunya. Jadi sebenar-benar ilmu menurutku adalah terbebas dari idol.
Berkely:
Menurutku, ilmu adalah tipuan belaka. Sesungguhnya dunia itu tipuan. Maka tiadalah aku mempunyai ilmu kecuali tipuan belaka.
Hume:
Menurutku ilmu adalah totalitas dari pengalaman kita. Ilmu itu berada di atas pengalaman kita. Jadi tiadalah ilmu jika tidak berada di atas pengalaman.
Kant:
Menurutku ilmu adalah keputusan. Keputusanku itulah ilmuku. Maka janganlah berharap mempunyai ilmu jika tidak dapat mengambil keputusan.
Fichte:
Menurutku ilmu adalah diriku yang otonom. Diriku yang otonom itulah ilmuku. Itu sama artinya bahwa ilmuku adalah idealismeku.
Hegel:
Menurutku ilmu adalah sejarah. Dunia itu mensejarah. Maka sebenar-benar ilmu adalah sejarahnya dunia dengan segenap isinya.
Comte:
Menurutku ilmu adalah positive. Ilmu itu tentang hal yang sungguh-sungguh terjadi dan real. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu positive.
Darwin:
Menurutku ilmu adalah perkembangan. Suatu perkembangan betul-betul disebut ilmu jika sesuai dengan hukum-hukum mekanik.
Husserl:
Menurutku ilmu adalah mengabaikan yang tidak diselidiki, dan memperhatikan yang diselidiki. Itulah fenomenologi. Maka sebenar-benar ilmu adalah fenomenologi.
Hartman:
Menurutku ilmu adalah nilai. Tiadalah ilmu jika tidak mempunyai nilai.
Satre:
Menurutku ilmu adalah merdeka. Merdeka dari segala macam aturan itulah ilmu. Itulah sebenar-benar nihilisme.
Freud:
Menurutku ilmu adalah asmara. Maka sebetulbetul dunia adalah asmara. Ilmuku itulah asmaraku.
Enstein:
Menurutku, ilmu adalah relatif. Semuanya adalah relatif. Duania itu adalah relativitas. Itu juga ilmuku.
Piaget:
Menurutku ilmu adalah membangun. Tiadalah orang dapat dikatakan berilmu jika tidak mampu membangun. Itulah sebenar-benar konstructivist.
Wittgenstain:
Menurutku ilmu adalah bahasa. Maka bahasaku itulah rumah sekaligus ilmuku.
Brouwer:
Menurutku, ilmu adalah intuisi. Maka intuisiku adalah ilmuku. Itulah sebenar-benar intuisionisme.
Russell:
Menurutku, ilmu adalah logika. Tiadalah suatu dikatakan sebagai ilmu jika dia tidak logis.
Lakatos:
Menurutku ilmu adalah kesalahan. Maka tiadalah sesuatu disebut ilmu jika tidak ada kesalahan. Itulah sebenar-benar fallibisme.
Stuart Mill:
Menurutku ilmu adalah manfaat. Maka tiadalah sesuatu disebut sebagi ilmu jika tidak membawa manfaat.
Ernest:
Menurutku, ilmu adalah pergaulan. Maka tiadalah seseorang dapat memperoleh ilmu tanpa interaksi dengan sesama untuk membangun ilmunya. Itulahh sebenar-benar socio-constructivist.
Materialist:
menurutku, ilmu adalah materi. Tiadalah sesuatu hakekat apapun kecuali materi. Itulah sebenar-bear materialis.
Hedonist:
Menurutku ilmu adalah kenikmatan. Maka tiadalah ilmu kecuali aku mendapat kenikmatan. Kenikmatan dunia itulah sebenar-benar ilmuku.
Fatalist:
Menurutku, ilmu adalah takdir. Maka suratan takdir itulah ilmuku. Tiada daya upaya manusia kecuali sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu seratus persen berserah diri.
Humanis:
Menurutku, ilmu itulah diri manusia. Maka tiadalah ilmu berada diluar diri manusia. Itulah sebenar-benar humanisme.
Kapitalist:
Menurutku, ilmu adalah kapital. Maka tiadalah sebenar-benar ilmu tanpa kapital. Itulah sebenar-benar kapitalisme.
Liberalist:
Menurutku, ilmu adalah bebas mutlak. Itulah hak-hak ku. Itu pula sebenar-benar liberalisme.
Pancasilaist:
Menurutku, ilmu adalah mono-dualis. Dua yang satu, satu yang dua. Habluminallah dan habluminanash itulah hakekat ilmuku.
Religist:
Menurutku, ilmu adalah ibadah. Maka tiadalah sesuatu itu dikatakan ilmu jika tidak untuk ibadah.
Semua pembicara bertanya kepada Moderator:
Wahai Socrates, kalau menurutmu sendiri apakah ilmu itu.
Socrates:
Menurutku, ilmu adalah pertanyaan. Maka sebenar-benar ilmuku adalah pertanyaanku. Janganlah engkau berharap memperoleh ilmu jika engkau tidak mampu bertanya. Itulah mengapa pada konferensi ini aku banyak bertanya.
Orang tua berambut putih ingin menyelenggarakan konferensi internasional imajiner. Semua orang penting diundang. Temanya adalah mengungkap hakekat ilmu. Moderatornya Socrates. Berikut jalannya sidang:
Socrates:
Wahai Permenides, Heraclitos, Pythagoras, ....Apakah ilmu menurut dirimu?
Thales:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam air. Barang siapa mampu mengungkap misteri air, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari air.
Anaximenes:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam udara. Barang siapa mampu mengungkap misteri udara, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari udara.
Pythagoras:
Menurutku ilmu itu suci. Maka hanya orang-orang sucilah yang berhak mempunyai ilmu.
Permenides:
Menurutku, ilmu itu bersifat tetap. Tiadalah sesuatu yang berubah dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang berubah bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah tetap. Hanyalah yang tetap yang aku sebut sebagai ilmu. Maka sebenar-benar segala sesuatu itu pada hakekatnya adalah tetap.
Heraclitos:
Menurutku, ilmu itu bersifat berubah. Tiadalah sesuatu yang tetap dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang tetap bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah berubah. Hanyalah yang berubah yang aku sebut sebagai ilmu.
Demokritos:
Menurutku, ilmu ada yang benar dan ada yang tidak benar. Ilmu yang benar adalah yang berada dalam pikiran. Sedangkan ilmu yang tidak benar yang diperoleh dengan melihat.
Plato:
Menurutku manusia mempunyai dua dunia, yaitu dunia pengalaman dan dunia ide. Sedankan ilmuharus bersifat tetap, dan yang tetap itu adalah ide. Jadi menurutku ilmu adalah ide itu sendiri.
Aristoteles:
Menurutku ilmu adalah pengalaman. Tiadalah ilmu tanpa pengalaman. Jadi pengalaman itulah sebenar-benar ilmu.
Euclides:
Menurutku ilmu adalah deduksi. Maka tiadalah ilmu kecuali ditemukan dengan metode deduksi.
Plotinos:
Menurutku ilmu adalah pancaran dari Tuhan. Maka tiadalah ilmu jika hal demikian tidak dipancarkan oleh Tuhan.
Rene Descartes:
Menurutku ilmu itu identik dengan keraguan. Maka tiadalah ilmu tanpa keraguan. Keraguanku itulah ilmuku.
Bacon:
Menurutku ilmu itu kalau terbebas dari idol. Idol adalah berhala pengganggu manusia dalam memperoleh ilmunya. Jadi sebenar-benar ilmu menurutku adalah terbebas dari idol.
Berkely:
Menurutku, ilmu adalah tipuan belaka. Sesungguhnya dunia itu tipuan. Maka tiadalah aku mempunyai ilmu kecuali tipuan belaka.
Hume:
Menurutku ilmu adalah totalitas dari pengalaman kita. Ilmu itu berada di atas pengalaman kita. Jadi tiadalah ilmu jika tidak berada di atas pengalaman.
Kant:
Menurutku ilmu adalah keputusan. Keputusanku itulah ilmuku. Maka janganlah berharap mempunyai ilmu jika tidak dapat mengambil keputusan.
Fichte:
Menurutku ilmu adalah diriku yang otonom. Diriku yang otonom itulah ilmuku. Itu sama artinya bahwa ilmuku adalah idealismeku.
Hegel:
Menurutku ilmu adalah sejarah. Dunia itu mensejarah. Maka sebenar-benar ilmu adalah sejarahnya dunia dengan segenap isinya.
Comte:
Menurutku ilmu adalah positive. Ilmu itu tentang hal yang sungguh-sungguh terjadi dan real. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu positive.
Darwin:
Menurutku ilmu adalah perkembangan. Suatu perkembangan betul-betul disebut ilmu jika sesuai dengan hukum-hukum mekanik.
Husserl:
Menurutku ilmu adalah mengabaikan yang tidak diselidiki, dan memperhatikan yang diselidiki. Itulah fenomenologi. Maka sebenar-benar ilmu adalah fenomenologi.
Hartman:
Menurutku ilmu adalah nilai. Tiadalah ilmu jika tidak mempunyai nilai.
Satre:
Menurutku ilmu adalah merdeka. Merdeka dari segala macam aturan itulah ilmu. Itulah sebenar-benar nihilisme.
Freud:
Menurutku ilmu adalah asmara. Maka sebetulbetul dunia adalah asmara. Ilmuku itulah asmaraku.
Enstein:
Menurutku, ilmu adalah relatif. Semuanya adalah relatif. Duania itu adalah relativitas. Itu juga ilmuku.
Piaget:
Menurutku ilmu adalah membangun. Tiadalah orang dapat dikatakan berilmu jika tidak mampu membangun. Itulah sebenar-benar konstructivist.
Wittgenstain:
Menurutku ilmu adalah bahasa. Maka bahasaku itulah rumah sekaligus ilmuku.
Brouwer:
Menurutku, ilmu adalah intuisi. Maka intuisiku adalah ilmuku. Itulah sebenar-benar intuisionisme.
Russell:
Menurutku, ilmu adalah logika. Tiadalah suatu dikatakan sebagai ilmu jika dia tidak logis.
Lakatos:
Menurutku ilmu adalah kesalahan. Maka tiadalah sesuatu disebut ilmu jika tidak ada kesalahan. Itulah sebenar-benar fallibisme.
Stuart Mill:
Menurutku ilmu adalah manfaat. Maka tiadalah sesuatu disebut sebagi ilmu jika tidak membawa manfaat.
Ernest:
Menurutku, ilmu adalah pergaulan. Maka tiadalah seseorang dapat memperoleh ilmu tanpa interaksi dengan sesama untuk membangun ilmunya. Itulahh sebenar-benar socio-constructivist.
Materialist:
menurutku, ilmu adalah materi. Tiadalah sesuatu hakekat apapun kecuali materi. Itulah sebenar-bear materialis.
Hedonist:
Menurutku ilmu adalah kenikmatan. Maka tiadalah ilmu kecuali aku mendapat kenikmatan. Kenikmatan dunia itulah sebenar-benar ilmuku.
Fatalist:
Menurutku, ilmu adalah takdir. Maka suratan takdir itulah ilmuku. Tiada daya upaya manusia kecuali sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu seratus persen berserah diri.
Humanis:
Menurutku, ilmu itulah diri manusia. Maka tiadalah ilmu berada diluar diri manusia. Itulah sebenar-benar humanisme.
Kapitalist:
Menurutku, ilmu adalah kapital. Maka tiadalah sebenar-benar ilmu tanpa kapital. Itulah sebenar-benar kapitalisme.
Liberalist:
Menurutku, ilmu adalah bebas mutlak. Itulah hak-hak ku. Itu pula sebenar-benar liberalisme.
Pancasilaist:
Menurutku, ilmu adalah mono-dualis. Dua yang satu, satu yang dua. Habluminallah dan habluminanash itulah hakekat ilmuku.
Religist:
Menurutku, ilmu adalah ibadah. Maka tiadalah sesuatu itu dikatakan ilmu jika tidak untuk ibadah.
Semua pembicara bertanya kepada Moderator:
Wahai Socrates, kalau menurutmu sendiri apakah ilmu itu.
Socrates:
Menurutku, ilmu adalah pertanyaan. Maka sebenar-benar ilmuku adalah pertanyaanku. Janganlah engkau berharap memperoleh ilmu jika engkau tidak mampu bertanya. Itulah mengapa pada konferensi ini aku banyak bertanya.
Elegi Misteri Di Balik Pertunjukkan Matematika
Oleh: Marsigit
Penonton:
Wahai orang tua berambut putih. Mengapa hingga kini aku tidak mengerti siapa matematika 1 dan matematika 2 itu?
Orang tua berambut putih:
Benar penonton, itulah sebenar-benar engkau. Itulah batas pengetahuanmu. Padahal dialog itu hanyalah dialog anak-anak matematika yang masih duduk dibangku SMP. Itulah mengapa engkau tidak boleh berlaku sombong di muka bumi ini. Namun itulah sifatmu, kadang-kadang setelah aku tunjukkan misteri itu maka engkau melecehkan pula. Tetapi sombong atau tidak itu bukan urusanku. Urusanku hanyalah selalu berusaha hadir di setiap pertanyaanmu.
Penonton:
Untuk yang ini memang benar-benar aku tidak tahu. Apakah yang dimaksud dengan ucapan matematika 1 “Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol”.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar metafisik. Metafisik adalah hakekat dibalik yang fisik. Jadi agar engkau mengetahui makna kalimat itu maka berusahalah mengungkap disebalik apa yang terkandung pada kalimat tersebut.
Untuk itu maka gunakanlah segenap pemikiran, ketelitian dan imajinasimu. Tetapi apakah yang dimaksud dengan kalimat “Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol”
Orang tua berambut putih:
Gampang saja, mari kita tanya saja langsung kepada yang bicara, yaitu matematika. Wahai matematika, coba jelaskan apakah yang anda maksud dengan “Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol”
Matematika 1:
Aku gunakan bahasa simbol tingkatan ke dua. Jika amvoim = a, kolian= kali, koi= x, kordia=kuadrat, ahdisong= ditambah, boldiah=b, corcuran=c, sombadadu=0, maka kalimat itu akan berbunyi:
a kali x kuadrat ditambah b kali x ditambah c sama dengan 0.
Itulah sebenar-benarnya aku. Dengan kalimatku itu aku ingin mengatakan bahwa aku adalah persamaan kuadrat: ax2 + bx + c = 0
Penonton:
Lalu.., apa artinya kalimat matematika 2?
Matematika 2:
Silahkan teruskan metode dari matematika 1 tadi, maka engkau akan memperoleh kalimat-kalimat sebagai prosedur menemukan rumus untuk mencari akar persamaan kuadrat.
Penonton:
Lalu..apakah makna kalimat terakhir?
Matematika 2:
Kebanyakan dirimu adalah pemalas. Tetapi baiklah aku akan jelaskan. Kalimat terakhirku berbunyi:
“Dirimu tidak lain tidak bukan adalah halasuta dari nugata boldiah ahdisong dengan avran kordia dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian corcuran ndabigu dua kolian amvoim, atau nugata boldiah darkuring kordia dari boldiah darkuring ampaho kolian amvoim kolian corcuran ndabigu duakolian amvoim”
Untuk memahami cobalah: halasuta= salah satu, nugata= negatif, boldiah=b, ahdisong= ditambah, avran= akar, kordia=kuadrat, darkuring=dikurangi, mpaho=4, kolian= kali, amvoim=a, dikolian= di kali, ndabigu= di bagi, maka sebenar-benar diriku ingin mengatakan bahwa:
x = (-b + Vb2-4ac)/2a atau x = (-b - Vb2-4ac)/2a
Penonton:
Oh kaya gitu.
Orang tua berambut putih:
Lha ya iya. Itulah hakekat mengungkap sesuatu dari tidak jelas menjadi jelas. Itulah hakekat mengungkap sebuah misteri. Pekerjaan bagi para pemikir. Amien.
Penonton:
Wahai orang tua berambut putih. Mengapa hingga kini aku tidak mengerti siapa matematika 1 dan matematika 2 itu?
Orang tua berambut putih:
Benar penonton, itulah sebenar-benar engkau. Itulah batas pengetahuanmu. Padahal dialog itu hanyalah dialog anak-anak matematika yang masih duduk dibangku SMP. Itulah mengapa engkau tidak boleh berlaku sombong di muka bumi ini. Namun itulah sifatmu, kadang-kadang setelah aku tunjukkan misteri itu maka engkau melecehkan pula. Tetapi sombong atau tidak itu bukan urusanku. Urusanku hanyalah selalu berusaha hadir di setiap pertanyaanmu.
Penonton:
Untuk yang ini memang benar-benar aku tidak tahu. Apakah yang dimaksud dengan ucapan matematika 1 “Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol”.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar metafisik. Metafisik adalah hakekat dibalik yang fisik. Jadi agar engkau mengetahui makna kalimat itu maka berusahalah mengungkap disebalik apa yang terkandung pada kalimat tersebut.
Untuk itu maka gunakanlah segenap pemikiran, ketelitian dan imajinasimu. Tetapi apakah yang dimaksud dengan kalimat “Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol”
Orang tua berambut putih:
Gampang saja, mari kita tanya saja langsung kepada yang bicara, yaitu matematika. Wahai matematika, coba jelaskan apakah yang anda maksud dengan “Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol”
Matematika 1:
Aku gunakan bahasa simbol tingkatan ke dua. Jika amvoim = a, kolian= kali, koi= x, kordia=kuadrat, ahdisong= ditambah, boldiah=b, corcuran=c, sombadadu=0, maka kalimat itu akan berbunyi:
a kali x kuadrat ditambah b kali x ditambah c sama dengan 0.
Itulah sebenar-benarnya aku. Dengan kalimatku itu aku ingin mengatakan bahwa aku adalah persamaan kuadrat: ax2 + bx + c = 0
Penonton:
Lalu.., apa artinya kalimat matematika 2?
Matematika 2:
Silahkan teruskan metode dari matematika 1 tadi, maka engkau akan memperoleh kalimat-kalimat sebagai prosedur menemukan rumus untuk mencari akar persamaan kuadrat.
Penonton:
Lalu..apakah makna kalimat terakhir?
Matematika 2:
Kebanyakan dirimu adalah pemalas. Tetapi baiklah aku akan jelaskan. Kalimat terakhirku berbunyi:
“Dirimu tidak lain tidak bukan adalah halasuta dari nugata boldiah ahdisong dengan avran kordia dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian corcuran ndabigu dua kolian amvoim, atau nugata boldiah darkuring kordia dari boldiah darkuring ampaho kolian amvoim kolian corcuran ndabigu duakolian amvoim”
Untuk memahami cobalah: halasuta= salah satu, nugata= negatif, boldiah=b, ahdisong= ditambah, avran= akar, kordia=kuadrat, darkuring=dikurangi, mpaho=4, kolian= kali, amvoim=a, dikolian= di kali, ndabigu= di bagi, maka sebenar-benar diriku ingin mengatakan bahwa:
x = (-b + Vb2-4ac)/2a atau x = (-b - Vb2-4ac)/2a
Penonton:
Oh kaya gitu.
Orang tua berambut putih:
Lha ya iya. Itulah hakekat mengungkap sesuatu dari tidak jelas menjadi jelas. Itulah hakekat mengungkap sebuah misteri. Pekerjaan bagi para pemikir. Amien.
Elegi Pertunjukkan Matematika
Oleh: Marsigit
Matematika 1:
Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol. Aku ingin mengetahui siapa sebenar-benar diriku itu? Wahai matematika 2 dapatkah engkau membantuku mencari siapa diriku itu?
Matematika 2:
Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol. Itu semua ndabigu dengan ali. Maka kadapiti koi kordia ahdisong boldiah ndabigu oleh amvoim dikolian koi ahdisong corcuran ndabigu amvoim sombadadu nola. Mkoi didapat amvoim kordia ahdisong boldiah ndabigu amvoim kolian koi ahdisong kordia dari boldiah ndabigu dua kolian amvoim darkuring dengan kordia dari boldiah ndabigu dua kolian amvoim ahdisong corcuran ndabigu amvoim sombadadu nol. Maka dikapati koi kordia di tambleho boldiah ndabigu amvoim kolian koi ahdisong kordia dari boldiah ndabigu dua amvoim ali sombadadu kordia dari boldiah ndabigu dua kolian amvoim darkuring corcuran ndabigu ampaho. Maka ndakatipi koi kordia ahdisong boldiah ndabigu amvoim dikolian koi ahdisong kordia dari boldiah dibamvoim dua kolian amvoim sombadadu boldiah kordia ndabigu ampaho kolian amvoim kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian lagi corcuran ndabigu ampaho kolian kordia dari amvoim. Wahai matematika 1, dapatkah engkau meneruskan kalimatku ini?
Matematika 1:
Saya akan mencobanya. Koi ahdisong boldiah ndabigu dua kolian amvoim sombadadu plus manusa avran tangkap dua dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian corcuran ndabigu ampaho dikolian amvoim kordia. Maka koi gnaya tamperma maupun koi yang kedau adalah nugata boldiah ndabigu dua kolian amvoim ahdisong atau darkuring avran dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim kolian corcuran ndabigu dua kolian amvoim. Wahai matematika 2, sampai di sini dapatkah engkau menunjukkan kepadaku siapakah sebenarnya diriku itu?
Matematika 2:
Dirimu tidak lain tidak bukan adalah halasuta dari nugata boldiah ahdisong dengan avran kordia dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian corcuran ndabigu dua kolian amvoim, atau nugata boldiah darkuring kordia dari boldiah darkuring ampaho kolian amvoim kolian corcuran ndabigu duakolian amvoim.
Penonton1:
Luar biasa!. Wahai penonton 2, apakah engkau mengerti pembicaraan dua matematikawan tersebut.
Penonton 2:
Luar biasa!. Wahai penonton 1, aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Penonton 1:
Bukankah engkau selama ini merasa sebagai matematikawan hebat tiada tandingannya?
Penonton 2:
Janganlah menyindir begitu. Ternyata aku sekarang sadar bahwa sepandai-pandai orang masih ada yang lebih pandai. Tetapi yang jelas aku pahami dari pembicaraan dua matematikawan tersebut adalah, matematikawan 1 kelihatannya sudah menemukan dirinya sendiri. Itu yang sungguh sulit aku bisa megerti bagaimana dia bisa mengerti dirinya dengan penjelasan seperti itu?
Penonton 1:
Mungkin kita perlu menunggu, siapa tahu pada elegi selanjutnya ada jawaban dari orang tua berambut putih.
Penonton 2:
Baik. Mari kita tunggu elegi berikutnya.
Matematika 1:
Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol. Aku ingin mengetahui siapa sebenar-benar diriku itu? Wahai matematika 2 dapatkah engkau membantuku mencari siapa diriku itu?
Matematika 2:
Amvoim kolian koi kordia ahdisong boldiah kolian koi ahdisong corcuran sombadadu nol. Itu semua ndabigu dengan ali. Maka kadapiti koi kordia ahdisong boldiah ndabigu oleh amvoim dikolian koi ahdisong corcuran ndabigu amvoim sombadadu nola. Mkoi didapat amvoim kordia ahdisong boldiah ndabigu amvoim kolian koi ahdisong kordia dari boldiah ndabigu dua kolian amvoim darkuring dengan kordia dari boldiah ndabigu dua kolian amvoim ahdisong corcuran ndabigu amvoim sombadadu nol. Maka dikapati koi kordia di tambleho boldiah ndabigu amvoim kolian koi ahdisong kordia dari boldiah ndabigu dua amvoim ali sombadadu kordia dari boldiah ndabigu dua kolian amvoim darkuring corcuran ndabigu ampaho. Maka ndakatipi koi kordia ahdisong boldiah ndabigu amvoim dikolian koi ahdisong kordia dari boldiah dibamvoim dua kolian amvoim sombadadu boldiah kordia ndabigu ampaho kolian amvoim kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian lagi corcuran ndabigu ampaho kolian kordia dari amvoim. Wahai matematika 1, dapatkah engkau meneruskan kalimatku ini?
Matematika 1:
Saya akan mencobanya. Koi ahdisong boldiah ndabigu dua kolian amvoim sombadadu plus manusa avran tangkap dua dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian corcuran ndabigu ampaho dikolian amvoim kordia. Maka koi gnaya tamperma maupun koi yang kedau adalah nugata boldiah ndabigu dua kolian amvoim ahdisong atau darkuring avran dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim kolian corcuran ndabigu dua kolian amvoim. Wahai matematika 2, sampai di sini dapatkah engkau menunjukkan kepadaku siapakah sebenarnya diriku itu?
Matematika 2:
Dirimu tidak lain tidak bukan adalah halasuta dari nugata boldiah ahdisong dengan avran kordia dari boldiah kordia darkuring ampaho kolian amvoim dikolian corcuran ndabigu dua kolian amvoim, atau nugata boldiah darkuring kordia dari boldiah darkuring ampaho kolian amvoim kolian corcuran ndabigu duakolian amvoim.
Penonton1:
Luar biasa!. Wahai penonton 2, apakah engkau mengerti pembicaraan dua matematikawan tersebut.
Penonton 2:
Luar biasa!. Wahai penonton 1, aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Penonton 1:
Bukankah engkau selama ini merasa sebagai matematikawan hebat tiada tandingannya?
Penonton 2:
Janganlah menyindir begitu. Ternyata aku sekarang sadar bahwa sepandai-pandai orang masih ada yang lebih pandai. Tetapi yang jelas aku pahami dari pembicaraan dua matematikawan tersebut adalah, matematikawan 1 kelihatannya sudah menemukan dirinya sendiri. Itu yang sungguh sulit aku bisa megerti bagaimana dia bisa mengerti dirinya dengan penjelasan seperti itu?
Penonton 1:
Mungkin kita perlu menunggu, siapa tahu pada elegi selanjutnya ada jawaban dari orang tua berambut putih.
Penonton 2:
Baik. Mari kita tunggu elegi berikutnya.
Thursday, March 5, 2009
Elegi Menggapai Hakekat Matematika Kesatu
Oleh: Marsigit
Matematika bermonolog imaginer:
Awalnya aku hanyalah gelaja. Sebetulnya gejalaku ada di mana-mana. Tetapi jelas tidaknya gejalaku tergantung dari tempat tinggalku. Gejalaku sangat jelas ketika aku berada di pegunungan, di lautan dan di hutan rimba. Tetapi sayangnya pada tempat-tempat itu tiadalah orang menyaksikanku, sehingga gejalaku tidak dapat bicara. Pada saat itulah aku menyadari bahwa aku perlu bekerjasama dengan manusia agar gejalaku dapat bicara. Itulah mengapa pidato pertamaku aku sampaikan pada orang-orang di tepian sungai nil. Mula-mula pidatoku aku sampaikan dengan bahasa yang sangat sederhana. Aku hanya menggunakan dua kata saja pada waktu itu yaitu naik dan turun. Ketika aku naik, maka mereka berlarian menyelamatkan diri. Ketika aku turun maka mereka berdatangan berduyun-duyun. Mereka tidak menyadari bahwa aku telah mengangkat mereka menjadi murid-muridku. Sesungguh-sungguhnya itulah pekerjaan rumah (PR) pertama yang dikerjakan manusia atas gurunya aku. Ketika aku naik, maka aku sembunyikan batas-batas mereka. Ketika aku turun maka batas batas itu sebagian aku munculkan sebagian lagi aku masih sembunyikan. Di situlah aku melihat anarkisme pertama dari manusia-manusia. Mereka saling berebut. Mereka saling berdusta. Mereka saling bertengkar. Bahkan mereka saling membunuh dalam rangka memperebutkan batas-batas yang aku sembunyikan.
Mereka tak sengaja menemukan persembunyianku:
Itulah sebenar-benar manusia. Mereka ternyata mempunyai daya ingat. Ingatan mereka ternyata dapat menemukan batas-batas yang aku sembunyikan. Padahal sebetul-betulnya batas adalah diriku sendiri. Tetapi mereka belum menyadari tentang diriku. Namun beberapa dari mereka telah sepakat menggunakan ingatan bersama tentang batas-batas yang aku sembunyikan. Itulah pertama-tama mereka menamaiku sebagai garis. Aku disebutnya sebagai garis batas. Kemudian aku disebut pula sebagai garis batas wilayah. Ternyata itulah kehebatan manusia. Mereka tidak hanya menemukan aku yang satu, tetapi aku yang lain juga mulai mereka temukan. Mereka menemukan aku sebanyak empat, kemudian mereka sepakat untuk menamaiku sebagai segi empat. Aku sengaja berpenampilan rupa ragam, ternyata mereka juga menemukanku sebanyak empat dimana aku duduk bersejajar dua-dua, kemudian mereka menyebutku sebagai persegi panjang. Masih aku sembunyikan lagi sebagian diriku. Ternyata mereka juga menemukan diriku yang empat duduk sejajar-sejajar sama panjang, kemudian mereka menyebutku sebagai persegi. Hebat benar manusia-manusia itu. Sampai disini aku bertanya apakah aku mulai dipertemukan dengan manusia. Kemudian mereka sebenarnya siapa. Dan aku sebenarnya siapa juga?
Orang tua berambut putih datang:
Wahai matematika, saatnya sudah engkau turun dari singgasanamu. Tidaklah selalu engkau harus dalam posisi seperti itu. Walaupun engkau ratu sekalipun, tetapi ada kalanya engkau harus mengabdikan diri kepada manusia sebagai pelayan. Maka pergilah dan bantulah manusia-manusia itu untuk membangun peradabannya.
Matematika:
Wahai orang tua berabut putih. Aku sanggup melaksanakan perintahmu tetapi dengan syarat. Sedangkan syarat-syaratku itu adalah: pertama aku harus bersama-sama bisa menjadi ratu sekaligus pelayan; kedua, aku harus selalu mengikutimu; ketiga, aku netral dan tidak memihak siapapun; keempat, aku harus tetap abstrak tetapi bisa berujud kongkrit jika aku mau; kelima, aku harus tetap bersifat abadi dan keabadianku mendahului manusia dan mengakhiri manusia; keenam, aku tidak memerlukan pujian dan sanjungan serta tidak memerlukan predikat apapun.
Kerumunan orang-orang:
Wahai makhluk aneh. Siapakah dirimu dan dimanakah engkau tinggal? Kenapa selama ini engkau sembunyikan batas-batasku? Bersediakah engkau membantuku untuk membangun peradabanku?
Matematika:
Ketahuilah, namaku adalah matematika. Sebagian dari engkau telah mengenalku tetapi sebagian banyak yang belum mengenalku. Sebagian dari diriku juga telah engkau kenal. Garis-garis batas itulah contohku. Tidak hanya itu contoh-contoh ku masih banyak lagi. Yang akan ku sebut berikut itu semua adalah diriku. Persegi adalah aku. Persegi panjang adalah aku. Garis lurus adalah aku. Keliling sawah-sawahmu adalah adalah aku. Luas sawah-sawahmu adalah aku. Namun dari sedikit yang aku sebut, belumlah seberapa dari banyaknya diriku yang lain. Semakin engkau benyak mengetahuiku, semakin banyak pula yang belum engkau ketahui. Itulah sebanar-benar PR ku buatmu. Maka sebenar-benar aku adalah PR buatmu.
Maka namaku pun bermacam-macam. Geometri adalah aku. Aritmetika adalah aku. Aljabar adalah aku. Kalkulus adalah aku. Bilangan adalah aku. Pengukuran aadalah aku. Rumus-rumus adalah aku. Pola-pola adalah aku. Pemecahan masalah adalah aku. Penyelidikan adalah aku. Rasa ingin tahu adalah aku. Bahkan komunikasimu adalah aku. Jikalau engkau telah menemukanku lebih banyak lagi maka aku bersedia membantumu untuk membangun peradabanmu. Lebih dari itu, jika engkau mampu menggunakan akal pikiranku untuk menemukanku, maka akupun rela menjadi pelayanmu. Itulah sebenar-benar diriku, adalah alat buat kehidupanmu. Maka perkenalan pertamamu terhadap diriku adalah mengenalku sebagai peralatan bagimu. Dan itu baik-baik saja. Sesuatu yang baik bolehlah engkau ejar-ajarkan kepada cucu-cucu maupun keturunanmu.
Kerumunan orang-orang:
Wahai matematika bagaimanakah caranya aku bisa menumpaiku.
Matematika:
Ada syarat-syarat engkau bisa menemuiku. Jika syarat-syarat itu terpenuhi, maka engkau tidak hanya bisa menemuiku, tetapi engkau bisa memilikiku. Tidak hanya itu jika engkau betul-betul telah memilikkiku maka engkau dapat menjelma menjadi engkau, dan engkau bisa menjelma menjadi aku. Maka sebenar-benar aku adalah engkau pula pada akhirnya.
Kerumunan orang-orang:
Lalu, apakah syaratnya agar aku bisa menemuimu?
Matematika:
Pertama-tama, engkau harus mempunyai niat dan usaha untuk menemuiku. Niatmu harus tulus disertai rasa syukur kepada Tuhan YME bahwa sudah saatnya lah engkau akan bertemu denganku. Kedua, engkau harus menyesuaikan sikap, perkataan dan perbuatanmu. Sikap, perkataan dan perbuatanmu itu harus berakhir pada pikiran kritismu. Karena, hakekat diriku tidak lain-tidak bukan adalah pikiran kritismu itu. Ketiga, engkau harus selalu mencari diriku yang lain, kapanpun dan dimanapun. Keempat, engkau harus selalu menjalin silaturahim dengan semua diriku. Sebenar-benar silaturahimmu kepadaku adalah usahamu menggunakan diriku untuk keperluanmu. Semain banyak engkau menggunakanku, maka semakin pula engkau mengenal diriku. Dan yang kelima adalah selalu beritahukan tentang diriku kepada orang lain, serta gunakan pula diriku ketika engkau ingin membantu orang lain.
Kerumunan orang-orang:
Terimakasih atas penjelasannmu. Bolehkah aku bertanya? Aku mempunyai sawah berbentuk persegi panjang. Panjangnya 5 sedangkan lebarnya 4. Berapakah luas sawahku itu?
Matematika:
Gunakan luas satuan. Kemudian tutupilah sawahmu itu dengan bangun-bangun satuan, maka engkau temukan bahwa banyaknya luas satuan adalah 4 kali 5 sama dengan 20. Jadi luas sawahmu adalah 20.
Kerumunan orang-orang:
Terimakasih, sekarang aku sudah mempercayaiku. Maka bersiaplah wahai matematika engkau menjadi pelayanku. Maka selalu siaplah engkau aku panggil setiap saat dan akan aku gunakan untuk bermacam-macam keperluan.
Matematika bermonolog imaginer:
Awalnya aku hanyalah gelaja. Sebetulnya gejalaku ada di mana-mana. Tetapi jelas tidaknya gejalaku tergantung dari tempat tinggalku. Gejalaku sangat jelas ketika aku berada di pegunungan, di lautan dan di hutan rimba. Tetapi sayangnya pada tempat-tempat itu tiadalah orang menyaksikanku, sehingga gejalaku tidak dapat bicara. Pada saat itulah aku menyadari bahwa aku perlu bekerjasama dengan manusia agar gejalaku dapat bicara. Itulah mengapa pidato pertamaku aku sampaikan pada orang-orang di tepian sungai nil. Mula-mula pidatoku aku sampaikan dengan bahasa yang sangat sederhana. Aku hanya menggunakan dua kata saja pada waktu itu yaitu naik dan turun. Ketika aku naik, maka mereka berlarian menyelamatkan diri. Ketika aku turun maka mereka berdatangan berduyun-duyun. Mereka tidak menyadari bahwa aku telah mengangkat mereka menjadi murid-muridku. Sesungguh-sungguhnya itulah pekerjaan rumah (PR) pertama yang dikerjakan manusia atas gurunya aku. Ketika aku naik, maka aku sembunyikan batas-batas mereka. Ketika aku turun maka batas batas itu sebagian aku munculkan sebagian lagi aku masih sembunyikan. Di situlah aku melihat anarkisme pertama dari manusia-manusia. Mereka saling berebut. Mereka saling berdusta. Mereka saling bertengkar. Bahkan mereka saling membunuh dalam rangka memperebutkan batas-batas yang aku sembunyikan.
Mereka tak sengaja menemukan persembunyianku:
Itulah sebenar-benar manusia. Mereka ternyata mempunyai daya ingat. Ingatan mereka ternyata dapat menemukan batas-batas yang aku sembunyikan. Padahal sebetul-betulnya batas adalah diriku sendiri. Tetapi mereka belum menyadari tentang diriku. Namun beberapa dari mereka telah sepakat menggunakan ingatan bersama tentang batas-batas yang aku sembunyikan. Itulah pertama-tama mereka menamaiku sebagai garis. Aku disebutnya sebagai garis batas. Kemudian aku disebut pula sebagai garis batas wilayah. Ternyata itulah kehebatan manusia. Mereka tidak hanya menemukan aku yang satu, tetapi aku yang lain juga mulai mereka temukan. Mereka menemukan aku sebanyak empat, kemudian mereka sepakat untuk menamaiku sebagai segi empat. Aku sengaja berpenampilan rupa ragam, ternyata mereka juga menemukanku sebanyak empat dimana aku duduk bersejajar dua-dua, kemudian mereka menyebutku sebagai persegi panjang. Masih aku sembunyikan lagi sebagian diriku. Ternyata mereka juga menemukan diriku yang empat duduk sejajar-sejajar sama panjang, kemudian mereka menyebutku sebagai persegi. Hebat benar manusia-manusia itu. Sampai disini aku bertanya apakah aku mulai dipertemukan dengan manusia. Kemudian mereka sebenarnya siapa. Dan aku sebenarnya siapa juga?
Orang tua berambut putih datang:
Wahai matematika, saatnya sudah engkau turun dari singgasanamu. Tidaklah selalu engkau harus dalam posisi seperti itu. Walaupun engkau ratu sekalipun, tetapi ada kalanya engkau harus mengabdikan diri kepada manusia sebagai pelayan. Maka pergilah dan bantulah manusia-manusia itu untuk membangun peradabannya.
Matematika:
Wahai orang tua berabut putih. Aku sanggup melaksanakan perintahmu tetapi dengan syarat. Sedangkan syarat-syaratku itu adalah: pertama aku harus bersama-sama bisa menjadi ratu sekaligus pelayan; kedua, aku harus selalu mengikutimu; ketiga, aku netral dan tidak memihak siapapun; keempat, aku harus tetap abstrak tetapi bisa berujud kongkrit jika aku mau; kelima, aku harus tetap bersifat abadi dan keabadianku mendahului manusia dan mengakhiri manusia; keenam, aku tidak memerlukan pujian dan sanjungan serta tidak memerlukan predikat apapun.
Kerumunan orang-orang:
Wahai makhluk aneh. Siapakah dirimu dan dimanakah engkau tinggal? Kenapa selama ini engkau sembunyikan batas-batasku? Bersediakah engkau membantuku untuk membangun peradabanku?
Matematika:
Ketahuilah, namaku adalah matematika. Sebagian dari engkau telah mengenalku tetapi sebagian banyak yang belum mengenalku. Sebagian dari diriku juga telah engkau kenal. Garis-garis batas itulah contohku. Tidak hanya itu contoh-contoh ku masih banyak lagi. Yang akan ku sebut berikut itu semua adalah diriku. Persegi adalah aku. Persegi panjang adalah aku. Garis lurus adalah aku. Keliling sawah-sawahmu adalah adalah aku. Luas sawah-sawahmu adalah aku. Namun dari sedikit yang aku sebut, belumlah seberapa dari banyaknya diriku yang lain. Semakin engkau benyak mengetahuiku, semakin banyak pula yang belum engkau ketahui. Itulah sebanar-benar PR ku buatmu. Maka sebenar-benar aku adalah PR buatmu.
Maka namaku pun bermacam-macam. Geometri adalah aku. Aritmetika adalah aku. Aljabar adalah aku. Kalkulus adalah aku. Bilangan adalah aku. Pengukuran aadalah aku. Rumus-rumus adalah aku. Pola-pola adalah aku. Pemecahan masalah adalah aku. Penyelidikan adalah aku. Rasa ingin tahu adalah aku. Bahkan komunikasimu adalah aku. Jikalau engkau telah menemukanku lebih banyak lagi maka aku bersedia membantumu untuk membangun peradabanmu. Lebih dari itu, jika engkau mampu menggunakan akal pikiranku untuk menemukanku, maka akupun rela menjadi pelayanmu. Itulah sebenar-benar diriku, adalah alat buat kehidupanmu. Maka perkenalan pertamamu terhadap diriku adalah mengenalku sebagai peralatan bagimu. Dan itu baik-baik saja. Sesuatu yang baik bolehlah engkau ejar-ajarkan kepada cucu-cucu maupun keturunanmu.
Kerumunan orang-orang:
Wahai matematika bagaimanakah caranya aku bisa menumpaiku.
Matematika:
Ada syarat-syarat engkau bisa menemuiku. Jika syarat-syarat itu terpenuhi, maka engkau tidak hanya bisa menemuiku, tetapi engkau bisa memilikiku. Tidak hanya itu jika engkau betul-betul telah memilikkiku maka engkau dapat menjelma menjadi engkau, dan engkau bisa menjelma menjadi aku. Maka sebenar-benar aku adalah engkau pula pada akhirnya.
Kerumunan orang-orang:
Lalu, apakah syaratnya agar aku bisa menemuimu?
Matematika:
Pertama-tama, engkau harus mempunyai niat dan usaha untuk menemuiku. Niatmu harus tulus disertai rasa syukur kepada Tuhan YME bahwa sudah saatnya lah engkau akan bertemu denganku. Kedua, engkau harus menyesuaikan sikap, perkataan dan perbuatanmu. Sikap, perkataan dan perbuatanmu itu harus berakhir pada pikiran kritismu. Karena, hakekat diriku tidak lain-tidak bukan adalah pikiran kritismu itu. Ketiga, engkau harus selalu mencari diriku yang lain, kapanpun dan dimanapun. Keempat, engkau harus selalu menjalin silaturahim dengan semua diriku. Sebenar-benar silaturahimmu kepadaku adalah usahamu menggunakan diriku untuk keperluanmu. Semain banyak engkau menggunakanku, maka semakin pula engkau mengenal diriku. Dan yang kelima adalah selalu beritahukan tentang diriku kepada orang lain, serta gunakan pula diriku ketika engkau ingin membantu orang lain.
Kerumunan orang-orang:
Terimakasih atas penjelasannmu. Bolehkah aku bertanya? Aku mempunyai sawah berbentuk persegi panjang. Panjangnya 5 sedangkan lebarnya 4. Berapakah luas sawahku itu?
Matematika:
Gunakan luas satuan. Kemudian tutupilah sawahmu itu dengan bangun-bangun satuan, maka engkau temukan bahwa banyaknya luas satuan adalah 4 kali 5 sama dengan 20. Jadi luas sawahmu adalah 20.
Kerumunan orang-orang:
Terimakasih, sekarang aku sudah mempercayaiku. Maka bersiaplah wahai matematika engkau menjadi pelayanku. Maka selalu siaplah engkau aku panggil setiap saat dan akan aku gunakan untuk bermacam-macam keperluan.
Sunday, March 1, 2009
Elegi Menggapai Penampakkan
Oleh Marsigit
Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.
Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?
Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?
Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.
Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?
Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?
Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?
Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.
Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.
Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.
Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?
Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?
Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?
Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.
Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...
Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau bisa mengerti hakekat apapun.
Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.
Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?
Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?
Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.
Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?
Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?
Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?
Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.
Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.
Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.
Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?
Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?
Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?
Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?
Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.
Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?
Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...
Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau bisa mengerti hakekat apapun.
Elegi Pertandingan Tinju antara Kualitatif melawan Kuantitatif
Oleh Marsigit
Monolog Kuantitatif:
Besar harapanku. Kecil rintanganku. Panjang perjalananku. Pendek jangkauanku. Tepat sasaranku. Separuh peluangku. Penuh perolehanku. Kosong negatifku. Sepuluh nilaiku. Dua ratus persen kenaikan gajiku. Semua itu ada dalam daftar. Aku dapat menggambarnya. Aku dapat menghitungnya. Ini dia grafiknya. Dalam seminggu, sepuluh kegiatanku. Dalam sebulan, lima belas pekerjaanku. Ditambah waku, dikurangi daya, hasilnya tetap. Benarlah jawabanku dan salahlah jawabanmu. Kalkulasiku tepat dan kalkulasimu tidak tepat. Perkiraanku benar perkiraanmu salah. Jika engkau wakilnya, aku tidak butuh mereka. Satu untuk semuanya. Terpaksa aku tentukan, engkau itu lima atau delapan. Jika engkau lima, maka semuanya adalah lima, jika engkau delapan maka semuanya adalah delapan. Ambil sembarang bilangan, kalikan tujuh dan tambahlah tujuh kemudian bagilah dengan tujuh, hasilnya kurangi dengan satu, berapakah bilangan itu? Sembilan puluh persen ingatanku masih baik, yang lima persen sering lupa. Banyak tidurku tidak boleh lebih dari kerjaku. Pikiran ku acak terhadap mereka. Segerombolan orang-orang itu tidak mengetahui diriku. Aku hanya melihat dia cacah kepalanya. Luas pikirannya tidak lebih dari satu meter persegi. Dalam hatinya tidak lebih dari sepuluh senti meter. Cintaku kepadamu masih sembilan puluh lima persen. Keyakinanku tiga perempat. Lambang adalah mutiaraku, rumus adalah primadonaku, prinsip adalah semangatku.
Monolog Kualitatif:
Kugapai harapanku. Kulalui rintanganku. Kutempuh perjalananku. Kurasa jangkauanku. Baiklah sasaranku. Berharap peluangku. Halal perolehanku. Haram negatifku. Memuaskan nilaiku. Bermanfaat kenaikan gajiku. Apalah artinya daftar. A[pa perlu aku menggambarnya. Aku dapat merasakannya. Ini dia refleksiku. Dalam seminggu, ibadahku. Dalam sebulan, tanggungjawabku. Kesadaranku dan lingkunganku, menentukan keberadaanku. Etika jawabanku dan jawabanmu. Perasaanku dan perasaanmu. Apakah pantas aku memilih. Apakah pantas aku memberitahu. Aku tidak berani menentukan engkau lima atau delapan. Aku lebih suka bercerita dan berkomunikasi tentang dan dengan engkau. Janganlah berlaku sombong dan arogan. Lebih baik tidur dari pada berbuat dosa. Hatiku membatasi pikiranku. Sungguh malang nasibnya, hanya bernasib terwakili. Itulah pertimbanganku. Semoga hatiku berdzikir. Tak terukurlah cintaku itu. Au hanya bisa berharap dan berdoa. Apalah artinya lambang, aku lebih suka maknanya. Apalah artinya rumus, aku lebih suka hakekatnya. Apalah artinya prinsip, aku lebih suka realitanya.
Wasit:
Wahai kuantitatif, terdengar hebat pula ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kuantitatif dan angka-angka. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kuantitatif minded. Wahai kualitatif, terdengar indah ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kualitatif dan makna. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kualitatif minded. Namun aku melihat ada kelemahan di masing-masing dirimu itu. Kelemahanmu adalah engkau berdua ternyata mempunyai pamrih dan maksud tertentu dalam monologmu. Sebenar-benar dirimu adalah menyindir satu dengan yang lain. Lebih dari itu engkau berdua tampak sekali bersaing memperebutkan sesuatu. Padahal ketahuilah bahwa aku adalah seorang wasit tinju. Pekerjaanku adalah mengadu dan mempertemukan orang-orang yang saling siap bertarung. Maka kalau boleh aku ingin bertanya. Daripada saling menyindir, maukah engkau berdua aku adu, dalam pertandingan tinju antara kualitatif melawan kuantitatif.
Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Aku bersedia.
Wasit:
Tetapi ketahuilah bahwa pertandingan tinju itu hanyalah pertanyaanku-pertanyaanku yang perlu engkau jawab silih bergantian. Apakah setuju?
Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Setuju
Wasit:
Baiklah aku mulai dengan pertenyaanku.
Bagaimanakah engkau bisa mendefinisikan dirimu masing-masing?
Kuantitatif:
Aku adalah kuantitatif. Kuantitatif adalah diriku. Lima adalah contohnya. Maka lambang adalah diriku.
Obyektif adalah tujuanku. Konsisten adalah jiwaku. Tempat tinggalku di pikiran orang-orang.
Kualitatif:
Aku sulit mendefinisikan diriku, karena aku bersifat kualitatif. Aku juga sulit mengambil contoh buatku, karena contohnya sangat banyak dan kontekstual. Aku juga sulit mendefinisikan tujuanku karena itu semata-mata tergantung dari subyeknya. Tetapi yang paling merisaukanku adalah aku tidak tahu di mana jiwaku? Tempat tinggalku di hati setiap insan.
Wasit:
Jika engkau menjadi guru, bagaimanakah engkau mengetahui kompetensi siswa-siswamu?
Kuantitatif:
Aku buat soal obyektif. Aku hitung benarnya. Aku tak peduli keadaan mereka. Maka jika skornya tinggi maka nilainya tinggi juga. Titik. Begitu saja kok repot.
Kuantitaif:
Aku buat catatan-catatan portfolio. Aku membuat tugas. Aku sarankan mereka menggunakan komputer. Aku perkenankan mereka promosi diri. Kadang-kadang aku perlu mengobservasi dan wawancara dengannya. Menilai seseorang memang repot. Tidaklah mudah memberi predikat kepada seseorang. Bukanlah kalau kita memberi predikat tidak benar, ityu adalah dosa?
Wasit:
Bagaimana engkau menganggap dan bergaul dengan siswa-siswamu.
Kuantitatif:
Aku sebenarnya enggan menjawab pertanyaanmu itu. Pertenyaanmu itu terlalu naif bagiku. Apa perlunya saja. Pekerjaanku sangat banyak. Jadi aku batasi pergaulanku dengan siswaku. Kalau perlu aku menghindar bisa bertemu dengannya. Bagiku murid-muridku adalah banyaknya mereka sebanyak aku membilang.
Kualitatif:
Pertanyaanmu sangat baik. Itulah pertanyaan yang selalu aku tunggu. Aku memandang setiap siswa adalah dunia. Jadi setiap siswa adalah segenap isi dan misterinya. Maka tidaklah mudah bergaul dengannya. Aku harus mengembangkan metode dan teknologi agar aku mampu melayani belajar mereka. Mereka semua adalah berbeda-beda. Masing-masing perlu perhatian khusus. Bagiku murid-muridku masing-masing adalah benih-benih yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan bantuan, pupuk, dan memberisihakan hama-hama.
Wasit:
Coba terangkan bagaimana anda satu dengan yang lain saling membutuhkan?
Kuantitatif:
Sebenar-benar diriku tidaklah memerlukan kualitatif. Bagiku kualitatif adalah tidak pasti dan itu menjadi keadaan buruk bagiku.
Kualitatif:
Sebenar-benar diriku adalah tidak sepenuhnya kualitatif. Aku masih membutuhkan kuantitatif dalam kegiatanku. Maka aku sangat perlu menjalin hubungan yang baik dengan kuantitatif.
Wasit:
Terangkan apakah cita-cita hidupmu masing-masing?
Kuantitatif:
Aku hanyalah berhenti di sini. Tiadalah cita-cita ada dalam hidupku.
Kualitatif:
Aku tidak tahu kapan aku mulai, dan au tidak tahu kapan aku berakhir. Cita-citaku adalah untuk semaksimal mungkin demi kemslahatan manusia semuanya. Aku berharap bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi semua.
Wasit:
Terangkan bagaimana anda masing-masing dapat membantu siswa belajar?
Kuantitatif:
Dengan metode numerik dan logika aku pastikan siswa-siswa melakukannya. Kepastian adalah jiwaku. Perhitungan-perhitungan adalah panglimaku.
Kualitatif:
Doa, motivasi, semangat adalah modal untuk belajar. Sikap dan perbuatan perlu disesuaikan agar murid mampu memperoleh kompetensinya. Dengan pengetahuan yang diperoleh, kemudian berilah kesempatan kepada murid-murid untuk mengembangkan keterampilan dan pengalamannya.
Wasit:
Bagaimana engkau beribadah?
Kuantitatif:
Aku lafalkan seribu kali doa. Beres.
Kualitatif:
Aku berlatih berdoa. Aku sadar tidak mudah untuk berdoa. Dari satu milyar doaku belumlah ada jaminan bahwa satu diantaranya dapat diterima. Tetapi ikhtiar adalah kewajibanku. Maka aku akan selalu mencoba untuk berdoa, karena aku yakin Tuhan YME akan mendengar setiap doa ku.
Wasit:
Prit..prit. Cukup. Dari catatan, observasi dan rekaman data serta kualitas jawaban. Aku memutuskan bahwa kualitatif telah memenangkan pertandingan, tetapi dengan catatan sebegai berikut: pertama, engkau tak boleh lagi saling mengejek apa lagi saling bertanding; kedua, engkau sebenarnya saling membutuhkan; ketiga, jika engkau mampu saling bekerja sama maka perolehanmu akan lebih besar dari yang sudah engkau peroleh selama ini; keempat, tetapi ingatlah bahwa pada setiap perjalananmu, maka kualitatiflah komandannya; kelima, dalam keadaan tertentu maka kuantitatif mampu bekerja sangat efektif dengan hasil yang besar jika didukung oleh kualitatif; dan terakhir, hidup rukunlah selalu selama hayatmu dalam saling harmoni. Amien.
Monolog Kuantitatif:
Besar harapanku. Kecil rintanganku. Panjang perjalananku. Pendek jangkauanku. Tepat sasaranku. Separuh peluangku. Penuh perolehanku. Kosong negatifku. Sepuluh nilaiku. Dua ratus persen kenaikan gajiku. Semua itu ada dalam daftar. Aku dapat menggambarnya. Aku dapat menghitungnya. Ini dia grafiknya. Dalam seminggu, sepuluh kegiatanku. Dalam sebulan, lima belas pekerjaanku. Ditambah waku, dikurangi daya, hasilnya tetap. Benarlah jawabanku dan salahlah jawabanmu. Kalkulasiku tepat dan kalkulasimu tidak tepat. Perkiraanku benar perkiraanmu salah. Jika engkau wakilnya, aku tidak butuh mereka. Satu untuk semuanya. Terpaksa aku tentukan, engkau itu lima atau delapan. Jika engkau lima, maka semuanya adalah lima, jika engkau delapan maka semuanya adalah delapan. Ambil sembarang bilangan, kalikan tujuh dan tambahlah tujuh kemudian bagilah dengan tujuh, hasilnya kurangi dengan satu, berapakah bilangan itu? Sembilan puluh persen ingatanku masih baik, yang lima persen sering lupa. Banyak tidurku tidak boleh lebih dari kerjaku. Pikiran ku acak terhadap mereka. Segerombolan orang-orang itu tidak mengetahui diriku. Aku hanya melihat dia cacah kepalanya. Luas pikirannya tidak lebih dari satu meter persegi. Dalam hatinya tidak lebih dari sepuluh senti meter. Cintaku kepadamu masih sembilan puluh lima persen. Keyakinanku tiga perempat. Lambang adalah mutiaraku, rumus adalah primadonaku, prinsip adalah semangatku.
Monolog Kualitatif:
Kugapai harapanku. Kulalui rintanganku. Kutempuh perjalananku. Kurasa jangkauanku. Baiklah sasaranku. Berharap peluangku. Halal perolehanku. Haram negatifku. Memuaskan nilaiku. Bermanfaat kenaikan gajiku. Apalah artinya daftar. A[pa perlu aku menggambarnya. Aku dapat merasakannya. Ini dia refleksiku. Dalam seminggu, ibadahku. Dalam sebulan, tanggungjawabku. Kesadaranku dan lingkunganku, menentukan keberadaanku. Etika jawabanku dan jawabanmu. Perasaanku dan perasaanmu. Apakah pantas aku memilih. Apakah pantas aku memberitahu. Aku tidak berani menentukan engkau lima atau delapan. Aku lebih suka bercerita dan berkomunikasi tentang dan dengan engkau. Janganlah berlaku sombong dan arogan. Lebih baik tidur dari pada berbuat dosa. Hatiku membatasi pikiranku. Sungguh malang nasibnya, hanya bernasib terwakili. Itulah pertimbanganku. Semoga hatiku berdzikir. Tak terukurlah cintaku itu. Au hanya bisa berharap dan berdoa. Apalah artinya lambang, aku lebih suka maknanya. Apalah artinya rumus, aku lebih suka hakekatnya. Apalah artinya prinsip, aku lebih suka realitanya.
Wasit:
Wahai kuantitatif, terdengar hebat pula ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kuantitatif dan angka-angka. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kuantitatif minded. Wahai kualitatif, terdengar indah ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kualitatif dan makna. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kualitatif minded. Namun aku melihat ada kelemahan di masing-masing dirimu itu. Kelemahanmu adalah engkau berdua ternyata mempunyai pamrih dan maksud tertentu dalam monologmu. Sebenar-benar dirimu adalah menyindir satu dengan yang lain. Lebih dari itu engkau berdua tampak sekali bersaing memperebutkan sesuatu. Padahal ketahuilah bahwa aku adalah seorang wasit tinju. Pekerjaanku adalah mengadu dan mempertemukan orang-orang yang saling siap bertarung. Maka kalau boleh aku ingin bertanya. Daripada saling menyindir, maukah engkau berdua aku adu, dalam pertandingan tinju antara kualitatif melawan kuantitatif.
Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Aku bersedia.
Wasit:
Tetapi ketahuilah bahwa pertandingan tinju itu hanyalah pertanyaanku-pertanyaanku yang perlu engkau jawab silih bergantian. Apakah setuju?
Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Setuju
Wasit:
Baiklah aku mulai dengan pertenyaanku.
Bagaimanakah engkau bisa mendefinisikan dirimu masing-masing?
Kuantitatif:
Aku adalah kuantitatif. Kuantitatif adalah diriku. Lima adalah contohnya. Maka lambang adalah diriku.
Obyektif adalah tujuanku. Konsisten adalah jiwaku. Tempat tinggalku di pikiran orang-orang.
Kualitatif:
Aku sulit mendefinisikan diriku, karena aku bersifat kualitatif. Aku juga sulit mengambil contoh buatku, karena contohnya sangat banyak dan kontekstual. Aku juga sulit mendefinisikan tujuanku karena itu semata-mata tergantung dari subyeknya. Tetapi yang paling merisaukanku adalah aku tidak tahu di mana jiwaku? Tempat tinggalku di hati setiap insan.
Wasit:
Jika engkau menjadi guru, bagaimanakah engkau mengetahui kompetensi siswa-siswamu?
Kuantitatif:
Aku buat soal obyektif. Aku hitung benarnya. Aku tak peduli keadaan mereka. Maka jika skornya tinggi maka nilainya tinggi juga. Titik. Begitu saja kok repot.
Kuantitaif:
Aku buat catatan-catatan portfolio. Aku membuat tugas. Aku sarankan mereka menggunakan komputer. Aku perkenankan mereka promosi diri. Kadang-kadang aku perlu mengobservasi dan wawancara dengannya. Menilai seseorang memang repot. Tidaklah mudah memberi predikat kepada seseorang. Bukanlah kalau kita memberi predikat tidak benar, ityu adalah dosa?
Wasit:
Bagaimana engkau menganggap dan bergaul dengan siswa-siswamu.
Kuantitatif:
Aku sebenarnya enggan menjawab pertanyaanmu itu. Pertenyaanmu itu terlalu naif bagiku. Apa perlunya saja. Pekerjaanku sangat banyak. Jadi aku batasi pergaulanku dengan siswaku. Kalau perlu aku menghindar bisa bertemu dengannya. Bagiku murid-muridku adalah banyaknya mereka sebanyak aku membilang.
Kualitatif:
Pertanyaanmu sangat baik. Itulah pertanyaan yang selalu aku tunggu. Aku memandang setiap siswa adalah dunia. Jadi setiap siswa adalah segenap isi dan misterinya. Maka tidaklah mudah bergaul dengannya. Aku harus mengembangkan metode dan teknologi agar aku mampu melayani belajar mereka. Mereka semua adalah berbeda-beda. Masing-masing perlu perhatian khusus. Bagiku murid-muridku masing-masing adalah benih-benih yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan bantuan, pupuk, dan memberisihakan hama-hama.
Wasit:
Coba terangkan bagaimana anda satu dengan yang lain saling membutuhkan?
Kuantitatif:
Sebenar-benar diriku tidaklah memerlukan kualitatif. Bagiku kualitatif adalah tidak pasti dan itu menjadi keadaan buruk bagiku.
Kualitatif:
Sebenar-benar diriku adalah tidak sepenuhnya kualitatif. Aku masih membutuhkan kuantitatif dalam kegiatanku. Maka aku sangat perlu menjalin hubungan yang baik dengan kuantitatif.
Wasit:
Terangkan apakah cita-cita hidupmu masing-masing?
Kuantitatif:
Aku hanyalah berhenti di sini. Tiadalah cita-cita ada dalam hidupku.
Kualitatif:
Aku tidak tahu kapan aku mulai, dan au tidak tahu kapan aku berakhir. Cita-citaku adalah untuk semaksimal mungkin demi kemslahatan manusia semuanya. Aku berharap bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi semua.
Wasit:
Terangkan bagaimana anda masing-masing dapat membantu siswa belajar?
Kuantitatif:
Dengan metode numerik dan logika aku pastikan siswa-siswa melakukannya. Kepastian adalah jiwaku. Perhitungan-perhitungan adalah panglimaku.
Kualitatif:
Doa, motivasi, semangat adalah modal untuk belajar. Sikap dan perbuatan perlu disesuaikan agar murid mampu memperoleh kompetensinya. Dengan pengetahuan yang diperoleh, kemudian berilah kesempatan kepada murid-murid untuk mengembangkan keterampilan dan pengalamannya.
Wasit:
Bagaimana engkau beribadah?
Kuantitatif:
Aku lafalkan seribu kali doa. Beres.
Kualitatif:
Aku berlatih berdoa. Aku sadar tidak mudah untuk berdoa. Dari satu milyar doaku belumlah ada jaminan bahwa satu diantaranya dapat diterima. Tetapi ikhtiar adalah kewajibanku. Maka aku akan selalu mencoba untuk berdoa, karena aku yakin Tuhan YME akan mendengar setiap doa ku.
Wasit:
Prit..prit. Cukup. Dari catatan, observasi dan rekaman data serta kualitas jawaban. Aku memutuskan bahwa kualitatif telah memenangkan pertandingan, tetapi dengan catatan sebegai berikut: pertama, engkau tak boleh lagi saling mengejek apa lagi saling bertanding; kedua, engkau sebenarnya saling membutuhkan; ketiga, jika engkau mampu saling bekerja sama maka perolehanmu akan lebih besar dari yang sudah engkau peroleh selama ini; keempat, tetapi ingatlah bahwa pada setiap perjalananmu, maka kualitatiflah komandannya; kelima, dalam keadaan tertentu maka kuantitatif mampu bekerja sangat efektif dengan hasil yang besar jika didukung oleh kualitatif; dan terakhir, hidup rukunlah selalu selama hayatmu dalam saling harmoni. Amien.
Subscribe to:
Posts (Atom)
